
Ting!
Bel kafe berdenting, tanda ada pelanggan yang masuk. Arshaka—cowo tegap yang baru saja masuk itu tertaut pada seorang cewe yang sedang mengaduk-ngaduk minuman dengan brutal. Senyumnya tertarik tipis lalu melangkah pada meja Keynna setelah memesan minuman di kasir.
Keynna belum menyadari bahwa ada mahluk lain bernama manusia yang berparas tampan sedang asik duduk didepannya sambil menikmati wajahnya yang mengerucut dan mengaduk-ngaduk minuman dengan brutal.
“Ekhem.” Deham Arshaka.
Keynna berhenti mengaduk-ngaduk minuman lalu menatap sesosok manusia berwujud pangeran yang sudah bertengger manis dihadapannya.
“Saka?” seru Keynna kaget. Astaga, dalam beberapa minggu kepindahannya ini, ada saja yang mempertemukannya dengan si mantan. Bisa-bisa Keynna baper lagi.
“Lo udah gila?” tanya Arshaka.
"Ya enggak lah. Enak aja!" sewot Keynna.
Tak ada pembicaraan diantara mereka hampir sepuluh menit, sebelum akhirnya Keynna memecah keheningan, “Gue belum sempet minta maaf sama lo.”
Arshaka mengernyit, “Soal apa?”
“Gue yang tiba-tiba pindah ke luar negeri. Sebenernya, itu juga mendadak, awalnya gue gak mau pergi tapi ngeliat nyokap sendirian nanti, gue jadi gak tega.” Jelas Keynna. Sebenernya, Keynna merasa aneh mengapa ia harus menjelaskannya pada arca batu, tapi entahlah Keynna hanya tidak ingin ada yang mengganjal di hatinya.
“Lo punya pacar disana?” tanya Arshaka gak nyambung.
Keynna tersedak air liurnya sendiri, apa tadi kata Arshaka? Pacar? Ini telinga Keynna yang budek atau memang Arshaka bilang itu?
“Apa, Saka?” tanya Keynna lagi.
“Lo punya pacar disana?” ulang Arshaka dengan keras. Beberapa pasang mata menatap mereka, Keynna langsung menggeplak punggung tangan Arshaka.
“Kayaknya kurang kenceng deh, Saka. Tambah toa mau?” sinis Keynna. Arshaka hanya menatap datar.
“Lo belum jawab.”
Keynna mengembuskan nafas pelan, “Gue gak punya pacar disana.”
“Kenapa?”
“Gak kenapa-napa. Gue cuma mau fokus nemenin mama sambil nyelesaian study.”
“Bagus.”
“Apanya yang bagus?”
__ADS_1
“Kemungkinan lo udah lupain gue jadi jauh levih kecil."
“Maksudnya?” tanya keynna tidak mengerti. Arshaka dikasih makan apa ya sama bundanya? Kenapa makin kesini makin gak waras?
“Gue cuma gak mau lo lupain gue.”
“Ha?”
“Diantara semua cewe yang gue kenal, kenapa cuma lo yang bisa bikin gue segila ini, Na?”
***
Setelah dari kafe dan bertemu mantan tersayangnya, Arshaka pulang ke rumah. Bundanya menelpon agar putra pertamanya itu segera pulang karena dirinya sendirian di rumah hanya dengan Arshana—adiknya yang berumur 5 tahun.
Arshaka sudah sampai. Setelah memarkirkan motornya di garasi, Arshaka langsung masuk ke rumah dan mendapati ada ibundanya dengan Nana—panggilan kecil Arshana sedang duduk menonton TV.
“Bund.” Ucap Arshaka setelah mengucapkan salam dan mengecup tangan bunda.
“Udah makan, bang?” tanya Bunda begitu putranya duduk disampingnya. Arshaka mengangguk.
“Abang makan dimana?”
“Kafe.” Arshaka menjawab singkat.
“Sendirian?” Bunda bertanya lagi.
“Berdua.”
“Sama siapa?”
“Keynna.”
Kening Bunda mengerut dalam, Keynna? Namanya sedikit familiar, mungkin anaknya pernah menyebutkannya sekali. Namun anehnya, apa hubungan anak dinginnya itu dengan perempuan bernama keynna tadi? Pasalnya, Arshaka tidak pernah mengenalkan perempuan manapun pada dirinya kecuali Risa, sahabat perempuan satu-satunya dulu.
“Keynna siapa, bang?”
“Mantan abang dulu.”
Bunda terkejut, “Mantan? Kok masih berhubungan sekarang? Eh, bentar abang kok gak bilang pernah punya pacar sama Bunda?”
“Lupa.”
“Kapan pacarannya?”
__ADS_1
“2 tahun yang lalu, waktu kelas 3 SMP.”
“Terus kok bisa putus?” karena pertanyaan ini, raut datar Arshaka sedikit terlihat melunak.
“Abang brengsek, lebih banyak priotasin Risa dibanding Keynna.” Bunda menghela nafas. Sepertinya sesi introgasi ini akan lebih panjang.
“Tapi kan waktu itu Risa emang lagi sakit kan? Wajar kamu prioritasin Risa.”
“Iya, tapi gak berlebihan, sampai abang gak tau kalau Keynna juga punya beban berat. Harusnya sebagai pacar abang juga nemenin dia di masa sulit itu, tapi abang dengan egoisnya gak peduli.” Ujar Arshaka lirih. Bunda mengusap bahu putra dinginnya itu. Bunda tidak menyangka, Arshaka bisa seperti demikian, bunda merasakan banyak emosi dari dalam tubuh putranya. Sepertinya terlihat jelas, Keynna begitu berharga bagi putranya.
“Emangnya, Keynna punya masalah apa waktu itu?”
“Dia putusin abang tepat di anniversary kita setahun, alasannya gak bisa abang terima. Tapi setelah itu abang tau dari teman-temannya bahwa keluarganya berantakan, orang tuanya bercerai sejak 3 bulan sebelumnya. Abang, yang bahkan pacarnya gak tau.”
“Abang saat itu lebih banyak prioritasin Risa. Abang jarang peduliin lagi Keynna, bahkan pas keynna minta waktu buat bicara abang gak bisa, karena takut dengan kondisi Risa yang sering drop. Harusnya abang nge-iyain saat dia minta waktu bicara,dengerin dia bicara karena abang yakin saat itu dia pengen curahin kesedihannya tapi abang ****.”
“Abang, udah minta maaf sama Keynna? Jelasin semuanya?” tanya bunda lembut. Arshaka menggeleng. Bunda bisa menebak.
“Abang gak berani, abang takut dia pergi lagi. Dia udah pergi dari abang selama 2 tahun. Abang gak mau lagi.” Jawab Arhaka sendu.
Bunda memeluk sebagian tubuh putranya ini, ternyata meski diluar sikapnya dingin, namun Arshaka juga masih punya hati dan perasaan. Cintanya pun begitu tulus, siapapun Keynna, bunda ingin mengucapkan terima kasih karena telah membuat putra tanpa ekspresinya ini melembut.
“Abang, minta maaf. Bunda yakin Keynna orang baik, dia pasti bakal maafin abang.” Ujar Bunda tersenyum lembut.
***
Di waktu yang sama tapi ditempat berbeda, Keynna sedang main ke apartemen abangnya, Keenan. Apartemen ini sudah Keenan tempati 2 tahun yang lalu, selain papanya yang pergi dari rumah, Keenan juga memutuskan pergi dan tinggal sendirian agar mandiri.
Sebenarnya, Keenan harus tinggal dengan papanya, agar adil. Keynna dengan sang mama, dan Keenan dengan sang papa. Tapi Keenan tidak mau, seperti Keynna, Keenan pun sama kecewanya dengan papanya.
Saat ini, Keynna sedang asik rebahan di kasur Keenan. Sedangkan Keenan tengah memasak mie di dapur. Ya beginilah nasib anak apartemen, tidak beda jauh dengan anak kost apalagi mahasiswa. Dompetnya belum tebal karena kudu beli banyak kertas dan sampul jilid.
Keynna yang pada dasarnya seperti Dora, setelah rebahan dan membuat berantakan kasur sang abang lanjut berpetualang, mencari sesuatu yang aneh pada kamar abangnya. Kalau itu memalukan, lumayan buat dijadiin senjata pas Keynna minta uang jajan tambahan. Wkwk.
Keynna mulai mencari di laci terlebih dahulu , lalu kolong ranjang hingga ke kloset. Namun dia tidak menemukan apapun, bahkan film “favorit” tiap laki-laki juga tidak ada. Keynna mulai berfikir macam-macam,
Apa dia lebih milih yang asli dibanding yang halu ya? Batin Keynna.
Merasa fikirannya mulai melenceng, Keynna menepuk-nepuk pipinya pelan mengenyahkan fikirannya yang hampir mulai menjurus.
"Astaga, gue mulai gila." rutuk Keynna.
Lalu Keynna mendapati ada sebuah laci kecil yang menyatu dengan samping ranjang, Keynna mencoba membukanya dan berhasil terbuka. Lalu Keynna mengambil barang yang ada di laci itu, ada box kecil berwarna pink yang cukup usang. Dibukanya box itu, ternyata isinya beberapa jepit pita khas perempuan lalu ada jam berwarna putih dan terakhir ada beberapa lembar foto. Keynna mengambil salah satu foto dan matanya membulat menyadari siapa sosok di foto itu.
__ADS_1
"Risa?"