Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
ARA


__ADS_3

Malam adalah hal yang paling disukai Arshaka. Dia sangat suka dengan ketenangan malam yang disuguhkan Bandung. Perumahan tempatnya tinggal, berada di kaki bukit, masih asri dan jauh dari hingar bingar metropolitan.


Arshaka seperti biasa menghabiskan malamnya dengan membaca buku atau bermain game. Atau keluar bersama teman-temannya. Namun malam ini, dia lebih memilih menghabiskan malam dengan sebuah buku.


Arshaka bisa betah berjam jam membaca. Dia bukan kutu buku, dia hanya suka menambah pengetahuan dari manapun entah buku atau film. Makanya wawasannya juga luas.


lama ia membaca buku karya William Shakespeare itu. Setelah halaman terakhir buku itu habis dilahapnya, dia menutup buku itu dan menaruhnya di samping bingkai foto kayu. Lalu perhatian Arshaka teralih bingkai foto itu yang didalamnya berisi potret 3 orang. Dia dan dua sahabatnya.


Sekelebat kenangan menghampiri dirinya.


Flashback On


"Faro, kamu jahat! Balikkin!" teriak seorang gadis kecil dengan rambut kuncir kuda. Dia memeloti seorang anak lelaki yang sedari tadi asik memasang senyum tengil.


"Ambil sini, Sa. Ayo, kalau bisa." nada suaranya becanda dan jahil. Dia Alfaro.


Anak perempuan yang dipanggil Sa itu merengut. Badan Alfaro lebih tinggi darinya. Di tangannya yang teracung, ada boneka barbie miliknya.


"Kamu jahat, aku bilangin Saka nih." ancam Risa sebal.


"Kamu bisanya aduan ih. Lagian mana Saka, dia gak ada tuh." kata Faro.


Tiba-tiba sebuah tangan mengambil boneka barbie itu. Alfaro dan Risa sontak menoleh. Rupanya Arshaka yang tadi mengambilnya. Setelah itu ia menyerahkannya pada Risa yang diterima dengan senang.


"Alfaro,gak asik ah. Aku kan lagi ngerjain Risa." gerutu Alfaro sebal.


"Nanti Risa nangis, aku gak tanggung jawab." kata Arshaka singkat.


"Faro jahat ih, gak kayak Saka baik. Dasar nakal." seru Risa sebal.


"Iya maaf ya, Risa. " kata Alfaro tulus. Dia mencium dahi Risa hingga Risa tersenyum kembali. Melihat itu, Arshaka terkekeh.


"Cium Saka juga dong ." kata Risa jahil.


Arshaka merasakan tanda bahaya. Dia menghentikan kekehannya dan berjalan menjauh ketika Alfaro berjalan sambil memonyongkan bibirnya ke arahnya. Lalu Arshaka berlari diikuti Alfaro yang mengejarnya. Sedangkan Risa tertawa keras melihat dua orang sahabatnya itu.


Flashback Off


Arshaka tersenyum tipis. Kenangan masa kecil itu begitu ia rindukan.


***


Keynna mengambil cemilan apa saja yang ada di rak minimarket itu. Selepas dari restoran, Keynna memang tidak pulang ke rumah, dia malah menginap di apartment kakaknya. Bukan mengambek, hanya dia tidak bisa bertatap muka dengan sang mama.


Lalu di perjalanan, Keynna mengeluh lapar. Alhasil, Keenan menurunkannya di minimarket samping apartement dan meninggalkan Keynna sendiri untuk belanja.


Keynna tidak khawatir atau kesal. Dia sudah terbiasa dengan lingkungan tempat tinggal kakaknya itu. Setelah keranjangnya penuh, Keynna menghampiri kasir sembari menunduk mengecek belanjaannya. Dan tanpa sengaja, ia menabrak seseorang.


bruk


"Aduh." Keynna mengaduh.


"Eh sorry, lo gak papa?" tanya orang itu. Dia menatap Keynna yang menunduk.


"Gue gak pa--Alfaro?!" nada Keynna berubah jadi pekikan ketika menyadari orang yang ditabraknya adalah Alfaro.

__ADS_1


Keynna terkejut kemudian lekas mempercepat memasukkan kembali belanjaannya dibantu oleh Alfaro. Setelah itu dia dan Alfaro beranjak berdiri.


"Kamu gak papa? Maaf saya gak liat jalan." kata Alfaro menyesal.


"Enggak, bukan lo yang salah. Gue yang harusnya minta maaf." timpal Keynna canggung.


"Belanja apa?" tanya Alfaro.


"Cuma cemilan doang." jawab Keynna singkat.


Alfaro tahu bahwa Keynna seperti tengah menjaga jaraknya dengannya. Sepertinya sejak kejadian di perkemahan itu.


"Kalau kamu gak keberatan, ada yang mau saya omongin ke kamu." kata Alfaro.


Kening Keynna mengerut, "Apa?"


"Kamu selesain dulu belanjaan kamu. Saya tunggu di depan." ucap Alfaro tersenyum.


***


Keynna sudah membayar belanjaannya kemudian keluar minimarket. Dia tidak percaya bahwa Alfaro benar-benar menunggunya. Alfaro tengah duduk di kursi minimarket sembari memainkan ponselnya.


"Ekhem." deham keynna. Alfaro menoleh, dia lalu beranjak berdiri.


"Udah selesai?" Keynna hanya mengangguk.


"Apa yang mau lo omongin?" tanya Keynna kemudian.


"Gak disini, ikut saya." jawab Alfaro.


"Imajinasi kamu bener-bener luar biasa." puji Alfaro tersenyum.


"Siapa tau. Buktinya lo bisa dorong gue ke jurang." kata Keynna sinis.


Senyum Alfaro lentur, "Untuk soal itu, saya minta maaf. Saya gak bermaksud mencelakakan kamu." ucap Alfaro tulus. Namun Keynna tak menanggapi.


"Saya tau, kamu masih membenci saya karena hal itu. Saya akan menjelaskan ke kamu alasannya." lanjut Alfaro.


"Jelasin." titah Keynna singkat.


"Bukan disini." Alfaro menggeleng.


"Kenapa?" tanya Keynna.


"Saya bener-bener gak bisa jelasin disini. Ada tempat yang harus kamu lihat. Dan mungkin setelah ini pandangan kamu terhadap saya bisa berubah."


***


Setelah itu Alfaro membawa Keynna menuju ke suatu tempat. Keynna merasa tak asing dengan daerah yang dilalui oleh motor Alfaro itu. Tak lama, motor Alfaro menuju sebuah hutan.


"Kita sampai." kata Alfaro. Ia mematikan motornya dan melepas helmnya. Keynna juga turun.


Kini mereka berada di rumah pohon. Daerah pedesaan tempat rumah pohon Arshaka berada. Tapi mengapa Alfaro bisa tahu?


"Ini rumah pohon kan?" tanya Keynna.

__ADS_1


"Iya, darimana kamu tau?" tanya balik Alfaro.


"Gue pernah kesini." ucap Keynna.


Alfaro terdiam beberapa saat setelah kemudian menganggukkan kepalanya. Tentu saja, Arshaka yang membawa Keynna kesini. Ini semakin menguatkan dugaannya bila Arshaka dan Keynna pernah berpacaran.


"Rumah pohon ini hanya diketahui oleh kita bertiga. Dan kalau kamu tau, berarti Arshaka pernah ngajak kamu kesini kan?"


"Begitulah." jawab Keynna seadanya.


"Kalau gitu, kisah ini makin relate dan buat saya tambah gak sabar ceritain ke kamu." kata Alfaro. "Yuk jalan." lanjutnya lalu berjalan menuju hutan.


Keynna mengernyit bingung, apa sebenarnya yang ingin disampaikan lelaki berkulit pucat itu padanya? Rasa penasarannya makin tinggi lantas Keynna berjalan mengikuti Alfaro menuju rumah favoritnya itu.


Setelah berjalan 20 menit, Alfaro dan Keynna sampai di rumah pohon. Rumah itu berpendar cahaya kelap-kelip dan disampingnya sebuah danau berbias cahaya bulan saling berdampingan.


"Rumah ini masih gak berubah." kata Alfaro. Ia menatap rumah pohon itu lamat-lamat. Tempat kenangan masa kecilnya dengan dua sahabatnya itu.


"Jadi ngapain lo ngajak gue kesini?" tanya Keynna tanpa basa-basi.


"Saya fikir rumah pohon ini akan gelap gulita, siapa sangka ternyata malah menjadi satu-satunya yang paling bercahaya disini."


Keynna menganga, jawaban Alfaro sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan


"Faro, lo dengerin gue gak sih?" tanya Keynna kesal. Dia menatap kesal Alfaro yang tak mengalihkan pandangannya dari rumah pohon itu.


"Ikut saya." tiba-tiba Alfaro menarik tangan Keynna dan membawanya menuju sebuah pohon di depan rumah pohon. Alfaro lalu melepaskan tangan Keynna dan mengeluarkan ponselnya. Keynna mengernyit.


"Lo mau ngapain?" tanya Keynna.


Tetapi Alfaro tidak menjawab, dia menghidupkan lampu flash kemudian mengarahkannya pada batang pohon dihadapan mereka. Tangannya menelusuri sesuatu.


"Ketemu." bisik Alfaro. Dia menyorot sebuah ukiran tulisan.


"ARA." baca Keynna.


Alfaro mengangguk, "Arshaka, Risa dan Alfaro."


"12 tahun yang lalu, saya baru aja kembali ke Bandung. Setelah menetap hampir 6 tahun di Bali. Dan disini saya mendapat dua teman baru, si dingin Arshaka dan si cerewet Risa." ujar Alfaro. Tiba-tiba Alfaro bercerita membuat Keynna mengeryit bingung namun tak ayal penasaran.


"Saya fikir, pertemanan mereka sungguh gak masuk akal. Gimana bisa dua orang yang berbeda kepribadian bisa berteman. Namun gak ayal, saya juga masuk ke lingkungan pertemanan itu. Ternyata saya sama anehnya. Saya dulu pemalu dan gak suka bersosialisasi."


"Pertemanan kami berlanjut hingga SMP. Dan ketika kelas tujuh, saya, Arshaka dan Risa tidak sengaja tersesat. Dan saat itulah kami menemukan tempat ini." Keynna mengangguk mengerti, jadi tempat ini ditemukan oleh mereka beberapa tahun yang lalu.


"Karena sangat suka tempat ini, kami memutuskan membelinya. Dengan uang hasil patungan dari menabung selama setahun. Setelah itu kami mulai membuat rumah pohon, rumah impian masa kecil kami dulu. Dan gak lama, jadilah rumah pohon seperti yang kamu liat sekarang."


"Kalian luar biasa." puji Keynna pelan. Anak SMP mampu membeli tanah? Saat SMP, Keynna bahkan belum sanggup membeli ponsel sendiri. Berapa uang jajan mereka kalau begitu?


"Kami selalu bermain disini setiap saat, setelah pulang sekolah atau bahkan hari libur. Kami bahkan melewatkan liburan semester dan menginap disini seminggu full." kata Alfaro tertawa kecil. Kenangan demi kenangan menari-nari di kepalanya.


"Hingga tragedi itu tiba." wajah Alfaro berubah keruh. "Risa terdiagnosis menderita kegagalan jantung. Dia selalu mengalami sesak nafas hingga serangan jantung dan seketika kritis sehingga Risa selalu dirawat di rumah sakit. Lalu suatu hari, ketika saya hendak menjenguk Risa, saya mendengar kalau Arshaka dan Risa bertengkar. Saya gak tau mereka bertengkar karena apa tapi setelah itu, Arshaka berhenti menjenguk Risa."


"Dan di tanggal 2 Mei, saya mendengar bahwa Risa kecelakaaan karena tabrak lari di jalan Dago. Saat saya sampai disana, Risa udah gak ada." Alfaro menghembuskan nafas berat. Air mata menggantung berat di matanya. Sekali mengicep, riak air akan turun melewati pipinya.


"Lalu saya diberi ponsel Risa, dan di daftar panggilan, nomor Arshaka dipanggil berkali-kali, tapi dia gak jawab. Andai Arshaka jawab, atau andai Risa nelfon saya aja, nyawanya mungkin masih ada."

__ADS_1


__ADS_2