
Setelah ucapan Algi yang membuat kedua orang tua mereka sadar jika Algi sangatlah merindukan kasih sayang kedua orang tuanya, hari ini Algi harus merasakan yang namanya sakit hati dan terluka akibat sang Istri yang sudah berencana pergi darinya.
Tidak ada yang tau seperti apa rumah tangga Algi dan Tiara saat ini. Kedua pasangan labil itu terpaksa berdiam diri dan tidak ingin mengatakan apapun kepada seluruh keluarga tentang kepergian Tiara.
Bahkan kedua orang tua Tiara sekalipun, Tiara tidak memberitahunya. Berbekal alamat dari sang ayah dulunya tentang rumah peninggalan sang Mama, ibu kandungnya. Kini, Tiara sudah berada di bandara diantarkan oleh Algi.
"Kamu tidak bisa mengubah keputusan kamu sayang?" tanya Algi yang kini masih enggan untuk melpaskan Tiara dari dekapan hangatnya.
Tiara tersenyum, "Keputusanku sudah bulat Bang Algi. Aku harap, kamu mengerti dengan keputusan ku ini. Semua ini aku lakukan untuk kehidupan kita kelak. Percayalah. Aku pergi bukan untuk selamanya. Tetapi aku pergi untuk kembali berada di sampingmu. Aku butuh waktu untuk mendidik diriku menjadi layak untuk menjadi pendamping seorang Algiandra Putra Bhaskara! Tidakkah kamu ingin memiliki istri yang bisa membuatmu bangga Bang Algi??"
Algi menghela nafasnya, "Lima tahun itu bukan waktu yang lama loh.. Bisa-bisa aku mati berdiri nantinya!" ketus Algi mendadak kesal dengan sang istri
Tiara tertawa, "Nggak akan lama. Percaya sama aku. Aku tidak akan berpaling darimu. Aku pergi untuk memantaskan diriku-,"
"Tetapi tidak dengan di Bandung juga sayang!" bantah Algi lagi semakin tidak rela melepas kepergian sang Istri.
Tiara tersenyum, masih ada satu jam lagi untuk pesawatnya berangkat menuju ke Jakarta. "Ikut aku!" Tiara menarik lembut tangan Algi untuk masuk ke kamar mandi di dalam ruang VIP yang sudah Algi sewa itu.
Algi kebingungan, "Kemana?"
"Ke kamar mandi!"
"Hah??" sahut Algi melongo mendengar ucapan Tiara.
Tiara yang gemas langsung saja menarik Algi untuk masuk ke kamar mandi. Tiba di dalam kamar mandi, Algi terkejut dengan kelakuan Tiara yang begitu nakal menggoda nya.
__ADS_1
Algi tidak menolaknya. Walaupun tadi malam mereka sudah berpuas diri hingga pagi. Tetap saja Tiara ingin pergi meninggalkan wajah Algi yang ceria karena sudah mendapatkan jatahnya.
Waktu satu jam cukup bagi mereka untuk menyalurkan kasih sayang mereka berdua. Setelahnya, Algi dengan sangat terpaksa melepas sang istri untuk pergi darinya.
"Masih terngiang ucapan Tiara tadi yang mengatakan jika ia meminta Algi menjatuhkan talak satu padanya. Setelah mereka melakukan penyatuan untuk yang terakhir kalinya.
"Tugasku sudah selesai bersama Abang. Dan sekarang, Abang bisa menjatuhkan talak satu padaku!"
Ddduuuuaarrrrrrrrr...
Serasa di hantam petir tubuh Algi mendengar ucapan sang istri yang meminta nya untuk menjatuhakn talak padanya dengan talak satu.
Bumi tempat ia berpijak rasanya bergoyang saat itu juga. Serasa diri Algi tersedot ke dalam perut bumi hingga sulit untuk bangkit dan kembali lagi ke daratan.
Tercubit hati Tiara melihat wajah sang suami menjadi datar dan dingin seperti itu padanya. Sekuat tenaga ia mencoba menahan gemuruh di dada yang sebentar lagi akan meledak.
Bibir tipis yang selalu membuat Algi candu itu terpaksa menyunggingkan senyun manis padanya. "Karena inilah yang aku mau. Inilah tujuanku menikah denganmu! Jika kita masih terikat, sangat sulit bagiku untuk bisa move on darimu," ucap Tiara dengan bibir bergetar.
"Aku ingin hidup sendiri tanpa bayang-bayang darimu! Aku ingin hidup sendiri tanpa ada lelaki yang mengikatku! Aku ingin hidup sendiri dan juga ingin pergi darimu! Maka dari itu.. Jatuhkan talak satu padaku! Jika kita berjodoh suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu kembali. Tetapi jika tidak. Maka hubungan kita cukup sampai disini!" tegas Tiara sambil menunduk.
Mata bulat bening itu tidak berani menatap Algi karena ia akan kembali lemah saat melihat mata lembut dan sayu milik Algi yang selalu membuat nya malu dan merona. Sekaligus terpesona padanya.
Apalagi saat wajah itu begitu dingin dan serius. Algi terlihat berlipat-lipat kali ketampanannya. Algi menatap datar pada Tiara. Tangan yang tadi nya mencekal tangan Tiara kini perlahan mengendur dan terjatuh ke sisi tubuhnya.
"Pergilah! Aku melepasmu pergi untuk mencari jati dirmu! Tetapi tidak untuk mejatuhkan talak padamu! Sekali aku mengucap ijab atas namamu, maka selamanya akan seperti itu! Pergilah! Aku mengizinkan kamu pergi! Dan kamu harus ingat ini Mutiara Halim Kusuma!"
__ADS_1
Deg, deg, deg..
Jantung Tiara berdegup tidak karuan saat mendengar ucapan Algi. "SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKAN MU MUTIARA HALIM KUSUMA! KAMU AKAN TETAP MENJADI SEORANG ISTRI DARI ALGIANDRA PUTRA BHASKARA SAMPAI KAPANPUN! BAHKAN SAMPAI AKU MATI SEKALIPUN! AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCERAIKAN MU! KAMU DENGAR ITU! PERGI!!"
Dddddduuuaaarrrrr..
Tersentak Tiara mendengar seruan Algi di dalam ruangan VIP itu. Algi menoleh ke arah lain. Sedang Tiara semakin sakit hatinya saat melihat cinta nya kini membenci dirinya karena perkataan nya.
Dengan tubuh yang lemas dan kaki yang bergetar, Tiara mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu. Sebelum ia keluar ruangan, Tiara masih sempat menggamit tangan Algi untuk ia salimi dengan takzim untuk yang terakhir kalinya.
Tiara pun masih sempat mengecup seluruh wajah tampan Algi dan Algi pun tidak menolaknya.
"Aku pergi. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan baru mu Bang Algiandra suamiku, cintaku, pujaan hatiku, imamku dunia dan akhirat. Maafkan aku... Cup!" Tiara mengecup putik ranum itu untuk yang terakhir kalinya yang semakin membuat tubuh keduanya bergetar hebat.
Tiara berlari keluar dari ruangan itu langsung menuju pesawat yang saat ini sudah akan berangkat.
Sedangkan Algi jatuh terduduk di lantai nan dingin dengan dada begitu sesak, air mata beruraian dan juga ia memekik kencang serta meraung di dalam ruangan itu hingga membuat seluruh orang menoleh padanya.
Tetapi Algi tidak peduli. Yang ia ingin saat ini ia melepaskan rasa sesak yang terus menghimpit dadanya dengan cara ia berteriak dan meraung memanggil nama Tiara.
Sedang yang dipanggil sudah mengudara dilangit Medan dan akan menuju langit Jakarta. Tinggallah kini, Algi seorang diri meratapi nasib takdir percintaan dan rumah tangganya yang sudah hancur dan tidak berbentuk seperti hatinya yang sudah hancur dan tidak berbentuk saat Tiara lebih memilih pergi darinya dengan alasan tidak pantas dan ingin memantaskan diri.
Alasan yang konyol menurut Algi. Tetapi Algi tidak bisa menahannya karena inilah perjanjiannya dulu dengan Tiara sebelum Tiara memutuskan untuk pergi.
Algi berhenti meraung, ia mengusap kasar air mata nya dan bergumam lirih. "Semoga apa yang ku tanam cepat tumbuh di rahimmu. Karena dengan adanya benih itu, maka kita berdua akan bertemu kembali. Sampai saat itu tiba, aku akan berubah menjadi lebih baik lagi. Menjadi sosok suami idaman seperti yang kamu mau selama ini. Aku akan sabar menunggumu, Mutiara. Istriku." Ucap Algi dengan segera pergi dari ruangan itu dan akan pulang kerumahnya untuk melanjutkan hidupnya setelah kepergian Tiara, istrinya.
__ADS_1