Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
S02-Cassanova dan Wanita Anggun


__ADS_3

"Musim dingin di New York dingin banget lho. Kalau mau dateng di malam tahun baru, pastiin ke Central Park dulu ya!"


...------...


Apa yang kamu fikirkan tentang musim dingin? Salju? Lonceng di malam natal? Atau kembang api di pergantian tahun?


Namun Keynna memikirkan hal lain di luar ketiga hal itu.


Perasaan sendu menyeretnya dalam masa kesendirian yang penuh sepi di negeri orang. Bertahan tanpa orang yang dicintai disisinya. Berdiri berjam-jam menatap air mancur Central Park tanpa pendamping. Setiap malam musim dingin di akhir tahun, Keynna selalu melewatinya tanpa makna berarti.


Sepuluh tahun sudah Keynna hidup di New York. Dia menuntut ilmu setinggi-tingginya disana dan akhirnya bekerja di rumah sakit di kota yang sama sebagai dokter gizi. Meski ibunya, Kirana sudah bertolak dari New York kembali ke Indonesia. Tepatnya ke Yogyakarta, kampung halaman mendiang ayahnya. Namun Keynna masih enggan pulang. Tidak tahu kenapa. Keynna hanya bilang, bahwa dia masih tak percaya diri bila harus pulang sekarang.


Dia tak percaya diri apakah harapannya terwujud. Apakah kerinduannya pada lelaki yang paling disayanginya itu memiliki timbal balik untuknya. Dan berdasarkan apa yang telah dia dengar dari teman-temannya, asa yang dia nantikan sepertinya tak terkabul.


Tapi sebenarnya itu hanya omong kosong. Nyatanya, Keynna hanya tenggelam pada ketakutannya sendiri. Berusaha mencari perisai atas keraguannya yang tak berdasar. Padahal kalau dia mau, dia bisa langsung memesan tiket pulang dan memastikannya sendiri.


Yah, satu kata yang sangat jelas untuknya, dia pengecut.


Tentu saja dia wajar berfikir demikian. Setelah kekacauan yang telah dia buat sepuluh tahun lalu. Pantaskah Keynna ingin memeluknya lagi setelah dia buang dengan egois?


Dan Keynna berdiri sekali lagi. Berdiri diam menatap air mancur Central Park yang berkilauan di malam hari. Membiarkan mantel coklat panjangnya dan topi kupluk hadiah ulang tahun dari Lisa dibasahi salju yang turun.


“Ten...”


Hitung mundur telah dimulai. Keynna menutup matanya.


“Nine...”


“Eight...”


“Seven...”


“Six...”


“Five...”


“Four...”


“Three...”


Drrt


Ponselnya bergetar hendak di hitungan mundur kedua. Keynna ternyata mendapat telfon dari salah satu koleganya.


“Oke, Am, I'm there now.” katanya lalu menutup telfon. Di malam tahun baru ini, dia masih saja mendapat pekerjaan.


Tapi itu mungkin lebih baik dibanding dia harus sendirian lagi malam ini. Lebih baik dia menyibukkan dirinya saja. Mengusir rasa sedih yang bersarang dihatinya.


Keynna menyakukan kembali ponselnya dan tanpa kata langsung pergi meninggalkan tempatnya berdiri semula. Dia pergi tanpa menunggu dua detik lagi.


Namun andai dia mau menunggu.


Bersamaan dengan kepergiannya, seseorang bermantel hitam datang. Berdiri di bekas tempat Keynna tadi.


“Two...”


Lelaki itu memasukkan kedua tangannya di saku mantelnya. Menatap keindahan air mancur Central Park yang selalu dia kunjungi di tiap malam tahun baru selama sepuluh tahun ini.


“One...”


Duarr


Duarr


Kembang api langsung menyala dengan ramai. Langit New York seketika terang benderang dihiasi warna kembang api di seluruh penjuru kota. Sorak sorai para pengunjung terdengar.


Di tengah keramaian dan hingar bingar ini, lelaki itu masih merasa kesepian. Dia tetap saja tenggelam pada nostalgia masa lalu. Nostalgia yang membawanya selalu mengunjungi New York setiap tahun baru selama sepuluh tahun ini.


Dan meski sedih karena gagal kembali, tapi lelaki itu tetap memaksakan senyum tipisnya. Setidaknya dia bisa melewatkan pergantian tahun di kota yang sama dengan gadisnya. Hatinya cukup terhibur.


“Happy new year, Nana. Semoga kita bertemu kembali.” ucapannya yang penuh harapan terbawa oleh angin yang mengantarkan salju musim dingin.


***


Jakarta....


Seorang lelaki berpakaian setelan jas hitam mewah berjalan santai ditengah lautan orang-orang yang membawa kamera. Lampu blizt meneranginya dari segala sisi.


Arshaka Juna Aldebaran yang kini sudah berusia 29 tahun berubah menjadi lelaki dewasa yang pesonanya makin menguat seiring pertambahan usianya. Wajah rupawannya yang awalnya datar tanpa raut kini berubah menjadi penuh senyum. Senyuman yang memikat semua kaum hawa dari segala usia.


Arshaka yang kini mewarisi Aldebaran Group dari sang kakak, Arsya tengah menghadiri pesta pembukaan sebuah hotel mewah di Bali. Begitu dia membuka pintu mobil tadi, semua wanita langsung histeris terlebih lagi ketika dia mengedipkan matanya.


Semuanya ingin memfoto Arshaka, mencari angle terbaik yang bisa didapatkan. Mereka sampai saling dorong hingga seorang wartawan juga hampir jatuh karena terdorong sana sini sebelum Arshaka menyelamatkannya dengan menahan pinggang wanita itu. Mereka kini terlihat berpelukan. Dan jelas, kejadian itu tak luput dari kamera bidikan wartawan lain.


"Gak apa-apa, Nona?" tanya Arshaka.


Wartawan cantik itu mengangguk kaku dengan wajah masih terkejut. Terlebih karena dia tersihir dengan paras luar biasa Arshaka dari dekat.


"Saya gak papa. Makasih." ucapnya langsung berdiri tegak.


Kini wajah wanita itu berubah canggung.


Arshaka tersenyum, "Siapa namamu?" tanya Arshaka.


Wartawan itu nampak terkejut lagi karena tiba-tiba saja ditanya oleh Arshaka.


"Kieena." Jawab wartawan itu.

__ADS_1


Arshaka makin tersenyum manis, " Kieena, nama yang cantik sesuai wajah pemiliknya." puji Arshaka.


"Terima kasih." ucap Kieena tersipu.


"Kieena, kamu cantik, sudah memiliki pacar?" tanya Arshaka lagi.


Kieena nampak terkejut lagi dan lagi hingga dia menggeleng. "Enggak--belum maksudnya."


Arshaka kini tersenyum manis, "Kieena, saya belum memiliki pasangan di pesta dansa nanti. Kamu cantik dan lajang, maukah mendampingi saya malam ini?" tanya Arshaka.


"Huwaa!"


Semua orang berteriak dan syok dengan penawaran Arshaka pada gadis asing ini. Terlebih Kieena yang menutup mulut saking syoknya.


"Bagaimana Kieena?" tanya Arshaka lagi.


Meski masih tak percaya terhadap apa yang dia dengar, tak urung Kieena mengangguk. Lagipula siapa sih yang sanggup menolak kesempatan emas ini? Bersanding dengan CEO paling tampan dan kaya se-Indonesia ini?


Arshaka tersenyum, dia mengulurkan tangannya. Kieena menumpukan tangannya pada tangan Arshaka yang terulur. Arshaka lalu menarik tangan Kieena ke sisi tubuhnya dan menggandengnya dengan mesra. Tanpa kata, mereka berjalan menyusuri red carpet menuju tempat pesta.


***


CEO Muda dan Kaya Raya, Arshaka Juna Aldebaran Menggandeng Seorang Wartawan Cantik Tak Dikenal ke Pesta Dansa


Arshaka Juna Aldebaran Mendapat Pacar Baru secara Tak Sengaja saat Menuju Pesta Dansa.


Mengenal Kieena, Wartawan Media yang jadi Pendamping Baru CEO Aldebaran Group


Brak


Keynna melemparkan majalah yang berisi berita hangat Arshaka tadi malam itu dengan kesal ke atas meja. Wajahnya merah padam dan jelas kesedihan juga menggelayuti wajahnya.


"Pacarnya yang keberapa? Tunggu, mereka belum pacaran kan?" tanya Keynna pada si pembawa berita yang kini duduk di depannya sambil menyesap kopi.


Regan Deova menggeleng, "Dia udah taken tadi malam." jawabnya santai. Wajahnya terhiasi senyuman ketika lidahnya merasakan pahitnya kopi.


Keynna terkejut, "Secepat itu? Regan, temen lo sekarang otaknya makin gak waras!"


Regan hanya mengendikkan bahu, "Gue udah bilang sama lo, dia udah berubah. Lo gak bisa harepin apa-apa lagi dari dia di masa lalu."


Keynna terdiam. Benar juga. Arshaka yang sekarang berbeda 180 derajat dari Arshaka saat dia mengenalnya 10 tahun lalu.


"Jadi, masih gak mau pulang?" tanya Regan.


Keynna tersentak lalu menggeleng pelan.


"Kenapa?" Regan kecewa.


"Kayak lo bilang, gue gak bisa harepin apa-apa lagi dari dia. Arshaka yang gue kenal udah gak gue kenal lagi. Lagian pasti dia udah lupa sama gue." jelas Keynna pelan.


Regan diam sesaat lalu hanya mengendikkan bahunya lagi.


"Nyesel kenapa?"


Regan tersenyum, "Soalnya ini."


Regan menaruh tab miliknya ke hadapan Keynna yang menampilkan berita wawancara Arshaka.


Keynna mengambil tab itu dan mulai memerhatikan berita yang dimaksud.


Seorang wartawan bertanya pada Arshaka tentang sepak terjangnya sebagai CEO muda yang masih melajang saat ini dan belum memikirkan pernikahan.


"Saya bukannya tidak memikirkan pernikahan tapi saya hanya belum menemukan pasangan yang cocok dan waktu yang pas saja." jawab Arshaka.


"Lalu bagaimana dengan pacar Anda yang baru saja Anda umumkan ke publik? Apakah itu akan sesuai dengan tipe ideal Anda?"


Arshaka hanya tersenyum, "Dia tipe ideal untuk dijadikan kekasih tapi untuk menjadi Nyonya Aldebaran, saya harus memastikannya lagi."


"Tapi Anda menyukainya kan? Bisakah dia menjadi Nyonya Aldebaran suatu saat nanti?"


"Tentu saja bisa. Dia pacar saya, tidak menampik bahwa dia adalah calon istri saya."


"Jadi Anda belum siap menikah saat ini?"


"Untuk saat ini belum tapi saya punya prinsip saya sendiri. Saya pasti akan menikah sebelum usia saya 30 tahun."


"Mungkinkah bila kekasih Anda saat ini bertahan dengan Anda hingga ulang tahun Anda yang ketiga puluh, dia bisa menjadi istri Anda?"


Arshaka mengangguk, "Kalau saya sudah sangat mencintainya setengah mati."


Kemudian mata Arshaka menatap ke depan, "Dan saya rasa kalau difikir-fikir saya memang harus menikah dengannya."


Keynna melemparkan tab Regan ke meja dengan kasar. Dia mendengus.


"Cowok brengsek." umpatnya.


Sudut bibir Regan terangkat, "Jadi apa keputusan lo?"


Keynna terdiam. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi lagi.


"Gue tetep gak mau balik." tandasnya.


Jawaban itu membuat Regan menghela nafas pelan.


***


Arshaka berjalan tenang menuju ruang meeting perusahaannya ketika ponselnya bergetar. Arshaka berhenti sebentar untuk mengecek telfon yang masuk.

__ADS_1


Penelfonnya adalah Regan.


"Gimana Gan?" tanyanya.


"....."


Arshaka tersenyum tipis.


"Oke, thanks Gan buat selama ini."


Setelah panggilan terputus, Arshaka menyerahkan ponselnya pada sekretarisnya kemudian berbicara singkat.


"Pesta pertunangan saya, jangan lupa undang dia."


Andy, sang sekretaris pribadi Arshaka mengangguk.


Arshaka lantas tersenyum penuh makna. Sepertinya dia tidak sabar menunggu nanti malam.


***


Keynna menunggu Regan yang sedang mengecek bagasi. Setelah itu mereka duduk saling bersebelahan di kursi pesawat yang sudah mereka pesan sebelumnya.


"Lo gak ketinggalan apapun kan?" tanya Regan.


Regan menoleh ketika tak mendengar jawaban apapun dari Keynna.


Lelaki itu mengangkat satu alisnya tinggi ketika melihat ekspresi aneh dari cewek disebelahnya.


"Kenapa?" tanya Regan.


"Kita udah hampir berangkat dan lo baru nanya itu sekarang? You're so weird Regan Deova."


Regan terkekeh, "Mungkin gegara gue bareng terus sama cewek kayak lo. Gue jadi ikutan aneh."


Keynna mendelik, "Gue gak aneh. Lagian siapa yang dulu nemuin gue pertama kalinya dan bilang mau ngabdi sama gue?"


"Yah, itu gue. Saat itu gue lagi bego banget." Regan tertawa lebih keras. "Lagian lojuga seneng kali ada yang bisa lo jadiin temen sekaligus babu."


Keynna tak urung mengangguk, "Yah, lo ada gunanya." kekehnya kini.


***


Bali, Indonesia


Keynna dan Regan sampai di Bali pada jam enam sore. Ini adalah kali pertama Keynna menginjakkan kakinya lagi di Indonesia setelah dia pergi selama sepuluh tahun ke Amerika.


Semuanya karena berawal dari ucapan Regan yang mengatakan bahwa Alfaro akan melangsungkan pernikahannya dengan kekasihnya di Bali malam ini. Keynna jelas kaget dan syok mendengarnya terlebih cowok gila itu memberitahunya secara mendadak. Dan untuk menghargai Alfaro yang merupakan salah satu sahabatnya kini, Keynna akhirnya memesan tiket ke Bali dadakan dan pergi dengan Regan.


Jadi disinilah dia, bersama Regan yang tampil dengan amat charming malam ini. Andai cintanya tidak kuat pada Arshaka, mungkin Keynna sudah oleng duluan pada Regan. Keynna akui, dia sangat menyukai rambut panjang Regan yang dikuncir kuda. Dalam pandangannya, Regan terlihat dewasa sekaligus maskulin.


Keynna dan Regan masuk menuju aula hotel di Nusa Dua yang kini telah disulap sedemikian cantiknya untuk resepsi pernikahan Alfaro dan Jesylin, nama kekasihnya. Mereka langsung menghampiri kedua mempelai.


"Hai, Key, saya kira kamu gak akan dateng." sambut Alfaro sangat senang bahwa sahabatnya datang. Oh ya, Alfaro masih mempertahankan bahasa saya-kamu dengan Keynna.


Keynna tersenyum tak enak, "Sorry Faro, gue gak tau kalau lo nikahan malam ini. Salahin sama si cowok gila disamping gue ini. Dia baru ngasih tau tadi jam delapan pagi." Keynna menatap sewot Regan yang malah berdiri santai memakan kue-kue.


Alfaro tersenyum memakluminya, "Saya juga baru ngasih undangannya dadakan kok. Awalnya mau lewat email kamu aja tapi Regan bilang dia akan kasih tau kamu aja karena kalian tinggal sekota jadi ya udah."


Keynna mengangguk, "Iya. Oh ya happy wedding ya. Semoga samawa. Turut berbahagia juga untuk kalian."


Alfaro mengangguk, "Makasih Key."


Kini giliran Regan yang memeluk Alfaro dengan erat, "Gue seneng lo nikah bro." ucapnya tulus.


"Hem, cepet nyusul ya Gan. Diantara kita berlima, cuma lo, Panji sama Arshaka doang yang belum kawin. Panji sih udah punya cewek tapi lo sama sekali belum." ejeknya.


Regan melirik Keynna, "Kalau tuh cewek mau sama gue yang begajulan dibanding harepin mantannya sih..."


Keynna yang asik berbicara dengan Jesylin sontak menoleh karena sadar bahwa dia tengah dibicarakan.


"Gue gak mau sama lo." tolak Keynna tegas.


"Ya siapa yang mau sama lo?" kekeh Regan geli.


"Eh ya, Key, kamu udah ketemu sama Arshaka?" celetuk Alfaro.


Keynna menggeleng, "Dia ada disini tapi?"


Alfaro sontak menggeleng.


"Di ada di gedung sebelah." jawabnya.


"Ngapain?" tanya Keynna.


"Lo gak tau Key?" tanya balik Alfaro.


Keynna mengerutkan dahinya, "Engga tau apa ya?"


Alfaro menukar pandang dengan Regan yang memilih mengatupkan bibirnya lalu menatap Keynna lagi.


"Arshaka lagi adain acara sama kayak ini tapi konsepnya beda."


"Maksud lo?" tanya Keynna tidak mengerti.


"Arshaka lagi adain acara tunangan di gedung sebelah malam ini."


Keynna terpaku.

__ADS_1


"Tunangan?" seru Keynna pias.


Alfaro mengangguk sambil beraut tak enak, "Lo gak tau kalau dia mau tunangan sama pacar wartawannya?"


__ADS_2