Cinta Tak Sempurna

Cinta Tak Sempurna
Maafkan Abang, Mami..


__ADS_3

Ceklek!


Algi memutar handle pintu kamar sang Mami. Terlihat disana kedua paruh baya beda usia itu kini sedang tersedu berdua dengan saling berpelukan.


Hati Algi semakin disayat saat melihat kedua orang tuanya menangis karena dirinya. ''Hiks.. Papi.. hiks.. Mami..'' panggilnya dengan terisak.


Wajah itu sembab dan penuh air mata yang tidak mau berhenti. Papi Gilang terkejut, ia mengusap air matanya dan mengurai pelukannya dari tubuh Mami Alisa yang kini masih terisak di pelukan nya.


Papi Gilang menoleh dan tersenyum pada Algi. ''Sini, Abang perlu sesuatu??'' tanya Papi Gilang masih terdengar isakan disana. Tangan itu melambai pada Algi.


Algi tidak menjawab, ia mendekati dua paruh baya itu dengan tertunduk. Tangan nya gemetar.


Tiba di hadapan kedua orang tuanya Algi semakin gemetar, tubuh kurus itu semakin tersedu kala mendengar sang Mami yang masih terisak-isak.


Algi tak kuat lagi, ia sudah tidak sanggup melihat kedua orang tuanya terluka karena dirinya. Ia jatuh bersimpuh di hadapan Papi Gilang dan Mami Alisa.


Grep!


Algi memeluk kedua kaki Sang Papi dan Mami bersamaan. Papi Gilang dan Mami Alisa terkejut.

__ADS_1


''Nak!'' seru Mami Alisa dan Papi Gilang bersamaan.


Algi semakin tersedu. Tetesan air mata itu mengenai kedua kaki Sang Papi dan Mami yang begitu ia sayangi. Ia tersedu. Tidak bisa berkata apa-apa. Sangat sulit untuk berbicara.


Kinara yang baru saja tiba pun ikut menangis melihat saudara kembar nya bersimpuh di hadapan Papi dan Maminya. Tiara memeluk erat tubuh Kinara saat melihat hal itu.


Kedua orang tua itu terkejut bukan main saat Algi bersujud di kedua kakinya. ''Astaghfirullah! Bangun nak!'' seru kedua orang itu.


Algi menggeleng. Ia masih tersedu dengan kedua tangannya memeluk erat kali kedua orang tuanya. ''Ma-ma hiks.. aafkan hiks.. A-ab hiks.. bang.. Pi.. hiks.. Mi..'' isaknya terputus-putus.


Kedua orang tua yang masih menangis itu saling pandang. Papi Gilang memegang pundak Algi begitu pun dengan Mami Alisa.


Begitu pun dengan Papi Gilang, pria yang sudah sangat matang itu pun ikut duduk di bawah bersama sang istri. Ia mengusap tubuh putra bungsunya itu dengan lembut.


''Ada apa, Nak? Adakah yang ingin kamu sampaikan? Minta maaf? Untuk apa Nak??'' tanya Papi Gilang masih dengan mengelus lembut tubuh putra bungsunya itu.


Algi tidak menyahut. Ia masih ingin menangis. ''Menangislah. Jika dengan menangis rasa sakit di hatimu berkurang.. Mami akan setia menunggu kamu berbicara.'' Ucap Mami Alisa pada Algi. Tangan tua itu masih saja mengelus kepala Algi dengan sayang.


Algi semakin tersedu. Kadang terisak, kadang ia meraung. Mami Alisa dan Papi Gilang hanya bisa diam. Cukup lama akhirnya menangis sambil memeluk kedua kaki orang tuanya itu. Kedua kaki itu basah dengan air mata Algi yang tidak mau berhenti.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Algi sudah merasakan lega karena tangisannya. Yang tersisa hanya suara isakan dari dirinya. Kinara dan Tiara pun sudah duduk di belakang nya.


Tiara tidak berani menyentuh tubuh Algi. Ia takut salah. Kehadiran nya saja sudah salah saat ini. Mana berani lagi Tiara menyentuh nya? Begitu pikir nya.


Algi bangkit dan mengusap kedua kaki itu dengan baju yang dikenakan nya. Mami Alisa menggeleng. ''Tak apa. Mami Tidak keberatan kok.'' katanya pada Algi yang terus mengelap kedua kaki itu dengan bajunya hingga mengering.


''Nggak apa Mi. Abang ikhlas. Basah di kaki dan kotor baju Abang Tidak sebanding dengan air mata Mami dan Papi yang kalian tumpahkan untuk anak durhaka ini!''


''Algi!'' seru Papi Gilang dengan segera memegang tangan kurus nan ringkih itu.


Mami Alisa menggeleng, ''Nggak sayang.. kamu anak yang baik.. kamu tidak durhaka sama kami berdua.. Memang sudah seperti ini jalannya. Ikhlaskan! Hem?''


Algi menggeleng ketika mendengar ucapan Mami Alisa. ''Bagaimana bisa Mami bisa melupakan dan mengikhlaskan kejadian selama ini menimpa Mami dan Papi. Tidakkah sedikit pun kalian merasakan sakit hati? Saat Abang lebih memilih diluar dibandingkan dirumah ini menemani kalian??''


Kedua paruh baya itu menggeleng, ''Tidak nak. Kami tidak sakit hati. Kami senang melihat pertumbuhan mu selama ini. Dan lagi kamu sangat bertanggung jawab? Kami bangga padamu, hem??'' ucap Mami Alisa.


Algi menggeleng dengan wajah tertunduk. ''Bohong! Mami bohong! Mami berbohong sama diri Mami sendiri! Abang tau, Papi dan Mami kecewa karena Abang sudah menikah sebelum waktu nya. Berbeda dengan Kinara yang memang kalian ketahui. Abang anak durhaka! Abang tidak pantas bahagia! Abang durhaka sama Mami dan Papi! Hiks.. Maafkan Abang, Mami.. maafkan Abang, Papi.. maaf... aaaaaaaaaa... maaf...'' Raung Algi lagi.


Kedua orang tua itu dengan dengan segera memeluk tubuh Algi yang saat ini sedang memukuli dadanya yang begitu sakit karena melihat mata sang Papi dan Mami sembab karena menangisi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2