
Langit belum menyerah untuk memperjuangkan cintanya dengan Laura. Dia tetap berusaha mendapatkan cinta Laura, karena dia yakin suatu saat akan merebut hati Laura.
Kevin mulai tidak suka melihat kehadiran Langit dikehidupan Laura. Dia merasa cemburu setiap Langit mengunjungi rumah Laura. Walaupun Laura tidak menunjukan kalau dia menyukai Langit tapi ini sangat mengusik Kevin.
Setelah sekian lama menahannya akhirnya diungkapkan juga oleh Kevin. Waktu Kevin datang tadi dia terkejut melihat Bunda dan Langit terlihat akrab sambil membuat adonan kue. Terlihat jelas Bunda dengan senang dengan kehadiran Langit.
Kevin merasa cemburu karena selama ini dia tidak pernah bisa seakrab itu dengan Bunda. Bunda Laura sangat baik padanya, tapi Kevin merasa ada satu dinding yang tidak bisa ditembus olehnya. Dia tidak pernah melihat Bunda tersenyum bebas seperti itu saat bersamanya.
Laura yang sejak tadi mengurung diri dikamar. Dia sengaja tidak keluar karena tahu saat ini sedang ada Langit dirumahnya. Bukannya tidak suka, tapi Laura tidak ingin memberi harapan pada Langit. Apalagi Bela terus saja merongrong Laura untuk membantunya.
Sebenarnya Laura enggan keluar kamar saat Bunda memanggilnya. Tapi begitu melihat kehadiran Kevin dia langsung sumbringah.
"Mas.." Laura tersenyum melihat kedatangan Kevin, dia bergegas menghampirinya.
"Mas kenapa? Kok diam saja. Mas sakit ya?" Laura menempelkan tangannya dikening Kevin.
Kevin meraih tangan Laura "Ngak kok"
"Tapi hari ini Mas aneh, tidak biasanya Mas diam saja seperti ini"
Kevin melirik kedapur saat mendengar tawa Bunda dan langit. Melihat itu Laura mengerti.
"Mas Ngak suka ya kalau Ak Langit datang kesini?"
"Memangnya Dia sering datang kesini?!"
"Dia datang menemui Bunda" Laura meraih tangan Kevin untuk membuatnya lebih nyaman.
"Sepertinya dia suka Adek!"
"Mas cemburu ya?" Laura tersenyum mengoda Kevin.
"Mas ngak suka saja dia sering datang kesini. Apalagi sepertinya Bunda sangat menyukainya!"
__ADS_1
"Mas.. Bunda sudah kenal Ak langit sejak dia masih kecil, sejak dulu Bunda menyanyanginya seperti Anak Bunda sendiri"
"Itu yang membuat Mas tambah Ngak suka dia!"
"Aku senang loh Mas cemburu, tapi Mas jangan khawatir Bunda itu sangat sayang sama Mas Kevin"
Setelah beberapa saat Laura menenangkan Kevin akhir dia bisa lebih rileks. Kevin menyuruh Laura ganti baju karena dia hendak mengajaknya makan malam diluar.
Kevin kedapur karena untuk memanggil Bunda karena ada tamu ingin bertemu.
Kevin memperhatikan Langit sedang mengaduk adonan kue Bunda. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini.
"Ngak ada kerja!?" Kevin bertanya pada Langit dengan tidak suka karena tidak memperdulikan kehadirannya.
"Sudah selesai" jawab Langit tanpa menoleh kearah Kevin.
"Tidak ada kegiatan lain selain datang kesini!?" Kevin semakin kesal.
Kevin berusaha menahan amarahnya. "Ini rumah tunangan Saya! Saya tidak suka kalau ada laki-laki yang sering datang kesini!"
"Dia baru tunangan Anda kan!" Langit tersenyum sinis.
"Maksud kamu apa!?"
"Saya melakukan apa yang Saya suka" jawab Langit cuek. "Kenapa tidak yakin bisa mempertahankan Laura?!"
Kevin hampir saja meledak, tapi Bunda baru saja masuk menepuk pundaknya. "Laura sudah siap, dia menunggu Nak Kevin diruang tamu". Bunda tahu saat ini suasana disini sedang panas.
Selama perjalanan Kevin terlihat tidak tenang, beberapa kali Laura harus mengingatkannya karena hampir hilang kendali.
Karena marah mendengar perkataan Langit tadi dan juga takut kalau Laura lebih memilih Langit. Akhirnya Kevin melamar Laura saat makan malam tadi. Tanpa persiapan, tanpa cinci Kevin melamar Laura untuk jadi istrinya.
Laura sangat gembira ini memang yang diinginkannya sejak dulu menjadi istri Kevin. Bagi Laura suatu anugrah dia dimiliki Kevin karema tidak ada laki-laki yang sesempurna Kevin dimata Laura.
__ADS_1
Laura menyampaikan niat Kevin kepada Bunda kalau Dia ingin menikahi Laura secepat mungkin. Bunda sempat menyarankan seperti sebelumnya agar mereka menikah setelah Laura wisuda. Tapi Kevin dan keluarganya setuju kalau pernikahan mereka dipercepat. Walau dengan berat hatu akhirnya Bunda mengiyakan. Entah kenapa Bunda rasanya berat melepaskan Laura untuk menikah dengan Kevin.
Sejak mereka pacaran pun Bunda sempat mengingatkan Laura untuk memikirkan ulang hubungan mereka. Ada ganjalan dihati Bunda saat melihat Kevin. Padahal selama ini Kevin dan keluarganya begitu baik pada mereka.
Acara pernikahan Laura semuanya diurus oleh keluarga Kevin. Mereka ingin pernikahan diselengarakan dengan besar-besaran mengingat Kevin putra satu- satunya dikeluarga mereka. Dia yang akan mewarisi hampir semua kekayaan keluarganya.
"Ara!" Langit menarik tangannya karena Laura mencoba menghindarinya hendak masuk kamar.
"Lepas Ak!" Laura mencoba menarik tangannya.
"Tolong pikirkan lagi! Jangan mengambil keputusan tergesa-gesa untuk menikah" Langit enggan melepaskan tangan Laura.
"Ak! Aku mengenal Mas Kevin sudah lama. Dan ini bukan keputusan yang tergesa-gesa" Laura kesal karena Langit tidak mau menyerah.
"Mengenal seseorang lebih lama bukan berarti kamu mengenal sifatnya"
"Ak aku hargai perhatian Aak selama ini, tapi tolong jangan kelewat batas dengan melakukan hal ini. Kita bukan siapa-siapa! Kalau menurutku sebaiknya Aak tidak usah ikut campur urusanku!"
"Ara aku perduli sama kamu, aku sayang dan cinta sama kamu. Aku ngak bisa melepaskan kamu sama orang yang menurut aku ngak cocok buat kamu.."
"Ak!" Laura memotong pembicaraan Langit. "Aku yang lebih tahu apa yang aku butuhkan dan aku inginkan. Sebaiknya Aak pikirkan saja diri Aak sendiri!"
"Tapi Ara.."
"Aak Mbak Bela yang lebih membutuhkan perhatian Aak dari pada aku.."
"Jangan bawah-bawah Bela disini! Ini ngak ada hubungannya sama dia! Aku mencintai kamu bukan Dia.."
Laura hendak menutup mulut Langit karena mengetahui Bela sedang ada didekat mereka. Namun Langit menyingkirkan tangan Laura.
Segala upaya Langit menghentikan pernikahannya dengan Laura gagal. Bunda sempat memberi nasehat ke Langit agar melupakan Laura. Walau sebenarnya Bunda lebih menyukai Langit ketimbang Kevin. Entah mengapa Bunda kurang nyaman setiap melihat Kevin, padahal Dia dan keluarganya banyak membantu mereka.
Laura tidak pernah menyangka kalau dia akan menikah semewah ini. Dia seperti princes dalam negeri dongeng mendapatkan seorang pangeran. Laura merasa ini seperti mimpi, Dia sempat beberapa kali mencubit tangannya untuk memastikan kalau ini bukan mimpi. Setiap tamu undangan akan berdecak kagum saat hadir di pernikahan mereka. Laura tahu ada banyak orang yang mencibirnya karena berhasil menikahi Kevin. Tapi bukan karena Kevin kaya raya yang membuat Laura jatuh cinta padanya. Tapi perhatian dan kasih sayang Kevinlah yang meluluhkan hatinya. Malah Laura lebih suka kalau Kevin dari keluarga sederhana, karena Laura lebih tenang karena tidak banyak wanita yang akan merebutnya dari Laura.
__ADS_1