
Dua jam lebih mengudara , kini mereka berlima sudah tiba di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Sudah ada Rayyan yang menunggu mereka disana.
''Assalamu'alaikum Papi.. Mami.. Adek-adek Abang!'' sapanya pada kelima orang itu.
Kinara berlari terlebih dahulu untuk menyalimi Abang nya dan memeluk erat tubuh kekar yang sudah lumayan berisi itu.
''Waalaikum salam nak.. Abang apa kabar? Mami kangen banget sama kamu! Cucu Mami mana?'' tanya Mami Alisa pada Rayyan.
Rayyan tertawa. ''Ada. Si kembar dirumah sama Mbak Sus nya. Kan, Abang jemput Mami ke sini?''
Mami Alisa pun ikut tertawa. ''Iya bener. Kenalkan Bang. Ini Adik ipar kamu. Kamu tidak sempat menemuinya kemarin kan? Karena lebih dulu harus pulang ke Bandung??''
Rayyan tersenyum. Tiara mengulurkan tangannya untuk menyakini Rayyan. Ia tersenyum dan menyambut hangat adik iparnya itu.
''Pantas saja adek nggak mau angkat ponselnya lagi. Ternyata. Sudah ada bidadari cantik disamping nya saat tidur malam ya?'' godanya pada Algi.
Algi hanya diam saja. Ia pura-pura so cool di depan Abangnya. Sedangkan Tiara tersipu malu. Kinara terkekeh. Ia menggamit lengan Rayyan untuk menuju ke mobilnya. Dengan senang hati Rayyan merangkul bahu adik kecilnya itu.
Mereka berlima berjalan bergandengan bersama. Dimana Algi bersama Tiara. Papi Gilang bersama Mami Alisa. Dan Rayyan bersama Nara.
Sepanjang perjalanan Kinara habis habisan di ledek oleh Rayyan tentang suaminya. Yaitu Ali. Yang saat ini sedang bertugas di perbatasan bersama Abang sulung mereka. Bang Lana.
Butuh dua jam lebih lagi untuk tiba di Bandung. Rayyan dan keluarga sepanjang jalan terus saja berbicara. Kali ini Algi yang menjadi sasaran ledekan Rayyan.
Tidak ada habisnya Rayyan jika bertemu adiknya. Pastilah ini yang terjadi. Tetapi dua saudara kembar itu tidak pernah marah. Inilah yang selalu mereka rindukan karena Rayyan tidak berkumpul bersama di Medan lagi.
Karena Rayyan sedang kuliah dan juga mengurus kantor cabang yang ada di Bandung saat ini.
__ADS_1
Dua jam kemudian, mereka tiba di kediaman Rayyan. Rumah berlantai dua yang di depan rumahnya terdapat pohon mangga dan rambutan yang memang sudah ada disana saat Papi Gilang membelinya dulu.
Si kembar pun sudah ada disana menunggu Opa dan Omanya. Mereka begitu senang saat melihat Papi Gilang dan Mami Alisa.
Rencananya besok pagi mereka semua akan berkeliling kota Bandung di pagi hari. Rayyan tidak bisa ikut. Karena tugas kuliah paginya ada pula di pagi itu. Dengan sangat terpaksa Rayyan tidak bisa ikut.
Mereka bersuka cita bersama. Algi dan Tiara sangat senang melihat si kembar. Mereka saling pandang saat melihat Zarra si putri cantik bang Rayyan duduk nyaman di pangkuan Algi.
''Semoga kita juga memiliki seperti ini ya sayang?'' bisik Algi di telinga Tiara.
Tiara menoleh pada Algi. Cup. Tiara melotot. Algi terkekeh, itu kesempatan untuknya untuk mengecup putik ranum yang semakin membuatnya candu itu.
Disaat seluruh keluarga sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan makan malam, mereka berdua bertugas untuk menjaga si kembar.
Algi menurut saja. Karena itulah keinginan nya. ''Kira-kira kita akan punya anak berapa ya sayang?'' lirih Algi sambil memainkan tangan Zarra yang saat ini ada dipangkuan nya.
Algi menoleh, ''Hemm.. tiga?'' Tiara mengangguk masih dengan menunduk.
''Boleh, tetapi sekaligus!''
''Hah??'' Terkejut Tiara mendengar nya.
''Tiga By?? Nggak salah? Gimana cara ngurusnya??'' lanjutnya lagi dengan wajah bingungnya.
Algi terkekeh, ia mendekat kan wajahnya ke wajah Tiara dan..
Cup.
__ADS_1
Lagi, Algi mengecup kembali putik ranum itu. Walau cuma sekilas, ada sensasi aneh di tubuh kedua nya.
Rayyan menggelengkan kepalanya tetapi ia senang melihat Algi sudah bisa kembali bisa tertawa. Tidak seperti tahun-tahun yang lalu, dirinya selalu lebih banyak diam dan jauh dari keluarga jika seluruh keluarga berkumpul.
Mengenang masa silam membuat Rayyan menghela nafasnya. ''Semoga kamu bahagia Dek..'' lirihnya terdengar oleh Kinara yang saat ini disamping nya.
''Amiiin.. Abang pun akan segera bahagia. Adek doakan. Abang akan menemukan seorang gadis yang sama seperti almarhumah kak Zahra. Baik wajah, jiwa dan raganya. Semuanya mirip kak Zahra!''
Deg!
Deg!
Rayyan terkejut. Tak lama setelahnya ia terkekeh, ''Terimakasih sayang.. semoga kamu pun bahagia dengan suami mu, hem? Adek Abang ini udah besar sekarang ya?'' ledeknya pada Kinara.
Kinara tertawa. ''Iya dong? sejak adek menikah dengan Abang Ali, adek udah bisa mengontrol diri. Gadis memang ditakdirkan untuk menjadi seorang istri. Tetapi sebelum menjadi seorang istri, ia terlebih dahulu menjadi seorang putri, adik dan kakak untuk keluarga nya. Adek paham itu sekarang, karena Mami selalu yang mengingatkan. Untuk Abang pun demikian. Kita sama sebenarnya. Berbeda jenis saja!'' jelas Kinara membuat Rayyan begitu gemas pada adik kecilnya itu.
Ia memeluk Kinara dengan erat sambil tertawa. Algi dan Tiara terkekeh melihatnya. ''Semoga ini tidak sementara sayang. Abang ingin untuk selamanya. Jika sampai hanya sementara, maka Abang akan menjadi seperti batu. Diam tetapi bernafas!''
Deg!
''By...'' lirih Tiara dengan mata berkaca-kaca. Algi tersenyum dan memeluk erat tubuh Tiara. ''Jangan pernah meninggalkan ku walau karena apapun! Kita jalani dan hadapi semuanya bersama jika kamu tidak ingin melihat ku menjadi raga tanpa nyawa dan menjadi batu tetapi bernafas!'' Tiara memeluk erat tubuh Algi dan terisak disana.
Aku pun tidak ingin berpisah darimu By.. seumur hidupku hanya kamu yang aku mau. Kamu cinta pertama dan terakhir ku Bang Algiandra.. selamanya akan seperti itu. Kalaupun suatu saat aku pergi, aku pergi untuk memantaskan diriku agar layak bersanding disampingmu.
Untuk menjadi istrimu yang tidak memalukan bagi seluruh keluarga mu. Aku sangat mencintai mu Bang Algiandra. Sangat. Takkan tergantikan dengan pemuda yang lain. Kalaupun kita berpisah. Selamanya hati ini akan menjadi milikmu.
Selamanya hanya kamu..
__ADS_1
Mutiara Halim Kusuma.