
Seminggu sudah Algi dirawat dirumah sakit, hari ini mereka berdua akan pulang ke kediaman keluarga Bhaskara.
Seminggu sejak pertemuan mereka dengan Rayyan, kini pemuda itu sudah kembali bertugas ke Bandung. Mereka pulang keesokan harinya karena melihat kondisi Algi yang sudah membaik.
Belum lagi perusahaan mereka yang di Bandung sedang membutuhkan Rayyan disana. Rayyan lah yang menjadi CEO disana.
''Sudah siap??'' tanya Papi Gilang pada Algi.
Algi mengangguk, ''Sudah Pi. Em.. kedua mertua dan adik ipar ku tinggal di mana Pi? Di rumah kita kah??''
Papi Gilang yang sudah berjalan duluan berhenti, ''Kedua meryau kamu Papi berikan tempat tinggal yang taidka jauh dari toko roti milik Mami kamu. Kami ajak tinggal di rumah kita, tetapi mereka berdua tidak mau. Mereka malah mau pulang kerumah mereka yang sudah terbakar itu. Ya mana boleh sama Mami kamu? Dari pada cari ribut dengan besan sendiri, tapi cari akan keluar. Dan jalan yang Papi berikan di terima oleh kedua mertua kamu. Tiara sebenarnya ingin ikut. Tapi Papi melarang nya. Papi tidak mengizinkan nya untuk ikut bersama Pak Jaka. Tetapi ia harus ikut bersama kita. Bukankah kalian sebentar lagi lulus??''
Algi tersenyum. ''Tindakan Papi sudah benar! Memang seperti itu seharusnya. Abang pun berpikir seperti itu. Tetapi karena tubuh Abang belum terlalu fit, makanya Abang diam saja. Makasih Papi...''
Papi Gilang menepuk lembut tubuh belakang Algi. ''Kami ini kedua orang tua mu. Mana mungkin kami membiarkan mu terluntang lantung diluar sana sementara rumah yang Papi bangun untuk Mami kamu itu cukup besar menampung kalian yang hanya berjumlah enam orang?? Kamu kan tau Sandara mu kamu itu lebih dari enam orang??''
Algi mengangguk dan terkekeh. ''Papi benar! Ada kak Ira dan bang Raga! Belum lagi empat anggota nya! Kak Annisa lagi? Ada dua juga kan anggota nya??''
Papi Gilang terkekeh. ''Ayo kita pulang. Mereka sedang menunggu kamu dirumah saat ini. Katanya besok, mereka akan pergi piknik di taman kota Medan. Kamu mau ikut??''
Algi menggeleng. ''Biarkan saja yang pergi Pi. Abang masih ingin istirahat dirumah. Lagi pun Senin kan udah balik ke sekolah lagi?''
''Iya sih. Ya sudahlah. Ayo kita pulang.''
''Ya,'' sahut Algi.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari rumah sakit dan masuk ke mobil yang sudah menunggu mereka disana.
Mereka pulang dalam keadaan senang. Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Algi sudah berdamai dengan hidupnya dan keluarganya. Sekarang mereka hidup bahagia bersama keluarga nya.
Satu jam kemudian.
Mereka tiba di depan rumah Mami Alisa dan Papi Gilang yang selama ini selalu Algi tempati. Seluruh saudaranya berkumpul menunggu nya disana.
Tapi tidak terlihat Bang Lana dan Ali suami Kinara. ''Assalamu'alaikum...''
''Waalaikum salam nak. Ayo masuk?''
''Iya Mi. Abang mana??''
Algi mengangguk, ''Sudah sampai toh?'' tanya Bu Siti mertua Algi.
Mami Alisa dan Algi tersenyum. ''Sudah Besan. Baru saja. Ayo, kamu harus istirahat dulu. Tiara sudah menunggu kamu dikamar. Hari ini Tiara kurang sehat. Dua hari setelah pulang dari rumah sakit Tiara kembali sakit lagi. Katanya perutnya yang masih sakit?''
Terlihat wajah Algi begitu khawatir. ''Abang duluan Mi. Mami sama yang lain istirahat aja. Abang udah nggak apa-apa kok. Mami tenang aja ya?? Abang masuk dulu!'' katanya pada Mami Alisa yang terbengong karena tingkah Algi yang berlari naik ke atas menuju kamar nya.
Papi Gilang dan Kinara terkekeh. ''Sudahlah sayang.. putra mu sekarang sudah tidak menjadi milikmu lagi. Dulu iya. Semenjak ia menikah, Apakah kamu tidak melihat perubahan nya??''
Mami Alisa tertegun dengan ucapan Papi Gilang. Wanita paruh baya itu melamun. Benar, selam dua tahun ini Algi lebih sering di luar di bandingkan dengan dirumah. Entah ada acara ataupun apapun, barulah Algi di rumah itu pun cuma sebentar.
Selebihnya ia sering menghilang dari pandangan mereka. Mami Alisa baru tau sekarang. Algi berubah setelah mengenal Tiara. Benar kata orang, jika putra kita sudah menemukan tambatan hatinya, pastilah ia lebih sering dengan istrinya dibandingkan dengan ibu nya. Ibu yang telah melahirkan nya.
__ADS_1
Mami Alisa menarik sedikit ujung bibirnya. ''Tak apa. Memang sudah sepantasnya bukan kalau Algi seperti itu? Abang kamu sudah besar sekarang. Ia sudah mengerti dengan tanggung jawabnya. Siapa Mami yang harus menahan dirinya sedang kan dirinya saja tidak pernah Mami perhatikan selama ini? Mami sadar diri kok. Mami memanglah yang melahirkan dan merawatnya. Tetapi kalau ia sudah besar, pastilah ia menjadi milik orang lain.. Tak apa. Mami masih punya Papi kan??''
Deg!
Jantung seseorang di atas undakan tangga sana berdentam tak karuan. Mata itu nanar menatap pada sang Mami.
''Mami...'' lirih Kinara
Mami Alisa tersenyum walau sangat terlihat begitu sendu. ''Tak apa nak. Abang kamu mau tinggal disini saja itu sudah cukup untuk kami. Kami tidak punya hak terhadap dirinya.. tugas kami sebagai orang tua sudah selesai ketika dia mengambil tanggung jawab dengan menikahi Tiara. Sudah.. kami tidak apa-apa. Ayo Pi? Kita istirahat. Mami butuh di pijat sama Papi!'' katanya sembari mengerling nakal pada Papi Gilang.
Papi Gilang melototkan matanya. Kinara tertawa. ''Mana bisa gitu sayang! Papi harus balik ke kantor loh..'' goda Papi Gilang pada Mami Alisa.
Ia tau sang Ratu nya sekarang sedang bersedih hati. Kinara pun tau. Mami Alisa pura-pura merengut. ''Ya sudah kalau kamu tidak mau! Biar aku cari Papi yang lain saja!''
''Sayang!!'' tegur Papi Gilang sambil berlari mendekati Mami Alisa dan merangkul sang istri untuk dibawa masuk ke kamarnya.
Sepanjang mereka naik tangga Mami Alisa selalu tertawa karena ulah sang Papi. Algi bersembunyi dibalik dinding kamarnya dan kamar Kinara.
Ia berdiri mematung di sana. Sementara Mami Alisa tersedu di pelukan sang suami saat tiba di kamarnya. Algi tau itu. Ia jatuh merosot ke bawah Kala mendengar suara Isak tangis dua paruh baya yang sudah membuatnya lahir ke dunia itu.
Tadi, Algi ingin masuk ke kamarnya. Tapi tidak jadi karena melihat wajah sang Mami mendadak sendu saat ia berlari meninggalkan nya.
Niat hati ingin kembali dan membujuk sang Mami agar mau memaafkannya, malah ia melihat pemandangan yang menggores hatinya.
Sang Mami, surga nya terluka karena dirinya yang sudah menikah. ''Hiks.. maafkan Abang Mami.. Abang nggak bermaksud hiks.. maaf...'' lirih Algi di depan pintu kamar sang Mami yang tertutup rapat.
__ADS_1