
"Ann, kok lo gak ajak-ajak sih kalau mau ke kafe?" seru Lisa di seberang sana. Lisa dan Anna tengah menelfon.
"Ya sorry, lagian bukan mau nongkrong kok. Kakak gue ngidam pengen dalgona dari kafe." ucap Anna sambil mengunci pintu mobil.
Sepanjang jalan menuju kafe, Anna dan Lisa masih bertelfon ria.
"Udah dulu ya, mak netijen. Gue mau masuk dulu. Bye." Anna menutup telfonnya.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam sling bag. Ia hendak melangkah masuk namun tidak jadi ketika melihat suatu pemandangan yang membuat hatinya sakit.
15 meter dari hadapannya, Regan tengah berpelukkan dengan seorang cewek. Seketika air matanya luruh. Anna merasa sakit entah kenapa.
"Anna?" teriak Raffa kencang dari seberang.
Regan menoleh dan terkejut mendapati dirinya ada di depan pintu masuk kafe.
"Gue pasti udah gila." ucap Anna menggeleng lalu segera pergi meninggalkan kafe.
Anna berjalan cepat menuju parkiran sembari menghapus air matanya. Setelah sampai di mobil, Anna menumpu tangannya pada badan mobil dan membungkuk.
"Kenapa gue nangis sih, gak masuk akal banget." cibir Anna pada dirinya sendiri seraya menghapus air matanya yang terus turun.
"Kenapa gak berhenti-berhenti coba." seru Anna kesal. Air matanya terus turun tanpa dikomando.
Lalu Anna merasakan tarikan dari belakang. Anna menatap dada bidang seseorang yang menariknya tadi. Ada noda jus disana.
"Apa sih. Lepas." sentak Anna meronta lengannya yang terus dipegang Regan.
"Nna, itu gak seperti yang lo kira." ucap Regan panik. Ia makin panik ketika Anna menangis.
Regan benar-benar terkejut mendapati bahwa ada Anna yang menyaksikan itu semua. Kalau saja Raffa tidak berseru kencang, tidak tahu lagi kejadian apa selanjutnya yang akan dilihat Anna.
"Emang yang gue kira apa? Gak ada urusannya sama gue." ketus Anna memalingkan pandangannya.
"Kalau gitu, kenapa lo nangis? Kenapa lo pergi gitu aja?" tantang Regan.
"Gu-gue," Anna gelagapan. "Gue keinget dompet gue ketinggalan di mobil jadi gue balik lagi." Anna tidak sepenuhnya berbohong, ketika memasukkan ponsel ke sling bag nya, ia tidak menemukan dompetnya karena sepertinya tertinggal di dashboard mobil.
"Terus kenapa nangis?" tanya Regan lagi.
Anna semakin salah tingkah. Oh air mata sialan, rutuknya.
"Kepo banget sih lo kek Dora." seru Anna.
Regan melipat tangan di dada dan menatap gemas pada wajah sembab Anna. "Kalau cemburu bilang." goda Regan.
"Siapa yang cemburu. Enak aja." sanggah Anna cemberut.
Regan mengusap pelan rambut Anna. "Temen gue yang paling manis. Lo lucu kalau lagi cembokur." ejek Regan terkekeh.
Anna hanya memberengut kesal.
***
__ADS_1
Di waktu yang sama, tepat ketika Regan pergi mengejar Anna. Jessi hanya terdiam karena terkejut ketika mendengar teriakan dari Raffa, Jessi menduga Anna adalah pacar lelaki yang tidak sengaja ia tabrak dan menumpahkan jus ke bajunya.
Raffa yang melihat Jessi terdiam dengan raut bingung dan menyesal dari kejauhan mengernyit bingung. Raffa berdiri Lalu menghampiri Jessi.
"Lo, gak papa?" tanya Raffa hati-hati. Ia tidak ingin lagi mendapat ucapan jutek dari cewek itu. Ayolah, Raffa penyuka tipe wanita anggun, lembut dan manis. Jadi ia tidak punya pengalaman menangani cewek jutek kek Jessi.
Jessi menoleh, ekspresinya sedikit terkejut lalu berubah datar kembali namun tidak sedatar tadi. "Gue gak papa. Lo yang tadi teriak kan?" Raffa mengangguk.
"Cewek tadi, pacarnya temen lo? Kalian temenan kan pasti."
"Ya gak bisa disebut pacar juga sih." Raffa mengusap tengkuknya.
"Maksudnya?" tanya Jessi tidak mengerti.
"Mungkin bisa dibilang TTM? Atau bahasa kerennya friendzone." sahut Raffa. Jessi hanya mengangguk.
"Lo.. tapi beneran gak papa?" tanya Raffa sekali lagi.
"Gak papa kok. Lagian gue yang salah. Sampein maaf gue ke temen lo sama cewenya. Gue takut Anna Anna itu salah paham liat gue sama temen lo tadi." jelas Jessi.
"Tenang aja. Ntar gue sampein."
"Sorry juga ya, gue tadi jutek sama lo."
"Meski gue agak kaget tapi it's oke. Gak masalah." Raffa terkekeh sedang Jessi hanya tersenyum tipis.
"Jadi lo masih mau id line gue gak?" tanya Jessi mengangkat sebelah alisnya.
Jessi tersenyum tipis.
***
Setelah adegan drama di hari Minggu. Kini hari yang menyebalkan sekaligus membahagiakan bagi kaum siswa kembali.
Menyebalkannya adalah mereka harus upacara bendera selama 2 jam lebih.
Survey membuktikan mengapa para siswa tidak menyukai upacara bendera adalah karena lama, capek berdiri, panas dan tidak boleh berisik alias harus khidmat. Padahal kan sikap sejati para siswa khususnya yang memiliki tingkat kecepatan dalam berbicara adalah BERISIK. Jadi mengunci mulut bukanlah jalan ninja mereka. Belum lagi yang terlambat, alasannya karena macet, bangun kesiangan, ban bocor dan lain lain.
Padahal upacara bendera memiliki berbagai manfaat loh, barudak. Seperti meningkatkan rasa cinta tanah air. Inget loh, bagaimana zaman dulu susahnya bendera pusaka ingin berkibar. Kini sih sudah gampang, tidak akan ada yang melarang toh sudah merdeka. Jadi mengibarkan bendera adalah salah satu nikmat kemerdekaan, jadi nikmati.
Lalu bisa meningkatkan kedisiplinan. Dan tentunya membiasakan berpenampilan rapi.
Disiplin diri merupakan senjata ampuh yang harus dimiliki setiap orang yang mau sukses!”
-–Andrie Wongso--
Nah hal menyenangkannya adalah, jreng jreng sesaat lagi...
"Selamat pagi anak-anak. Disini bapak akan menyampaikan sebuah kabar gembira tapi kabar gembiranya bukan manggis kini ada ekstraknya tapi melainkan masalah Camping. Tepuk tangannya mana?" seperti biasa pidato dari kepala sekolah Cakra, Pak Wirawan tercinta selalu aneh dan nyeleneh.
Para siswa bertepuk tangan sekeras mungkin, antara excited atau memang gedek karena upacara belum dibubarkan dari tadi.
"Oke terima kasih." ucap pak Wirawan tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya. "Jadi seperti yang bapak bilang, Cakra akan melakukan kegiatan Camping alias kemah sapeuting tapi aslinya teu sapeuting di Puncak Bogor." ucapannya disertai tepukan meriah dari para siswa.
__ADS_1
"Perkemahan akan dilaksanakan pekan depan selama 2 hari 2 malam. Silakan mendaftar bagi yang ingin ikut ke ketua kelasnya masing-masing sampai paling lambat h-3 sebelum pelaksanaan dan dikumpulkan ke Arshaka dari XII IPA-1 selaku ketua pelaksana." Nah kalau yang ini tepukannya jauh lebih meriah dari para siswi. Lumayan kan buat modus kalau Arshaka yang menjadi ketua pelaksananya.
Arshaka memang bukan pengurus OSIS. Tapi dia dipercayai sebagai pengawas dewan siswa. Maksudnya adalah, Arshaka juga memiliki kewenangan sama dengan para guru pengawas untuk mengawasi OSIS dan seluruh kegiatan di sekolah. Arshaka juga memili hak veto dalam tiap keputusan dewan sekolah terutama terkait kesiswaan. Dan kebijakan itu hanya ada di Cakra.
Mengapa Arshaka bisa mendapat posisi demikian, karena tentu saja pertama ia adalah cucu pemilik sekolah. Meski tidak diketahui secara luas namun para guru dan OSIS tentu saja tahu. Bahkan bisa dibilang Arshaka punya posisi lebih tinggi dibanding Pak Wirawan selaku kepala sekolah. Dan Arshaka memang ditugaskan oleh kakeknya, Wiliams, untuk ikut mengawasi sekolah sebagai mewakilkan dirinya.
Upacara sudah selesai dan para siswa juga sudah masuk kelas termasuk para siswa dari kelas jomblo ceria.
Kini kelas sedang dalam keributan. Panji selaku ketua kelas sibuk menenangkan gejolak euforia para siswa. Camping merupakan kegiatan paling disukai di Cakra, karena disanalah mereka bisa bebas dan tenang tanpa perlu memikirkan beban tugas pelajar.
"Agan, Raffa, kalian kemarin ibadah gak?" tanya Arshaka pada bangku belakangnya. Keynna yang sedari tadi duduk disamping Arshaka ikut menoleh pada bangku 2R.
Raffa dan Regan tidak menjawab, hanya menyengir. Tanpa perlu dijelaskan, Arshaka sudah tahu jawabannya. Dan Keynna hanya menggeleng sambil menghela nafas.
Yang dimaksud Arshaka ibadah adalah ibadah pagi. Regan dan Raffa adalah umat kristiani. Mereka satu gereja dan Arshaka maupun Panji kerap kali mengingatkan mereka berdua yang sering mangkir dari pelajaran agama.
"Kalian kemana?"
"Sorry kanda, si Panji ngajak ke kafe jadi gue sama Regan ikut join." terang Raffa.
"Gue laporin ke bu Anneu, kalau kalian bolong lagi." ancam Arshaka. Regan dan Raffa mengangguk lesu.
"Tapi kanda, Panji kemarin juga gak shalat Jum'at. Padahal udah gue setel lagu siksa kubur." adu Raffa.
"Apaan nih wehh, bawa-bawa nama gue?" serobot Panji tiba-tiba.
"Capek gue, anak-anak ributnya minta ampun." curhat Panji. "Nih Kanda daftar anak-anak kelas kita yang ikut." lanjut Panji lalu menyerahkan selembar kertas pada Arshaka. Arshaka menerimanya.
"Tadi lo pada bawa nama gue kenapa?" tanya Panji sambil mengipasi dirinya menggunakan buku.
"Lo kemarin shalat Jum'at gak?" tanya Regan. Panji mengangguk.
"Shalat kok. Kenapa?" tanya Panji santai.
"Bohong banget lo tai kebo. Lo kebo banget tidur sampe gue setel lagu siksa kubur lo gak bangun-bangun." cibir Raffa.
Panji hanya menyengir, "Maksud gue, gue shalat Jum'at, Jum'at minggu lalu. Hehe."
"Abisnya kanda gak ajak-ajak sih." lanjut Panji mencebik pada Arshaka.
"Bawa-bawa orang aja lo. Arshaka kan lagi di luar pas jum'at kemarin." bela Raffa.
"Maaf deh. Gak lagi." janji Panji.
"Jangan tinggalin ibadah lo semua." ucap Arshaka. Trio ubur-ubur mengangguk patuh.
Ah, memang. Persahabatan beda keyakinan memang luar biasa.
.................................................
Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1442 H🙏🤗
Terima kasih yang sudah membaca, jangan lupa like nya👍🤗
__ADS_1