
Empat puluh lima menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit milik Lana. Tiba disana, Nara semakin pusing. Dengan sigap Ali mengendong nya ala bridal style di ikuti Lana dan Maura di belakang nya.
''Pusing Bang..'' bisik Nara pada Ali. ''Sabar ya? Itu Mak udah lari kesini ngejar kita,'' jawab Ali pada Nara. Aku terus berjalan hingga menemui Mami Alisa.
Mami Alisa berlari ketika melihat Nara di gendong Ali seperti itu. Ia semakin panik melihat wajah pucat Nara dalam gendongan Ali.
''Bawa masuk kesini, nak.. Ya Allah.. panas sekali tubuhnya..'' lirih Mak Alisa saat merasakan suhu tubuh Nara kembali menghangat.
''Tadi udah lumayan Mak, tapi ya namanya cuma sebentar obat pun nggak ada. Jadi ya.. kambuh lagi,'' ucap Ali pada Mak Alisa.
''Tak apa. Adek sering begini jika Abang sakit. Keduanya sama-sama sakit saat salah satu dari mereka merasakan sakit. Panggilkan dokter segera. Kayaknya adek harus dirawat disini.'' Kata Mak Alisa semakin gelisah.
Ali mengangguk patuh, ia ingin keluar untuk memanggil dokter tapi belum lagi ia memegang handel pintu, pintu ruang rawat inap Algi sudah terbuka dari luar.
Ada Lana dan Maura di belakang Dokter Bryan. ''Loh, masih sama juga ya? Jika satu yang sakit maka dua-duanya ikut sakit. Baiklah saya periksa dulu ya Mak?'' katanya pada Mak Alisa.
Mak Alisa mengangguk setuju. Ali berdiri disampingnya kiri Nara. Mata Nara terpejam erat, tapi tangan memijit pelipis. Begitu sakit terasa kepala nya.
Ali yang melihat itu, dengan segera menggantikan tangan Nara untuk memijat lembut kepala Nara. Mami Alisa tersenyum tipis. Begitu juga dengan Lana dan Maura.
Mereka tidak salah menerima Ali sebagai anggota keluarga mereka. ''Papi mana Mak??'' tanya Lana
__ADS_1
''Ada apa cari Papi?? Kangen kah??'' sahut Papi Gilang dengan wajah sok polosnya yang baru saja datang dari arah luar.
Mami Alisa tertawa begitu juga dokter Bryan dan juga Ali. Tapi tidak dengan Lana, pemuda tampan yang masih perjaka itu memutar bola mata malas.
Ia berdecak sebal. ''Abang bukan kangen sama Papi! Tapi lagi cari teman berkelahi! Puas?!'' ketus Lana begitu sewot.
Maura tertawa, sadar jika tertawa nya itu akan mengganggu Algi ia menutup mulutnya dan cekikikan disana. ''Diam kamu sayang! Mana rendang jengkol Abang? Abang lapar!'' katanya pada Maura masih dengan nada suara sewot.
Papi Gilang terkekeh. Ia pun ikut duduk di sofa bersebelahan dengan Lana. Maura duduk lesehan di lantai.
Ia juga membawa Ambal tadi dari rumah untuk di gelar dilantai untuk mereka makan bersama. ''Ayo, kita makan! Kakak bawa banyak nih makanan nya. Ali, Bry! kamu juga. Ayo sini duduk. Nanti kami gantian untuk makan bersama Mak dan Nara.'' imbuh Maura pada para lelaki diruangan itu terkecuali Algi yang masih istirahat.
Semua lelaki yang ada disana mengangguk setuju. Maura mengambil kan satu persatu untuk mereka semua. Setelah selesai, ia duduk bersama Mak Alisa di tepi bangkar Algi dan Nara yang sedang terpejam karena pengaruh obat. Setelah tadi dokter Bry memberikan obat pada Nara melalui suntikan.
Mereka makan sambil berbisik-bisik ria. Sesekali cekikikan dan sesekali juga terkekeh-kekeh. Siapa lagi pelakunya jika bukan Papi Gilang dan Lana.
''Kamu udah buka gembok belum?'' bisik Papi Gilang begitu lirih di telinga Lana tapi masih terdengar di telinga ketiga orang itu.
Ali Terkekeh, sedang Lana menghela nafasnya. ''Gimana mau buka gembok, baru ngasi uap panas, itu ladang udah kebanjiran aja!'' ketus Lana begitu kesal namun, dengan suara lirih seperti berbisik.
''Hihihi...'' Ali cekikikan sambil makan. Ia pun sibuk menyuapi mulutnya dengan rendang jengkol buatan Maura.
__ADS_1
Bryan menatap Lana. Ia masih bingung dengan percakapan ketiga orang itu. Tak ingin menyela, ia pun ikut makan dalam diam sambil mendengarkan apa kata Lana selanjutnya.
''Hihihi.. jadi belum bisa dong?'' kata Papi Gilang lagi masih dengan berbisik
Ali cekikikan. ''Ya belumlah Papi.. ini masih tulen! Perjaka tinting! Gimana mau nyoblos, wong ladangnya kebanjiran gara-gara si palang merah menyembur tiba-tiba datang lagi enak-enak nya!'' bisik Lana lagi pada Papi Gilang.
Papi Gilang tertawa. Hingga membuat Mami Alisa dan Maura menoleh pada mereka. Keempat orang itu terkekeh-kekeh melihat wajah penasaran Mami Alisa dan Maura.
Lana berbisik lagi. ''Cocok banget ini mah Papi. Jika adek kena si jago merah, sedang Abang kena si palang merah! Hadeeeuuhh.. meriah euuyy.. harus nahan puasa lagi sampai sepuluh hari! Bisa-bisa pusaka ku ini berkarat seperti kata Ali karena terlalu lama tidak di asah!'' tukas Lana sembari melirik Ali yang kini menatap nya dengan kesal.
''Hahaha...'' ke tiga orang itu tertawa terbahak hingga membuat Algi dan Nara terbangun dari tidurnya.
Mami Alisa berdecak sebal. ''Apa sih yang kamu ketawain?! Ini anaknya lagi sakit loh.. mau ketawa? Sana! keluar!'' tegas Mami Alisa dengan wajah kesalnya. Plus sewotnya tidak berkurang sedikit pun apa lagi pada Papi Gilang.
Keempat pria itu langsung kicep.Tidak Berani tertawa lagi. Tetapi masih cekikikan, terutama Ali. ''Hihihi... palang merah vs si jago merah euuy!!'' kelakar Ali.
Yang semakin membuat pemuda itu terkikik geli. ''Hihihi.. yang lebih kasian si Ali! Harus puasa selama dua tahun lagi! Bisa-bisa kayu lautnya tidak berfungsi lagi nanti!'' kelakar Lana masih dengan berbisik dan wajah menunduk.
Ali melototkan matanya. ''Mana ada kayak gitu Abang! Nggak mungkin dong, gara-gara puasa selama dua tahun bisa jadi lunglai kayak jeli?? Yang ada tuh ya! Semakin besar kayak pisang Raja!'' ketus Ali begitu kesal membalas ucapan Lana.
Papi Gilang, Lana dan dokter Bry terkikik-kikik geli. Sementara Ali semakin kesal dengan tingkah ketiga orang itu. Bryan baru sadar tentang cerita mereka ini. Ternyata tentang jebol menjebol. Jebol tanggul surga eeuuuyyy...
__ADS_1
Algi yang sudah sadar pun ikut terkekeh kecil. Cuma Mami Alisa tidak tau itu. Algi Terkekeh dengan mata terpejam.
''Ada-ada saja tingkah lelaki tua itu. Tapi Abang senang, mereka semua berkumpul disini. Hah. Ya Allah.. apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah rahasia yang aku simpan akan terbongkar juga? Belum lagi, adek udah tau siapa Tiara. Ya Allah.. jika memang ini adalah jalanmu, hamba mohon.. kukuhkan hati ke semua orang yang ada di dalam ruangan ini agar aku menerima Tiara sebagai istriku. Aku tidak meminta apapun lagi. Yang aku inginkan hanyalah.. Tiara bisa di terima dengan baik di dalam keluarga kami. Amiin..'' Doa Algi begitu tulus di dalam hatinya walau dengan mata terpejam.