
Tak lama setelah kepergian Kinara dan dua saudara nya yang lain, Mami Alisa segera mengambil ponsel dari kantung celana sang Papi yang kini sedang melotot melihat kelakuan Mami Alisa.
"Sayang!" tegur nya pada Mami Alisa
Tetapi yang di tegur tidak peduli dengan tatapan sang suami yang kini sedang melotot padanya.
Algi terkikik geli melihat tingkah kedua orang tua nya itu yang selalu saja bisa membuat nya terkikik geli.
"Apasih Pi? Mami lagi mau hubungin Kakak. Ia harus tau tentang hal ini." Ucapnya dengan segera mendial nomor Annisa
Tetapi nomor yang dituju sedang berada di luar jangkauan!
Mami Alisa berdecak sebal. Lagi, ia mendial nomor rumah Annisa. Tetap saja tidak ada sahutan.
__ADS_1
"Ini anak kemana sih?! Giliran di hubungi nomornya malah nggak aktif! Rumah nya juga! Ck." Decak wanita paruh baya ratunya di hati Papi Gilang iitu.
"Coba hubungi nomor Tama. Mungkin ponsel kakak sedang kehabisan daya. Mana tau mereka saat ini sedang di jalan?" ucap Papi Gilang sembari merangkul bahu Mami Alisa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah mhereka.
Sedang Algi lebih memilih masuk ke kamarnya. Ia ingin istirahat sejenak sebelum nanti ke mesjid untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
Masuk ke dalam kamaranya dengan suasana hati yang begitu terluka karena dua hal. Pertama karena kepergian istrinya yang baru dua bulan ini.
Yang kedua karena kabar duka untuk saudara kembarnya.
Algi menghela nafasnya. Cahaya matahari sore masuk ke dalam kamarnya melalui jendela kamarnay yang terbuka.
Tempat dimana sang istri selalu duduk disana setiap sore dan pulang dari sekolah. Kini tempat itu berganti dengan dirinya.
__ADS_1
"Apa kabar mu sayang.. Abang kangen banget sama kamu. Kenapa kamu pergi disaat hati ini semakin terpaut padamu? Sampai kapan aku sanggup menunggu mu? Lima tahun itu bukan waktu yang singkat Tiara. Tega kamu ninggalin aku begitu aja. Dengan alasan yang tidak masuk akal. Tetapi tak apa. Sejauh apapun kamu pergi, jika kamu memaglah jodohku, kita pasti akan bertemu kembali. Alu akan menunggu waktu itu tiba. Dan disaat pertemuan itu kembali terjadi, Abang tidak akan pernah melepaskan mu lagi Tiara. Tidak akan pernah!" ucapnay denagn segera bangkit untuk masuk ke kamar mandi.
Sedangkan papi Gilang tertegun mendengar ucapan Algi yang begitu membuatnya menerka. Pasti terjadi sesuatu dengan Tiara hingga menantu nya itu memilih pergi meninggalkn putra nya dengan alasan yang tidak jelas.
"Papi akan membantu mu, Nak. Papi akan membawa Tiara kembali padamu. Papi janji. Papi akan mengurus masalah ini dan masalah Kinara. Untuk itu, Papi harap kalin berdua bersabar menunggu semua ini. Untuk Kinara, papi sudah mengirim satu orang kesana dan juag perbatasan antara laut Papua yang bermuara ke negeri orang. Cepat atau lamabt, kita pasti akan mendenagr kabarnya nanti. Karena Papi yakin, jika Ali masihlah Hidup hingga saat ini. Mungkin ia sedang terdampar di tempat nan jauh disana. Keyakinan papi tidak akan pernah salah. Karena papi bisa melihatnya di wajah Kinara yang begitu yakin akan kepulangan suaminya nanti."
"Dan untuk kamu Bang. Papi memang sudah berencana untuk mengirim orang agar bisa mengawasi Tiara. Cukup papi saja yang tau. Mami kamu pun tidak perlu tau," gumam Papi Gilang begitu lirih yang hanya di dengar olehnya saja.
Sementara nan jauh disana, seorang wanita yang baru saja pulang dari kampusnya, kini merasakan seluruh tubuhnya begitu penat.
Ia masuk ke dalam rumah itu dengan langkah gontai. "Ya Allah... Sesakit inikah berjauhan dengan nya? Hiks.. Aku sangat merindukan dirinya.. Aku ingin mencium bau keringat di lehernya yang selalu membuatku nyaman dan tenang. Hiks.. Bang Algi..." isaknya dengan menagis tersedu seorang diri di sofa rumahnya.
Paka Jaka hanya bisa menatap nanar pada tiara yang begitu tersiksa karena berjauhan dari Algi. Suaminya.
__ADS_1
Kini keduanya harus terbiasa hidup tanpa nya.