
Hari-hari yang Algi lewati begitu pilu. Disaat dirinya di hadapkan padamasalah rumah tangganya. Sang adik pun juga mendapat maslah yang sama.
Entah apa yang terjadi dengan sang adik. Yang jelas selam sebulan sudah tinggal dirumah Mami Alisa ia selalu Mengingau memanggil nama sang suami.
Tubuhnya begitu kurus. Putra angkatnya pun demikian. Jika Kinara tidak mau makan, maka ia pun tidak ingin makan. Sama seperti Kinara.
Algi hanya bisa menghela nafasnya. "Ya Allah... Segini banyka kah ujian yang Engkau berikan terhadap kami?? Semoga kami kuat ya Allah.. Berikanlah kesabaran dan kekuatan pada diri kami yang Engkau beriakn ujian ini.. Laayukallifullahu nafsaan illa'alal wus'aha," ucap Algi dengan menyapu wajahnya.
Ia menggulung sajadahnya dan meletakkannya di kursi meja rias milik sang istri. Baru sebentar ia mendudukkan diri sudah terdengar suara jeritan Mami Alisa yang memanggil Papi Gilang karena Kinara kembali bermimpi buruk.
Sedangkan Kinara saath ini masih tinggal di kediaman Mami Alisa dan Papi Gilang. Hal yang tidak pernah Kinara duga ialah, jika setiap malamnya ia selalu memimpikan tentang Ali yang tenggelam ke dasar lautan.
''Tidaaaaakkkk... Aliiiii....."
Deg!
Deg!
''Abangggg....'' pekik Kinara dengan mata terpejam hingga membuat Mami Alisa terkejut bukan main.
''Naraaa!!! Bangun Nak! Bangun! Kamu kenapa???'' pekik Mami Alisa begitu kuat.
Ia mengguncang-guncang tubuh Nara yang masih berada didalam mimpi. ''Papiii!! Kesini!!! Adek mimpi buruk lagiiii!!'' pekik Mami Alisa melalui pintu kamar yang terbuka.
Papi Gilang berlari bersama Algi menuju kamar atas. Saat ini Nara masih berada di rumah Mami Alisa. Karena sejak mimpi tentang Ali yang berulang kali itu membuat Mami Alisa dan Papi Gilang terpaksa harus memboyong Nara ke rumahnya kembali.
Maura tetap dirumahnya. Sudah sebulan ini, Nara tinggal di sana. Lagi dan lagi Nara selalu memimpikan Ali. ''Hiks .. Abang. Jangan pergi. Kalau Abang pergi, adek sama siapa??'' gumamnya masih dengan Mata terpejam.
Mami Alisa terisak melihat keadaan Nara yang selalu memimpikan Ali sang suami yang sedang bertugas di Papua sana.
__ADS_1
Sudah sebulan ini mereka berdua menghilang tanpa kabar. Semua nya dilanda cemas. Ingin cari tau tapi tak tau ingin cari tau pada siapa. Lagi pun Papi Gilang melarang keluarga besarnya untuk tidak mengganggu Lana dan Ali yang sedang bertugas.
Sementara diluar rumah Mami Alisa. Seseorang berdiri dengan tubuh bergetar. Ia melihat jendela kamar Nara yang terbuka lebar pertanda adik bungsunya itu ada di rumah Mami Alisa. Tepat seperti dugaan nya.
Dengan kaki yang rasanya tidak sanggup berjalan, Lana masuk kerumah itu setelah mengucapkan salam tapi tidak di dengar oleh siapa pun. Karena mereka semua sedang berkumpul di atas. Tepat nya di kamar Nara.
Dengan langkah yang terseok-seok Lana memaksakan kakinya menuju ke atas dimana kamar Nara berada. Baru setengah tangga yang ia naiki sudah terdengar suara Isak tangis yang begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar nya.
''Hiks... Abang... bang Lana.. bang Ali... adek kangen...'' igaunya lagi masih dengan mata terpejam.
Mami Alisa tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk tubuh Nara dengan erat. Ia terisak sambil memeluk tubuh ringkih Nara yang semakin kurus selama sebulan ini tidak mau makan sama sekali karena selalu mengingat Ali dan Lana yang tiada kabar sama sekali.
''Hiks... maafkan Abang Dek.. maaf... hiks..'' Isak Lana lagi masih di tengah tangga. Ia duduk tepekur disana sambil menangis memeluk tas Ali dan segala barang-barang Ali yang tertinggal di camp.
Selama sebulan pencarian Ali tapi tidak membuahkan hasil. Lana sampai shock menerima kenyataan jika Ali dinyatakan tewas dan menghilang di nyatakan oleh petugas tim SAR yang membantu mencari Ali selama sebulan ini.
''Aliiii.... hiks... Aliiii... aaaaaa Abang harus bilang apa sama istri kamu, Li!! Haaaaa... aaaaaaaaaa... aaaaaaaaaa...'' pekik Lana begitu keras di tengah tangga.
''Tunggu naaaakk.. mana mungkin Abang mu pulang. Ia masih bertugas di sana!!'' seru Mami Alisa begitu panik dan terkejut melihat Nara berlari menuju tangga.
Mereka bertiga berlari dengan panik karena melihat Nara berlari keluar mencari Lana. Tiba di undakan tangga, mereka bertiga mematung melihat Lana sedang menangis tersedu sedang Nara berdiri membeku di tempat karena melihat Lana terus memanggil Ali dengan suara lirih dan terisak-isak.
''A..Li... hiks.. A..Li.. ma.. maaf kan. hiks.. Abang hiks A..Li.. hiks.. haaaaa... aaaaaaaaaa... aaaaaaaaaa.. aaaaaaaaaa haaaaa...'' Lana tersedu di undakan tangga rumah Mami Alisa dan Papi Gilang.
Mereka berempat tidak ada satu pun yang bergerak mendekati Lana terkecuali Nara. Sekuat tenaga Nara mendekati Lana dan duduk dihadapan nya.
Ia menyentuh pipi Lana dan mengusap nya dengan sayang. Bibir itu bergetar menahan tangis yang sebentar lagi akan meluncur keluar.
Tangan Nara bergetar hebat. ''Abang...''
__ADS_1
Deg!
Deg!
Deg!
''Adek!!!'' seru Lana masih dengan terisak.
Nara mengangguk walau dengan bibir bergetar. Ia melihat tas Ali yang dulu dibawanya untuk bertugas disaat ia berada di bandara Kuala namu. Nara menyentuhnya.
Entah kenapa ia merasakan Ali ada disana. Nara memeluk tas itu dan....
''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk... haaaaa... Abaaaangg... tidaaaaaaakkkk... huaaaa... Bang Aliiii......''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Brruuuukkkkk...
''Sayang!!!''
''Mamiiii!!!''
Mami Alisa jatuh pingsan. Sedang Nara semakin meraung di dalam pelukan Lana. ''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk.... haaaaaaaaaa.... tidaaaaaaakkkk... Abaaaaaaaaaangggg.... bang Aliiiiiiiiiii......''
Deg!
Deg!
''Uhuuuukkk.. uhuuuukkk.. uhuuuukkk... Allahuakbar!!!! Naraaaaaaaaaaa....'' pekik seseorang nan jauh disana.
__ADS_1
Lana semakin erat memeluk tubuh Nara yang semakin histeris karena ia tau jika Ali sudah tewas dalam bertugas. Lana semakin bersalah terhadap Nara.