
Algi menatap dalam pada bola mata Tiara yang bersinar ketika melihatnya. "Baik, jika itu yang menjadi keinginan mu. Abang akan menuruti syaratmu. Tetapi tidak untuk melepaskanmu begitu saja Tiara. Sampai kapanpun kamu tetaplah istriku dan akan selamanya seperti itu. Dan ya, sebelum kamu pergi. Abang ingin meminta hak ku padamu. Hak ku sebagai suami mu. Dan kewajibanmu untuk menuruti permintaanku!" tegas Algi menatap Tiara dengan lekat.
Tiara kebingungan, "Hak? Hak seperti apa yang abang maksud? Bukan kah selama ini aku sudah memenuhi segala hak dan kewajibanmu selama kita menikah tiga tahun belakangan ini bang Algi? Lantas, hak yang mana yang kamu maksud??"
Algi tersenyum menyeringai melihat Tiara. Sedang Tiara semakin kebingungan melihat wajah Algi.
"Hak ku dengan cara aku menyentuh seluruh tubuhmu sebagai suami yang sah! Bukankah selama ini kamu belum pernah memberikan hak ku sebagai seorang suami yang berhak terhadap tubuhmu!"
Tiara semakin bingung menatap Algi. "Tubuhku?? Bukankah Abang sudah mendapatkan tubuhhku??" tanya Tiara sambil menatap mata Algi yang kini memancarakan sesuatu yang aneh.
__ADS_1
Tiara mundur ke belakang saat Algi mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara. "A-apa yang ingin Abang lakukan?" tanya Tiara dengan terus mundur hingga tubuhnya hampir saja jatuh terjungkal ke belakang jika tidak Algi yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai.
"Kamu harus melayaniku sebagai istri sebelum kamu pergi dariku. Untuk sebulan ke depan sampai perpisahan sekolah kita, kamu harus melayaniku sebagai istri. Baik dalam mengurus keperluanku dan juga memberikan hak ku. Yaitu hubungan suami istri. Paham?" bisik Algi di telinga Tiara hingga membuat Tiara memejamkan kedua matanya. Algi tersenyum melihat itu.
"Persiapkan dirimu malam ini. Abang ingin mendapatkan hak Abang sebagai suami sebelum kamu pergi sebulan lagi. Hak mu mulai berlaku nanti malam dan juga malam-malam seterusnya. Bersiaplah. Abang harus keluar dulu, Cup!" Algi mengecup sekilas putik ranum yang selama ini selalu menjadi candu untuknya.
Wajah Tiara memanas saat menyadari jika ucapan Algi adalah sesuatu yang sangat malu untuk ia dengar. Algi yang masih berada di depan pintu, terkekeh kecil saat melihat sang istri wajah nya memerah hingga ke seluruh telinganya.
Sedangakn Tiara ia berguling-guling di ranjang mereka berdua karena malu dengan ucapan Algi baru saja.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan memenuhi keinginan Abang. Toh, tidak ada salahny 'kan ya? Secara kami berdua sudah selesai dari sekolah? Begitu 'kan kata Papi dulu?? Oke, kita bersiap! Sebelumnya aku harus merubah sedikit kamar ini menjadi kamar pengantin! Huuaa.. Ibuu... Maluuu..." pekiknya sambil berlari ke dalam kamar mandi dan mulai melakukan ritual nya karena sudah masuk waktu ashar.
Algi yang saat ini sedang berada di mesjid langsung saja masuk dan mulai berwudhu sebelum ia mengumandangkan adzan.
Tiara tersenyum saat mendengar suara adzan yang Algi lantunkan begitu menyejukkan hati. Mengingat Algi, lagi dan lagi wajah itu memerah karena malu.
Ia pun mulai melaksanakna ibadah sholat asharnya sebelum ia merias kamar itu layaknya kamar pengantin yang dulu pernah ia lakukan bersama temannya saat pernikahan kakak dari temannya itu.
Semua itu harus siap sebelum Algi kembali kerumah nanti malam. Algi akan pulang biasanya setelah isya. Belum lagi tadi ia sempat mengatakan ingin bertemu seseorang. Pastilah lama, pikir Tiara.
__ADS_1
Ia pun langsung bergegas menyelesaikan segala sesuatunya sebelum Algi sang suami tiba dirumah mereka.