Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
S02 - 21


__ADS_3

Panji berjalan menuju ruang rawat Keynna. Ketika lelaki itu telah sampai di depan pintu, Panji mendengar mereka berdua berbicara dari celah pintu yang memang tidak tertutup rapat.


"Jadi Keynna udah siuman." gumamnya.


Lelaki itu hendak mengetuk pintu namun diurungkan karena mendengar ucapan Lisa.


"Key, hamil bukan sesuatu yang akan ditunggu waktu. Semakin lama perut Lo bakal membesar jadi mau gak mau, siap atau gak siap Lo harus jujur terlebih sama Arshaka dan keluarga Lo."


"Lo tau kan dia aib? Dia ada di luar ikatan pernikahan!"


Deg


Panji terkejut luar biasa mendengar fakta yang baru saja dia dengar. Keynna hamil anak Arshaka?!


"Tapi itu bukan salah dia, itu salah kedua orang tuanya. Lo sama Saka. Janin ini gak bersalah. Lo gak berhak sebut dia aib. Tapi kelakuan orang tuanyalah yang aib menjijikan." Panji semakin mendekatkan telinganya ke daun pintu.


"Sorry Key, bukan maksud gue. Sorry, kalau ucapan gue nyakitin Lo."


"Lo bener kok. Gue yang salah. Gue dengan jelas dan inget lakuin gak semestinya sama Saka tapi sekuat apapun gue mencoba bertahan, gue tetep terhipnotis sama dia. Dari kejadian itu gue sadar, kalau gue emang secinta itu sama dia."


"Kalau gitu kenapa Lo gak balikan aja Key?"


"Gue mau tapi gue gak yakin. Gagalnya pernikahan nyokap dan bokap bikin gue trauma dan sejujurnya gue juga gak yakin soal makna pernikahan itu apa."


Panji tidak bisa menahannya lagi. Lelaki itu berbalik pergi. Terburu-buru ingin menyampaikan kabar bahagia ini pada sang calon ayah.


****


"Jadi maksud Lo, Keynna hamil anak Arshaka tapi dia gak mau?" tanya Raffa.


"Gue gak bilang dia gak mau ya. Keynna cuma bilang kalau dia itu aib!" jawab Panji.


Arshaka mengepalkan tangannya, "Aib?" ulangnya penuh penekanan. Panji dan Raffa menoleh.


"Saka, gue rasa Keynna cuma masih kaget aja. Bukan berarti dia bener-bener nganggap kayak gitu, ya kan Nji?"


Panji lekas mengangguk, "Iya tadi dia juga bilang kalau dia khawatir sama keadaan janinnya. Lo gak usah marah." timpal Panji menenangkan.


"Saka, karena Lo udah tahu tentang ini, lebih baik Lo bicara sama Keynna." saran Raffa. "Tapi setelah Lo lebih baik." lanjut Raffa sembari menahan pundak Arshaka yang ingin bangun.


"Gue mesti ketemu Keynna, Fa. Jangan nahan gue!"


"Lo masih sakit, Arshaka. Siapa yang bakal jagain Keynna sama anak Lo kalau Lo juga masih sakit? Seenggaknya biarin sampai luka Lo mendingan." ucap Raffa bijak.


"Tapi yang bikin gue penasaran, itu beneran anak Lo?" celetuk Panji. Arshaka mendelik tajam.


"Lo mau gue lempar dari lantai 3?" ancam Arshaka.


"Slow boss. Mati gue dong sebelum kawin." balas Panji nyengir. "Gue penasaran doang. Kapan bikinnya?" tanyanya.


Raffa juga ikutan menatap Arshaka dengan penasaran. Dia juga belum tau latar belakang bagaimana terciptanya janin kecil di perut Keynna.


"Waktu di Lombok." balas Arshaka.


"Apa?!" pekik keduanya.


"Kapan?" tanya Panji.


"Malam terakhir kita disana. Gue mabuk dan gak sengaja--" Rupanya tidak seperti dugaan Keynna, Arshaka mengingat apa yang telah terjadi di malam itu.


"Gila Lo. Ditinggal 10 tahun, sekalinya ngejar langsung ciptain benih. Keynna sih gak bisa kabur lagi!" komentar Raffa terpukau.


"Itu yang gue harapin, kalau Keynna gak akan kabur lagi." ucap Arshaka tersenyum tipis.


Lelaki itu tak menganggap bahwa janin tersebut aib seperti Keynna. Namun lebih pada sebuah berkah karena dengan adanya janin kecil itu, perempuan itu tak akan bisa kemana-mana. Keynna selamanya akan terikat dengannya.


***


Keesokan harinya, Kieena datang menjenguk Arshaka. Lelaki itu sedang sendirian di kamar inapnya ketika Kieena datang membawa sebuket buah-buah segar. Karena kejadian penusukan itu, Arshaka menjadi waspada.


"Sayang!" sapa Kieena.


Perempuan itu memeluk Arshaka dan terisak kecil. Bahunya bergetar.


"Maaf aku baru jenguk. Sejujurnya aku masih syok." lirih perempuan itu sesenggukan. Entah itu tangisan palsu atau bukan.


"Gak apa-apa, Ki. Aku ngerti." ucap Arshaka tak membalas pelukan Kieena.


"Apa kamu terluka parah? Kata dokter gimana?" tanya Kieena beruntun. Perempuan itu melepas pelukannya guna melihat sekujur tubuh Arshaka dengan seksama.

__ADS_1


"Hanya luka goresan, gak dalem." jawab Arshaka.


Sedetik, Arshaka bisa menangkap perubahan ekpresi Kieena yang terlihat kecewa namun perempuan itu langsung tersenyum lebar.


"Syukurlah, aku lega." desahnya.


"Aku kaget banget ketika ODGJ itu tiba-tiba nusuk kamu yang lagi bayar makan. Oh ya, udah tau gimana hasil penyelidikan polisi?"


Arshaka menggeleng, "Belum. Tapi kayaknya itu gak disengaja. Gak mungkin kan ada orang yang nyuruh orang gak waras nusuk sembarang orang?" pancing Arshaka.


Kieena tersentak, "Tentu. Dia kan gila." ucapnya tertawa. "Aku senang kamu baik-baik saja, Saka. Aku gak bisa bayangin kalau kamu terluka lebih parah. Mulai sekarang, kita jangan makan di tempat itu lagi ya. Aku gak mau kejadian mengerikan itu terulang lagi." pinta Kieena.


Arshaka mengangguk.


Ceklek


Pintu ruang rawat terbuka menampilkan sosok maskulin Alvaro dengan setelan jasnya. Lelaki itu nampak terkejut ketika melihat kehadiran Kieena.


"Hai, Saka, dan Kieena." sapanya.


"Hai, kak Alvaro." sapa balik Kieena ramah.


"Um, sayang, aku harus kembali ke kantor ya. Kebetulan ada meeting penting." pamit Kieena.


"Buru-buru banget, Ki?" tanya Alvaro basa-basi. Sejujurnya dia memang menginginkan perempuan itu segera pergi karena ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Arshaka.


"Iya kak, ada urusan." balas Kieena tersenyum. "Aku pulang dulu ya sayang. Nanti malam aku kesini."


"Gak usah kesini nanti malam. Kamu pasti capek. Besok pagi aja ya." larang Arshaka. "Gimana kalau Lo ternyata nusuk leher gue disaat gue lagi tidur?" Lanjutnya dalam hati.


"Yaudah deh. Aku juga takut ganggu tidur kamu." ucap Kieena mengalah. "Aku pergi ya. Bye, sayang, kak Alvaro duluan."


Kieena keluar dari ruangan.


Alvaro kemudian mengecek area luar, dua menit setelah kepergian Kieena guna memastikan perempuan itu tidak menguping pembicaraannya.


"Apa ada hal penting yang mau Lo bicarain, Al?" tanya Arshaka usai Alvaro kembali ke dalam.


"Iya, soal kejadian kemarin." Alvaro bekerja sebagai pengacara keluarga Aldebaran dan juga perusahaan. Dia adalah teman dan orang kepercayaan Arshaka selain Raffa.


"Polisi udah umumin hasil penyelidikan. Dan memang kejadian itu murni tanpa kesengajaan. Lima menit sebelum kejadian, ODGJ itu lagi jalan gak tentu arah dan dia sampai di sebuah warung pinggir jalan, jaraknya cuma 100 meter dari restoran Lo makan. Dari CCTV warung, ODGJ itu ngeliat ada pisau bekas potong pisang tergeletak di atas talenan dan dia mengambilnya. Jadi barang bukti pisau itu 100% bukan milik dia." papar Alvaro.


"Pisau itu diumpetin di balik bajunya. Orang-orang gak merhatiin dia karena dia memang orang gila. Jadi kalau dia bertindak aneh juga orang menganggap wajar."


"Terus?"


"ODGJ itu berjalan sambil bawa pisau di bajunya dan sampai di restoran, tempat Lo makan. Dan dari CCTV luar keliatan dia masuk ke dalam restoran dan nusuk Lo yang lagi berdiri bayar makanan."


"Udah gitu aja? Jadi dia memang fiks orang dalam gangguan jiwa? Bukan pembunuh bayaran yang disewa buat matiin gue?"


"Berdasarkan hasil kejiwaannya, dia emang terganggu. Tapi anehnya, biasanya ODGJ cenderung menetap di suatu daerah kan? Jadi seharusnya orang-orang sekitar juga tau dan kenal. Tapi dari beberapa masyarakat yang gue tanyain, gak ada satupun yang kenal tuh ODGJ. Jadi kemungkinan dia baru di daerah itu dan langsung buat ulah."


"Ini aneh sih, Al. Kayak secara kebetulan ada ODGJ baru terus nusuk orang dengan pisau curian? Terlalu banyak yang janggal."


Alvaro mengangguk, "Gue bakal cari tau lebih lanjut ya."


"Thanks, Al." ucap Arshaka.


***


Sudah dua hari Keynna dirawat dan tak sedetikpun Arshaka menunjukkan batang hidungnya. Lelaki itu tak menjenguknya padahal ruangan mereka bersebelahan.


Dan di hari terakhir Keynna dirawat, tepatnya hari ketiga, Arshaka tak kunjung muncul.


"Apa yang gue harapin dari cowok gak bertanggung jawab gitu?" gerutu Keynna. Perempuan itu sedang menunggu Lisa yang akan datang menjemputnya.


"Yuk, Key. Pulang." ajak Lisa yang baru saja masuk.


Keynna menganggukan kepalanya.


Di perjalanan, Lisa memerhatikan Keynna yang nampak melamun.


"Kenapa Key? Ada yang Lo pikirin?" tanyanya.


"Gue cuma penasaran soal keadaan Arshaka? Dia baik-baik aja?"


"Udah membaik, dia juga pulang hari ini."


"Tapi kenapa dia gada jenguk gue? Minimal tanyain kabar gue." dengus Keynna.

__ADS_1


" Raffa sama Panji gak ngebolehin Arshaka turun dari ranjang. Taunya Lo kecapean aja jadi secara status, luka dia lebih parah dibanding Lo."


"Tapi kan gue lagi ngandung anak dia. Minimal nanyain kek lewat Lo atau siapa."


"Dia kan gatau Lo hamil, Key." kekeh Lisa.


"Tapi kan--" Keynna kehabisan kata-kata.


"Lo kasih tau dia dong, biar dia jagain dan khawatirin Lo. Terlebih kandungan Lo lagi lemah."


"Gak!"


Keynna menatap jalanan macet Jakarta. Memilih mengakhiri pembicaraan. Lisa yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


"Jahat banget Lo, bapaknya sendiri ga dikasih tau." komentar Lisa.


"Berisik, Lalisa!"


***


Lisa dan Keynna sampai di depan sebuah rumah mewah dan megah. Dimana terdapat halaman luas yang berisi taman bunga cantik dan garasi luas terbuka. Berjajar deretan mobil mewah berharga ratusan hingga milyaran rupiah. Air mancur berbentuk bundar berdiri indah di tengah taman dengan air yang menari-nari. Gaya rumah tersebut klasik namun memancarkan kesan hangat karena pemilihan cat coklat. Suasananya terasa seperti eropa karena kusen bundar berwarna putih yang menghiasi rumah.



"Wah." Keynna berdecak kagum.


"Keren kan? Gue aja sampai ngiler liat ini pertama kali." timpal Lisa.


"Rumah siapa, Lis?" tanya Keynna penasaran.


"Ntar Lo juga tau." jawab Lisa tersenyum misterius. "Yuk turun." ajaknya.


Keynna keluar dari mobil diikuti Lisa. Perempuan itu langsung menuju bagasi dan mengeluarkan barang-barang Keynna.


"Siniin Lis." Keynna hendak menggapai satu tasnya. Namun buru-buru ditahan Lisa.


"Gak usah. Lo gak boleh bawa berat-berat dulu. Kalau kenapa-kenapa gimana?" omel Lisa.


Tak lama seorang penjaga dan satu perempuan paruh baya keluar dari rumah. Mereka menyambut keduanya dengan senyuman hangat.


"Selamat datang, Nyonya Keynna dan Nona Lisa." sambut keduanya. "Saya Bi Narsih, kepala pembantu disini. Dan ini Asep, supir pribadi keluarga." lanjutnya mengenalkan diri.


Lisa dan Keynna mengangguk sopan, "Tapi darimana Bibi tau nama kita? Ini rumah siapa?" Keynna masih penasaran mengenai siapa pemilik rumah mewah ini.


"Dan kenapa sayq disebut nyonya?" lanjutnya.


"Tck. Lo banyak keponya." komentar Lisa. "Yuk masuk. Pak Asep, tolong barang-barangnya ya." pinta Lisa sopan.


"Baik, non."


Lisa menggandeng Keynna masuk ke dalam rumah mengikuti Bi Narsih yang berjalan lebih dulu. Dan begitu masuk, Keynna menahan napas saking terpukaunya.



"Gila, itu lift?!" pekik Keynna.


Lisa tak menjawab karena dirinya sama terpukaunya.


"Arshaka emang punya selera yang bagus." pujinya.


"Hah, apa Lo bilang?" tanya Keynna tak mendengar begitu baik ucapan Lisa.


Lisa tersentak, dia hampir keceplosan. "Gak ada, Lo salah denger. Gue gak ngomong apa-apa." Untung Keynna tidak mendengarnya, bisa gagal misinya.


"Eh, gue ke toilet dulu. Pengen poop." ucap Lisa tiba-tiba mengaduh memegangi perutnya. "Bi, bisa tolong antar saya ke toilet?" pintanya.


"Bisa, Non. Ayo bibi antar." jawab Bi Narsih.


"Ayo, bi. Makasih ya." Lisa mengikuti langkah Bi Narsih. Meninggalkan Keynna seorang diri.


Keynna yang ditinggal begitu saja, kembali menjelajah sekitar. Matanya menyorot ke semua sudut ruangan, dan mulutnya tak berhenti mengucap woah. Dia sangat menyukai bagaimana eksterior ruang tamu rumah ini.


Kemudian mata Keynna terpaku pada satu bingkai foto di atas laci dekat televisi super besar. Seakan ada magnet tak kasat mata, Keynna melangkah mendekati bingkai foto tersebut.


"Ini--" Keynna tak bisa berkata-kata.


Foto itu...adalah foto kenangannya dengan Arshaka saat masih SMP. Saat mereka masih berpacaran.


"Welcome, home, sweety."

__ADS_1


Keynna membalikkan badan dan terpaku mendapati kehadiran Arshaka yang menatapnya dengan senyuman manis.


__ADS_2