
Arshaka sedang duduk melamun di kursi kerjanya ketika sebuah kenangan berkelebat dalam fikirannya.
Flashback On
"Gue mau pergi nih, perjalanan bisnis." ucap Arsya di suatu siang pada adik lelakinya yang tampak asik membaca jurnal medis berhalaman tebal.
Arshaka hanya mengangkat wajahnya lalu berucap datar, "Oh." Setelah itu kembali menenggelamkan dirinya dalam bacaan.
Arsya mendesah, "Cape lama-lama gue kalau punya adek rasa papan dada." gerutunya.
Arshaka hanya berdecih.
"Jawab gue dong." tuntut Arsya.
Arshaka menghentikan bacaannya, "Gue juga cape lama-lama punya Abang rasa pare kayak Lo."
"Maksudnya?" tanya Arsya tak mengerti.
"Pait." jawab Arshaka malas.
Arsya langsung melempar bantal sofa ke wajah adiknya, "Yeh, sialan Lo. Ngatain Abang sendiri." kesalnya.
"Lo duluan yang mancing." balas Arshaka kembali melemparkan bantal sofa pada Arsya tapi mampu ditepis oleh Arsya.
"Eh tapi gue serius, gue cuma mau bagiin rahasia ini ke Lo aja ya. Mama sama papa gak perlu tau dulu. Gue ngomongnya ke Lo dulu." Arsya tiba-tiba berkata serius.
Namun Arshaka nampak tak tertarik. Dia malah terus asik membaca.
*Itu membuat Arsya kesal, dia merebut jurnal Arshaka membuat Arshaka hampir mengumpat
"Keep calm, gue bakal balikin ini setelah gue selesai ngomong." sela Arsya buru-buru*.
"Apa?" akhirnya Arshaka mau mendengarkan meski malas.
Arsya tersenyum kemenangan, dia lalu mulai berbicara, "Gue mau ngelamar cewek gue." ucapnya.
Satu alis Arshaka terangkat keatas, "Lo halu? Bukannya Lo bilang Lo gay?"
"Sembarangan Lo. Kapan gue bilang gue gay? Gue gak suka batang!" kesal Arsya. Arshaka hanya mengendikkan bahu acuh.
Arsya pun mulai melanjutkan kembali, "Jadi gue rencananya mau ngelamar cewek gue di Paris."
"Bukannya Lo bilang Lo mau perjalanan bisnis? Kedok Lo doang berarti karena Lo sebenernya mau menggelapkan dana perusahaan demi budget lamaran Lo." tuduh Arshaka.
Arsya berdecak kesal, dan takjub dengan daya khayalan adiknya itu. "Gue juga orang kaya. Gue punya duit!" tandas Arsya ngegas.
__ADS_1
"Oh." balas Arshaka acuh.
Arsya menyerah, akhirnya lelaki itu berdiri dari duduknya. "Cape gue ngomong sama Lo. Intinya gue mau lamaran dan kalau misalnya itu sampe bocor, berarti Lo bilang keladinya." ancam Arsya.
"Gue sih bodo amat." hanya itu balasan Arshaka yang membuat Arsya gemas ingin menelan bulat-bulat adiknya itu.
Tapi Arshaka tidak tahu bahwa itu akan menjadi pembicaraan terakhirnya dengan Arsya karena tiga hari setelahnya, Arsya dikabarkan bunuh diri melompat dari balkon hotel tempatnya menginap di Paris.
Dan hanya itulah sepintas yang dia ketahui tentang kekasih kakaknya. Karena begitu kejadian naas itu, kekasih kakaknya menghilang tanpa jejak. Dan hanya meninggalkan sebuah sapu tangan putih bernoda darah. Dan berdasarkan CCTV di koridor kamar, diketahui bahwa Arsya dan kekasih misteriusnya sempat memasuki kamar yang sama, tiga puluh menit sebelum tragedi itu terjadi.
Dan Arshaka bertekad mencari tahu apa yang sebenernya terjadi. Dan apakah kekasih kakaknya memiliki hubungan keterkaitan dengan kematian tragis sang kakak?
Flashback Off
Tok tok
Raffa memasuki ruang kerja sahabatnya itu. Kini di dalam persahabatan mereka terbagi kedalam dua kubu. Semuanya menentang Arshaka, dan hanya Raffa yang masih tetap mendukung Arshaka.
"Lo galau mulu kayaknya padahal udah tunangan juga." ucap Raffa.
Arshaka tak menjawab.
"Rencana Lo sebenernya apa? Lo berhasil bikin Keynna balik tapi Lo juga malah nyakitin hati dia dengan tunangan sama Kieena."
"Lo tau gue mau balas dendam." tandas Arshaka.
Arshaka tak menjawab.
"Saka, please, diantara kita semua, yang masih dukung Lo itu cuma gue. Yang lain marah sama Lo karena kelakuan Lo tapi bukan berarti gue juga gak marah tapi intinya spill ke gue apa yang Lo rencanain." pinta Raffa.
"Gue mau balas dendam. Bukan hanya sekedar bikin Keynna balik tapi juga ngebalesin dendam akibat kematian kakak gue." tandas Arshaka setelah itu dia memilih tak berbicara lagi.
Raffa terdiam.
"Tapi menurut gue tetep aja Lo harus jelasin semuanya ke Keynna. Keynna salah paham sama Lo karena ini. Jangan sampai karena hal ini bikin Keynna pergi lagi, dan parah banget kalau sampai dia pergi selamanya." ucap Raffa.
"Jelasin apa, ketika gue yakin dia udah paham dengan apa yang dia liat."
"Tetap aja Lo harus temuin dia. Dia udah pergi sepuluh tahun loh, mabro. Gue tau Lo nyaris gila karena nungguin dia selama itu."
Kini giliran Arshaka yang terdiam.
***
"Kieena ada hubungannya sama kematian Arsya?" tanya Keynna begitu masuk ke kamar Regan.
__ADS_1
Regan yang sedang meminum air seketika tersedak. Dia menatap kaget Keynna.
"Lo dateng tanpa ngetuk pintu dan ngagetin gue, kalau gue sampe jantungan dan mati, mau tanggung jawab Lo?" protes Regan terbatuk-batuk.
Keynna tak mengindahkan ucapan Regan, dia duduk di ujung ranjang menghadap Regan yang sedang duduk di sofa. Ekspresi Keynna masih serius.
"Gan, jawab pertanyaan gue." tuntut Keynna.
"Pertanyaan apa sih Key? Gue gak mudeng." balas Regan.
"Kieena ada hubungannya sama kematian kakaknya Saka?" tanya Keynna mengulang pertanyaan.
Regan mengangkat sebelah alisnya, "Maksud Lo?" tanya balik Regan.
Mata Keynna membola, "Lo ga tau?" dia terkejut melihat ekspresi bingung Regan.
"Gue gak tau apa yang sebenernya Lo ucapin. Kieena ada hubungannya sama kematian Arsya? Maksud Lo apa?" Regan jelas bingung disana.
Bahu Keynna melemas, "Gue fikir Lo tau." ucap Keynna kecewa.
"Key, gue gak tau apa yang Lo bicarain. Gue tahu kalau Arsya emang udah meninggal beberapa tahun silam. Kalau ga salah berdekatan dengan kepergiaan Lo waktu itu. Tapi gue gak tau apa itu ada kaitannya dengan Kieena atau siapapun. Lo denger darimana?" tanya Regan.
"Lisa. Dia sempet nguping pembicaraan Panji sama Raffa ditelfon." jawab Keynna.
Regan mendesah, "Tuh cowok berdua ya ngegosip mulu padahal udah pada bangkotan juga. Lisa juga mulut lambenya tetap aja nempel meski udah jadi model majalah dewasa juga." decak Regan.
"Heh, Lisa bukan model majalah dewasa ya, sembarangan Lo ngomong!" hardik Keynna.
"Wkwk, iya iya maaf, becanda doang bun." ujar Regan tertawa.
Lalu ekspresi Regan kembali serius, "Key, menurut gue daripada Lo fikirin hal-hal gak berguna gitu, lebih baik Lo berfikir hal lain yang bisa bikin hati Lo tenang. Gue tau Lo gak bisa ngelepasin semua hal tentang Arshaka, tapi sekarang Saka udah punya tujuannya sendiri. Dia udah punya perempuan lain yang akan dia ajak menatap dunia. Dan itu bukan Lo, gue harap Lo bisa menerima itu."
Raut wajah Keynna kembali sendu, "Lo tau kalau gue masih sayang sama Saka. Gue bertahan hidup itu karena dia. Gue pengen ketemu dia, dan minta maaf karena gue pergi ninggalin dia bahkan gue gak ada disaat masa-masa terburuknya karena ditinggalkan Arsya. Gue ngerasa bersalah selama ini, Gan " Keynna menatap Regan lurus-lurus dengan matanya yang berkaca-kaca.
Regan menghela nafas, lalu beranjak berdiri dan memeluk Keynna. Keynna merangsek kedalam pelukan Regan.
"Ada gue loh Key, gue tau gimana beratnya hidup Lo selama sepuluh tahun ini. Lo baru dapet kestabilan hidup Lo ini dua tahun lalu."
Keynna mengangguk, "Thanks Gan. Makasih karena Lo selalu ada di samping gue."
Regan mengangguk, "Gue seneng bisa nemenin Lo."
Keynna semakin memeluk Regan, menyelami perasaan nyaman saat tubuhnya dilingkupi tubuh besar Regan.
Nyaman dan hangat, itu yang Keynna kerap rasakan saat bersama Regan.
__ADS_1
Tapi Regan dan Keynna tidak tahu bahwa interaksi intim mereka disaksikan seseorang. Dia Arshaka yang terdiam bagai patung di depan pintu. Arshaka berhasil mendapatkan password kamar hotel Regan dari Raffa yang memberitahukan bahwa Keynna tengah berada di kamar Regan. Namun saat Arshaka datang, matanya langsung menangkap jelas Regan dan Keynna sedang berpelukan. Tangannya mengepal keras dengan mata berkilat marah.