Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Cowok Manga Kelebihan Gula


__ADS_3

Setelah mengucap terima kasih pada mantan dan berganti baju, Keynna memutuskan pergi ke perpustakaan. Masih ada waktu sekitar 15 menit sebelum bel masuk terdengar—cukup untuk mencari sebuah buku di deretan rak-rak tanpa debu milik perpustakaan Cakra.


Perpustakaan Cakra adalah salah satu fasilitas terbaik yang dimiliki sekolah ini, desainnya minimalis dengan pencahayaan bermodal cahaya matahari yang membias dari kaca-kaca. Perpustakaan Cakra tidak memliki dinding, hanya kaca-kaca yang dibingkai tirai tebal nan mewah dan sekat-sekat dari rak buku yang diletakkan seindah mungkin. Kursi-kursi berwarna warni dengan meja panjang berwarna putih.Dari penggambaran itu, Keynna yakin bahkan anak yang-tidak-kutu-buku pun pasti akan betah. Apalagi jaringan internet di tempat ini adalah yang paling bagus selain di depan lab komputer.



Mata Keynna menyusuri deretan buku-buku warna-warni di barisan rak novel. Keynna adalah pecinta halu dunia orange akut. Ia bahkan kuat membaca novel-novel semalam suntuk. Gadis itu adalah tipikal setia, ia tak akan mengalihkan perhatiannya pada apapun sebelum novel yang ia baca belum selesai. Bahkan Keenan sering mengatainya bahwa sampai pluto dekat bumi atau patung liberty koprol pun Keynna tak akan bisa diganggu gugat kesenangannya.


Setelah mendapat buku yang diingankannya, Keynna berniat meminjamnya saja karena waktunya sudah tidak cukup bila ia memaksa membacanya sekarang. Keynna berjalan ke depan menghampiri meja penjaga perpustakaan tapi ia tidak mendapati siapapun ada disana. Lalu mata Keynna mengedar kesekeliling.


Mata Keynna terpaku pada sebuah siluet pria sedang asik tenggelam pada dunianya. Entah membaca apa tapi sepertinya buku itu lumayan berat. Dia duduk tegak dengan mata yang fokus membaca. Seulas senyum terpatri, baru kali ini selain si patung es ada cowo yang membuatnya terpesona. Dia seperti keluar dari manga, begitu rupawan dan sederhana. Sesederhana alasan setiap cowo itu tersenyum---karena buku.


Seolah tak sadar, kaki Keynna terayun begitu saja menghampiri pangeran kutu buku—julukan yang ia beri untuk si cowo manga. Setelah berada dekat, Keynna memiringkan tubuhnya, membaca judulnya .Dugaannya benar, pasti dia membaca sesuatu yang tak biasa. Tapi sepertinya dia anak Bahasa terbukti ia suka dengan sastra.


“Permisi.” Sapa Keynna.


Cowo manga itu mendongak, menatap keynna yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya cowo manga itu bingung. Pasalnya ia baru melihat Keynna disini, meski ia bukan orang yang mudah bersosialisasi tapi bukan berarti dia tidak mengenal wajah teman-temen SMA nya meski tidak hafal nama masing-masing.


“Saya murid baru disini. Kebetulan ada buku yang mau saya pinjam, kalau boleh tau gimana cara pinjamnya ya? Bisa bantu saya?” alibi Keynna sambil menunjukkan buku yang ia bawa tadi.


Keynna mengernyit geli, sejak kapan gue, saya-kamu sama orang seumuran?


Cowo manga itu mangut-mangut. “Pantes saya belum pernah lihat kamu. Bu sisi selaku penjaga perpus sedang pergi keluar. Kalau kamu mau pinjam, bisa nunggu sebentar atau kembali lagi nanti.” Saran Cowo manga itu.


“Kayaknya saya mending nunggu aja deh, waktu istirahat juga masih sepuluh menit lagi. Oh ya, kita belum kenalan, Saya Keynna XII IPA-1.” Keynna menyodorkan tangan kanannya.


Cowo manga itu tersenyum manis, Keynna sempat meleleh. Lalu menjabat tangan Keynna lembut,” Saya Alfaro XII Bahasa-1. Salam kenal,”


“Salam kenal juga.”


“Bu Sisi kayaknya masih agak lama, lebih baik kamu duduk dulu aja.” Saran Alfaro. Keynna mengangguk lalu duduk di sebelah Alfaro yang kembali asik membaca. Seolah melupakan atensi Keynna yang sempat mengalihkan fokusnya begitu saja.


“Mm, kamu emang suka sama buku historical gitu ya?” tanya Keynna membuka kembali pembicaraan.


“Iya, kamu bisa langsung tebak karena saya juga masuk bahasa.” Jawab Alfaro menatap wajah Keynna sambil tersenyum manis. Gila, jangan senyum lagi please. Takut baper batin Keynna.


“Kamu juga suka baca buku?”


“Suka, tapi gak buku berat kek gitu. Saya lebih suka novel, kalaupun yang rada berat mungkin buku hukum. Saya pengen jadi pengacara soalnya.” Cengir Keynna.


“Itu bagus, kalau sudah jadi pengacara yang jujur ya keynna.” Alfaro kembali tersenyum manis. Keynna terpesona lagi,


Ini cowo kayaknya kelebihan gula deh. Apa sewaktu nyokapnya hamil dia, dia sering ngidam nyemilin gula pasir? Senyum nya manis banget, untung gue gak punya diabetes!


“Senyum kamu manis.” ceplos Keynna.


Alfaro mengernyit, buru-buru Keynna meralat ucapannya. “Ma-maksud saya kamu kayaknya orang yang murah senyum, soalnya senyum kamu manis.” Keynna menyengir kaku, merutuk sendiri ucapannya yang terlalu bar-bar. Aish, dia pasti bakal di cap genit oleh Alfaro.


“Kamu lucu.” Alfaro terkekeh. Tak tahukah Alfaro bahwa dua kata itu membuat kerja aliran darah Keynna makin cepat dan mengalirkan rona merah ke pipinya?


“Eee- kayaknya itu bu Sisi.” Buru-buru Keynna memalingkan wajahnya sebelum cowo manga kelebihan gula ini melihat pipi merahnya. Bisa gawat dunia persilatan!


“Iya, itu Bu Sisi, kamu bisa langsung bilang kalau kamu mau pinjam. Karena disini pake kartu pelajar, kayaknya kamu belum punya, kamu tinggal bilang kalau kamu murid baru.” Ujar Alfaro tersenyum.


“Oke, makasih, Faro.”


“Faro?” tanya Alfaro mengernyit.


“Nama kamu kan Alfaro. Jadi saya panggil Faro, salah ya?”


“Engga, cuman saya gak kaget tadi. Cuma kamu yang manggil saya Faro, kebanyakan panggil saya Al, atau Alfa. Tapi gapapa, saya suka.” Alfaro kembali tersenyum.


Keynna mematung.


Cuma kamu yang manggil Faro.

__ADS_1


Tapi gapapa saya suka.


Cuma kamu


Saya suka.


Bolehkah Keynna menenggelamkan dirinya ke laut mati sekarang juga?


***


Raffa selaku cowo terganteng abad 21 sedang asik nyemil batagor ketika netranya menangkap pandangan tak biasa di dalam perpustakaan yang tembus pandang itu. Ia mengendap-ngendap, memelototkan matanya yang sipit tapi gak setipis mata Regan yang kek HVS.


Wah, ada berita hot! Apakah ini disebut adegan perselingkuhan dalam kisah cinta belum kelar masa SMP? Gumam Rafa.


Bak paparazi ia diam-diam memotret adegan yang dia bilang perselingkuhan itu dan mengirimkannya pada grup dengan teman- teman sablengnya.


Regan Ganteng (4)


Reganteng changes name of group.


Raffa : sumpah yang ngubah nama grup, temennya setan!


Reganteng : Setan kok bilang setan.


Reganteng : Ketauan banget, rakyat jelata iri dengan kegantengan hqq raja Regan.


Panji : Atas gue gila stadium akut.


Raffa changes name of group.


Perselingkuhan masa CLBK (4)


Panji : nama absurd apaan tuh?


Reganteng : Tau lo, gaje banget.


Raffa : Heh duo kecebong yang hobi ngebor.


Raffa : tingali yeuh, aa aa.


Raffa sent a picture.


Read 3


Panji : Watde-


Reganteng : fak.


Reganteng : Gue terusin nji. Gue tau lo dilarang mak lo gak boleh ngomong kasar gegara ketauan liat nananini di film biru.


Panji : Diem lo, amoeba gimbal.


Raffa : Saka, kudu gimana ini? Mantan lo lagi dipepet cowo kutu buku-nya bahasa.


Panji : Abisin aja udah, Saka. Kalau mau berantem, hubungin gue. Gue bantu lo.


Panji : jadi supporter, wqwq.


Reganteng : Bedebah kau, panci gosong!


Arshaka : Gantengan gue.


Raffa tersedak air liurnya. Sejak kapan di kutub utara narsis? Kayaknya pengaruh mantan yang masih disayang masih ngefek. Buktinya si kapak batu bisa uring-uringan.


Perselingkuhan masa CLBK (4)


Reganteng : Ah elah, Saka. Ganteng aja gak cukup woy. Apalagi ini musuh lo dalam dunia persilatan si Alfaro. Woy ALFARO! Juara dua rangking pararel.

__ADS_1


Raffa : ya terus? Toh masih Saka diatas dia. Dia kan juara satunya.


Panji : Gini ya,bekicot sawah.


Panji : Coba lo fikirin, sejak kapan Keynna bisa malu-malu kucing kek gitu? Sama mantan fenomenalnya aja dia b aja. Lah ini, sampe salah tingkah gitu.


Panji : Menurut gue ya bro. Lo harus pepetin lagi si Keynna. Kalau gak mau dia jatuh ke pelukan si Alfaro.


Arshaka : Gue tau.


Raffa menggeleng-geleng. Ia menghirup udara sebanyak mungkin.


“Gue harus beli pop corn mulai sekarang, lumayan nonton drama cinta yang belum kelar.” Kekehnya.


***


Alfaro POV


“Permisi.”


Saya tengah asyik membaca buku ketika suara cempreng menyapa pendengarannya. Jujur, saya tidak terlalu suka suara yang berpotensi bikin tornado, tapi entah kenapa saat ini tidak merasa risi. APALAGI ketika melihat sesosok wanita cantik yang sedang tersenyum dihadapannya.


Jangan terpesona, Al! Kamit saya.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya saya bingung. Pasalnya saya baru melihat cewe ini. Sepertinya dia murid baru, apa dia satu tingkat dibawah saya?


“Saya murid baru disini. Kebetulan ada buku yang mau saya pinjam, kalau boleh tau gimana cara pinjamnya ya? Bisa bantu saya?” Ah, benar dia murid baru. Suaranya ternyata tidak secempreng saya kira justru dia memiliki suara yang anehnya membuat saya terbuai.


Saya mengangguk. “Pantes saya belum pernah lihat kamu. Bu sisi selaku penjaga perpus sedang pergi keluar. Kalau kamu mau pinjam, bisa nunggu sebentar atau kembali lagi nanti.” Saran saya. Berharap bahwa cewe itu mau menunggu agar saya masih punya waktu untuk bisa mengobrol dengannya.


“Kayaknya saya mending nunggu aja deh, waktu istirahat juga masih lama. Oh ya, kita belum kenalan, Saya Keynna XII IPA-1.” Dia menyodorkan tangan kanannya. Saya agak terkejut, Lagi-lagi pemikiran saya salah.


Saya tersenyum manis, menutupi keterjutan saya bahwa dia tenyata seangkatan meski berbeda jurusan. Ah sayang sekali.


Bisa saya lihat, Keynna sempat terpesona. Saya menahan tawa lalu menjabat tangannya lembut,” Saya Alfaro XII Bahasa-1. Salam kenal,” dia memiliki tangan yang hangat.


“Salam kenal juga.”


“Bu Sisil kayaknya masih agak lama, lebih baik kamu duduk dulu aja.” Setelah mendengar saran saya, Keynna hanya mengangguk lalu duduk di sebelah saya yang entah kenapa membuat degup jantung saya makin cepat dan itu membuat saya gugup. Untuk menutupi kegugupan, saya kembali asik membaca. Seolah melupakan atensi Keynna yang sempat mengalihkan fokusnya begitu saja.


“Mm, kamu emang suka sama buku historical gitu ya?” tanya Keynna membuka kembali pembicaraan.


“Iya, kamu bisa langsung tebak karena saya juga masuk bahasa.” Jawab saya menatap wajah Keynna sambil tersenyum manis. Biasanya saya paling gak suka dengan basa-basi seperti itu bahkan sampai menganggu salah satu kegiatan favorit saya. Tapi sekali lagi, itu tidak berlaku pada Keynna. Dia berbeda.


“Kamu juga suka baca buku?”


“Suka, tapi gak buku berat kek gitu. Saya lebih suka novel, kalaupun yang rada berat mungkin buku hukum. Saya pengen jadi pengacara soalnya.” Cengir Keynna.


“Itu bagus, kalau sudah jadi pengacara yang jujur ya keynna.” Saya kembali tersenyum. Memberi pujian dalam hati begitu mendengar cita-citanya.


“Senyum kamu manis.” ceplos Keynna.


Saya mengernyit, takut saya salah dengar tapi saya kembali menahan senyum ketika melihat Keynna buru-buru meralat ucapannya. “Ma-maksud saya kamu kayaknya orang yang murah senyum, soalnya senyum kamu manis.” Keynna menyengir kaku. Sepertinya dia malu. Dia menggemaskan.


“Kamu lucu.” Saya terkekeh. Tak bisa menahan rasa gemas saya pada dirinya apalagi ketika melihat ada rona merah dipipinya, membuat saya ingin mengacak rambutnya pelan atau bahkan mencubit pipinya. Ah, ada apa dengan saya?


“Eee- kayaknya itu bu Sisi.” Buru-buru Keynna memalingkan wajahnya. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan makhluk semenggemaskan ini?


“Iya, itu Bu Sisi,kamu bisa langsung bilang kalau kamu mau pinjam. Karena disini pake kartu pelajar, kayaknya kamu belum punya, kamu tinggal bilang kalau kamu murid baru.” Ujar saya tersenyum.


“Oke, makasih, Faro.”


“Faro?” Saya mengernyit. Pasalnya tidak ada yang memanggil saya dengan sebutan Faro.


“Nama kamu kan Alfaro. Jadi saya panggil Faro, salah ya?”


“Engga, cuman saya gak kaget tadi. Cuma kamu yang manggil saya Faro, kebanyakan panggil saya Al, atau Alfa. Tapi gapapa, saya suka.” Saya kembali tersenyum.

__ADS_1


Keynna. Kenapa kamu bisa membuat saya jatuh hati pada pandangan pertama?


__ADS_2