
Keynna langsung menghampiri Arshaka setelah acara berakhir. Dia menyeret lengan cowok kurang ajar itu menjauhi kerumunan.
"Uhuy, semoga sukses, kanda!" sorak teman-temannya kegirangan.
"Do'ain!" balas Arshaka berteriak. Dia bahkan sampai melambaikan tangannya.
Mulai jengah, Keynna langsung menurunkan lengan Arshaka.
"Jelasin sama gue, kenapa lo malah nantang Alfaro taruhan?!"
"Buat mengamankan milik gue." jawab Arshaka.
Keynna berdecak, "Arshaka yang serius dong! Lo pas ngomong itu mikir dulu enggak, resikonya? Kalau lo kalah gimana?!" sentak Keynna.
Arshaka tiba-tiba memicingkan matanya, "Oh, jadi lo khawatir ya gue kalah?" godanya.
"Bukan gitu, gue cuma sebel aja karena lagi-lagi dijadiin bahan taruhan. Dulu samyang, sekarang basket. Gue bukan barang yang dilelang tau!"
"Gue udah bilang, kalau lo bukan barang. Tenang aja, gue pastiin gue bakal menang. Alfaro gak akan gangguin lo lagi." ucap Arshaka kini dengan nada lebih serius.
Keynna juga serius, dia mendesah, "Lo gak bisa batalin itu?"
"Ya enggak. Kalau gue batalin itu berarti gue harus balik dengan bokong duluan. Dan lo bakal dalam bahaya." tegas Arshaka.
"Tapi taruhan ini bikin semua anak jadi tambah kesel sama gue."
"Ini kali terakhir, Key, gue janji. Setelah ini gak akan ada lagi. Dan soal anak-anak yang kesel sama lo gara-gara ini, gak usah peduliin. Gue bakal lindungi lo." ucap Arshaka serius.
"Gimana caranya lo ngelindungin gue kalau lo sendiri yang dorong gue ke jurang?" balas Keynna menyindir.
"Gue minta maaf soal ini tapi gue perlu lakuin ini."
"Kenapa lo ngotot pengen ngadain taruhan segala sama Alfaro? Ini pasti ada hubungannya sama kejadian 2 tahun lalu kan? Soal rusaknya persahabatan kalian." tebak Keynna.
Arshaka mengangguk, "Gue harus selesain masalah ini, jangan sampe makin berlarut-larut. Dan parahnya sampe ngelibatin lo."
Keynna membasahi bibirnya yang kering, lalu menatap tajam Arshaka.
"Intinya, gue gak peduli siapapun yang menang. Mau lo atau Alfaro, menurut gue sama aja. Tapi yang harus lo tau adalah gue bukan barang, gue bukan milik siapapun." tekan Keynna.
Kening Arshaka mengerut tak suka.
"Kenapa sama ekspresi lo? Lo paham gak sama apa yang gue omongin?"
"Gue gak suka lo samain gue sama Alfaro." ujar Arshaka datar.
"Apa?"
"Key, jelas-jelas gue calon pacar lo, samaan darimana sama dia?"
Keynna terdiam karena kata-kata Arshaka yang mulus banget diucapkan.
"Lo makin hari makin selengean ya. Dulu kayaknya kaku banget kayak kanebo kering sekarang ngalus mulu kayak jalan tol."
"Berubah karena keadaan." jawab Arshaka acuh.
Keynna mendengus, "Tau ah. gue kesel sama lo." ucapnya langsung pergi.
"Key, mau gue anterin?" teriak Arshaka pada Keynna yang sudah mulai berjalan pergi.
"Kagak usah!" balas Keynna berteriak juga.
***
Keesokan harinya, acara yang paling ditunggu-tunggu akan segera dimulai. Bahkan penonton sudah memenuhi tribun. Pertandingan basket juga jadi dimajukan lebih awal gara-gara pertaruhan Arshaka dan Alfaro. Mereka semua sama-sama penasaran dengan hasilnya.
Meskipun Arshaka adalah kapten tim basket Cakra selama 2 tahun, dan pernah bermain di liga nasional, namun dirinya sudah lama tidak bermain basket sejak 6 bulan lalu karena tangannya cedera. Fakta itu diketahui semua penghuni Cakra. Mereka bahkan sedikit khawatir saat Tim Basket Cakra diundang sparing oleh Tim Basket Bendera dan Arshaka turut ambil bagian. Meski pada akhirnya, Arshaka jugalah yang membawa kemenangan bagi Cakra.
Dan Alfaro, meski dia lebih dikenal dengan julukan Si Jenius Bahasa yang mungkin pada anggapan banyak orang merujuk pada seseorang yang lebih senang bergumul dengan buku dibanding berolahraga, anggapan mereka sedikit salah. Alfaro juga senang berolahraga terutama basket. Kecintaannya pada bola oranye itu dimulai dari Arshaka, mereka kerap latihan basket bersama-sama dengan Risa yang selalu menemani latihan mereka. Alfaro juga selalu ikut bertanding tiap ada kejuaraan saat SMP, dan karena sekelas dengan Arshaka, mereka menjadi tim yang solid dan tak bisa dipisahkan. Namun semenjak masuk SMA, selain karena berbeda jurusan dan tidak tergabung dengan eskul yang sama, Alfaro dan Arshaka hampir tak pernah bersinggungan lagi tak terkecuali basket.
Dan kini mereka akan bertanding, sebagai musuh alih-alih kawan.
Keynna, Lisa dan Anna menghampiri tempat duduk mereka. Semua pasang mata sontak menoleh ke arah Keynna. Ada yang takjub karena bisa membuat dua pangeran Cakra bersiteru dan ada yang menatap sinis. Keynna berusaha keras tak memedulikannya dan bersikap biasa.
"Siapa yang lo harepin menang, Key?" tanya Anna.
"Gue..." Keynna menggantung ucapannya.
"Siapa-siapa?" tanya Lisa antusias.
"Arshaka." jawab Keynna pelan.
"Wah, diem-diem dukung mantan ya." goda Lisa.
"Bukan gitu, gue cuma gak mau Saka kalah. Itu doang."
"Alasannya?" jahil Anna.
"Gue gak mau karena kalah Arshaka harus berlutut dan ngakuin kesalahan yang enggak dia perbuat."
"Kesalahan yang 2 tahun lalu itu?"
__ADS_1
Keynna mengangguk.
"Ini bukan salah Arshaka sepenuhnya."lirih Keynna.
***
Tim XII IPA-1 yang dipimpin Arshaka dan tim XII Bahasa-1 yang dipimpin Alfaro sudah berada di lapangan. Sorak sorai penonton langsung pecah.
"Sekali lagi gue ingetin, hari ini gue dan Alfaro bakal taruhan. Dan aturan mainnya agak beda. Gak peduli tim mana yang menang, yang akan dihitung adalah berapa banyak skor yang lo pribadi masukkin. Tapi jangan egois juga dan gak ngasih kesempatan anggota lain buat cetak gol." ujar Arshaka.
"Gue bukan lo." balas Alfaro datar.
Arshaka tersenyum remeh, "Kita mulai saja."
Pritt
Peluit sudah berbunyi, bola juga sudah dilempar hingga berhasil diamankan Arshaka. Arshaka mendribelnya beberapa kali dan mengoperkannya pada Raffa. Setelah dioper, Arshaka berlari maju mendekati ring.
Mulus sekali perpindahan mereka. Raffa mengopernya pada Regan yang selangkah lebih dekat ke Arshaka lalu cowok itu mengopernya pada Arshaka. Dan Arshaka langsung melalukan lay up hingga memenangkan 2 poin.
"Yeay!" sorak para pendukungnya.
Setelah gol itu, pertandingan mulai sengit. Arshaka dan Alfaro bergantian memasukkan bola. Tim mereka terus bergantian unggul 2 poin. Hingga babak pertama berakhir, skor mereka 20-18. Pertandingan sementara dimenangkan oleh Tim XII IPA-1.
Babak kedua dimulai, dan Tim Bahasa-1 mulai menyerang secara agresif. Mereka tak segan menempeli pemain Tim XII IPA-1 bahkan menjegalnya. Beberapa pelanggaran terjadi. Para penonton mulai cemas meski tak menampik merasa pertandingan semakin seru.
Skor mereka imbang, 56-56, dan waktu tersisa tidak banyak. Salah satu tim harus berhasil memasukkan bola sebelum pertandingan usai kalau tidak mau seri.
"Kalau Arshaka gak berhasil bikin ini gak seri. maka dia kalah." celetuk Lisa.
"Skor yang mereka peroleh sama, 36-36. Arshaka sama Alfaro harus masukkin bola terakhir." timpal Anna. Ingat, bahwa yang dihitung adalah jumlah skor yang mereka sendiri masukkan, bukan tim.
Keynna nampak cemas, dia terus berdoa dalam hatinya.
Waktu pertandingan tinggal satu menit lagi sedangkan bola dikuasai Axel dari Bahasa-1. Cowok itu hanya perlu mengopernya pada Alfaro dan Alfaro memasukkannya ke ring. Maka permainan berakhir.
Tapi keajaiban terjadi ketika bola yang dilemparkan melambung oleh Axel pada Alfaro awalnya, diblok oleh Arshaka. Semua penonton menarik nafas, tidak menduga akan melihat kejadian seepic ini.
Arshaka yang berhasil merebut bola sontak langsung berlari menuju ring lawan. Alfaro berdecak kesal, dia langsung mengejarnya.
Arshaka dan Alfaro terus memperebutkan bola, para pemain lainnya tak ada yang mencampuri hal ini. Mereka terdiam melihat siapa pemenang sesungguhnya dari pertandingan ini.
Waktu tinggal sepuluh detik lagi. Arshaka yang masih kesulitan karena Alfaro, tidak memiliki banyak waktu lagi untuk menghampiri ring. Dia memindahkan bolanya ke samping lalu berpindah menjauhi Alfaro, Alfaro cukup terkecoh dan begitu Alfaro lengah, Arshaka langsung menembakkannya ke dalam ring. Bila bola ini masuk, maka dia akan mendapatkan 3 poin sekaligus mengukuhkannya sebagai pemenang.
Brak
Prit
Keynna juga berharap-harap cemas. Dia benar-benar tak ingin ada pertandingan ulang.
"59-56."
"Wah!" Sorak Keynna dan penonton lainnya senang.
"Tim XII IPA-1 menang."
Tim XII IPA-1 bertos senang apalagi Arshaka. Dia menatap Alfaro yang wajahnya sudah penuh emosi.
"I am win, you lose." ucap Arshaka mengejek.
Alfaro sudah tak bisa menahan rasa marahnya lagi sontak pergi meninggalkan lapangan diikuti teman-temannya.
Arshaka tersenyum kemenangan, dia menepuk pundak Raffa, "Kerja bagus semuanya." puji Arshaka pada teman-temannya. Mereka berteriak girang.
Setelah itu Arshaka menoleh ke arah bangku penonton. Keynna tersenyum menatapnya.
***
"Do'a lo terkabul, Key. Mantan lo menang." ucap Lisa.
Keynna mendesah lega, "Gue seneng banget."
Dia lalu memerhatikan Arshaka yang masih merayakan kemenangan mereka. Tanpa sadar Keynna tersenyum. Hatinya bersorak gembira karena Arshaka berjuang keras melindunginya.
Kemudian mata Arshaka jatuh padanya. Cowok itu tiba-tiba berjalan sambil tetap menatapnya.
Arshaka sampai di bangku penonton, menarik lengan Keynna lembut. Keynna beranjak dari duduknya dan mengikuti kemanapun arah genggaman Arshaka.
Kepergian mereka disambut sorak sorai semua orang.
***
Setelah pertandingan akbar itu, cabang perlombaan lain juga akan melakukan final mereka hari ini. Tak terkecuali badminton ganda, Anna dan Rey yang maju ke babak final dan harus melawan XII Bahasa-1. Para penonton sudah memenuhi tribun di lapangan indoor itu.
Disana juga sudah ada Regan, Raffa, Panji dan Lisa. Arshaka dan Keynna belum menyusul.
Regan nampak cemas, karena dia sudah memprediksi bahwa pertandingan final ini akan sengit. Apalagi lawannya adalah XII Bahasa-1, mereka pasti akan jauh lebih agresif karena teman-teman mereka kalah saat final basket sebelumnya.
Semua pemain sudah berada di lapangan. Wasit meniup peluit. Pertandingan dimulai.
***
__ADS_1
Keynna mengulurkan sebotol air ke Arshaka yang sudah berganti pakaian dengan seragam.
"Makasih." ucap Arshaka tersenyum. Dia langsung meneguknya.
Keynna memerhatikan Arshaka selagi cowok itu minum, baru kali ini dia melihat Arshaka dengan seksama. Cowok itu kini memakai denim on denim dengan kaus putih sebagai dalaman dan sneakers putih, dan Arshaka tampak seperti anak berandalan yang tetep disayang guru. Dia seratus kali lebih keren apalagi dengan rambutnya yang kini berponi acak-acakkan.
"Kenapa liatin gue mulu?" tegur Arshaka.
"Gue kesel liat lo. Ganteng banget heran." decak Keynna blak-blakan.
Arshaka tersenyum kecil.
"Jangan senyum! Awas lo kalau senyum terus bikin baper anak orang." peringat Keynna keras.
Arshaka tersenyum manis, dia mengelus surai kehitaman Keynna.
"Tenang aja, gue cuma milik lo."
Keynna nampak tersipu dengan ucapan Arshaka. Dia berusaha mempertahankan raut biasanya tapi tidak bisa. Dia kembali lumpuh akibat serangan Arshaka.
"Aaa, gue baper!" rengek Keynna kesal. Dia menumpukkan kepalanya di meja kantin.
Arshaka terkekeh, dia mendekap bahu Keynna lembut.
"Eh tapi bentar, " Keynna tiba-tiba mendongak yang otomatis rangkulan Arshaka terlepas.
"Ada apa?"
"Kan lo menang, itu berarti lo gak perlu ikutin kemauan Alfaro kan?"
Arshaka mengangguk.
"Iya, gue menang. Dia yang harusnya ikutin mau gue."
Keynna mendesah lega, "Syukurlah. Gue bakal merasa bersalah banget kalau lo harus berlutut dan akuin kesalahan yang gak lo lakuin."
"Kenapa lo merasa bersalah?" sela Arshaka.
Keynna terkesiap, astaga, mulut! dia keceplosan.
"Key, jangan bilang lo nyalahin diri lo karena masalah ini? Gue udah bilang sama lo, ini gak ada hubungannya sama lo."
"Terus kenapa lo mau ngelakuin taruhan sama Alfaro? Kenapa pake bawa-bawa gue segala?"
"Itu karena Alfaro yang benci sama gue, dia mau ngehancurin semua milik gue dan lo juga termasuk. Lo adalah hal paling berharga buat gue, dan gue gak mau karena kebenciannya ke gue, lo juga kena imbasnya."
"Makanya lo ngelakuin taruhan ini?" Arshaka mengangguk.
Keynna mendesah pelan. Salah paham ini benar-benar sudah tidak bisa ditolelir akal sehat lagi. Bagaimana bisa hanya karena kesalahan abangnya, Keenan, Arshaka harus dituduh oleh Alfaro dan menyebabkan persahabatan mereka hancur.
"Saka, sebenarnya ada yang mau gue kasih tau sama lo."
Keynna rasa ini saatnya dia mengatakan yang sebenarnya pada Arshaka soal Keenan dan dirinya. Dengan harapan Arshaka selaku orang paling penting di masalah ini akan menjelaskannya pada Alfaro.
"Ada apa, Key?"
"Soal pacar Risa,"
Rahang Arshaka mengeras, "Jangan katakan apapun soal si brengsek itu." desis Arshaka dingin.
Keynna nampak cemas karena perubahan raut Arshaka yang cepat ketika menyebut soal pacar Risa.
"Ada yang mau gue akuin sama lo."
Arshaka diam, tak menanggapi. Keynna membasahi bibirnya. Biarlah bila dia akan dibenci Arshaka setelah ini.
"Sebenernya, pacar Risa itu adalah--"
Drrt
Arshaka mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan Keynna. Arshaka menerima telfon lebih dulu.
Keynna hanya bisa berdecak kesal karena telfon itu menganggu pengakuan terberatnya.
Dasar telfon sialan, umpat Keynna kesal.
"...." Telfon itu datang dari Raffa.
"Apa, Raf?" seru Arshaka terkejut. Dahinya mengernyit.
"Kenapa?" tanya Keynna penasaran.
"Kita kesana sekarang."
Arshaka menutup telfonnya dengan Raffa. Dia lalu menatap Keynna.
"Yang nelfon Raffa, kan? Kenapa?"
Arshaka terdiam sesaat, "Anna kambuh dan sekarang dilarikan ke rumah sakit."
__ADS_1
Keynna membeku sesaat, syok. "A-apa?"