Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Teletubbies


__ADS_3

Hujan sudah reda di langit Bandung. Yang tersisa hanyalah bau hujannya dan jejak air di jalanan aspal. Suhu Bandung kembali turun karena malam setelah hujan.


Tak lama, mobil yang dikendarai Arshaka sampai di depan rumah Keynna. Keynna yang sempat tertidur langsung terbangun ketika terasa mesin mobil sudah dimatikan. Dia menoleh pada Arshaka.


"Udah sampe?" tanyanya masih setengah sadar.


Arshaka mengangguk, "Cepet masuk dan mandi. Gue gak mau lo kena flu."


Keynna sudah membuka matanya lebar-lebar. Dia menatap Arshaka.


"Andai kalau dulu lo seperhatian ini." celetuknya.


Arshaka balas menatap Keynna, kedua tangannya terlipat didepan dada.


"Apa dulu gue gak perhatian sama lo?"


Keynna menggulung bibirnya lalu menggeleng, "Lo perhatian tapi mendingan sekarang dibanding dulu."


"Kalau gitu, kita pacaran lagi aja. Gue jamin, gue akan jauh lebih perhatian." cetus Arshaka.


Keynna mendorong dahi Arshaka, "Jangan bicara ngawur." ujarnya.


Arshaka menggenggam jari telunjuk Keynna yang bertengger di dahinya. Keynna berusaha melepaskan jarinya tapi Arshaka menggenggamnya erat.


"Gue sehat dan gue sadar. Lo bisa pertimbangin gue lagi." tandasnya.


Keynna menyentak paksa genggaman Arshaka.


"Pulang sana. Taksi suka susah kalau udah melem banget." ujar Keynna ketus.


Arshaka langsung menampilkan raut datarnya lagi.


"Gue diusir karena ditolak?" tanyanya.


Keynna tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya.


"Pu-pulang sana!" usirnya.


Arshaka mengalah. Dia akhirnya keluar mobil tanpa kata.


Setelah beberapa menit, Keynna yang melihat Arshaka sudah turun dan berdiri di jalan akhirnya keluar.


"Lo udah panggil taksi?" tanyanya.


Arshaka hanya meliriknya dengan datar.


"Gue nanya sama lo. Gue bukan patung. Suka banget nganggurin orang." decak Keynna kesal.


Arshaka masih tak menjawab.


Keynna mendengus kasar, "Ini nih yang bikin gue gak mau balikan lagi. Nanti gue malah dikira pajangan dibanding pacar." gerutu Keynna pelan.


Arshaka mendengarnya. Dia langsung menoleh, "Kalau gue jawab, lo janji mau jadi cewek gue?" tembaknya langsung.


Keynna menganga terkejut, "Lo denger?"


Arshaka mengangguk.


"Jadi kalau gue jawab, lo mau nerima gue lagi kan?" tanya Arshaka.


"Ya enggaklah. Gue cuma asal ngomong. Lagian kuping lo itu kuping manusia apa kelelawar? Sensitif amat." dumel Keynna lagi.


"Keynna Alsha, asal lo tau kuping manusia bisa nangkep hingga 20.000 hz. Kita di jarak sedeket ini dan kalau gue gak bisa nangkep omongan lo, itu berarti kuping gue tuli." jelas Arshaka.


Keynna menahan senyum kecil tapi rautnya berusaha tetap datar.


"Taksi lo dateng tuh." tunjuknya ketika melihat ada mobil yang mendekat.


Arshaka berdecak kesal, "Kecepetan." ujarnya.


Keynna kembali tersenyum samar.


"Sana buruan cabut." ujarnya mendorong punggung Arshaka agar masuk ke dalam mobil.


Arshaka belum menutup pintu, dia menatap Keynna yang berdiri di samping pintu taksi.


"Lo pertimbangin lagi."


"Pertimbangin apa?"


"Jadi cowok lo."


"Apa yang perlu dipertimbangin?"


"Gue."


Keynna berdecak sebal, "Hati-hati di jalan!" ketusnya langsung menutup pintu taksi dengan keras.


Akhirnya taksi itu berangkat.


Keynna berdiri beberapa saat di tempatnya. Dia tak kuasa menahan senyum yangs edari tadi dia terus tahan. Setelah puas tersenyum, Keynna akhirnya masuk ke rumahnya.


***

__ADS_1


Pagi hari di kelas jomblo ceria, sudah ramai. Entah ada angin apa tapi semua siswa rata-rata sudah datang. Bahkan trio ubur-ubur saja sudah datang dan asik menonton sesuatu di belakang kelas. Tak perlu dijelaskan lebih karena siapapun tahu apa yang tengah mereka tonton hingga sefokus dan wajah semerah itu.


Keynna baru saja sampai di kelas. Dan belum dia duduk, Lisa sudah menyeretnya duduk di bangku Anna.


"Liat nih, Key." ucapnya antusias. Dia menunjukkan layar ponselnya.


"Siapa ini?" tanya Keynna melihat foto cowok di layar ponsel Lisa.


"Calon gebetan gue." jawab Lisa riang.


"Hah?"


"Iya. Cuma tinggal dia nembak dan gue iyain aja."


"Kenal dimana lo?" tanya Keynna lagi.


"Dia satu klub pecinta anjing sama gue. Asli deh Key, orangnya udah cakep, tajir, sayang binatang lagi. Ck ck, binatang aja disayang gimana sama manusia, iya kan?" papar Lisa penuh keterkaguman.


Keynna mengangguk-anggukan kepala, "Gue setuju."


"Kapan ngedatenya?" tanya Keynna.


Lisa hendak menjawab kala suara Panji memotongnya dari belakang mereka.


"B aja. Gantengan juga gue." celetuknya.


Lisa dan Keynna sama-sama menatap Panji dengan Lisa yang terlihat dongkol.


"Kenapa sama lo berdua? Gue salah ngomong?" tanya Panji.


"Bukan salah lagi. Lo bener-benar gak tau diri ya Panji. Masa lo bandingin diri lo sama calon gebetan gue. Yang ngaca dikit dong." semprot Lisa.


"Emang apa yang salah sama gue? Gue menarik, kece dan tajir. Siapa cewek yang gak mau sama gue hah?" seru Panji.


"Ya lo bandingin aja sendiri. Dia kek Bradpitt sewaktu muda dan lo kek kolornya Bradpitt yang gak dicuci setaun. Menurut lo, kalian sepadan?" hina Lisa.


Panji menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Lalisa Candrakirana, mulut lo pedes amat kek peperoncini." sungut Panji.


"Emang kenyataan." balas Lisa enteng.


Panji menunjuk-nunjuk Lisa dengan berwng, "Lo-lo liatin aja ntaran. Gue bakalan glowing ngalahin Bradpitt. Dan lo pasti bakal klepek-klepek." ujarnya.


Lisa berdecih remeh, "Sabodo teuing." ketusnya. Lisa langsung berbalik memunggungi Panji kembali.


"Lisa lo---" Panji kehabisan kata-kata. Dia hanya bisa menahannya di hati.


Keynna yang melihat pertengkaran dua makhluk berbeda kelamin ini hanya bisa meringis pelan.


Panji menatap Keynna penuh haru, "Emang lo yang paling perhatian Key. Beda sama sahabat syaiton lo." ucapnya sekaligus mengumpati Lisa dari ucapannya.


"Gue denger, iblis." celetuk Lisa.


"Gue tau. Sebagai temen lo, gue mau kasih saran." sela Keynna.


"Saran apaan?" tanya Panji.


Keynna tersenyum kalem, "Gunain Head & Shoulder buat basmi ketombe lo! Hahaha." seru Keynna tertawa keras.


Lisa langsung tertawa keras. Sedangkan Panji menatap datar pada keduanya.


"Fiks, no debat. Kalian bener-bener definisi temen terjahanam." umpat Panji kesal.


***


Sepulang sekolah, Lisa mampir ke sebuah kafe di dekat kampus ITB. Dia hendak bertemu calon gebetannya. Oh ya namanya Niko btw.


Hanya lima menit menunggu, Niko sampai di kafe. Dia langsung menghampiri Lisa.


"Maaf, tadi ada kecelakaan di dekat jalan rumah. Jadi terhalang sebentar." ujar Niko dengan wajah tak enak.


"Gak papa. Gue juga baru sampe kok." balas Lisa kalem.


Niko mengangguk lega.


"Lo mau pesen apaan? Gue tadi baru pesen jus alpukat." ujar Lisa.


"Kalau gitu samain aja." timpal Niko.


Lisa menganggukan kepalanya.


Lisa memanggil pelayan. "Mbak, jus alpukat satu lagi." ujarnya pada pelayan.


"Baik mbak." jawab pelayan lalu pergi.


Sepeninggal pelayan tadi, kini meja mereka diwarnai keheningan lagi. Lisa bahkan canggung kalau harus memulai pembicaraan.


"Euu, lo anak Cakra kan?" tanya Niko memulai pembicaraan.


Lisa diam-diam menghela nafas lega karena akhirnya ada pembicaraan diantara mereka. Lisa buru-buru mengangguk.


"Gue kenal beberapa anak Cakra. Gak tau lo kenal atau engga sama mereka."

__ADS_1


"Cakra emang temenan sama Cendrawasih. Gue juga punya beberapa kenalan disana. Btw, siapa temen lo, siapa tau gue kenal."


"Panji Gardana, lo kenal?" tanya Niko.


Lisa mengeryitkan dahinya, "Panji? Lo temen Panji?" Gila, Lisa kaget dan tak sangka bahwa nama yang diucapkan Niko sama sekali tak terduga.


Niko mengangguk, "Diliat dari ekspresi lo, kayaknya lo kenal."


Lisa mendengus keki, "Gimana ga kenal kalau dia cowok paling rese yang pernah gue temui di muka bumi ini. Apalagi dia temen sekelas gue."


"Wah seriusan? Jadi bener ya kata pepatah, kalau dunia itu selebar daun kelor." kekeh Niko.


"Tapi gimana lo bisa kenal bahkan temenan sama dia?" tanya Lisa.


"Dia temen temennya temen gue. Tapi kita jadi deket karena punya satu hobi yang sama, moto." jawab Niko.


Takdir mainin gue mulu. Masa cowok seganteng Niko nyatanya temenan sama si kodok Panji? gerutunya dalam hati. Lisa berdecih sebal.


Tapi tunggu, sepertinya Lisa punya ide yang bagus.


***


Keesokan harinya.


Anna terbangun dari tidurnya. Wajahnya sudah tak sepucat kemarin-kemarin. Dia juga merasa tubuhnya agak enakan. Sepertinya pengobatan mulai manjur pada tubuhnya. Atau juga karena sebagian bebannya telah terangkat.


Dan di waktu yang tepat, Regan masuk ke ruangan Anna. Dia langsung menghampiri Anna yang duduk di ranjangnya.


"Na, gimana kondisi lo?" tanya Regan langsung.


Anna tersenyum tipis, "Setelah gue bicara sama Keynna, keadaan gue mulai baikan. Tubuh gue enakan."


Regan mendesah lega.


"Syukur deh. Gue lega banget, Na."


"Regan, gue pengen sekolah." ujar Anna.


"Engga, Na. Lo istirahat aja. Lo baru aja mendingan." tolak Regan.


"Regan, gue udah beberapa hari gak masuk. Gue juga kangen temen-temen gue. Please, izinin gue ya." pinta Anna.


Regan menggeleng tegas, "Sekali enggak tetep enggak, Na." keukeuhnya.


Anna mencebik kesal. "Jahat banget lo." sungutnya.


"Na, ini semua demi kebaikan lo. Gue gak mau ambil resiko lo drop lagi. Lo baru aja mendingan." jelas Regan.


"Tapi gue udah gak papa. Gue masih sanggup ke sekolah. Gue bener-bener bosen disini mulu." tukas Anna. "Agan, please. Gue janji, begitu gue ngerasa gak enak lagi, gue langsung minta pulang." lanjutnya.


Regan terdiam menimbang-nimbang. Tapi lama kelamaan lelaki itu luluh karena tatapan penuh harap Anna. Dia mau tak mau menganggukan kepala.


"Janji lo, awas." peringat Regan.


Anna mengangguk senang.


***


Kedatangan Anna menjadi heboh di kelas. Terutama Keynna dan Lisa yang sudah merindukannya.


"Ohmaygat, temen sebangku! Lo kemana aja? Gak ada kabar, gak ada berita. Gue kira lo hilang diculik kalong wewe!" seru Lisa.


Anna tersenyum kecil, "Gue asik jalan-jalan sama nyokap di Jepang. Maafin gue yaps." ujarnya berbohong.


"Wah parah lo gak ngajak-ngajak! Temen ala bukan lo?" sungut Lisa.


"Temen lah. Tapi sorry sorry ye. Gue gak bawa oleh-oleh."


Lisa berdecak kesal, dia melepaskan rangkulannya pada Anna.


"Jauh-jauh sana lo." ketusnya.


Anna terkekeh geli. Dia mendekati Lisa dan berusaha memeluknya.


"Ih Lalisa, jahat amat lo." rengeknya.


"Seneng banget ya liat Lala sama Po pelukan, Dipsynya gak gabung nih?" celetuk Rafa.


"Siapa yang lo sebut Dipsy?" tanya Keynna.


"Ya elo lah. Ya kali Regan, mesti pake rok dong dia." ejek Panji.


Regan menggulung bibir Panji, "Enteng banget mulut lo."


"Sini Key. Pelukan dulu." ujar Lisa manja.


Keynna berdecih jijik mendengarnya. Tapi mau tak mau mendekat. Dan Lisa langsung melingkarkan tangannya ke sekeliling bahu Keynna. Mereka bertiga berpelukan.


"Pokoknya kita gak boleh dipisahkan. Kita udah jadi satu tubuh, satu hati dan satu fikiran, oke girls?" ujar Lisa.


Keynna dan Anna saling berpandangan. Dan bisa dilihat wajah Anna seketika mendung.


Melihat itu, Keynna mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Kita harus tetap bersama." tegasnya.


Anna tertegun di dalam pelukan mereka.


__ADS_2