Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Angsa Putih


__ADS_3

Ini sore hari.


Kebiasaan lelaki jomblo nan tampan yaitu Keenan di sore hari adalah makan es krim dan snack kentang favoritnya. Jadi disinilah dia, tengah berada diminimarket dekat apartemennya.


Keenan mengisi seluruh keranjangnya dengan bermacam snack, mie instan dan berbagai soda berasa. Dan jangan lupakan soal es krimnya.


Selesai membayar, Keenan segera membuka kemasan es krimnya dan memakannya. Dua tangannya penuh, di kirinya satu plastik belanjaannya dan kanannya memegang es krim. Setelah selesai dia kembali pulang ke apartemennya.


Keenan lalu masuk ke dalam lift dengan tetap asik memakan es krim. Lalu ponselnya berdering, nama adiknya muncul di layar.


"Yes? Keenan handsome is here." sapa Keenan narsis.


"Jijik." balas adiknya itu di seberang telfon. Keenan terkekeh.


"Apaan?" tanya Keenan.


"Lo dimana bang?"


"Dimana aja."


"Serius elah, gue di apart lo nih. Buru balik ngapa."


"Lah ngapain lo disana? Gue gak nerima gelandangan ya."


"Sialan lo!" umpat Keynna.


"Hehe, kalem dong mbaknya." Keenan tertawa, "Gue bentar lagi nyampe, lagi di lift, selantai lagi."


"Buru." setelah mengatakan itu, Keynna menutup telfonnya.


"Dasar adik nyebelin, belum juga dijawab." ujar Keenan. Dia memasukkan ponselnya ke saku lalu mulai berjalan ketika lift terbuka. Tetapi--


brak


Karena tak melihat jalan, Keenan menabrak seseorang. Alhasil es krimnya terkena baju orang. Keenan terkejut.


"Sorry, gue gak sengaja." ucap Keenan. Dia menoleh pada orang itu. Dia menaruh plastik belanjaannya. Dia juga membuang es krimnya di tempat sampah didekatnya.


"Lo--" orang itu terdiam ketika melihat Keenan, "Lo!" ucap orang itu.


"Iya, gue. Sorry ya, gue gak liat jalan." jawab Keenan.


"Bukan," orang itu menggeleng, "Lo anaknya tante Kirana kan? Abangnya Keynna?" tanya orang itu.


Keennan terdiam, Bagaimana bisa cewek itu tahu. Tapi dia seperti pernah melihat wajah cewek itu, tapi dimana, Keenan lupa.


Melihat Keenan yang diam kebingungan, cewek itu berkata lagi, "Gue Felly, anaknya om Justin, yang kita ketemu pas makan malam." ujar cewek itu ternyata Felly.


"Ah, gue inget sekarang." Keenan kembali ingat, pantas wajahnya familiar. " Oh ya gimana sama baju lo? Gue beneran gak sengaja, tadi gue abis telfonan sama adek gue." kata Keenan kembali ke topik.


"Gue sebenernya kesel. Ini baju baru, gue juga gak punya cadangannya, abis itu gue juga mau ketemuan sama temen gue." kata Felly.


Keenan terdiam berfikir, lalu sebuah ide muncul. Tanpa kata, dia melepaskan jaketnya.


"Lo pake aja ini dulu, buat nutupin noda itu. Ntar balikin ke gue sekalian sama baju lo yang kotor." ucap Keenan.


"Masa gue pake jaket lo sedangkan gue pake dress? Gue bukan orang buta fashion ya." tolak Felly.


"Terus gimana dong? Gue juga gak punya baju cewek. Dan gue yakin, lo juga gak mau pake baju adek gue kan?"


Felly terdiam. Dia memang tak sudi memakai baju Keynna tapi masa dia pakai dress dengan jaket?


"Yaudah deh, jaket lo aja." kata Felly akhirnya.


Keenan mendesah lega, dia memakaikan jaketnya pada Felly. "Gue tinggal di lantai ini, no 156. Jadi kalau misal lo udah selesai ketemuan sama temen lo, ke sini aja. Ntar gue sekalian laundry punya lo." kata Keenan.


Felly mengangguk, "Kalau gitu gue duluan." pamit Felly.


"Eh tunggu!" cegah Keenan.


"Apa?"


Keenan mengambil sebungkus tisu di plastik belanjaannya lalu nenyerahkan pada Felly.


"Biar noda nya gak meresap." katanya. Felly mengambilnya.

__ADS_1


"Thanks." kata Felly pelan.


Keenan mengangguk, lalu mengambil belanjaannya dan meninggalkan Felly. Felly melihatnya dengan tatapan berbeda.


***


"Lo lama banget ih Bang Ke!" seruan Keynna menyambutnya ketika dia membuka pintu apartemennya.


"Sabar kali, bu. Tadi ada insiden kecil jadi terhambat." kata Keenan. Dia menaruh plastik belanjaannya di meja ruang tamu.


"Insiden apaan?" tanya Keynna sambil mengunyah snack punya Keenan.


"Gue gak sengaja bikin baju orang kotor." jawab Keennan. Dia ikut membuka salah satu snack dan memakannya.


"Cewek apa cowok?"


"Cewek keknya." balas Keenan sambil mengunyah keripik.


"Keknya? maksud lo?"


"Iya cewek. Namanya siapa ya gue lupa lagi? Padahal kita baru ketemu 1 menit yang lalu." gumam Keenan mengingat-ingat.


"Makanya otak itu dipake buat ngingat hal penting kek nama orang. Bukannya pake nginget rumus bangun datar."


"Rumus bangunan bukan bangun datar." kata Keenan mendesah.


"Apapun itu. Jangan-jangan lo lupa juga nama gue makanya lo gak pernah manggil gue sama nama?" tuduh Keynna.


Keenan berdecih, "Iya gue lupa. Ngapain juga nginget nama lo, gak penting amat." jawabnya cuek.


"Lo serius?" Keynna mendekat pada Keenan. "Lo beneran lupa?" Tanya Keynna serius.


"Penting gue inget kalau lo adek gue. Beres."


"Lo parah ih bang! Lupa nama gue!" seru Keynna kesal. Namun Keenan malah bersikap acuh.


"Ih bang! jawab dulu, lo inget apa enggak?" tanya Keynna. Dia menggoyang-goyangkan bahu sang kakak.


"Ish, gue inget." kata Keenan akhirnya.


"Siapa ya? Emma Watson? Gak mungkin." balas Keenan segera asik memakan cemilan lagi dan tak mengindahkan raut Keynna yang keruh.


"Lo becanda mulu. Aslinya lo lupa kan!" Keynna menunjuk Keenan.


"Gue inget, tadi becanda kali." ujar Keenan lelah.


"Siapa?" todong Keynna lagi.


Keenan mendesah lelah, "Nama : Keynna Alsha Iskandar. Tempat tanggal lahir : Bandung, 3 Juni 2002. Status : Pelajar. Hobi : Membaca dan Mengkhayal. Cita-cita : Penulis Novel Dewasa. "


Bersamaan dengan kalimat terakhir, Keenan mendapat gamparan sayang dari Keynna.


***


Lisa sedang berjalan di sekitar taman dekat kompleknya. Matanya yang sudah bulat tambah membulat ketika melihat ada seorang cowok sedang memotret mesum. Karena di depannya ada seorang cewek yang memakai gaun dibawah lutut.


Lisa berjalan perlahan mendekati cowok itu dari belakang. Lalu memukul kepalanya dengan tasnya. Alhasil cowok itu mengaduh.


"Rasain, rasain lo! Dasar mesum." Lisa terus memukulkan tasnya pada cowok itu.


"Aduh, apaan sih. Sakit." cowok itu mengaduh dan mencoba menghentikan aksi gila Lisa yang terus memukul tasnya pada kepalanya.


"Rasain!" Lisa menghentikan pukulan tasnya. Namun seketika membelalak bahwa cowok itu adalah--


"Panji!!" pekik Lisa kaget.


"Lo parah ih. Besi tas lo tajem banget njir. Gue luka-luka mau tanggung jawab lo?" sentak Panji kesal. Dahinya nyut nyutan terkena hantaman besi dari tas Lisa.


"Rasain. Itu hukuman buat lo, siapa suruh jadi orang mesum!" seru Lisa marah.


"Mesum?" tanya Panji tidak terima.


"Iya, Panji gue gak nyangka ternyata lo cowok mesum ih." cibir Lisa.


"A-apa?" Panji masih terkejut.

__ADS_1


"Gue yakin banget di kamera lo juga masih banyak foto mesum lainnya kan? Sini gue mau liat." tuduh Lisa lalu tiba-tiba mengambil kamera Panji tanpa sempat Panji mencegah. Lisa memeriksa foto-foto di kamera namun tertegun ketika di kamera hanyalah foto-foto pasangan.


"Apaan nih?" tanya Lisa. "Lo selain fotoin cewek, lo juga motoin sama pasangannya? Lo parah ih!" pekik Lisa.


"Apaan sih, belum juga gue jelasin udah nuduh aja lo." Akhirnya Panji sadar dari keterkejutannya ketika disebut mesum. Dia merebut kameranya kembali.


"Terus apaan? Lo mau nyangkal?" seru Lisa.


"Gu--" baru saja Panji hendak menjawab, namun sudah disela oleh kedatangan seorang lelaki. Rupanya dia mendengarkan keributan yang dilakukan Panji dan Lisa.


"Ada apa nih?" sela orang itu. Panji dan Lisa menoleh. Ada seorang lelaki muda awal dua puluhan menghampiri mereka.


"Oh ya Panji, tadi shoot terakhir ya. Kita lanjut besok pagi. Dan hasil yang tadi kirimin hasilnya malam ini, biar langsung dicetak untuk foto prewed nya." lanjut orang itu.


"Oke bang." angguk Panji. Setelah menanggapi dengan anggukan, cowok yang dipanggil 'bang' itu meninggalkan mereka.


"Bentar. Shoot? Prewed?" tanya Lisa bingung.


"Gue fotografer dan tadi gue lagi pemotretan buat prewed." jelas Panji.


"Tapi kenapa lo pake motret sembunyi gitu coba, kek orang mesum tau." ujar Lisa masih bingung.


"Klien ceweknya pengen potret sendiri lagi candid. Jadi gue foto dari kejauhan. lagian lo ga liat banyak orang gitu?"


"Ya siapa yang tau. Orang-orang pada ngumpul disana, dan lo sendirian disini, dibalik semak-semak lagi. Orang lain juga bakal nuduh lo orang mesum."


"Terserah lo. Gue capek." kata Panji mengalah. Dia membereskan peralatannya dan setelah itu memasukkannya ke dalam ranselnya.


"Eh lo mau kemana?" cegah Lisa ketika Panji hendak pergi.


"Ya cabut lah. Ini mau malem bentar lagi." ujar Panji.


"Itu luka lo gimana?" tanya Lisa sedikit cemas. "Luka lo berdarah gitu." lanjutnya sambil menunjuk luka di dahi Panji.


"Cuma luka kecil gak bikin gue mati dini." balas Panji acuh. '"Lagian yang gue butuhin itu permintaan maaf." sindirnya.


Lisa meringis malu, "Iya maaf. Gue gak sengaja." katanya dengan nada bersalah.


Panji menghela nafas pelan, "Gue maafin. Udah ya gue cabut duluan. Lo juga balik sono, anak perawan gak baik keliaran maghrib-maghrib." titah Panji.


"Iya bawel." dengus Lisa. "Eh tapi lo yakin gak papa? Gak perlu diobatin dulu? Rumah gue deket dari sini." tawar Lisa lagi.


"Gak usah, Lisa tapi gak pake Blackpink. Jungkook BTS gak papa." kata Panji narsis.


Lisa memasang wajah jijik, "IWH."


***


Arshaka sedang berjalan menuju ruangan ayahnya. Ayah Arshaka adalah seorang dokter kanker di rumah sakit Pelita Kasih, salah satu rumah sakit yang dimiliki Aldebaran Group yang kini dikelola oleh kakaknya, Arsya.


"Ini makan malam dari bunda." kata Arshaka. Ayahnya itu tengah bekerja lembur hingga sang bunda yang mengantarkan makanan malam.


"Makasih ya. Bilang sama bunda makasih juga." kata Ardi, ayah Arshaka. Dia lalu membuka bungkusan makanan yang disiapkan istrinya itu.


Arshaka mengangguk, "Ada kasus terbaru yah?" tanya Arshaka.


Dari kecil, Arshaka sangat menyukai medis. Berawal dari melihat ayahnya mengenakan jas putih bernama Dia juga bercita-cita menjadi seorang dokter seperti ayahnya. Darah dokter mengalir dalam nadinya. Dan biasanya Ardi selalu menceritakan tiap kasus yang ditanganinya pada Arshaka.


"Ada pasien perempuan yang menderita kanker otak stadium 3. Dia menolak melakukan segala macam pengobatan. Lalu suatu malam dia kambuh dan akhirnya keluarganya meminta melakukan kemoterapi." cerita Ardi.


"Apa dia udah cukup parah?" tanya Arshaka.


Ardi mengangguk, "Ketika sudah stadium 3, maka parameter persebaran dan sel kankernya makin meluas. Massa kanker juga meluas pada jaringan otak. Bukan hanya makin agresif tetapi juga ukurannya makin besar hingga dia menekan sel-sel otak di sekitarnya."


"Sejumlah keluhan juga akan dirasakan, seperti nyeri kepala yang hebat, sering mimisan, gangguan fungsi organ dan lain-lain."


Arshaka mengangguk mengerti. Kanker adalah salah satu penyakit mematikan. Banyak orang penderita kanker di seluruh dunia ini. Ada yang karena gaya hidup tidak sehat dan faktor lainnya. Dan agar kita terhindar dari penyakit ganas itu, sudah seharusnya kita menjalani hidup sehat. Jauh-jauh dari merokok, minum alkohol, dan gaya tak sehat lainnya.


"Siapa nama pasien itu, yah?" tanya Arshaka penasaran.


Ardi terdiam berfikir, "Kalau gak salah namanya Anna." jawabnya.


Arshaka terdiam, "Anna?" ulang Arshaka.


Ardi mengangguk, "Iya Anna Maldiva."

__ADS_1


Mendengarnya, Arshaka mematung.


__ADS_2