
Keynna terpukau melihat betapa mewahnya sarapan di meja makan. Ada nasi, nasi goreng, bubur putiih, roti bakar, roti tawar, telur goreng dan berbagai macam selai. Tak lupa segelas air minum dan susu ibu hamil juga sudah tersaji. Ini lebih seperti makan besar.
"Duduk, Key." ucap Angkasa menuntun Keynna duduk di depannya.
"Ini kenapa banyak banget?" tanya Keynna.
"Gue denger ibu hamil biasanya mood-moodan kalau makan. Dan lo harus makan banyak nutrisi, jadi gue sengaja nyuruh bikin berbagai macam masakan biar lo bisa makan banyak. Lihat, mana yang lo pengennin?" tanya Angkasa.
Keynna menatap tak percaya, "Saka, sejak tau gue hamil, semua yang lo lakuin jadi berlebihan banget."
"Berlebihan apanya, Key? Ini namanya siaga. Kalau gue cuma nyediain satu jenis aja, terus kalau lo gak suka gimana? Lo gak akan makan dong. Kasian anak kita." balas Arshaka tak merasa salah.
"Iya gue ngerti. Tapi kan lo bisa nanya ke gue, mau makan apa. Dibanding kayak gini, mubazir pastinya."
"Tenang aja, Keynna. Ini gak akan mubazir kok. Nanti sisanya bisa kita kasih ke tetangga-tetangga disini atau satpam komplek. Bi Narsih sama Pak Arif juga pasti belum sarapan."
"Yaudah ini kasih ke Bi Narsih aja." Keynna menunjuk nasi goreng dan telur.
"Gak mau makan nasi Key?" tanya Arshaka.
Keynna menggeleng, "Roti aja deh. Mual." ucapnya.
Arshaka mengangguk mengerti. Lelaki itu mengambil dua tangkup roti kemudian mengoleskan selai coklat kesukaan Keynna.
"Darimana lo tau gue pengen selai coklat?" tanya Keynna.
"Insting." balas Arshaka. lalu menyerahkan roti selai itu pada Keynna.
Keynna tersenyum kecil. "Makasih." perempuan itu lalu memakannya dengan lahap.
Namun baru saja setengah roti yang dimakan, Keynna membeku. Perempuan itu lantas melemparkan roti kembali ke piring dan lekas berlari. Arshaka yang panik langsung menyusulnya.
"Wlee." Perempuan itu memuntahkan semua makananya di kloset. Arshaka yang baru datang lekas menyatukan rambut panjang Keynna ke belakang agar tak menyulitkan perempuan tersebut. Satu tangannya yang lain mengurut-urut leher belakang Keynna.
Arshaka terus menemaninya hingga Keynna selesai muntah. Perempuan itu membalikkan badannya.
"Lo gak apa-apa?" tanya Arshaka cemas.
Keynna menggeleng, "Jadi ini ya rasanya morning sickness. Bener-bener mengerikan. Seakan-akan semua oragan gue juga mendesak pengen keluar." lirihnya.
Arshaka tersenyum lembut, lelaki itu lalu menuntun Keynna keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi makan.
"Mau teh hangat?" tawarnya. Keynna mengangguk saja.
"Tunggu bentar." Lelaki itu mengelus kepala Keynna lembut lalu menuju pantry.
Tak lama, Arshaka kembali dengan membawa cangkir berisi teh hangat yang dia tambahkan madu. Lalu menyerahkannya pada Keynna.
"Minum dulu, Key."
Keynna menerimanya lalu meminumnya hingga tandas.Rasa mual yang tadi meyelimuti kerongkongannya sirna tergantikan rasa hangat.
"Makasih." ucap Keynna.
"Gue yang makasih karena lo mau mengandung dia meski tubuh lo harus kesakitan." balas Arshaka tulus.
Keynna tersenyum, "Kok lo jadi manis gini sih? Kemana Arshaka si arca batu yang ngomong cuma 3 kali sehari kayak obat?" kekehnya.
"Udah hilang. Semenjak pelengkapnya kembali, dia jadi hangat sehangat matahari terbit." balas Arshaka ikut tersenyum.
***
"Gue bosen, Lalisa! Lo ngerti gak sih?"
Suara Keynna menggelegar di seberang telfon. Lisa yang sedang membersihkan rumah mendengarkan curhatan Keynna dengan earphone yang menyumpal. Perempuan itu asik mondar-mandir kesana kemari.
"Tadi pas si batu berangkat kerja dia gak ngizinin gue juga kerja. Katanya, gue di rumah saja, istirahat. Tapi gue udah mendingan. Gue aja udah bisa jalan kesana-kemari. Gue bosen kalau gak ngapa-ngapain."
"Ya terus kalau di kantor lo mau ngapain?" tanya Lisa.
"Ya kerja, lah."
"Keynna gila lo ya? Kandungan lemah lo mau kerja? nguli bagai quda?"
__ADS_1
"Tapi gue--"
Lisa mulai melipat bajunya. sembari terus mendengarkan keluhan Keynna.
"Regan mau pulang minggu depan. Dia udah di Yogyakarta. Gue harus ngapain coba? Gimana gue jelasin ke Regan kalau gue hamil?"
"Jadi Regan belum tau?"
"Ya belum lah. Jangankan Regan, keluarga gue aja gak tau."
Lisa merapikan pakaian yang telah selesai dilipatnya ke dalam lemari. "Pasti menggemparkan banget ya. Btw, lo berarti setuju buat hamil?"
"Setuju gak setuju. Gue senang gue bakal jadi ibu tapi kalau nikah, gue belum mau."
"Jadi itu alasan lo juga kenapa nolak lamaran Regan? Karena lo gak mau nikah?"
"Iya."
"Terus sekarang apa yang bakal lo lakuin kalau Regan pulang? Mau jujur?"
"Entahlah. Gue bingung, Lalisa. Kok hidup gue gini banget ya? Perasaan waktu gue SD, gue seneng-seneng aja tuh. Mau bolos ya bolos, nyuri jambu ya nyuri paling pulangnya dijewer mamah."
Lalisa tertawa, "Masa kecil gue juga bahagia tau. Gue juga pusing mikirin masalah lo. Rumit banget. Lo aja udah mau jadi ibu lah gue? Dilamar aja belum." keluhnya.
"Siapa yang dilamar?" celetuk seseorang. Lalisa menoleh dan terkejut mendapati Panji datang.
"Lo kayak jelangkung tau gak? Datang tak diundang, pulang naik gojek!" ucap Lisa.
"Emang bisa boneka setan naik gojek? baru tau gue." balas Panji.
"Terserah lo." tandas Lisa.
"Lagi telfonan? Sama siapa? Keynna? Gue bawa pizza nih." ucap Panji beruntun.
"Diem dulu gak sih?" seru Lisa jengah. "Sana keluar." usirnya pada Panji.
"Kok ngusir gue sih, Lis?" tanya Panji tak terima.
Lisa mendesah, "Gue lagi dengerin curhatan sahabat gue dan lo ganggu! Sana keluar, ga baik orang asing masuk ke kamar perawan!"
"AAAA!"
Lisa dan Panji menoleh ke telfon, Keynna tiba-tiba menjerit begitu saja.
"Lo kenapa Keynna?" tanya Lisa panik.
"*omg, jadi kalian udah coblos duluan?!" *
Lisa mendelik tajam pada Panji yang kini pura-pura melihat ke arah lain.
"Keluar." usirnya penuh penekanan. Panji menurut, lelaki itu keluar dari kamar Lisa.
"Bukan gitu, Keynna. Si Panji asal ngomong. Gue tuh anak baik, berbakti dan sholehah." jelas Lisa mengklarifikasi.
*"Iya-iya deh." *Keynna terkekeh-kekeh kecil.
"Udah dulu ya, Key. Gue belum mandi nih. Tuh si dugong juga kesini, nyamper main." ucap Lisa.
*"Oke Lisa. Eh btw, jangan lupa bawa pengaman ya." *goda Keynna.
Lisa memutar bola matanya, "Cukup deh Keynna. Usil banget sih." ucapnya jengah.
"Iya, deh. Bye Lalisa."
"Bye, Key. Lo baik-baik di rumah ya, istirahat. Jangan kemana-mana. Kali ini gue setuju Arshaka kalau lo harus bedrest di rumah."
*"Ck, dasar pengkhianat." *ketus Keynna.
Lisa tertawa mendengar Keynna merajuk. Telepon pun ditutup.
"LALISA, BURU, PIZZANYA DINGIN NTAR!" teriak Panji dari luar.
"NTAR, GUE MANDI DULU." balas Lisa berteriak.
__ADS_1
Ceklek
Kepala Panji muncul dibalik pintu, "Mandi? Ikut!" rengeknya dengan mata berbinar-binar.
Lisa melepas sandalnya dan melemparnya ke kepala Panji.
Bug
"DASAR MESUM. KELUAR!" teriaknya.
****
Sesuai bertelfonan dengan Lisa, Keynna siap-siap untuk pergi ke kantor. Persetan dengan ucapan Arshaka maupun Lisa. Yang jelas dia bosan dan ingin ke kantor. Mencicipi produk baru divisi snack mereka.
"Cantik banget sih gue." pujinya pada diri sendiri. "Nak, mama kamu tuh cantiknya kelewatan tau ga? Papa kamu aja sampai ngeja-ngejar mama sejak SMP. Beruntung banget sih kamu dapat gen unggulan semua." kekehnya mengelus perutnya yang sudah mulai buncit.
Usai memastikan penampilannya, Keynna mengambil tasnya dan lengkaplah tampilannya ke kantor. Wanita itu puas dengan penampilannya.
"Kalau gue kayak gini, gak ada yang nyangka gue lagi bunting." ucapnya puas.
Namun saat keluar kamar, Keynna berjalan mengendap-endap, khawatir terpergok oleh Bi Narsi. Bisa bahaya karena dia pasti akan mengadu pada Arshaka.
Usai lolos dari rumah, Keynna segera menghampiri taksi online yang sudah dipesannya dan tengah menunggu. Usai masuk, mobil pun tancap gas.
***
Keynna berjalan masuk ke kantor dengan menunduk, takut tanpa sengaja bertemu Raffa atau Arshaka. Perempuan itu lekas masuk kedalam lift.
Keynna sampai di divisinya, terlihat Jeremy sedang asik menatap tabnya, Raffi yang mengecat kukunya dan Desi serta Cika yang asik berbincang.
Lekas, Keynna menghampiri Desi dan Cika. "Lagi ngegosip ya?" tanya Keynna mengagetkan mereka berdua.
"Keynna! Lo kemana aja? Gue kangen." sambut Desi heboh.
"Iya, kantor sepi gak ada lo." timpal Cika.
Mereka saling berpelukan singkat.
"Kata Mbak Jiana Lo sakit? Udah mendingan?" tanya Jeremy yang ikut menghampiri Keynna.
"Udah, Jem. Makasih ya atas perhatiannya. Gue juga kangen pengen ngantor." balas Keynna .
"Btw Lo sakit apaan?" tanya Desi.
Keynna terdiam beberapa saat, "Kecapean aja sih. Gak ada yang parah." bohongnya.
"Makanya Lo banyakkin istirahat terus jangan lupa banyak minum air putih. Jangan kayak si Raffi noh, soda mulu. Lama-lama kerongkongannya bisa jadi aspal berduri." ucap Cika.
Raffi yang disebut seketika menoleh, "OMG, Lo gak ngaca ya? Lo juga demen banget noh minum bir, lama-lama perut Lo bakal jadi lautan api, semua organ Lo kebakar!" balas Raffi sengit.
"Ih amit-amit." seru Cika cepat.
"Eh btw, Pak Arshaka juga sakit kan? Dia barengan sama Lo sakitnya." ucap Desi.
"Oh ya? Sakit apa?" tanya Keynna pura-pura tidak tahu.
"Katanya doi kena tusuk orang gak dikenal pas makan bareng calon istrinya." cerita Desi.
"Iya gue juga denger. Heboh banget anak-anak begitu tau. Katanya sih itu ODGJ, sikapnya agak brutal gitu, dia liat pisau di warung pinggir jalan eh malah diambil, diumpetin di bajunya. " tambah Jeremy.
"Serem banget, njir." ringis Cika.
"Btw, kabarnya pak Arshaka gimana? Udah sembuh tapi?" tanya Desi.
"Sudah, dan sekarang beliau menunggu rapat dengan kita." pertanyaan itu dijawab oleh Jiana yang ditangannya terdapat beberapa berkas dokumen.
"Mbak." sapa mereka sopan.
"Udah sehat, Key?" tanya Jiana pada Keynna
"Alhamdulillah udah, mbak." jawab Keynna.
__ADS_1
"Mbak itu apaan?" tanya Desi menunjuk setumpuk berkas di tangan Jiana.
"Bahan untuk rapat nanti. Baca dan pelajari ya."Jiana menyerahkannya ke masing-masing orang.