
''Bang Algi..'' Isak Tiara dengan air mata yang terus beruraian.
Algi tersenyum, ''Ya, ini aku! Suamimu!'' jawab Algi yang reflek saja di peluk erat oleh Tiara.
Grep!
Algi tertawa. Begitu pun semhnswmua yang ada disana. ''Hiks.. kenapa selama ini Abang selalu diam? Kenapa nggak ngomong? Berarti Abang udah tau kalau aku ini gadis kecil itu? Sejak kapan?'' tanya Tiara bertubi-tubi hingga membuat Algi tertawa lagi.
''Kamu itu ya! Tanya itu satu-satu! Ini kok di borong semua kayak gitu! Satu kali tarikan nafas pula! Haha..'' Algi tertawa lagi.
Puk.
Tiara menepuk ringan lengan Algi karena kesal tidak menjawab pertanyaan nya. ''Du jawab bang Algi!'' seru Tiara sedikit kesal.
Algi berhenti tertawa. ''Oke, oke, Abang akan jawab. Ya, pemuda kecil yang pernah di lecehkan itu adalah Abang. Abang tau sama kamu saat kita bertemu pertama kali kelas satu SMP dulu. Abang ingin ngomong sama kamu, tetapi setiap kali di dekati sering kali lari. Seperti takut dengan yang namanya lelaki.. dan juga kejadian tujuh tahun yang lalu Abang tidak mati-,''
''Abang!'' seru Nara dengan mata berkaca-kaca
Algi terkekeh. ''Nggak mati tapi hampir mati! Sama saja kan ya? Dan ya, Abang memang sering mengikuti kemana pun kamu pergi setelah kita bertemu saat SMP dulu. Tetapi sayangnya, kamu sering kali menghilang entah kemana. Kenapa? Apakah kejadian itu begitu berbekas hingga sulit untuk dilupakan??'' tanya Algi penuh selidik
Tiara menunduk. Ia berulang kali menghela nafasnya. ''Ya.. kenangan tujuh tahun silam itu begitu membuat ku takut melihat lelaki yang selalu menatapku penuh Hasrat. Aku sering menghindar saat belajar kelompok bersama. Kita memang beda kelas Bang. Tetapi aku juga sering memperhatikan mu dari jauh. Bahkan aku sering izin hanya ingin melihatmu. Kamu selalu mengingatkan ku tentang pemuda kecil yang dulu pernah menyelematkan ku.''
''Hiks.. tetapi yang ku tau kalau kamu itu sudah tiada karena dibunuh oleh mereka. Hiks.. saat itu juga aku merasa hancur dan sangat bersalah padamu. Hari-hari ku lewati dalam kenestapaan yang tiada akhir. Hingga pada akhirnya aku melihatmu di gerbang sekolah masuk sampai kita pertama kali.''
''Pertama kali aku melihatmu hatiku begitu yakin jika kamu adalah anak kecil itu. Tetapi rasa trauma itu selalu menghantuiku ku! Setiap hari dan setiap malam. Tetapi ketika suara kamu terdengar, aku bisa kembali tenang. Hanya itu obat untukku dikala trauma ku kambuh lagi. Bapak dan ibu sudah berusaha membawaku berobat kemana-mana saja. Hingga kau hampir dilecehkan lagi untuk yang kesekian kalinya.. hiks.''
__ADS_1
Semuanya terkejut begitu juga dengan Pak Jaka dan Ibu Siti. Mereka begitu terkejut mendengar kebenaran yang tidak mereka tau selama ini.
''Apakah dia dukun cabul?'' tanya Algi
''Ya, bapak salah orang. Ia di tipu. Hampir saja aku di lecehkan untuk yang kedua kalinya jika tidak mengingat pesan mu dulu sebelum kita dibuang di aliran sungai itu. Hah.. kamu bilang, tendang aja burungnya hingga ia kesulitan berlari jika sampai suatu saat kamu dilecehkan lagi oleh mereka! Hiks..'' Tiara tersedu.
Lana Terkekeh. ''Dasar kamu Dek! Kenapa kamu mengajarkan Tiara kecil tentang burung sih?''
''Ya terus, adek harus apa Bang? Saat itu memang benar diantara hidup dan mati kami berdua. Mereka puas melecehkan kami setelah itu kami dihanyutkan ke sungai hingga ketika sadar Abang sudah berada di rumah sakit bersama kalian. Adek selalu mengingat Tiara, Bang. Sebelum kami tenggelam dan hanyut dibawa arus, itulah yang teringat olehku untuk mengingatkan Tiara mana tau ia mendapatkan pelecehan lagi. Tidak menutup kemungkinan bukan jika kami ini tidak di lecehkan? Sedang kami saja korban pelecehan!''
''CUKUP!'' sentak Papi Gilang tidak sanggup mendengar cerita Algi lagi.
''Terus, gimana cerita nya kamu bisa lepas dari dukungan cabul itu? dan juga kenapa kamu nggak ngomong sama bapak?'' tanya Algi lagi, tetap ingin tau.
''Sudah cukup Algiandra! Apa kamu tidak dengar apa yang Papi katakan?!'' seru Papi Gilang dengan suara rendahnya.
Algi memutar bola mata malas. ''Sebentar Papi! Abang penasaran ih! Gimana sih Papi??'' Mami Alisa tertawa.
Tiara pun ikut terkekeh kecil walau bibir nya sedang terisak saat ini. ''Saat itu pesan yang Abang katakan itu sangat berguna bagiku. Ingat-ingat tentang burung. Aku pikir burung diluar yang harus di tendang. Aku bingung dong? Nggak tau harus ngapain. Hingga dukun itu memaksaku untuk melayaninya.''
Tiara bergidik ngeri. ''A-aku kaget saat me-melihat bu-burung yang kamu bilang itu Bang! Serem ih! Kayak tiang listrik! Panjang! dan hitam legam kayak arang!''
Buhahahaha..
Ali dan Lana tertawa terbahak mendengar ucapan Tiara. Papi Gilang melototkan matanya. Sedangkan Mami Alisa tertawa hingga mengeluarkan air mata nya.
__ADS_1
''Hitam dan panjang? kayak iklan shampo ya?''
Plakk..
Tiara memukul lengan Algi hingga Algi pun ikut tertawa bersama. ''Terus, terus?'' tanya Algi lagi.
''Teras terus! Teras terus! Udah cukup Papi bilang! Gatal telinga Papi dengernya!'' potong Papi Gilang pada Algi.
Algi tertawa lagi. Jangan tanya seperti apa Lana dan Ali. Kedua pemuda itu tertawa terbahak di sudut kamar Algi. Geli sekali hati mereka mendengar ucapan Tiara yang begitu jujur tentang kebenaran masa lalunya.
''Dilanjut ya?''
''Ya!''
''Nggak!!'' sahut Ali dan Papi Gilang bersamaan. Mami Alisa tertawa melihat tingkah anak dan sisinya itu.
Ia pun ikut tertawa terbahak. ''Di lanjut aja biar nggak penasaran. Hehehe.. ehem, saat aku sadar burung itu ternyata burung di dalam segitiga Bermuda, reflek saja aku menendang burung hitam kayak arang itu hingga sang empu terjengkang ke belakang dengan kepala terbentur lantai nan dingin! Aku panik. Ya.. jalan satu-satunya ya.. dengan cara aku pukul lagi si tukang bohong itu hingga dia pingsan! Baru setelahnya aku lari. Aku melihat burung hitam panjang itu masih saja berdiri padahal sudah pingsan itu tuannya! Hiiiii... serem ih burung kayak gitu! Takut sekali aku melihat burung itu takutnya terbang pulang dan menerkam ku nanti! Bisa mati berdiri aku di terkenal burung hitam legam kayak arang itu!'' cerita Tiara masih dengan tubuh bergidik ngeri.
Papi Gilang hingga mual mendengar cerita Tiara. Entah apa yang di pikirkan sang Papi hingga beliau muntah-muntah di kamar mandi.
Sedang Lana dan Ali semakin tertawa terbahak mendengar penuturan Tiara baru saja. Kedua orang tua Tiara malu bukan main. Mereka turun ke bawah dengan tergesa.
Tiba di undakan tangga mereka berpapasan dengan Kinara yang sedang membawa minum dingin di dalam nampan. Ia terheran melihat tingkah kedua orang tau Tiara yang berjalan sambil menunduk.
''Ada apa dengan mereka?'' gumam Kinara dengan terus berjalan masuk ke kamar Algi.
__ADS_1