
Algi masih saja tersedu di pelukan kedua orang tuanya yang kini pun ikut tersedu sambil memeluk dirinya. "Ya Allah... Kenapa hidup semua anakku menjadi sama seperti diriku?? Hiks.. Pi.. Apakah semua ini azab untukku? Karena dulu aku melawan Papa karena menikahi mantan suamiku, Almarhum Bang Emil?" tanya Mami Alisa saat teringat dengan kejadian lalu tentang masa lalunya dengan almarhum ayah Emil yang tidak direstui oleh papa Yoga.
Papi Gilang menggeleng, "Nggak sayang. Semua itu bukanlah salahmu. Semua ini memang sudah menjadi ketetapan takdir untuk semua anak kita. Biarlah mereka berlima mengikuti jejak kita dulu. Apa salahnya dengan itu? Bukankah dengan cara itu kita bisa bersatu hingga saat ini dan tidak terpisahkan?"
Mami Alisa tergugu. Benar kata Papi Gilang. "Ingat sayang.. Laayukallifullahu nafsan illa 'alal wus'ahaa. Allah tidak akan menguji setiap hambanya diatas kemampuan mereka. Kamu masih ingat kan dengan dalil ini?"
Mami Alisa mengangguk masih dengan memeluk erat tubuh Algi yang kini sudah tidak lagi bergunacang. Ia terdiam dan sibuk mencerna ucapan sang Papi.
"Ingatkan saja dulu seperti apa terpuruk dan terlukanya diriku saat aku dipisahkan dengan mu dengan sebauh ancaman ingin membunuhmu?
Deg!
__ADS_1
Deg!
Jantung Algi berdentum-dentum. Rasanya ingin lepas saat mendengar kata pembunuhan dari mulut sang Papi untuk Maminya.
Algi mengurai pelukannya dan menatap serius Papi Gilang. Beliau tersenyum walau wajah sembab dengan air mata.
"Di bunuh? Karena apa? Oleh siapa? Kenapa Mami sampai ingin dibunuh dan juga kenapa Papi harus pergi meninggalkan Mami?" tanya Algi yang kini sudah duduk dengan baik dan menatap serius pada sang Papi yang kini tersenyum begitu teduh padanya.
"Semua itu terjadi karena Papi. Karena Papi menolak ingin menikah dengan Mama Vita. Mama kandung Abang kamu, Rayyan. Saat itu sulit bagi Papi untuk menerima Mama Vita sementara yang Papi inginkan saat itu adalah Mami kamu."
"Mami kamu segalanya buat Papi. Dan Opa kamu tau itu. Makanya mereka berdua membuat kesepakatan. Yang mana, Papi tetap harus menikahi Mama Vita kalau tidak ingin Mami kamu akan mereka bunuh. Papi sanagt kesal saat itu. Tetapi karena cinta Papi terhadap Mami kamu tidak bisa di ganggu dan ditawar-tawar kayak orang jaualan baju, maka Papi menerima kesepakatan itu." Mami Alisa terkekeh.
__ADS_1
"Dengan catatan, jangan mengganggu Mami kamu jika ingin pernikahan itu terjadi. Dan ya, semua itu terwujud. Tetapi tau kah kamu, Nak?" tanya Papi Gilang pada Algi yang kini sedang menatapnya dengan serius.
"Apa?" tanya Algi balik
"Papi saat itu merasakan dunia Papi hancur dan runtuh seketika. Papi tidak pernah membayangkan jika kami akan berpisah sebelum ikatan kami menjadi suci yang karena saat itu Papi masihlah berstatus SMA. Masih labil. Tetapi Mami kamu mengajarkan Papi agar tetap tenang dan tidak gegabah dalam mengambil setiap keputusan yang menyangkut kehidupan banyak orang dan juga Papi sendiri"
"Papi salut sama Mami kamu. Saat ia tau, kalau Papi sudah menikah, Mami kamu malah memilih mundur. Tetapi Papi tidak mau. Papi tetap ingin mempertahankannya agar tetap bersama Papi. Maka tercetuslah sebuah ide, Papi lebih dulu mendaftarkan pernikahan kami ke KUA sebelum Oma kamu yang mendaftarakan pernikahan Papi dan Mama vita."
"Jangan tanyakan seperti apa perasaan Papi saat itu. Papi begitu hancur. Papi sempat terpuruk setelah tiba di Amerika. Tetapi itu cuma sebentar. Setelahnya Papi kembali seperti biasa. Kamu tau apa yang menyebabkan Papi bangkit?"
Algi menggeleng, tetapi masih menatap serius kepada Papi Gilang. "Semua itu karena senyum Mami kamu. Mami kamu bisa tersenyum dan bekerja disaat hatinnya sedang terluka mengingat papi nan jauh disana. Kami berdua sama terpuruknya. Saling Cinta tetapi tetap berpisah. Untunglah Ada abang kamu dan kedua kakak kamu yang selalu memberi semangat untuk Papi. Mungkin jika bukan karena mereka bertiga.. Papi benar-benar terpuruk saat itu." Jelas Papi Gilang membuat Algi dan Mami Alisa meneteskan lagi air mata mereka.
__ADS_1