
Pukul tiga sore, mata kuliah Nara dan Algi sudah selesai. Kini mereka berdua sedang menuju kerumah Mami Alisa dan Papi Gilang karena paksaan dari Algi.
"Kamu harus pulang kerumah mami. Biar abang yang menyusul anak kamu diruamh kakak!" tegasnya
"Tapi Bang, adek mau pulamng keruamh kami aja.." lirihnya begitu lesu.
Algi menggeleng, "nggak! Sekali enggak tetap enggak!" tegas Algi pada Kinara. "Mana kunci motor kamu?" tanya nya pada Kinara yang mau tak mau Nara harus menuruti permintan Abang nya itu.
Nara mengambil kunci motor milik nya dan memeberikan nya pada Algi. Sedang motor sang mami ia titipkan pada satpan kampus. Nanti sore baru ia ambil motornya kesana.
"Ayo!" ajak Algi pada Nara yang tangannya saat ini sedang ditarik untuk naik ke motor, tetapi Nara menolaknya. Algi tidak peduli. Ia tetap memaksa sang adik agar ikut pulang kerumah kedua orang tua nya lantaran begitu khawatir terhadap keadaan Nara.
Nara pasrah saat dirinya dipaksa pulang oleh Algi dengan cara dipaksa. Nara terpaksa menurut karena Algi terus memaksanya dengan cara tangannya di tarik.
Mereka pulang dengan menggunakan motor Nara dengan Algi yang mengemudikan motor adik iparnya itu.
Cukup satu jam lebih sepuluh menit saja kini mereka sudah tiba di kediaman sang Mami dan Papi mereka.
Sebelum menaiki motor, Algi sempat merogoh ponsel nya dan mendial nama mami Alisa untuk mengabarkan keadaan sang adik yang saat ini sedang sakit.
__ADS_1
Mami Alisa begitu panik saat mendapat kabar dari Algi tentang Kinara yang tiba-tiba kejang di kampus saat makan siang tadi.
"Assalamu'alaikum Mami.." lirih Nara begitu lemas.
Seluruh tubuhnya terasa begitu lemas. "Ya Allah!!" seru Mami Alisa saat melihat tubuh Kinara yang terhuyung ke samping akibat pusing yang tiba-tiba melanda dirinya.
Algi memegang lenagn Nara dengan kuat, guna menahannya agar tidak terjatuh. "Adek belum makan Mi sedari siang tadi. Abang aja kaget pas tau adek belum makan. Masuk aja dulu Mi." Ucap Algi membuat Mami Alisa mengangguk setuju. Keduanya menoleh bersamaan pada sang Papi.
Papi Gilang yang baru saja pulang dari kantor pun terkejut melihat putri bungsunya sakit seperti itu. "Adek kenapa ini?" tanya Papi Gilang pada Mami Alisa dan Algi sambi berjalan mendekati mereka bertiga.
"Adek sakit Pi. Nggak tau aja seperti ada yang memanggil namanya dan juga tadi Abang bisa mendengar sekilas jika Bang Lana memanggil nama adek. Saat di kampus tadi, Adek sempat kejang-kejang yang entah karena apa. Yang jelas, adek manggil Bang Ali terus menerus," cerita Algi hingga membuat kedua paruh baya itu tertegun.
Kinara tidak berkutik. Tubuhnya begitu lemas. Dan juga rasanya seluruh sendi nya itu seperti mati rasa. Matanya begitu berat untuk terbuka.
Tiba di dalam kamar, Mami Alisa segera membuka kaos kaki dan juga hijab Kinara. Algi dan Papi Gilang menungguinya.
"Adek makan dulu ya? Mami udah minta Mbok Mi untuk bawa makan siang kamu kesini. Makan dulu, baru setelahnya kamu tidur. Pusing banget ya?" tanya Mami Alisa pada Kinara yang saat ini masih terpejam walau sesekali ia meringis menahan pusing di kepalanya karena belum lagi makan siang.
Kinara tidak menjawab, tetapi anggukan samar dari kepalanya menandakan iya. Mbok Mi pun datang dan segera memberikan piring berisi makan siang untuk Kinara.
__ADS_1
Algi membantu adiknya untuk duduk dan Mami Alisa mulai menyuapinya. Kinara menerima suapan itu dengan mata terpejam.
Tetapi anehnya, air mata itu mengalir lagi tanpa di minta. Kinara tidak terisak tetapi air mata itu terus berkeluaran dengan deras.
Papi Gilang pun duduk di samping Kinara dan memeluk erat putri bungsunya itu. "Sssstt.. Jangan menangis. Kalau kamu menangis, kami semua pun ikut menagis. Doa kan saja yang terbaik untuk suami kamu, hem?" ucapnya pada Kinara yang saat ini tersedu di dalam pelukan hangat cinta pertamanya ini.
Kinara hanya bisa menangis dan menangis. Karena itulah yang hatinya inginkan saat ini. Tidak tau kenapa, tetapi hatinya begitu sedih dan pilu. Sesak seakan tidak bisa bernafas. Berulang kali ia menghela nfasnya. Tapi tetap saja nafas itu seakan terhenti setiap kali Kinara menarik nafasnya.
Sekali lagi, Kinara masih bisa melihat Ali yang semakin tenggelam ke dasar laut yang begitu gelap.
Ia semakin erat memeluk tubuh sang Papi yang saat ini juga ikut menagis melihat putri bungsunya begitu merasakan sang suami nan jauh disana belum ada kabarnya.
Seharusnya, hari ini Ali menghubunginya karena sudah satu bulan keberadaan nya di Papua sana. Tetapi jangankan mendapat kabar dari Ali, yang ada malah dirinya merasakan firasat buruk semenjak sebulan yang lalu.
Tepatnya saat keberangkatan Ali ke Papua. Algi hanya bisa menghela nafasnya saat melihat sang adik sakit seperti itu.
Sambung menyambung dengan adek Kinara ye?
Like dan komen!
__ADS_1