
Keynna tertunduk lesu di kursi tunggu depan UGD. Tangannya memegang kepalanya yang berdenyut nyeri karena insiden pingsannya sang mama.
Tap tap
Suara langkah kaki terdengar riuh di belakangnya. Di ujung kelokan koridor, muncul Lisa, Anna, Panji dan Regan. Mereka langsung menghampiri Keynna.
"Key, lo gak papa?" tanya Lisa sembari duduk disampingnya.
Keynna mendongak, nampak wajahnya telah basah oleh air mata.
"Nyokap gue, Lis. Nyokap gue." isak Keynna. Lisa langsung memeluk Keynna dengan Anna yang turut mengusap pundaknya.
"Yang sabar ya, Key. Gue yakin nyokap lo baik-baik aja." hibur Lisa.
"Eh btw, Saka dimana?" celetuk Anna.
"Oh, dia lagi di panti sekarang lagi di jalan." jawab Regan. Anna mengangguk mengerti.
Tak lama dokter muncul. Keynna langsung bangkit diikuti Anna, Lisa, Panji dan Regan. Mereka semua mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana dok keadaan mama saya? Maa saya baik-baik aja kan?" tanya Keynna kalut.
"Tenang Key, biarin dokternya bicara dulu." ujar Anna menenangkan.
"Kondisi Bu Kirana sudah baik-baik saja. Untung saja Bu Kirana segera dibawa ke rumah sakit, coba kalau tidak, pasien serangan jantung yang terlalu lama tidak mendapat bantuan bisa langsung meninggal dunia." jelas Dokter itu.
"Mama saya memang memiliki riwayat penyakit jantung tapi penyakitnya tidak pernah kambuh lagi." ucap Keynna masih diliputi kekhawatiran.
"Sepertinya Bu Kirana syok dengan sesuatu atau bisa jadi dirinya terlalu kelelahan. Jadi kerja jantungnya kembali tidak normal. Penyakitnya tidak cukup parah, tidak sampai harus di operasi. Asal selalu rajin untuk check-up setiap bulannya."
Keynna baru menghela nafas lega.
"Saya bisa bertemu mama saya?" tanya Keynna.
"Silakan. Tapi tunggu setelah pasien dipindahkan ke kamar rawat."
"Baik dok, terima kasih."
"Sama-sama. Saya permisi dulu." pamit dokter itu kembali masuk ke UGD.
Keynna merasa kakinya sudah lemas langsung terduduk lunglai di kursi. Lisa dan Anna setia berada disamping kanan kirinya.
"Lo gak papa Key?" tanya Lisa khawatir.
"Lo mau minum dulu? Muka lo pucet banget." timpal Anna.
Keynna hanya menggeleng pelan. Fikirannya kini tertuju pada sang mama.
***
Kirana ternyata masih dalam pengaruh obat bius. Dokter sengaja menyuntikkan obat tidur dalam dosis rendah agar Kirana bisa beristirahat dengan tenang. Karena seperti yang dikatakan oleh dokter, mamanya memang sangat kelelahan dan tidak cukup tidur. Itulah yang membuat kerja jantung Kirana melemah dan akhirnya terkena serangan jantung.
Tapi sejujurnya, Keynna yakin ada satu alasan lain. Alasan yang membuat penyakit Kirana kambuh kembali. Kabar pernikahan sang papa.
Cukup lama keempat temannya menemaninya. Ketika hari menjelang malam, mereka semua dipaksa Keynna untuk pulang. Terlebih lagi Anna, cewek itu tidak boleh terlalu lama di rumah sakit. Jadilah mereka semua pulang dengan terpaksa.
Sepuluh menit setelah kepergiaan teman-temannya, Keynna duduk sendirian di samping ranjang Kirana. Dia belum.berganti baju dan masih memakai seragam sekolah. Awalnya Anna sempat menawarkan agar Keynna ganti baju, tapi Keynna menolak karena dia tak ingin jauh-jauh dari Kirana.
Kruyuk
Keynna yang tengah memejamkan mata dengan tangan menopang kepalanya seketika terbangun kala perutnya mengeluarkan bunyi keroncongan. Dia memegang perutnya yang melilit karena belum sempat makan siang. Ini bahkan sudah malam.
Tok tok
Keynna menoleh ke arah pintu. Dia dengan lesu bangkit dan berjalan menuju pintu. Dan begitu dibuka, dia mendapati Arshaka berdiri di depan pintu dengan tangan penuh bawaan.
***
Arshaka dan Keynna duduk di kursi tunggu. Keynna memerhatikan aktivitas Arshaka yang membongkar semua bawaannya. Arshaka mengambil sebuah goodybag, dia menyerahkannya pada Keynna.
"Gue gak mau ganti baju." tolak Keynna ketika melihat isinya.
"Ini udah malem, dan lo masih pake seragam. Cakra gak ada sekolah malem." tukas Arshaka.
"Gue serius. Gue bener-bener gak mood."
Arshaka menatap lurus-lurus pada mata Keynna, "Gue juga serius."ucapnya dengan nada berat.
Keynna menepis pandangan Arshaka. Dia lalu melirik makanan yang berada di goodybag lain.
"Makanan buat gue kan?" tanyanya.
Arshaka mengikuti arah pandang Keynna lalu mengangguk. Arshaka lalu mengeluarkan makanan yang dia bawa.
"Gue sengaja minta pengurus panti buat masakin lo. Cobain."
"Thanks."
Keynna lalu mulai menyuap makanannya. Dia menganggukan kepala.
"Enak." pujinya.
"Abisin."titah Arshaka.
"Lo mau?" tawar Keynna.
Arshaka menggeleng, "Buat lo aja."
Keynna mengendikkan bahunya lalu mulai kembali makan.
Arshaka lalu diam. Dia menatap Keynna yang sangat lahap pada makanannya.
Keynna menyadari bahwa Arshaka terus menatapnya tanpa suara.
"Lo gak ada yang mau lo sampaikan gitu?" tanya Keynna.
Arshaka diam sesaat.
"Lo gak baik-baik aja?"tanyanya.
Keynna tersenyum tipis. Dia lalu mengangguk.
"Gue emang lagi gak baik-baik aja." jawabnya.
"Penyakit nyokap lo gak terlalu kronis. Hanya perlu rutin check up setiap bulannya." ujar Arshaka.
"Darimana lo tau? Itu persis yang diomongin dokter." seru Keynna terkejut.
"Gue sempet mampir ke dokter yang ngerawat nyokap lo. Nanya-nanya." jelas Arshaka.
"Kenapa gak nanyain langsung ke gue?"
"Takutnya lo gak sanggup buat bicara."
Keynna terdiam tapi sedetik kemudian dia mengangguk.
"Gue adalah orang yang paling gak kuat kalau harus ceritain kondisi nyokap. Tapi untungnya dia baik-baik aja sekarang. Gue gak sanggup bayangin kalau dia kenapa-kenapa." tutur Keynna lirih.
__ADS_1
"Gue menemukan nyokap gue udah gak sadarkan diri di kamarnya. Bayangin betala kalutnya gue saat tau kalau beliau kena serangan jantung. Gue fikir jantungnya selama ini baik-baik aja. Karena gak pernah kambuh lagi. Tapi..." Keynna tak kuat menahan tangis. Wajahnya memerah.
Arshaka mendekatkan dirinya pada Keynna. Dia mendekap bahu Keynna dan menumpukan kepala cewek itu ke pundaknya. Keynna tak menolak.
"Gue bener-bener takut. Besok ulang tahunnya dan gue gak mau ngerayain kematiannya juga. Gue gak sanggup kalau mama pergi. Gue gak punya siapa-siapa lagi." isak Keynna.
Arshaka hanya diam. Dia membiarkan Keynna menumpahkan semuanya.
"Dan gue tau kenapa nyokap gue kayak gini. Kenapa dia tiba-tiba bisa kena serangan jantung."
"Kenapa?" tanya Arshaka.
"Gue nemuin undangan pernikahan bokap gue di tangannya." jawab Keynna.
Arshaka tak bertanya lebih lanjut. Dia sudah mengerti titik permasalahannga.
Keynna tiba-tiba duduk tegak. Dia sudah tak menangis lagi.
"Saka, lo pulang aja." ucapnya tiba-tiba.
Arshaka mengerutkan dahinya, "Kenapa?"
"Karena ini udah malem."
Mata Arshaka menyipit, "Lo gak akan ngelakuin hal aneh kan?"
"Hal aneh apa maksud lo?"
"Apapun. Lo nyuruh gue pulang karena ada sesuatu, iya kan?"
"Gak ada Arshaka. Serius. Gue cuma nyuruh lo pulang karena ini udah malem. Besok lo juga harus sekolah. Btw, gue izin besok, bilangin."
Arshaka tak menjawab. Dia tetap memerhatikan raut Keynna dengan seksama. Pandangannya menelisik.
"Lo ngapain sih liatin gue mulu? Gue tau gue cantik tapi gak diliat gini juga dong. Kek liat emas palsu aja lo." decak Keynna.
Arshaka kembali pada ekspresi datarnya.
"Oke. Gue balik." putusnya.
Keynna mengangguk sambil tersenyum.
"Sekali lagi makasih ya lo udah dateng kesini. Padahal gue tau lo sibuk." ucap Keynna.
Arshaka mengangguk, "Gue balik." pamitnya.
"Hati-hati di jalan."
Arshaka mengelus surai Keynna pelan kemudian pergi.
Sepeninggal Arshaka, Keynna berjalan menuju kamar sang mama. Dia membuka pintu dan nampak Kirana masih tertidur pulas. Keynna berjalan perlahan, berusaha tak membangunkan Kirana.
Sampai di tepi ranjang rawat Kirana, Keynna mengusap punggung tangan Kirana. Air matanya seketika menetes tapi cepat-cepat dia usap. Dia sungguh tak tega melihat Kirana dalam keadaan selemah ini.
"Ma, aku pergi dulu. Nanti aku kembali kesini."pamit Keynna.
Keynna tersenyum lalu berjalan keluar ruang rawat mamanya.
Namun sebelum pergi, dia menyempatkan mememui suster yang berjaga.
"Saya ada urusan sebentar, boleh minta tolong jaga mama saya dulu?" pinta Keynna.
Suster itu mengangguk.
"Tolong hubungi bila ada apa-apa." lanjut Keynna.
"Baik." jawab suster itu.
Setelah urusannya selesai, Keynna pun pergi dari rumah sakit.
***
Keynna naik taksi menuju tempat tujuannya. Mobilnya dia tinggal di rumah karena tadi dia sempat mampir ke rumah. Sepanjang jalan, muka Keynna lesu dan nampak pucat. Malam ini, sebuah keputusan akan memengaruhi hidupnya kedepannya.
Setelah berkendara selama empat puluh menit, Keynna sampai di depan gerbang sebuah rumah mewah di pusat Bandung. Ini adalah rumah papanya, Reon.
Setelah membayar argo dan mengucap terimakasih, Keynna turun dari taksi. Dia berjalan menuju pintu rumah besar Reon. Dia tahu bahwa papanya ada di rumah, terlihat dari mobil Reon yang terparkir di garasi.
Ting tong
Keynna membunyikan bel. Tak lama pintu dibuka dari dalam. Namun yang membukanya adalah pembantu Reon.
"Papa ada?" tanya Keynna langsung.
"Ada, Non. Mari masuk." pembantu kelihatan bingung melihat raut dingin anak majikannya.
Tanpa mengatakan apapun, Keynna langsung masuk ke rumah Reon. Ini adalah kali keduanya dan mungkin yang terakhirnya masuk ke rumah Reon.
Keynna berjalan menuju ruang tamu, terlihat Reon tengah duduk di sofa sambil membaca buku. Keynna berdecih sinis, melihat betapa tenangnya Reon sekarang. Keynna pum segera menghampirinya.
"Pa, papa sungguh akan menikah dengan cewe pelakor itu?" tembak langsung Keynna.
Reon nampak terkejut dengan kemunculan Keynna tiba-tiba. Dia melepas kacamatanya.
"Keynna? Sejak kapan kamu datang? Sini duduk dulu."
Keynna mengibaskan tangannya, "Tidak perlu. Jawab saja pertanyaanku sekarang." tegas Keynna.
Reon menutup bukunya lalu menatap Keynna, "Tadi kamu bertanya apa?"
"Aku tanya, papa beneran akan menikah dengannya? Dengan cewek pelakor itu?"
"Keynna, dia calon mama kamu. Bisakah kamu menaruh rasa hormat sedikit padanya?" ucap Reon lembut.
"Aku tidak akan pernah menghormati sedikitpun pada orang yang menghancurkan keluargaku." desis Keynna.
"Jadi..bisakah papa jawab pertanyaanku sekarang?"
Reon terdiam sesaat, dia mengangguk. Dan itu membuat hati Keynna nyeri.
"Papa sungguh akan menikah dengan dia? Lalu mama bagaimana?!" teriak Keynna.
"Keynna, papa dan mama sudah bercerai sejak dua tahun lalu." jelas Reon.
"Iya, karena papa selingkuh dengannya! Papa mengkhianati mama yang udah sama papa ngelewatin suka duka bersama! Kenapa papa ngelakuin itu? APA SALAH MAMA?!" jerit Keynna. Nafasnya terengah-engah menahan amarah.
"Kamu anak kecil, kamu tidak perlu tahu." tandas Reon dingin.
Keynna terperangah tak percaya.
"Papa tahu, mama sekarang dirawat di rumah sakit? Papa tahu, kalau mama terkena serangan jantung? Papa tahu karena apa? KARENA MAMA MELIHAT UNDANGAN KALIAN!"
Reon seketika membeku.
"Mama kamu masuk rumah sakit? Bagaimana keadannya? Dia baik-baik saja kan?" tanya Reon cemas.
Keynna tersenyum tak percaya dengan reaksi Reon.
__ADS_1
"Papa cemas? Kenapa baru sekarang papa ngakhawatirin kondisinya? Kenapa gak dari dulu? Kenapa gak saat papa memutuskan buat selingkuh, kenapa gak saat itu? Biar papa gak jadi selingkuh." isak Keynna.
Reon seketika melunak begitu melihat air mata Keynna, "Keynna, papa minta maaf. Tapi papa harus menikahi Linda."
"Kenapa? Kenapa kalian menikah disaat luka mama belum sembuh? Apa papa gak cukup ngelukain mama dua tahun lalu? Menikah?Papa gak waras!" umpat Keynna.
"Mas."panggil Linda dari lantai dua.
Reon dan Keynna mendongak. Tapi mata Keynna seketika terbelalak melihat bahwa wanita ular itu tengah memangku seorang anak lelaki. Mungkin usia sekitar dua tahun. Dan wajahnya sangat mirip dengan papanya saat kecil.
"Ada apa ini? Siapa anak itu?" tanya Keynna bingung. Dia menuntut penjelasan dari Reon.
"Dia..." Reon nampak gelagapan. Keynna mulai berfikir tidak-tidak.
"Mungkinkah..."
"Iya, benar. Dia anak kami. Jefrey Aden Iskandar." sela Linda begitu dia menghampiri Reon.
"Apa? Jadi kalian..."
"Kamu benar soal dua tahun lalu itu. Aku dan papa kamu tidak sengaja melakukannya. Dan ternyata aku hamil. Mama kamu tahu soal itu. Tapi aku tidak pernah meminta Reon untuk bercerai dari istrinya. Mama kamu sendiri yang memintanya. Jadi jangan salahkan Reon." jelas Linda enteng.
Keynna mengepalkan tangannya. Mulutnya mengatup erat.
"Sialan!" teriak Keynna.
Plak
Keynna menampar Linda keras.
"KEYNNA!" Teriak Reon marah.
Keynna menatap sengit papanya, "APA? PAPA MAU BALAS MUKUL AKU? MAU NGEBELA CEWEK INI?"
Reon terdiam meski matanya menatap marah pada kelakuan anak gadisnya itu.
"Kamu tidak seharusnya menampar Linda di depan adik kamu." desis Reon.
"Adik? Aku anak bungsu, pa. Dan aku sama sekali tidak sudi punya adik seperti dia."tegas Keynna menunjuk Jefrey.
"Huwaaa!" Jefrey seketika menangis. Linda nampak panik. Dia berusaha menenangkan Jefrey sembari menahan rasa sakit atas tamparan Keynna.
"Cup, cup, sayang, ayo masuk ke kamar aja." hibur Linda.
Linda berjalan sembari menenangkan anaknya tapi baru beberapa langkah. Keynna menghentikannya.
"Berhenti."
Linda berhenti, dia kembali berbalik.
Keynna menatap papanya dengan dingin. Sebuah tatapan yang belum pernah dia perlihatkan pada siapapun.
"Waktunya papa memutuskan sebuah pilihan. Menikah dengan cewek pelakor itu atau tidak menikah dan kembali tinggal sama aku?"
Reon nampak bimbang.
"Keynna, papa tidak bisa tidak menikah. Seperti yang kamu tahu Jefrey adalah anak kami, dia butuh orang tuanya secara sah dan utuh. Dia masih kecil. Papa harus bertanggung jawab dengannya." ujar Reon setengah memelas. Wajahnya nampak tertekan.
"Lalu apakah aku tidak butuh orang tua secara utuh?" balas Keynna.
"Key..."
Tapi Keynna tak menggubrisnya, "Pilih dia atau aku?" ulangnya menjadi lebih jelas.
Reon diam begitupun Linda. Semua orang merasa terintimidasi dengan aura kemarahan Keynna. Jefrey bahkan sudah menghentikan tangisnya.
"Jawab." desak Keynna.
Reon menghela nafas pelan, "Maafin papa, nak. Tapi papa memilih mereka." jawab Reon menatap Linda dan Jefrey dalam gendongan Linda. Setelah itu dia nampak menundukkan kepala.
Deg
Mata Keynna nampak bergetar. Tapi mulutnya tetap mengatup erat. Tangannya terkepal erat. Emosinya sungguh sudah berada di ubun-ubunnya.
Keynna mengangguk pelan, "Oke, tidak masalah." jawabnya enteng. Berusaha menahan laju air matanya.
Reon mendongak. Matanya bertatapan dengan mata Keynna.
Keynna tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kartu keluarga.
Reon tahu apa yang hendak dilakukan Keynna. Dia seketika panik.
"Jangan, nak. Papa mohon, Key. Jangan robek itu."pintanya memelas. Linda juga nampak terkejut.
Tapi hati Keynna sudah terlanjur beku. Dia menatap mata sang papa tanpa berkedip. Rautnya mengeras,
"Selamat tinggal, pa. Kini kita bukan ayah dan anak lagi."
Sret
Keynna seketika menyobek kartu keluarga itu tepat di depan mata Reon. Dia lalu membuang potongan yang sudah jadi kertas tak berguna itu ke lantai.
"Sekarang itu hanya kertas tak berguna. Aku akan mengirim surat resminya segera." lanjut Keynna dingin.
Reon membeku. Air matanya jatuh. Matanya memerah.
Tanpa kata, Keynna pergi. Tapi ketika melewati Linda, dia berhenti sebentar.
Keynna menatap Linda dengan pandangan menusuk. Sedangkan Linda nampak mengerut ketakutan.
"Selamat, cewek ular. Lo berhasil ngehancurin hati seorang anak hari ini. Semoga anak lo gak ikutin jejak gue." pungkas Keynna dingin. Setelah itu Keynna kembali melangkahkan kakinya pergi.
Dan seiring langkahnya yang menjauh dari rumah itu, Keynna sudah berjanji bahwa dia tak akan terluka lagi. Dia meninggalkan semua lukanya bersama potongan kartu keluarga itu. Meski air matanya menetes, dia tidak mau melemah lagi.
Sedangkan Reon, perlahan jatuh lunglai. Tangan gemetarnya mengais-ngais potongan demi potongan sobek kartu keluarganya. Air matanya sudah mengalir deras.
Duar
Petir tiba-tiba terdengar keras. Disusul hujan deras. Semesta seakan ikut sedih atas kejadian ini. Di malam hujan ini, Reon telah kehilangan putrinya.
***
Keynna berlari sepanjang jalan. Tak dipedulikannya dengan air hujan yang mengguyurnya tanpa ampun. Karena pada kenyataannya, hatinya telah sakit lebih dulu. Dia tak peduli dengan tusukan air hujan yang merajamnya dari segala arah. Syarafnya sedang mengamuk karena tekanan berlebihan.
"Hiks, hiks." Keynna terus menangis di sepanjang jalan itu. Dia terus berlari meski semua orang menatapnya aneh. Karena disaat orang lain meneduh mencari perlindungan dari hujan, Keynna malah berlari menembus hujan.
Ini seakan drama korea yang selalu Keynna tonton di saat sedih. Tapi Keynna tak menduga bahwa dia akan mengalaminya sendiri. Dia tidak menduga rasanya bisa sesakit ini.
Keynna sampai di sebuah taman. Dia berlari mengelilingi lapangan atletik. Menangis sekencang-kencangnya, menjerit dan mengumpat tanpa henti. Entah harus beryukur atau tidak bahwa langit sedang membantunya dengan menurunkan hujan.
Malam ini, di malam ulang tahun sang mama. Keynna mendapat dua cambukan bertubi-tubi. Jatuh sakitnya sang mama. Dan keputusan pahit sang papa.
Dia telah kehilangan papanya. Lelaki yang pertama kali dia sukai. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Lelaki yang selalu menghampiri kamar tidurnya dan mendongeng untuknya setiap malam. Lelaki yang selalu menyanyikan lagu ulang tahunnya.
Tapi kini tidak lagi. Dia tak akan memiliki pelindung lagi. Dia kehilangan pelipur laranya. Dia kehilangan segalanya.
Keynna kehilangan papanya. Selamanya.
__ADS_1
Keynna berhenti berlari. Dia mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Tapi tiba-tiba air hujan yang membasahi tubunya tidak terasa lagi. Keynna mendongak dan dia melihat seseorang tengah memayunginya. Mata Keynna membulat tatkala tahu siapa orang yang memegang payung hitam itu.