Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
S02 -


__ADS_3

"Si Keynna mana?" tanya Desi pada Chika yang sudah menunggu di lobi hotel. Mereka akan pulang ke Jakarta sebentar lagi.


Chika sontak menggeleng, "Gak tau gue. Gue pas ke kamarnya udah gak ada."


"Kemana ya dia? Apa sama Mbak Jiana?" pikir Desi.


"Mungkin. Soalnya gue gak liat lagi sejak semalem." balas Chika.


Tak lama Jiana datang. Perempuan paruh baya itu menarik kopernya mendekati kedua bawahannya tersebut.


"Loh, Mbak Jiana aku kira bareng Keynna." ujar Desi bingung melihat atasannya datang sendirian. Kalau dia tidak bersama Jiana maka kemana Keynna?


"Loh, gak bareng toh saya. Emang kenapa? Keynna kemana?" tanya Jiana sembari duduk.


"Gak tau, tadi pas ke kamarnya gak ada sahutan. Ini kita mau berangkat bentar lagi loh." Mereka bertiga mulai cemas.


Tak lama Jeremy, Rafi dan Raffa lewat, di tangan mereka memegang masing-masing secangkir kopi panas.


"Kalian ada liat Keynna ga?" tanya Jiana.


"Keynna? Engga tuh. Emang kenapa?" tanya Raffa.


"Aneh banget." gumam Jeremy.


"Oh ya Pak Arshaka dimana? Udah siap?" tanya Jiana.


"Saya disini. Ayo ke bandara sekarang." jawab Arshaka yang baru sampai.


"Keynna belum dateng pak." ucap Jiana.


"Keynna?" tanya Arshaka bingung. Lelaki itu menelisik ke semua orang yang sudah berkumpul tapi baru menyadari tidak ada tanda-tanda Keynna.


"Dimana di--"


"Maaf banget, gue telat." potong Keynna berjalan cepat namun sedikit pincang. Perempuan itu terengah-engah.


"Key, darimana aja kamu?" tanya Jiana.


"Tadi ada masalah sama koper, tapi udah beres kok. Nunggu lama ya? Sorry banget semuanya." jawab Keynna tak enak hati.


Arshaka diam-diam memerhatikan Keynna. Gadis itu terengah-engah dengan pakaian yang berantakan. Wajahnya juga terkesan pucat. Lelaki itu merenung.


"Enggak kok, gak nunggu lama. Kita berangkat sekarang aja gimana, Pak?"


Pertanyaan Jiana membuyarkan lamunannya, "Ah iya. Ayo." ajak Arshaka.


Mereka pun pergi dari lobi hotel dan bersiap menuju bandara. Lelaki itu berjalan di belakang Keynna, memerhatikan punggung kecil tersebut bergerak tak beraturan karena gaya jalannya yang sedikit pincang.


Dalam pikirannya Arshaka bertanya, apakah dia terlalu kasar semalam?


***


Dua hari setelah liburan mereka ke Bali, Keynna terus menghindari Arshaka di kantor. Bahkan ketika rapat pun, Keynna memilih tak menatap Arshaka dan pergi dari ruang rapat secepat mungkin. Ketika dirinya tak sengaja bertemu Arshaka di pantry, Keynna berusaha untuk tak bertegur sapa. Arshaka mencoba menemuinya beberapa kali tapi selalu gagal.


Satu Minggu kemudian, Keynna terbangun dengan keadaan mual-mual. Tanpa banyak kata, Keynna berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah di wastafel. Namun tak ada yang keluar selain cairan. Dia terus muntah-muntah sampai perutnya berhenti bergejolak.


Keynna keluar dari kamar mandi dan meminum air putih yang selalu tersedia di atas nakasnya.


"Gue kenapa ya? Masuk angin kali ya?" gumam Keynna bingung.


Tak ingin memperdulikan lebih jauh, Keynna bersiap pergi ke kantor. Hari ini ada tes peluncuran makanan baru.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, dia mendapati baru ada Jeremy, Cika dan Desi di kubikel mereka.


"Pagi, yang lainnya belum datang?" tanya Keynna dari kubikelnya pada Cika.


"Mbak Jiana lagi menghadap ke Pak Arshaka. Raffi lagi disuruh beli kopi sama Mbak Jiana." jawab Cika.


Keynna menganggukkan kepalanya mengerti.


"Key, muka Lo pucet banget? Sakit?" tanya Cika.


Keynna menggeleng, "Gak sakit sih, tapi dari tadi pagi gue mual-mual terus. Gak tau kenapa." keluh Keynna.


"Masuk angin kali. Pusing ga?" tanya Cika lagi.


"Sekarang enggak, tapi tadi iya pusing banget."


"Kenapa gak izin sakit aja sih? Masuk angin kayaknya." ucap Desi ikut nimbrung. Dia sedari tadi mendengarkan percakapan Cika dan Keynna.


"Males banget deh. Mending masuk aja, sepi kalau di apart sendirian." ujar Keynna.


Tak lama, Jiana dan Raffi masuk berbarengan dengan di tangan Raffi sebuah paper bag dan satu slot kopi.


"YUHUUU, nih morning coffe dari Mbak Jiana. fresh dari kafe sebelah yang pelayannya gunteng banget mirip Jefri Nichol ituuu!!" seru Raffi heboh sendiri.


Mereka langsung berkumpul di meja depan. Mejanya Keynna dan Cika.


"Vanilla latte pasti buat gue. Makasih mbak!" ucap Desi pada Jiana.


"Mbak Jiana ada angin apa nih traktir kopi sama sandwich?" celetuk Jeremy becanda. "Kayaknya bakal ada lemburan tiada henti deh."


"Jadi ini sogokan gitu, Mbak?" tambah Cika.


"Ya bisa jadi kan mbak." balas Desi terkekeh.


Mereka sibuk makan namun Keynna terlihat tak tertarik. Air mukanya memucat dan keningnya mengerut. Jiana melihatnya.


"Key, kenapa gak dimakan? Kurang suka sama sandwich nya?" tanya Jiana. Semua orang kini menatap Keynna.


"Bukan gitu mbak, tapi ini bawangnya bau banget. Gak kuat. Aku ke toilet dulu ya!" tiba-tiba Keynna berlari keluar ruangan.


Beberapa menit kemudian Keynna masuk kembali ke ruangan. Dirinya disambut tatapan kekhawatiran dari rekan-rekan kerjanya.


"Keynna lagi sakit ya?" tanya Jeremy. Keynna menggeleng lemah.


"Iya tadi katanya dia mual-mual sejak pagi, mungkin masuk angin." Cika yang menjawabnya.


"Hamil kali." celetuk Raffi.


"Hah?!" Semua orang menatap Rafi terlebih Keynna. Matanya melotot syok.


"Becanda elah, cynn! Masa sih Neneng Keynna yang belum kawin udah hamil." Meski dengan nada becanda namun Keynna merasa merinding sendiri dengan ucapan Raffi.


Soalnya kan sepertinya dia memang sudah melakukan itu...


dengan Arshaka.


***


Sepulang kerja, Keynna mampir ke apartemen Lisa. Sahabatnya itu baru saja pulang dari Paris untuk ikut kontes modelling. Mungkin Lisa masih tidur tapi Keynna tidak peduli, dia harus berbicara dengan Lisa.


"Lisa! Lisa!" seru Keynna menggedor-gedor pintu apartemen Lisa dengan keras. "Lis! Lisa rambut! Elah Lo kemana sih? Buka napa? Lisa! Lalisa! Lisa---!"

__ADS_1


Ceklek


"Ck, sedeng Lo ya! Ganggu orang malem-malem gini, gue masih ngantuk Keynaa!!" sewot Lisa kemudian merengek. Rambutnya acak-acakan dan iler dimana-mana. Keynna jadi berfikir bagaimana bisa Panji suka sama Lisa ya? Ah sudahlah toh dia juga kayak gitu kalau bangun tidur.


"Ini penting, Lis! Menyangkut masa depan gue sama anak-anak gue!" seru Keynna.


"Maksudnya apa sih? Lo hamil?" Lisa mengatakan itu tanpa sadar tapi Keynna langsung melotot ngeri.


"Tuh Lo udah mikir gitu juga kan? Ah mampus gue, gimana kalau beneran?" rengek Keynna.


"Beneran apaan?" tanya Lisa masih menguap.


Ingat, mereka masih di depan pintu apartemen.


"Hamil!"


Mata Lisa terbuka lebar, "Apa?!"


Keynna mengangguk sembari berlinang air mata. Lisa menarik tangan sahabatnya masuk ke rumah.


Lisa mendudukkan Keynna di sofa. Dia menatap nyalang pada sahabatnya itu.


"Lo hamil, Key? Siapa yang hamilin?!"


"Gue gak tau gue hamil apa enggak. Tapi gue tadi mual-mual, terus gue juga jadi enek kalau cium bau bawang. Terus gue juga ngerasa kayak sensitif gitu. Itu tanda-tanda hamil bukan sih?" tanya Keynna khawatir.


Lisa mengangkat tangannya, menginterupsi sebentar.


"Awal mula ceritanya gimana? Key, Lo udah lakuin ****?!" seru Lisa melotot.


"Gu--gue," Lidah Keynna mendadak kelu.


"Keynaa Alsha Iskandar." panggil Lisa penuh penekanan.


"Gue gak sengaja lakuin itu, gue gak inget sama sekali kenapa itu bisa kejadian!" Keynna mulai terisak.


Lisa menekan baju Keynna agar cewek itu menatapnya. "Sama siapa?" tanyanya serius. "Sialan, kalau gue tau orangnya, gue bunuh dia langsung terus gue buang jasadnya ke rawa-rawa! Kurang ajar banget udah lakuin hal najis itu ke sahabat gue!" seru Lisa mencak-mencak.


"Arshaka." lirih Keynna.


Lisa kaget setengah mampus. Dia kehilangan kata-kata.


Melihat Lisa yang diam aja, Keynna mulai berbicara. "Please, jangan bilang siapapun."


"Key, diantara semua orang kenapa harus sama mantan Lo sih? Lo kayaknya emang jodoh banget sama dia. Sejauh apapun Lo pergi, pada akhirnya kalian ketemu lagi! Dan sekarang alasan Lo berjodoh sama dia udah gak bisa diraguin lagi, Key. Lo ngandung anak dia. Dan gimana bisa dia gak boleh tau? Sebagai Keynnasaka Shipper gue harus kasih tau Arshaka!" ucap Lisa panjang lebar. "Mana HP gue?" Lisa hendak berdiri mencari ponselnya yang dia tinggalkan sebelumnya.


Keynna langsung menarik tangan Lisa untuk duduk kembali.


"Jangan berani-beraninya Lo lakuin itu, Lalisa Candrakirana. Lagian gue juga belum tes." peringat Keynna.


"Kalau gitu, ayo sekarang!" ajak Lisa tiba-tiba semangat.


"Tunggu, Lo gak marah sahabat Lo hamil di luar nikah?" tanya Keynna heran, tadi bukannya Lisa terlihat marah sebelumnya kenapa sekarang sepertinya wanita itu tengah bahagia?


Lisa menatap Keynna dengan wajah polos, "Kalau sejak tadi Lo bilang itu Saka, gue sih gak masalah ya. Lagian emang kalian kan udah destiny forever!"


"Asik! Gue jadi Tante! Yuhu!" seru Lisa jingkrak-jingkrak.


Melihat kelakuan abnormal seorang Lalisa, Keynna jadi menyesal telah menjadikan dia sahabatnya. Alih-alih membesarkan mentalnya dan menenangkannya, cewek itu malah kesenengan dia akan jadi Tante dari calon bayinya.


"Lo bener-bener gak punya hati ya, Lalisa." komentar Keynna tak menyangka.

__ADS_1


__ADS_2