
Sebulan sudah berlalu.
Kini Algi sudah bisa menjalani hari-hariya seperti biasa. Walau terkadang malamnya sering kali ia tersedu di sajadah nya sata memikirkan dan mendoakan keberadaan sang istri.
Tidak bisa di pungkiri, hati nya masih terluka akan hal itu. Tetapi apa yang harus ia perbuat, jika apa yang Papi Gilang katakan itu memang benar adanya.
Ia harus berubah menjad lebih baik lagi sebelum nantinya ia sudah siap bertemu dengan sang istri kembali.
Saat ini ia sedang duduk bersama temannya, saat tiba-tiba ia mendengar suara bisikn lirih dari Bang Lan sayup-sayup terdengar di telinganya.
"Adeeeeeekkkk.... Kinaraaaaaaaa!!!!"
Deg!
Algi tersentak. Ia yang lagi fokus dengan ponselnya karena sedang mencatat bahan kuliahnya, tiba-tiba saja terdengar suara bang Lana yang begitu lirih memnggil nama Kinara.
Tak lama setelahnya pun ia tersentak saat merasakan sesuatu tentang Kinara. Tanpa pamit kepada seluruh temannya, Algi berlari menuju kantin.
Firasatnya mengatakan jika Kinara sedang di kantin saat ini. Ia berlari menuju dimana Kinara berada.
Tiba disana, masih dengan nafas terengah, Algi mematung di belakang tubuh Kinara yng saat ini sedang tidak baik-baik saja. Benar. Firasatnya tidaklah salah.
Sementara Kinara saat ini sedang merasakan dadanya yang begitu sesak. Tiba-tiba saja sangat sesak hingga sulit untuk bernafas saat itu. Rasanya sakit sekali. Nggak bisa dibayangkan seperti apa rasa sakitnya.
Wajahnya merah padam. Kedua sahabatnya itu tidak menyadari keadaan Kinara saat ini. Karena mereka berdua sibuk dengan ponsel dan memasang headset di telinga mereka.
Semakin lama semakin sakit. Mata Kinara terpejam erat.
"Allahu Akbar... Bang Ali..." lirih Kinara dengan leher tercekat.
Di dalam mata yang terpejam terlihat jelas jika ali saat ini sedang terjatuh dari tebing tinggi hingga masuk ke dalam jurang.
__ADS_1
Ali hanya bisa menahan rasa sakit di tubuhnya dari setiap hempasan tubuhnya yang mengenai tebing bebatuan yang terjal itu saat tubuh itu merosot mengikuti curamnya tebing jurang itu.
Nafas Kinara semakin sesak saja saat melihat Ali jatuh ke dasar laut yang begitu dalam. Sekuat tenaga Kinara ingin melepaskan diri dari rasa sakit yang kini terus mendera dirinya.
Kinara memegang gelas itu dengan kuat hingga gelas itu jatuh ke lantai.
Cliiingg..
Pyyyyaarrrrr...
"Aaaakkhhtt... Bang Aliiiiii... Aaaaaaaa...."pekik Kinara sekuat tenga saat merasakan rsa yang seperti apa itu lepas dari tubuhnya. Tetapi karena tidak konsen, Kinara sampai jatuh ke bawah.
Greep!
"Adek!!" seru Algi yang memang sengaja sudah berada di belakng tubuh kinaar dan mematung melihat keadaan adik kembarnya itu.
Sedangkan nan jauh di dalam tebing curam itu, Ali menjerit kuat memanggil nama Kinara hingga air matanya menetes.
"Tidaaaaaaakkkkk... Aliiiiii...." pekik Lana lagi saat melihat Ali yang sudah jatuh ke dalam tebing yang tidak berdasar dan bermuara kan laut lepas disana.
Byuuurrr!!!
"Tidaaaaaakkkk.... Aliiiii... Tidaaaaakkk... Adikuuuuuuuu..." pekik Lana meraung di tebing curam itu.
Sementara Fatir ia melepaskan dirinya ingin turun mengejar Ali yang sudah jatuh ke dalam laut lepas. Tetapi tertahan karena tim Lana sudah lebih dulu turun untuk menyelamatkannya.
Fatir yang dipegangi memberontak tidak ingin untuk dibawa ke atas. "Lepas!! Abangku jatuh ke bawah! Biarkan aku yang menyusulnya!! Lepas!!!" serunya kepada dua orang yang kini memegangi tubuhnya dengan kuat.
Fatir tetap memberontak. Lana terduduk di tepian tebing itu dengan wajah basah air mata.
Sedangakn Kinara saat ini masih saja merasakan sakit. Bahkan rasa sesak di paru-parunya seperti dimasuki oleh air.
__ADS_1
Algi panik melihatnya. "Bangun! Kamu kenap dek!" serunya, tetapi Kinara tetap tidak sadar.
Air matanya menetes kala melihat Ali yang tenggelam di dalam air laut yang terus membawanya ke dasar laut sana.
Hingga Kinara tidak sanggup menggapai dengan tangannya. Kinara menangis. Air matanya semakin banyak menetes dan mengalir di sudut kedua matanya yang terpejam.
Algi panik dibuatnya. "Bangun dek! Kamu kenapa?!" tanya Algi lagi dengan gusar karena melihat Kinara yang terus menangis dengan mata terpejam dan tangan seperti melambai dan ingin memegang sesuatu.
"Bangun Dek!! Kinaraaaaa!!!"
Deg!
Deg!
Kedua sahabat itu baru terkejut saat melihat sahabat mereka jatuh di pelukan saudara kembarnya sendiri.
"Astgahfirullah!! Kinara kenapa Bang?!" seru Amel dan Fatia bersamaan.
Mereka mendekati Kinara yang kini sedang terpejam erat dengan tangan terus melambai seperti ingin mengambil sesuatu tetapi tidak tau apa yang ingin di ambil.
Sementara disana, tidak ada apapun yang bisa ia gapai. Fatia memegang tangan Kinara dengan erat.
Klep. Klep, klep.
Mata berbulu lentik mirip papi Gilang itu Terbuka. Nafasnya memburu. "Alhamdulillah dek! Kamu udah sadar! Emang kamu kenapa sih dek?" tanya Algi sembari mengangkat tubuh saudara kembarnya untuk duduk di kursi lagi seperti tadi.
Suasana kantin yang lumayan ramai, membuat semua orang panik saat melihat salah satu mahasiswa terpintar disana tiba-tiba saja kejang-kejang tidak jelas seperti itu.
Pemilik kantin datang. Ia menyerahkan minum kepada Algi untuk diberikan kepada Kinara. Dengan segera ia menenggak habis minuman itu untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering setelah tadi melihat sang suami tenggelam hingga ke dasar laut.
Kinara melihat Algi dengan mata berkaca-kaca. Algi dengan segera memeluknya. "Sabar... Doakan saja agar suamimu selamat ya? Kalaupuan ada apa-apa, 'kan ada bang Lana disana??" ucap Algi menenangkan Kinara yang kini tersedu di dalam pelukannya.
__ADS_1
Kinara tidak menjawab. Tetapi Ia semakin erat memeluk erat tubuh kurus Algi yang tidak sebanding dengan Papi Gilang, bang Lana, dan Ali. Suaminya sendiri.
Algi terus mengusap lembut punggung adiknya. "Ya Allah.. Firasat buruk apa ini? Kenapa adikku juga harus merasakan sakit yang sama seperti ku?? Ya Allah.. Engkau yang maha tau akan segala sesuatunya. Hamba berserah diri padamu ya Robb.." batin Algi berkecamuk saat memeluk erat tubuh Kinara yang semakin tidak menentu saat merasakan tubuh Kinara semakin bergetar dan tersedu.