Cinta Tak Sempurna

Cinta Tak Sempurna
Menantu idaman


__ADS_3

''Maafkan Tiara Mami. Papi... Tiara terpaksa melakukan hal ini..'' bisik Tiara di dalam hati.


''Nak??''


''Saya pamit Nyonya.. Tuan.. tolong jangan bang Algi lagi. Saya tidak punya hak untuk itu. Kalian berdua lah yang lebih berhak. Saya hanya orang lain yang tiba-tiba masuk di dalam kehidupan nya saat ini. Harap anda mengerti Nyonya. Saya akan pulang dimana kedua orang tua saya berada. Saya pamit.'' Ucap Tiara sembari menggamit tangan Papi Gilang dan Mami Alisa.


Tiara ingin secepatnya pergi, karena tidak ingin melihat lagi wajah sembab yang begitu ia sayangi. Walau hanya sebentar, tapi Tiara bisa merasakan jika paruh baya di depannya ini begitu menyayanginya. Kasih sayang kedua orang itu begitu nyata terlihat.


Entah apa yang terjadi dengan Algi hingga bersikap seperti itu kepada kedua orang tuanya. Pasti ada sesuatu yang tidak bisa Algi ceritakan. Tebak Tiara di dalam hatinya.


''Lepaskan Tiara Mami.. Papi.. semua ini demi kebaikan kalian berdua. Aku tidak mau dianggap menantu durhaka karena telah memisahkan seorang anak dari ibunya. Ibu Siti tidak pernah mengajarkan ku hal ini. Tolong.. pahami diriku Mami. Aku menyayangi kalian sama seperti kedua orang tuaku. Tapi aku tidak bisa mengatakan nya kepada kalian berdua.. hiks.. maafkan aku Mami.. Papi..'' lirih Tiara lagi masih di dalam hati.


Tangan Mami Alisa tidak melepaskan nya sama sekali. Papi Gilang menatap dalam pada Tiara.


''Kenapa??''


Deg!


Jantung Tiara berdegup tidak karuan kala mendengar suara lembut Papi Gilang padanya. Tiara menunduk dan tersedu di hadapan kedua paruh baya itu.

__ADS_1


''Karena aku menyayangi kalian berdua.. dan juga aku sangat mencintai putra kalian berdua...'' bisiknya lagi di dalam hati. Tiara tidak berani mengeluarkan suaranya. Ia lebih memilih tersedu sambil menunduk dihadapan dua paruh baya itu.


''Jawab Nak. Kenapa?? Kenapa kamu seperti ini? Papi tau apa yang ada di hati dan pikiranmu! Tapi kenapa??'' tanya Papi Gilang lagi.


Tiara semakin tersedu. Ia memilih bersimpuh di hadapan kedua paruh baya itu seperti Algi tadi. ''Maafkan hiks.. Tiara Mi.. Pi..'' ucapnya begitu lirih tapi Papi Gilang bisa mendengarnya.


Ia menarik sedikit ujung bibirnya membentuk senyuman tipis. Mami Alisa memicingkan matanya sambil berdecak. Ia melotot pada Papi Gilang. Sementara lelakii tampan yang sudah kepala empat itu menggoda sang istri dengan mengedipkan mata nakal.


Mami Alisa memutar bola mata malas. Kinara yang ingin masuk pun tidak jadi. Ia terkekeh melihat tingkah absurd kedua orang tuanya itu.


Ia berdiri menyender di pintu. Ingin tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Mami Alisa masih melotot. Papi Gilang terkekeh. Ia memainkan bibirnya seperti memberi ciuman jarak jauh untuk sang istri. Padahal mereka berdua saat ini saling duduk berdekatan.


Mami Alisa melotot lagi, Papi Gilang terkekeh. Ia mengangguk dan kembali serius berbicara dengan menantu idaman mereka berdua.


''Bangun nak. Duduk yang tegap. Lihat kami berdua. Papi ingin bicara serius dengan mu. Kinara! Kamu boleh masuk. Dan kunci pintu kamar nya agar tidak ada seorang pun yang akan mendengarkan pembicaraan kita!'' ucap Papi Gilang begitu serius.


Mata sipit itu semakin sipit saat berbicara serius kepada Tiara dan Kinara. Kinara menurut. Ia dengan segera mengunci pintu kamar itu dan duduk di sebelah sang Papi.


Ia bersender di bahu sang Papi. Matanya terpejam menikmati bau harum yang menguar dari tubuh cinta pertama nya itu. Ia melingkarkan tangannya pada lengan sang Papi. Mami Alisa tersenyum.

__ADS_1


''Kamu Dek! Udah punya suami loh.. nggak malu apa?'' tanya Mami Alisa pada Kinara.


Kinara terkekeh kecil. ''Enggak! Ngapain malu. Kak Tiara pun begini kok sama ayahnya. Iya kan kak?'' Tapi Tiara tidak menyahuti. ''Bagi seorang anak perempuan, Cinta pertama nya adalah ayahnya. Cinta terakhir baru suaminya. Cinta pertama adek ya Papi! Cinta terakhir adek ada sama Bang Ali! Cocokkan??'' tanya Kinara pada ketiga orang itu.


Ketiga nya terkekeh kecil. Benar yang Kinara katakan. ''Dengar nak. Papi dan Mami sangat setuju bila kamu yang menikah dengan Algi. Kami percaya, kamu bisa mengimbangi Algi yang punya sedikit masalah dalam mengendalikan emosi. Algi anak yang baik. Hanya saja kejadian ketika ia berumur sepuluh tahun dulu, membuatnya berubah menjadi keras seperti itu.''


Tiara mendongak. Mami Alisa tersenyum, ia mengelus pipi dan kepala Tiara. ''Mami percaya. Kamu bisa mengimbangi Algi. Dari cara kamu bicara kamu padanya sudah terlihat jika Algi begitu menurut padamu. Ia hanya sedang terluka nak. Masa kecilnya begitu kelam. Ia tidak ingin berbicara kepada siapapun tentang masalahnya termasuk kami berdua. Kecuali...'' Mami Alisa menoleh pada Kinara.


Kinara sibuk dengan mainan barunya. Yaitu memelintir ujung kemeja sang Papi yang berada di perut sang Papi saat ini.


''Dek??'' Panggil Tiara.


''Kakak bisa kok. Sekali dulu hati dan pikiran nya. Buat dirinya nyaman sama Kakak. Menurut yang aku lihat, kakak udah dekat banget loh sama bang Algi?'' Tiara tersenyum lembut pada Kinara.


''Maka dari itu, jangan pergi darinya. Ia akan hancur dan bertambah terluka jika kakak berpisah darinya. Dengarkan apa isi hatimu Kak. Jangan egois. Masalah seperti itu bisa di bicarakan baik-baik. Jangan pergi karena kamu takut bang Algi durhaka. Yang aku takutkan, dia akan durhaka bila kamu meninggalkan nya!''


Deg!


Deg!

__ADS_1


__ADS_2