
Tinggal beberapa bab penghabisan nih:(
...-----------...
Kepergian Anna selamanya menyisakan duka mendalam bagi semua orang yang mengenalnya. Terutama Jane dan Regan selaku orang terdekatnya. Kepergian Anna merupakan sebuah pukulan menyakitkan bagi mereka berdua.
Dan bukankah ini cukup ironis? Ketika hari dimana kamu dilahirkan, di hari itulah kamu dipanggil Sang Kuasa. Dan itu adalah takdir, tidak bisa menyalahkan siapapun.
Suasana rumah duka sudah cukup sepi. Anna sudah diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Kini tak ada tangisan lagi yang terdengar, semuanya tenang dan hening.
Namun ketenangan itu berakhir ketika kedua orang tua Regan datang. Regan terkejut darimana orang tuanya tahu soal meninggalnya Anna.
"Ma, pa, kalian ngapain disini?" syok Regan. Panji, Lisa, Keynna dan Arshaka tetap menyapa sopan meski sama kagetnya.
Regan sungguh tak percaya kedua orang tuanya ada disini. Dia takut, mereka menyulut kemarahan di hari menyedihkan ini.
Tak lama Jane datang, "Tante Citra, Om Alden." sapa Jane kaget. Dia baru saja kembali dari dapur ketika di ruang tamu mendapati dua sosok yang sudah lama tak dia temui.
"Kami mendengar Anna meninggal dunia. Sebagai mantan tetangga yang pernah dikhianati, kami turut berduka cita." ucap Citra dengan nada cukup tak enak didengar.
"Ma..." tegur Regan.
Jane memaksakan senyumannya, "Sebelumnya saya berterima kasih atas kedatangan kalian. Tapi kalau ingin jujur, saya tidak mengharapkan kalian datang."
"Kami juga tidak mau. Hanya saja teringat bahwa James adalah sahabat suami saya." jawab Citra angkuh.
"Ma, tolong jangan pancing keributan. Ini hari berkabung." tegur Regan lagi.
"Mama gak bikin keributan. Mama mengatakan yang sebenernya. Lagian kepala kamu belum pulang-pulang, ha? Acaranya sudah selesai, ngapain diem disini terus." omel Citra.
Oke, Jane sungguh muak sekarang.
Dia mendesah pelan, setelah tenang, dia menatap Citra dan Alden dengan berani.
"Kedua orang tua kami tidak pernah mengkhianati kalian."
Alden berdecih, "Jangan harap kami memercayai hal itu."
"Terserah om dan tante. Tapi aku bakal kasih tahu apa yang sebenernya terjadi. Waktu itu papa gak ada niatan buat mengkhianati om. Surat lisensi saat itu dibawa pergi oleh sekretaris om sendiri. Karena itu papa akhirnya membatalkan kerja sama dengan perusahaan om tapi gak bermaksud mengkhianati om. Pada akhirnya surat lisensi itu berhasil didapatkan lagi tapi saat itu kalian sudah terlanjur marah karena perusahaan kalian hancur. Dan saat itu Anna diketahui mengidap kanker, kami membawanya ke Belanda untuk pengobatan. Dan om tahu? Siapa investor pertama om setelah om kembali membangun bisnis om? Itu papa aku."
"Apa?" Semua orang yang ada disana terkejut.
"Tapi papa sengaja minta tolong sama temannya karena tau om gak akan menerimanya."
"Yang kamu bilang, itu bohong kan?" tuduh Citra tak percaya.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Yang jelas aku udah ngasih tau kebenarannya. Dan aku harap kalian pergi darisini. Setelah Anna gak ada maka hubungan kita juga berakhir." pungkas Jane hendak pergi.
"Jane." ucap Regan.
Jane berbalik menatap Regan, "Gue gak nyalahin lo dan gak marah sama lo. Tapi gue juga harap lo pergi darisini. Anna udah dimakamin dan gak ada kegiatan apapun lagi."
"Jane, gue.."
"Gue bakal ke Belanda dan gak akan balik lagi. Gue cuma balik kalau mau jenguk Anna."
Usai mengatakan itu, Jane berjalan pergi meninggalkan semua orang di ruang tamu.
Regan mendesah pelan. Panji menepuk pundaknya menguatkan.
***
Beberapa hari setelahnya, keadaan menjadi tak sama lagi. Regan menjadi pendiam hingga Raffa dan Panji tidak bisa menggodanya sekedar becanda. Begitupun Lisa dan Keynna yang masih murung. Satu-satunya yang tetap menampilkan ekspresi tenang dan stabil hanyalah Arshaka. Lelaki itu selalu menjadi penenang Regan acapkali cowok itu hilang kesadaran karena mabuk-mabukkan.
Sebentar lagi adalah upacara kelulusan. Namun kali ini tidak ada promnight seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka menghargai kepergian Anna yang menyisakan duka mendalam bagi semua teman-temannya. Terlebih lagi, OSIS juga tidak merencanakannya. Rencana tahun ini hanya sederhana, cukup dirayakan di setiap kelas saja.
Di sisi lain, Lisa sedang menunggu seorang cowok di kafe setelah pulang sekolah. Jantungnya berdegup cepat menanti-nanti orang yang ditaksirnya datang.
drrt
Ponselnya bergetar. Lisa membaca pesan yang baru saja dikirimkan Panji.
Panji
Lalisa, lo dimana?
Lisa
Di kafe.
Panji
Ngapain? Nongkrong? Punya waktu banget ya kayaknya lo.
__ADS_1
Lisa mendengus.
Lisa
Gue mau ketemuan sama Niko.
Panji
Lah ngapain?
Lisa
Ya buat pedekate lah. Oh ya gue lupa belum ngucapin makasih buat lo karena udah mau bantuin gue kenal sama Niko. Makasih juga karena udah kasih nomornya ke gue. Berkat lo, gue bisa ketemuan sama Niko sekarang.
Lisa tersenyum senang setelahnya lalu menutup ponselnya begitu bel kafe berdenting.
Niko yang baru saja datang, langsung menghampiri Lisa.
"Udah lama? Maaf ya, tadi macet parah." ucap Niko menyesal.
"Gak papa kok. Gue baru nunggu lima menitan doangan." jawab Lisa santai.
"Oh syukur deh. Oh ya, barang yang lo mau." Niko langsung menyerahkan lensa kamera yang diminta Lisa.
Yah, itu hanya alasan cewek itu agar bisa ketemuan. Lisa beralasan bahwa dia akhir-akhir ini merasa tertarik pada fotografi dan minta saran lensa kamera yang bagus. Niko yang pada dasarnya ramah langsung membantunya mencarikannya.
"Wah, makasih ya. Gue udah liat-liat di internet, katanya lensanya emang cocok buat pemula yang baru belajar fotografi." ucap Lisa.
Niko mengangguk, "Iya. Ini masuk ke jenis Prime Lense atau lensa Fixed. Buat zooming in atau zooming out , lo harus buat manual."
Lisa mengangguk-anggukan kepala.
"Oh ya, sebagian besar lensa Fixed mampu memaksimalkan bukaan diafragma hingga f/1.8, f/1.4, bahkan bisa mencapai f/1.2 pada sebagian lensa. Bukaan diafragma berhubungan dengan banyak masuknya cahaya serta depth of field sebuah foto. Semakin besar bukaan diafragma yang dapat dicapai, maka semakin banyak pula cahaya yang masuk, membuat gambar semakin terhindar dari blur karena tingginya kecepatan shutter speed yang dapat digunakan."
"Bukaan diafragma yang besar juga dapat membuat depth of field semakin sempit. Depth of field yang sempit akan membuat objek fokus lo jadi terlisolasi alias menonjol karena foreground dan background -nya jadi blur." tutur Niko panjang lebar.
Lisa hanya mangap-mangap, tidak mengerti satu katapun dari penjelasan Niko.
Niko menyadari bahwa Lisa tak mengerti, dia tersenyum kecil, "Intinya, lensa ini cocok buat lo yang gak tau apapun soal fotografi. Kalau lo mau zoom, lo tinggal gerakkin tubuh lo maju mundur aja. Dan hasil fotonya bakal nonjolin titik fokus objek yang lo potret karena yang lainnya bakalan blur." jelas Niko kini dengan penjelasan yang lebih sederhana.
"Ah, gue paham sekarang." ucap Lisa lega.
"Oh ya, kenapa lo minta bantuan ke gue? Gak ke Panji aja?" tanya Niko penasaran.
Niko mengangguk mengerti, "Panji emang tipe orang yang menyukai pekerjaanya dengan sepenuh hati. Awal-awal gue kenal sama dia, kita cuma fokus selesaian projek, ngobrol pun seputar kerjaan, tapi makin lama makin kesini, dia humble juga. Anaknya fun cuma penyakit gila kerjanya emang akut." kekehnya di akhir kalimat.
Lisa hanya mengangguk setuju. Dalam hati, dia meminta maaf pada Panji yang malah menjelek-jelekkan cowok itu.
"Oh ya, lo mau mulai foto darimana?" tanya Niko.
"Um, gue kayaknya mau foto di indoor dulu kali ya. Cahayanya kan bisa diatur gitu kalau di dalem studio."
Niko setuju, "Yuk, gue bawa lo ke suatu tempat." ajak Niko tiba-tiba.
"Kemana?" tanya Lisa.
"Studio. Katanya lo mau kesana."
"Lo mau bawa gue ke studio? Seriusan?!" pekik Lisa senang.
Niko mengangguk, "Kalau lo bisa tahan sama sifat gue yang agak keras saat ngajar, gue mau ajarin lo."
Lisa mengangguk tanpa berfikir apapun, "Oke. Gue mau!"
"Langsung setuju nih?"
Lisa mengangguk mantap.
Niko tersenyum, "Kalau gitu, ayo. Gue bawa lo ke studio gue."
Lisa mengangguk, dia langsung berdiri dan mengikuti Niko keluar kafe. Hari ini suasana hati Lisa benar-benar senang.
Tapi dia tidak tahu, bahwa ada seseorang yang mengawasi mereka dari tadi. Dia Panji yang berpakaian serba hitam dengan kacamata dan topi nelayan yang juga berwarna hitam. Dia ada disana sedari tadi meski tidak tahu bagaimana bisa dia terdampar disana dan mengawasi gerak-gerik Lisa dan Niko.
***
"Ann!"
"Ann, jangan tinggalin gue. Ann!"
Regan terus meracau. Arshaka hanya mengatupkan mulutnya.
Arshaka memapah Regan yang mabuk untuk kesekian kalinya ke kamar cowok itu. Setelah membaringkan setengah melempar Regan, Arshaka duduk di sofa Regan. Mengambil nafas.
__ADS_1
Ini adalah kali kesekian Regan minum-minum yang berakhir mabuk. Dan kebiasaan terbaru Regan saat mabuk adalah menangis di klub malam hingga memecahkan banyak barang. Dan kalau sudah begitu, Arshaka akan membawanya pulang dan memberesi kekacauan yang diperbuat temannya.
Kenapa selalu Arshaka bukan Raffa atau Panji? Itu karena kedua cowok gila itu yang malah menemani Regan kalau mau minum-minum. Alhasil Arshaka yang jelas paling waras harus kena getahnya.
Drtt
Ponsel cowok itu bergetar. Dengan malas, Arshaka mengambil ponselnya di saku celananya. Dia mendapat beberapa pesan dari Felly.
Beberapa diantaranya adalah foto-foto Keynna dengan seorang cowok yang Arshaka sadari adalah Keenan. Cowok itu terkejut, mengapa cowok brengsek itu berfoto dan tampak akrab dengan mantannya? Apa hubungan Keynna dan Keenan?
Tak lama kemudian, panggilan masuk datang dari Felly lagi. Arshaka langsung menerimanya.
"Maksud lo ngirim ini apaan?" tanya Arshaka langsung.
Terdengar suara gemerisik di seberang telfon, lalu suara Felly terdengar.
"Kalau mau, kita ketemu aja. Gue bakal jelasin semuanya ke lo."
***
Malam tiba, dan Keynna yang kangen Keenan ingin datang menemui kakaknya di apartementnya. Kangen dalam kamus Keynna, adalah meminta uang jajan pada si cowok penyuka kerupuk udang itu. Sekalian ada yang ingin dia bahas dengan kakaknya.
Keynna baru saja hendak masuk ke gedung apartement Keenan ketika melihat Felly berdiri tak jauh dari tempatnya. Tatapan Felly mengarah padanya. Keynna langsung mendekat.
"Fell, lo ngapain disini?" tanya Keynna.
Felly menatapnya datar dan tak menjawab pertanyaannya.
"Felly?"
"Key, lo udah ngelanggar ucapan lo sendiri."
Keynna mengerutkan keningnya, "Maksud lo?"
"Lo bilang lo mau jauhin Saka tapi apa? Lo kayaknya gak anggep serius masalah ini ya." ucap Felly dengan nada marah.
"Fel, gue bisa jelasin. Gue gak--"
"Terlambat. Semuanya udah terungkap." potong Felly.
"Maksud lo?" tanya Keynna masih tak paham.
Felly tak menangappi. Dia malah menatap ke gedung tinggi di belakang mereka. Menatap pada jendela dimana rumah Keenan berada. Tampaknya lampu sudah dinyalakan di rumah Keenan.
"Liat sendiri."
Keynna mengikuti arah pandang Felly dan dia mengerti sekarang.
"Gawat." Keynna panik.
Cewek itu tanpa kata langsung berlari menuju gedung. Jangan sampai Arshaka dan Keenan bertemu.
Di sisi lain, Felly dengan tenang berdiri menatap kepergian Keynna. Rautnya tetap datar dan tak terbaca.
***
Keynna berlari menuju apartement Keenan. Dia bahkan berlari naik tangga karena liftnya penuh. Namun begitu sampai, dia langsung terdiam di tempatnya ketika tak jauh dihadapannya ada Keenan saling bertatapan dengan Arshaka.
"Saka, gue bisa jelasin." sela Keynna.
Arshaka dan Keenan yang awalnya saling menatap penuh konfrotasi seketika menoleh pada Keynna.
"Saka." tampak wajah Keynna sudah pias.
"Lo adiknya si brengsek ini?" tanya Arshaka dingin.
Keynna tersentak. Sedangkan Keenan yang melihat bagaimana Arshaka menatap adiknya dingin hanya bisa terdiam. Dia takut salah bicara yang hanya membuat Keynna makin tersudutkan.
"Gue..." Keynna tak tahu harus mengatakan apa. Dia sudah siap jujur tapi begitu kesempatan ada, dia malah tak berani. Dan lagipula bukan ini yang dia mau.
"Jadi lo adiknya." tandas Arshaka.
Keynna makin gemetaran. Astaga, dari nada bicaranya, dia tahu bahwa Arshaka sedang menahan emosi.
"Saka, gue emang adiknya. Tapi lo harus dengerin penjelasan gue."
Arshaka memalingkan wajahnya, "Gak sekarang. Gue perlu nenangin diri dulu." ujar Arshaka datar.
Usai mengatakan itu, tanpa memberi kesempatan Keynna untuk membalas, Arshaka langsung pergi. Namun baru saja beberapa langkah, cowok itu berhenti dan berbalik menghadap Keenan yang masih berdiri diam di depan pintu.
"Masalah ini emang udah selesai 2 tahun lalu tapi lo masih gue blacklist dari hidup sekeliling Risa."
Setelah itu, Arshaka berbalik pergi. Tapi kini benar-benar pergi tanpa sedikitpun menoleh pada Keynna yang sudah berwajah pias disana.
__ADS_1