
Arshaka sampai di rumah pohon. Sebenarnya itu adalah rumah kecil yang dibangun di atas sebuah pohon besar di pinggir danau yang terletak di tengah hutan. Tempat itu dulu tidak sengaja ditemukan oleh Keynna yang hobi jalan-jalan dengan alasan mencari bola naga.
Arshaka segera berlari menuju hutan setelah memarkirkan motornya di pekarangan salah satu warga yang sangat ia kenal dengan baik. Disampingnya ada mobil BMW merah, sepertinya itu kepunyaan Keynna.
Tak lama, ia sampai di rumah pohon itu. Ia langsung memanjat tangga kayu yang tersampir di batang pohon dan naik ke atas. Setelah masuk ke rumah pohon, ia mendapati Keynna sedang duduk menekuk lutut dengan kepala yang tenggelam diantara lipatan lengannya. Pundak gadis itu bergetar.
Arshaka duduk bersimpuh dihadapan Keynna lalu memeluk Keynna. Bisa dirasakannya bahu gadis itu menegang, mungkin terkejut.
"Sst, ini gue." Sedetik kemudian Keynna kembali menangis sembari balas memeluk Arshaka erat.
Arshaka diam saja. Ia membiarkan cewe itu untuk menumpahkan semuanya terlebih dahulu. Ia hanya mengusap lembut punggung bergetar itu sambil sesekali mengecup puncak kepalanya.
Setengah jam berlalu, Arshaka melepaskan pelukannya setelah dirasa Keynna tak menangis sehebat tadi. Di usapnya air mata yang masih mengalir di pipinya dengan kedua ibu jarinya. Keynna menutup matanya ketika Arshaka mengecup lembut dua kelopak matanya.
“Udah?” tanya Arshaka lembut. Keynna hanya mengangguk.
“Semuanya baik-baik aja?” Arshaka kembali bertanya sembari tetap menatap lurus pada gadis kesayangannya ini.
“Enggak,” jawab Keynna lirih. “Dia jahat, dia bahkan nampar gue.” Keynna kembali terisak pelan.
Arshaka terkejut. Siapa yang berani-beraninya menampar keynna? Lalu pandangannya jatuh pada sudut bibir Keynna yang sedikit sobek, ada sedikit darah disana.
“Ini sakit?” tanya Arshaka sambil mengelus sudut bibir terluka Keynna.
“Lebih sakit hati gue.” timpal Keynna lirih.
Arshaka kembali memeluk Keynna dan mengusap punggung cewe itu. “Gapapa. Semuanya akan baik-baik aja. Jangan sedih.” Hiburnya.
“Gue hiks gue cuma gak hiks nyangka, ka-kalau keluarga gue hancur.” Isak Keynna. Arshaka hanya diam mendengarkan. Membiarkan gadis itu menumpahkan semuanya.
“Gu-gue fikir, gue bakal terus punya keluarga yang utuh dan bahagia. Nyatanya enggak. Bahkan papa berubah. Dia jahat, hiks.”
“Gue kecewa, gue marah. Gue rasanya pengen mati aja!”
__ADS_1
Arshaka mengeratkan pelukannya. Tidak, tidak akan dia biarkan gadis kesayangannya meninggalkanya lagi. Cukup 2 tahun itu, dia tak akan sanggup lagi.
“Lo gak boleh ngomong gitu. Kalau lo mati, banyak yang akan sedih. Mama lo, keluarga lo yang lain dan gue juga. Lo boleh marah, lo boleh sedih tapi jangan berlebihan. Di setiap masalah pasti ada pembelajarannya. Tuhan sayang banget sama lo, dia nguji lo biar lo jadi lebih kuat lagi.” Ujar Arshaka.
“Saka,” Keynna melepaskan pelukannya, pandangannya menatap lurus pada manik kelam milik Arshaka. “Lo gak akan tinggalin gue kayak papa kan?” tanya Keynna sendu.
Arshaka tersenyum manis lalu mengecup dahi Keynna, “Gue bukan papa lo.”
“Janji?” Keynna mengangkat jari kelingkingnya.
Arshaka menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Keynna, berjanji. “Apapun untuk lo, Na.”
***
Anna dan Lisa kebingungan mencari keberadaan Keynna. Tadi Keynna pamit untuk mengangkat telfon tapi sudah setengah jam dia tidak kembali. Mereka mulai khawatir apalagi ponsel gadis itu tidak aktif. Anna dan Lisa duduk gelisah di kursi restoran.
“Duh, An. Gimana nih? Si Keynna gak balik-balik.” Panik Lisa.
“Gue gak tau euy. Dia kemana sih? Kan tadi pamitnya cuma mau angkat telfon doang.” Timpal Anna.
Anna mengambil ponselnya yang bergetar, sepertinya ada pesan masuk. Dan benar saja, ada chat dari Arshaka, mengabarkan bahwa Keynna baik-baik saja bersama dirinya.
“Si Keynna asal cabut aja, mana ngapel lagi sama si Saka.” Gerutu Anna sambil menyimpan hp nya kembali.
“Apa-apa? Kenapa? Keynna ketemu?” berondong Lisa.
“Iya,” Anna mengangguk. “Sama Arshaka. Gak tau deh kemana.”
Lisa menghembuskan nafas lega, setidaknya Keynna baik-baik saja, jadi mereka tidak akan dituduh telah menghilangkan Keynna kan?
“Yaudah kuy, balik. Ntar kita tanya aja si Keynna besok.” Ajak Lisa lalu berdiri.
Anna ikut berdiri, “Kuy, tapi Lisa bayarin ya.” Setelah mengatakan itu Anna langsung ngacir pergi.
__ADS_1
“Anna sompret!" Umpat Lisa.
***
Motor sport Arshaka membelah jalanan kota Bandung yang nampak masih ramai. Diliriknya Keynna yang berada dibelakangnya melalui kaca spion. Wajah gadis itu nampak kacau, nampak bekas air mata masih terlihat ditambah dengan kedua mata yang bengkak dan rambut yang kusut. Tapi Arshaka akui gadis itu masih terlihat cantik.
Awalnya sebelum pulang, Arshaka menawari agar menggunakan mobil cewe itu, tapi Keynna menggeleng tidak mau. Dia ingin merasakan udara malam kota Bandung, berharap perasaannya dapat membaik. Akhirnya Arshaka terpaksa menuruti setelah memaksa Keynna agar memakai jaket miliknya karena cewe itu tidak membawa jaket.
Setelah puas menatap, Arshaka langsung fokus menatap ke depan. Tiba-tiba dirasanya punggungnya memberat dan diliriknya kembali Keynna yang sedang menyandarkan kepalanya pada punggung Arshaka. Sepertinya gadis itu kelelahan. Untuk berjaga-jaga, Arshaka menarik kedua tangan Keynna untuk melingkari perutnya dengan tangan kiri cowo itu menahan kedua tangan Keynna di depan sambil sesekali dielus. Tidak ada pergerakan dari keynna lalu cowo itu mulai menatap ke depan.
Tak lama mereka telah sampai di depan gerbang rumah Keynna. Rumah itu terlihat sedikit menyeramkan karena beberapa lampu sudah dimatikan. Arshaka mematikan mesin motornya lalu berbalik menatap keynna yang sepertinya sudah terjaga.
“Turun Na. Kita udah sampai,”
Keynna turun dari atas motor dengan bantuan Arshaka. Dia sama sekali tidak punya tenaga setelah menangis cukup lama.
Keynna menatap Arshaka lalu tersenyum tipis, “Makasih Saka....buat semuanya.”
Arshaka mengangguk, “Kalau lo merasa dunia mulai berbalik, jangan lupa gue masih ada.” Ujar Arshaka tersenyum tipis lalu mengelus pipi Keynna pelan.
“Siap-siap aja berarti lo gue repotin tiap kali gue sedih. Terus gue bakal suruh lo bawa martabak sama cimol nanti.” Kekeh Keynna. Dia nampak bisa tersenyum lagi. Arshaka kembali berhasil menyembuhkan laranya malam ini.
“Nah itu baru Nana gue. Jangan sedih lagi ya. Gue rela bawa martabak sama cimol kalau perlu sama gerobak-gerobaknya biar lo gak sedih terus.”
“Sa ae kang mantan.” Mereka pun tertawa bersama.
“Gih, masuk. Udah malem, jangan lupa bersih-bersih dulu sebelum tidur.” Titah Arshaka.
Keynna mengangguk lalu melambaikan tangan pada Arshaka yang sudah menaiki motornya, “Makasih ya sekali lagi. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut.”
Arshaka mengangguk, “Nanti besok gue jemput biar pulang sekolah nanti kita ambil mobil lo.”
Keynna mengangguk lalu tersenyum manis yang dibalas dengan senyuman tipis Arshaka. Arshaka menyalakan mesin motornya lalu memacu kendaraannya pergi. Kini Keynna tidak merasa sedih lagi, meski luka yang papanya torehkan masih membekas, kehadiran Arshaka dan penghiburannya membuat Keynna merasa tidak sendirian.
__ADS_1
“Thanks Saka.” ucap Keynna lirih.