Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Menyesakkan


__ADS_3

Keynna dan Keenan duduk saling terdiam di ruang tamu. Keenan yang masih setengah tertidur ketika kedatangan Arshaka kini menjadi terjaga sepenuhnya.


"Lo gak papa?" tanya Keenan hati-hati.


Keynna yang ditanya pertanyaan konyol itu hanya mendesah.


"Gue butuh penjelasan lo, bang."


Keenan mengangguk, dia tahu waktu ini akan tiba.


"Sejauh mana yang lo tau?" tanya Keenan.


"Gue cuma tau lo ternyata pacarnya Risa dan ninggalin dia saat sekarat. Arshaka marah sama lo tapi masalahnya Alfaro juga salah paham dan mikir Arshaka pacar Risa. Dia gak tau soal lo."


"Alfaro?" sela Keenan bingung.


Keynna mengangguk, "Temen Risa gak hanya Arshaka tapi juga Alfaro. Dan hubungan mereka setelah kepergian Risa jadi merenggang."


Keenan menghela nafas, "Gue gak tau kalau masalah ini bisa jadi sebesar ini. Gue juga kaget begitu liat Arshaka sama lo."


"Kapan lo liat gue sama Saka?"


"Pas pulang camping."


Keynna terkejut, "Udah selama itu dan lo diem aja?"


"Gue gak tau bakal kayak gini. Lagian masalah 2 tahun itu udah selesai, lo juga denger sendiri dari Arshaka."


"Gak selesai, bang! Alfaro masih salah paham sama Arshaka!" seru Keynna.


"Terus gue harus gimana? Gue juga gak kenal sama Alfaro."


"Bang, lo picik banget sih. Gimanapun juga masalah ini dimulai dari lo. Lo yang gak tanggung jawab nemenin Risa yang lagi sakit parah!" seru Keynna kesal.


"Gue punya alasannya, Key." tukas Keenan sungguh-sungguh.


"Apa?"


"Awalnya gue gak tau Risa sakit parah, saat itu dia juga gak pernah ngomong sama gue. Dan waktu itu keadaannya pas banget saat orang tua kita cerai. Lo berantakan, gue juga sama. Jangankan nemenin Risa, buat pertahanin kewarasan gue juga susah banget. Gye juga hancur waktu itu!" jelas Keenan.


Keynna terdiam, benar, 2 tahun lalu juga waktu yang sulit bagi keluarga mereka. Dan tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada Keenan. Bagaimanapun, dia tahu abangnya hancur saat itu begitupun dirinya.


"Tapi gara-gara ini, Risa sakit parah, Arshaka nemenin dia dan saat itu posisinya Arshaka cowok gue, gue lagi butuh dia tapi dia gak ada. Ini kayak lingkaran mobius yang gak ada ujungnya. Gue, lo, Arshaka, Risa bahkan Alfaro sama-sama tersakiti."


"Jadi lo nyalahin gue, Key?" tanya Keenan mengambil kesimpulan sendiri.


"Ya bukan gitu juga."


"Key, gue gak tau lo pacaran sama Arshaka. Kalau gue tau, gue bakal lebih mikirin lo." tukas Keenan.


"Gue juga gak tau lo pacaran sama Risa. Kalau lo cerita, gue gak mungkin nyalahin Arshaka dan mutusin dia gitu aja." balas Keynna.


"Lo nyesel putus sama dia?"


"Nyesel nyesel gak nyesel. Gue udah terlanjur judge dia macam-macam. Gue gak tau kebenarannya dan hanya meyakini teori yang gue buat sendiri."


Keenan mendesah kasar, "Kita emang kakak beradik yang menyedihkan."


Keynna terdiam, benar, mereka memang menyedihkan.


***


Di lain tempat, Niko dan Lisa sampai di studio Niko. Studio milik cowok itu lumayan besar dengan interior yang stunning.


"Yuk masuk." ajak Niko. Mereka berdua masuk ke dalam studio.


"Wah, keren banget." takjub Lisa. "Lo kayalnya fotografer makmur ya." ujar cewek itu menatap Niko.


Niko tertawa mendengar ucapan lucu Lisa.


"Tapi lo sendirian aja disini? Gak punya pegawai gitu?" tanya Lisa.


"Punya tapi sekarang mereka libur."

__ADS_1


Lisa mengangguk mengerti. Cewek itu melanjutkan petualangannya melihat-lihat studio Niko.


"Jadi kita mulai aja pelajarannya?" tanya Niko begitu Lisa sudah selesai berkeliling.


Lisa mengangguk semangat, "Kuy."


Niko tersenyum. Cowok itu lalu mulai menyetting beberapa perlengkapan yang dibutuhkan. Dia menata objek apa yang akan difoto Lisa, dan kali ini objeknya adalah alat peraga berupa sekeranjang buah-buahan. Setelah menatanya dengan indah di atas meja bulat kayu, Niko menyetel pengaturan pencahayaan. Setelah semuanya siap, dia menghampiri Lisa.


"Kita mulai, Lis."


Niko lalu mulai mengarahkan Lisa. Dimulai dari bagaimana posisi Lisa saat memotret, lalu mengatur zoom dan fokus serta lain-lainnya.


Lisa mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.


"Oke kalau udah siap, hitungan ketiga lo motret ya. Satu, dua, tiga."


Cekrek


Lisa berhasil memotret untuk kali pertamanya. Niko langsung mengeceknya.


"Untuk seorang pemula ini lumayan bagus tapi posisi lo kurang membungkuk jadi objek yang lo ambil kekurangan fokus."


Lisa lalu diperintahkan mulai memotret lagi. Dan selama pembelajaran mereka, Niko mengajarinya dengan baik. Dia tidak keras seperti yang disebutkan cowok itu sebelumnya malah terkesan sabar dan penuh perhatian.


Namun suasana itu tiba-tiba berubah tak nyaman ketika kedua tangan Niko memegang tangan Lisa yang tengah memegang kamera. Seperti tengah memeluk dari belakang. Awalnya Lisa merada gugup dan hatinya berdesir karena mereka mampu sedekat ini. Tapi begitu tangan Niko tak sengaja menyentuh dadanya, Lisa jadi terkejut.


Lisa mencoba meronta, melepaskan tangan Niko yang bertengger di dadanya tapi cowok itu tak mengindahkannya masih terus berbicara panjang lebar.


"Ehm, Nik." sela Lisa menginterupsi penjelasan Niko.


"Apa, Lis?" tanya Niko.


"Sorry banget gue motong pembicaraan lo tapi gue gak nyaman sama posisi ini." ucap Lisa penuh kehati-hatian.


"Oh sorry, Lis. Gue gak sadar." Meski begitu, tangan Niko tetap tak berubah.


"Bisa minggir dikit?" pinta Lisa akhirnya.


"Lo tenang aja, Lis, gue gak bakal apa-apain lo. Meski posisinya mungkin gak cukup nyaman buat lo. Tapi gue perlu bantuin lo tetep dalam posisi sempurna saat motret biar fokus objeknya gak pecah." jelas Niko.


"Oh yaudah deh."mau tak mau Lisa mengalah. Niko mungkin benar, ini semata-mata alasan profesionalisme.


"Oke kita mulai motret lagi ya."


Lisa mengangguk. Dia berusaha fokus dan akhirnya berhasil mengambil beberapa gambar. Tapi begitu Lisa sedang melihat hasilnya, masih dengan posisi mereka. Lisa tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang aneh ketika tangan Niko mengusap-usap dadanya bahkan meremasnya.


"Niko, lo apa-apaan?!" seru Lisa kaget berusaha meronta-meronta.


Tapi Niko tak bergeming, dia dengan santai masih memeluk Lisa sembari tangannya bergerilya di atas dada Lisa dengan nakal.


"Gue udah bilang sama lo, kalau gue sedikit keras saat ngajar." ucap Niko santai.


"Jadi maksud lo keras itu gini? Ngelecehin gue?!" sentak Lisa.


"Kalem aja Lis, lo jangan konservatif gitu dong. Gue bahkan gak ngelakuin apapun ke lo." balas Niko.


"Brengsek." desis Lisa. Dia menginjak kaki Niki keras hingga membuat Niko melepaskan pelukannya.


Lisa langsung menjauh dengan tangan menutupi dadanya.


"Lo brengsek!" umpatnya. "Tolong! Tolong!" teriak Lisa.


"Lisa, gak ada siapapun disini, lo mau minta tolong sama siapa? Mending lo layanin gue sekali sebagai ganti jasa ngajar." tawar Niko.


"Ogah, dasar sinting!" umpat Lisa.


"Tolong! Tolong!" Lisa kembali berteriak minta tolong.


Niko tertawa, "Berhenti berteriak, gak akan ada yang denger."


Lisa tak menurutinya, dia tetap berteriak minta tolong.


"Lisa Lisa, lo mau minta tolong ke siapa? Siapa yang bakal dateng nyelamatin lo?" ejek Niko mulai mendekati Lisa. Lisa langsung termundur.

__ADS_1


"Mu-mundur lo!" ucap Lisa takut.


"Lisa, sekali aja. Apa salahnya sih? Lagian gue yakin lo udah gak---" Niko tak meneruskan ucapannya, sebaliknya dia malah melirik area bawah Lisa dengan nakal.


"Singkirin tatapan jahannam lo!" sentak Lisa menutup tubuh bawahnya.


"Come on, Lis." ajak Niko. Lisa menggeleng kuat.


"Kalau gitu, gak ada cara lain selain maksa lo."


Setelah itu Niko berusaha mencium Lisa tapi Lisa terus memalingkan wajahnya agar tidak dicium oleh Niko. Hingga ketika bibir Niko sejengkal lagi dengan wajah Lisa, seseorang menendang wajah Niko dari samping hingga terjatuh.


Bug


Lisa yang selamat seketika berteriak kencang apalagi melihat bahwa yang menyelamatkannya adalah Panji. Dan kini Panji sedang memegang kerah baju yang dipakai Niko.


Panji tanpa kata langsung menonjok wajah sialan Panji itu dengan membabi buta. Niko tak sempat melawan, dia keburu ambruk.


"Membusuklah di penjara, brengsek." umpatnya penuh amarah.


Cowok itu sudah menelfon polisi dan dalam perjalanan kemari. Panji mengikat Niko terlebih dulu agar tidak kabur dengan tali. Setelah itu menghampiri Lisa.


"Lalisa, lo---"


Belum sempat Panji selesai bertanya, Lisa sudah berhambur ke pelukannya. Cewek berambut sebahu itu menangis kencang. nampak trauma dan terguncang. Panji tak berbicara apa-apa selain mengelus punggungnya dengan lembut.


"Gapapa, Lis." dua kata yang membuat Lisa merasa kuat atas guncangan psikisnya itu.


Panji terus memeluk Lisa, menemani cewek itu mencurahkan ketakutannya atas peristiwa yang terjadi. Hingga tak lama, cewek itu berangsur tenang. Lisa hanya masih sesenggukan saja.


Tak lama polisi datang dan langsung meringkus Niko yang masih pingsan.


"Korban dipersilakan ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut." ucap para polisi.


Panji mengangguk, dia hendak berjalan pergi tapi langsung berhenti ketika baju belaoangnya ditahan Lisa.


Panji menoleh, "Ada apa?"


"Gue gak mau sendirian." lirih Lisa.


Panji mengangguk sambil tersenyum, "Iya, gue temenin."


Lisa menganggukan kepala, mereka berdua mengikuti polisi sambil tangan Lisa tetap memegang baju belakang Niko.


***


Beberapa hari kemudian, acara kelulusan dilaksanakan. Dan seperti yang sudah diumumkan oleh OSIS bahwa acara wisuda kali ini berbeda yaitu akan dilaksanakan di tiap masing-masing kelas. Mereka juga tidak memakai kebaya atau tuksedo melainkan seragam khas Cakra..


"Lo dilecehin Niko?" seru Keynna kaget begitu Lisa mulai bercerita.


Lisa mengangguk, "Beberapa hari yang lalu tapi untungnya Panji datang tepat waktu. Kalau enggak..." Lisa nampak masih murung.


Keynna mengelus lengan Lisa, "Syukurlah lo gak diapa-apain. Dasar cowok mesum, penampilannya aja kayak cowok alim aslinya sesat." umpar Keynna kesal.


Lisa mendesah, "Gue syok banget apalagi gue sempet naksir sama dia. Sekarang udah enggak!"


"Yaiyalah, cowok modelan kayak gitu lo demenin. Kayak gak ada cowok lain aja."


"Yang gak gue sangka itu soal kehadiran Panji. Gue gak nyangka yang nyelamatin itu Panji."


"Itu artinya lo dilindungi sama Allah. Allah ngebongkar sifat buruk Niko duluan sebelum lo tambah suka."


Lisa mengamgguk setuju.


"Jadi lo udah berterima kasih sama Panji?"


Lisa menggeleng, "Kalau formalnya sih udah tapi tetep aja gue harus traktir dia atau enggak beliin dia hadiah apa gitu."


"Ajak makan malem aja." usul Keynna. "Tuh orangnya dateng, buruan ajak aja." tunjuk Keynna pada Panji yang baru datang dengan hebohnya bersama Raffa, Regan dan Arshaka.


Lisa setuju, dia langsung menghampiri Panji.


Sedangkan Keynna menatap Arhaka yang sedang mengobrol dengan beberapa siswi teman sekelas mereka.

__ADS_1


Tanpa disangka, Arshaka menoleh, Keynna tersentak. Tapi hanya sedetik sebelum Arshaka memutuskan tatapan mereka.


Keynna mendesah, ini menyesakkan untuknya.


__ADS_2