
"Yuk segera meeting." ajak Jiana pada yang lainnya.
"Yuk, mbak."
Keynna hendak berjalan menuju ruang meeting yang memang khusus untuk tim mereka namun tangannya ditarik Desi.
"Mau kemana?" tanya wanita itu.
"Katanya meeting?" tanya balik Keynna.
"Iya tapi di lantai 11." kata Desi.
Keynna membulatkan matanya, "Lantai CEO?!" pekiknya.
Jiana menganggukan kepala, "Iya, kita akan meeting bersama Pak Arshaka."
Keynna membeku, sial, ini sama saja dengan bunuh diri. Mengikuti rapat berarti dia menyerahkan dirinya untuk diamuk lelaki itu.
"Keynna, ada apa?" tanya Jiana melihat ekspresi Keynna yang mendadak pias.
"Um, mbak, aku kayaknya kebelet nih. Kalian duluan aja nyusul." jawab Keynna pura-pura.
"Mau boker, Key?" tanya Cika.
Keynna mengangguk, dengan ekspresi pura-pura kesakitan, "Iya nih. Aku gak ikut dulu ya." izinnya. Jangan sampai dia bertemu Arshaka kalau tidak dia akan diterkam habis-habisan oleh sang raja singa.
"Kalau gitu kita tungguin. Masih ada lima belas menit lagi." ucap Jiana seraya melirik arloji digitalnya.
Keynna kaget, "Eh, mbak gak usah. Aku gak enak masa ditungguin kayak anak TK aja." ucapnya terkekeh canggung.
"Gapapa Key, soalnya mbak rasa kamu yang mesti presentasikan hasil kerja kita."
"Loh kok aku?" kaget Keynna menunjuk diri sendiri.
"Karena yang punya ide awal kan kamu." balas Desi diangguki semua orang.
"Tapi aku kan cuma nyumbang ide aja, yang kerjain semuanya kan kalian. Masa aku yang harus maju? Mbak Jiana harusnya." ucap Keynna tidak mengerti.
"Meski begitu, yang tahu seluk beluk asal pemilihan bahan baku kan kamu Keynna. Jadi mbak berharap kamu bisa yakinin para petinggi perusahaan buat ACC ide kita." ucap Jiana.
"Tapi aku--" Keynna kehabisan kata-kata untuk menyanggah. Astaga, kenapa jadi serumit ini? Dia kan cuma mau kerja saja tanpa ketahuan oleh Arshaka namun kini dengan sendirinya dia akan mengantarkan batang hidungnya
pada lelaki itu.
"Udahlah Key. Gue yakin Lo pasti bisa. Lagian ide Lo tuh emang cemerlang banget. Dan gue yakin Snack ini bisa jadi terobosan baru buat para vegan yang mungkin masih kangen rasanya makan daging." ucap Jeremy.
"Iya ih, cyn. Buru dah kalau mau poop dulu. Ntar kalau enggak, nanti bau tai." tambah Jeremy seraya menutup hidungnya.
"Gue gak bau tai ya." ketus Keynna.
"Kalau gitu ayo deh, mbak kesana aja." pasrah Keynna.
"Loh katanya tadi mau ke kamar mandi dulu? Gak jadi?" tanya Jiana bingung.
"Enggak jadi mbak. Tiba-tiba gak mules lagi." gelengnya. Dia sudah pasrah deh. Urusan nanti dia dimarahi atau tidak oleh Arshaka yang terpenting adalah kemajuan timnya.
"Yaudah ayo, semuanya." ajak Jiana.
Mereka pun mengambil barang-barang penting dan beriringan menuju lantai 11. Lantai khusus para petinggi perusahaan.
***
Arshaka menopang dagunya. Matanya tak lepas dari monitor ponselnya yang menampilkan ruang obrolan dengan Keynna. Sejak dia berangkat kerja, Keynna belum menghubunginya sama sekali.
Tok Tok
Arshaka mendongak, "Masuk." ucapnya malas.
Pintu terbuka menampilkan sosok Raffa yang gagah dengan jas navynya. Lelaki itu menatap keheranan pada sang sahabat yang terlihat kusut seperti pakaian yang belum disetrika.
"Wajah harap kondisikan bos. Kusut amat, padahal adinda udah pulang ke istana." godanya.
Arshaka hanya meliriknya malas.
Merasa Arshaka tak dalam kondisi bisa diajak bercanda, Raffa berdeham. "Tim Snack sudah di ruangan rapat katanya. Hari ini meeting untuk pembahasan peluncuran cemilan baru." beritahunya.
"Sama Lo aja." balas Arshaka acuh.
"Lah? Lo gak ikut? Kenapa?" tanya Raffa.
"Males." jawab Arshaka singkat.
"Males apa males? Ngomong aja lagi galau gegara Keynna gak ngantor kan?" tebak Raffa.
"Itu emang keinginan gue dia di rumah aja. Kandungannya masih lemah, gue gak mau ambil resiko apapun kalau dia maksain kerja." jelas Arshaka.
"Perhatian banget ya calon bapak satu ini." goda Raffa kembali.
"Lo juga pernah kali di posisi gue pas Jesi hamil kan?" Raffa mengangguk.
"Rasanya tuh gue kayak manusia paling posesif dan over protektif sedunia." kenang Raffa.
"Nah itu!" seru Arshaka.
__ADS_1
"Jadi gak mau ikut nih?" tanya Raffa lagi.
"Iya, wakilin aja sama Lo. Lo kan wakil presdir. Gue sama Lo itu satu kesatuan, sama aja mau siapa aja."
"Oke deh. Kalau gitu gue pamit, bos." pamitnya.
Arshaka mengangguk sekali, "Hmm."
Raffa tersenyum singkat lalu keluar ruangan sahabatnya itu.
"Dasar bucin." kekehnya sembari geleng-geleng kepala.
****
Keynna sedari tadi terus menundukkan kepalanya, dia sangat gugup manakala sebentar lagi akan bersitatap dengan Arshaka. Calon papa dari bayinya itu sudah melarangnya kerja namun karena Keynna yang keras kepala dan bosan malah melanggar perintah. Dan apa jadinya jika cowok itu tahu kalau Keynna ada di kantor saat ini. Bayangan menyeramkan terkait kemarahan Arshaka terus terbayang dipikirannya membuatnya menjadi beban pikiran yang sebenernya tak perlu dipikirkan. Namun karena mood ibu hamilnya segala sesuatu menjadi sangat sensitif baginya.
Ceklek
Pintu kaca besar itu terbuka, Keynna makin menunduk dalam sementara yang lain berdiri menunduk hormat pada atasan mereka yang baru datang.
"Pagi, Jiana. Jadi bagaimana? Kita mulai saja?" tanya lelaki tersebut. Keynna mengeryit, itu bukannya suara Raffa ya?
Ingin Keynna mengangkat kepalanya untuk mengetahui siapa yang datang apakah Arshaka atau bukan tapi dia terlalu takut.
"Bisa Pak Raffa." Keynna mendesah pelan, jadi Raffa yang datang. "Tapi Pak Arshaka apakah tidak bisa hadir?" tanya Jiana.
"Iya beliau sedang sibuk jadi meminta saya mewakilinya sebelum diajukan pada dewan direksi, gak apa-apa kan kalau sama saya?"
"Gak papa dong, Pak!" sahut Desi cepat. Perempuan itu tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena pria yang dia kagumi ada di depannya.
Desi memang mengagumi Raffa dan bisa dibilang adalah salah satu penggemar Raffa. Namun bukan berarti dia menyukai Raffa dalam artian romantis, dia tahu bahwa Raffa telah memiliki istri dan anak.
"Oke. Silakan dimulai. Siapa yang akan jadi penyaji?"
"Keynna, pak." jawab Desi.
Keynna membeku ketika namanya disebut Desi dengan lantang. Dan di sisi lain, Raffa juga tak kalah terkejut karena mendapati Keynna yang katanya ada di rumah namun kini berada di kantor.
"Keynna Alsha?" tanya Raffa memastikan. Siapa tahu kan ada Keynna lain.
"Iya pak. Keynna yang memiliki ide ini." timpal Cika.
"Keynna, kok diem?" tegur Desi menendang pelan kaki Keynna di bawah meja.
Keynna mengangkat wajahnya dan matanya langsung bertatapan dengan Raffa yang melihatnya penuh horror.
"Selamat pagi, pak. Saya Keynna." ucapnya memperkenalkan diri. Sapaan yang canggung karena jelas mereka sudah saling kenal.
"Tunggu, kasih saya lima menit saja ya. Saya mendadak ingat ada urusan yang perlu dilakukan." tahan Raffa.
Raffa segera keluar dari ruangan rapat dan langsung menelepon seseorang.
"Saka, Lo dengerin gue. Sekarang Lo ke ruang rapat." ucap Raffa tanpa basa-basi.
"Gak, males." jawab Arshaka.
Raffa yang udah kepalang gemas hanya bisa mendesah.
"Terserah. Yang penting jangan nyesel ya." Raffa pun menutup telfonnya.
Raffa pun masuk kembali ke dalam ruangan. "Yuk mulai." ucapnya profesional.
Keynna pun maju, namun karena kurang berhati-hati, perutnya terantuk meja sedikit.
"Aw." ringisnya pelan. Mencoba menetralkan ekspresinya. Berhasil, tak ada yang menyadari kejadian barusan.
Keynna pun maju kedepan, mengutak-atik laptopnya sebentar lalu mulai berbicara.
"Selamat pagi, izinkan saya mengawali presentasi kita pada hari ini."
Keynna berbicara dengan tenang dan jelas. Melupakan kemungkinan ada bahaya yang sebentar lagi datang.
"Snack ini berguna untuk orang-orang vegan yang mungkin masih kangen dengan cita rasa daging, terlebih dibuat dari bahan sayuran yang berkualitas menjadikan cita rasanya akan jadi otentik seperti menambahkan dag--"
Ceklek
Ucapan Keynna terpotong ketika Arshaka, lelaki yang paling tak diharapkannya datang saat ini malah muncul. Netra lelaki itu juga turut melotot tatkala mendapati kejutan yang tak menyenangkan. Keynna yang dia kira berada di rumah malah berdiri di hadapannya sekarang dalam setelan formal kantor.
Raffa menoleh ketika Keynna berhenti berbicara dan menahan tawanya saat kemunculan Arshaka. Lelaki itu menatap Keynna seakan-akan mengatakan, Siap-siap rasain kemarahan raja hutan. Keynna melotot, dia tahu bahwa ini adalah ulah Raffa.
"Ekhem, karena Pak Arshaka sudah disini jadi rapat kita lanjutkan dengan dipimpin beliau ya. Silakan duduk, pak." persilakan Raffa.
Arshaka tetap berusaha profesional meski tak dipungkiri amarahnya naik ke permukaan.
"Silakan dilanjutkan." ucap lelaki itu penuh penekanan.
Dan selama rapat, Keynna terus menunduk, tak kuat ditatap sebegitu tajamnya oleh Arshaka.
***
Rapat selesai, mereka tengah membereskan barang-barang ketika ucapan Arshaka terdengar.
"Keynna kamu tetap disini. Yang lain silakan kembali lebih dulu."
__ADS_1
Keynna mematung di tempatnya, sepertinya waktu penghakimannya tiba. Sementara anggota yang lain menatapnya kebingungan ketika Keynna ditahan oleh atasan mereka.
"Baik, pak. Kalau begitu kamu permisi dulu." ucap Jiana meninggalkan ruangan diikuti semuanya terkecuali Keynna.
Raffa sudah lebih dulu pergi di pertengahan rapat karena Jessi yang tiba-tiba minta dijemput pulang di rumah mertuanya. Jessi memang dikabarkan sedang mengandung anak kedua mereka, dan memasuki trimester kedua, dirinya sedang manja-manjanya pada Raffa.
Yah, diantara geng Arshaka, hanya Raffa dan Alvaro yang pantas disebut ayah dan suami idaman.
Yang lainnya?
Arshaka masih berkutat pada dendam masa lalu dan percintaannya dengan Keynna belum juga menemui titik terang meski mereka kini memiliki alasan yang mempererat hubungan mereka.
Rey? Dia sedang melanjutkan studi programmingnya di luar negeri tanpa tahu kapan akan kembali.
Panji? Meski sudah pacaran lama dengan Lalisa, entah kapan mereka akan meresmikan hubungan mereka menjadi suami istri.
Dan Regan? Pada siapa pemenang hatinya setelah Anna juga belum diketahui kebenarannya.
"Kita bicara diruangan. Ikut gue." ucap Arshaka dingin. Lelaki itu keluar dari ruangan rapat diikuti Keynna. Mereka masuk ke dalam ruangan CEO.
"Duduk dulu Key." ucap Arshaka pada Keynna yang terus berdiri kaku. Dia khawatir Keynna akan kelelahan jika terus berdiri.
Keynna pun duduk, dia tak ingin membantah apapun ucapan Arshaka yang hanya akan membuat emosi lelaki itu makin memuncak.
"Ada yang mau dijelasin? Kenapa aku bisa melihat kamu disini?" tanya Arshaka dengan tangan terlipat didada. Ekspresinya datar meski nada suaranya lembut.
"Aku?" Keynna terkejut, dia malah salah fokus pada panggilan baru Arshaka.
"Iya, mulai sekarang jangan panggil Lo gue lagi. Kita udah mau jadi orang tua, sebaiknya ganti sapaan." balas Arshaka.
"Aneh banget denger Lo eh kamu ngomong gitu." komentar Keynna meski tak dipungkiri dia senang. Panggilan aku-kamu menghangatkan hatinya.
"Selama hamil sih aku-kamu tapi kalau di depan anak, ya papa dan mama, oke ma?"
Pipi Keynna memerah, bayangan pernikahannya dengan Arshaka pernah dia bayangkan dulu dan ketika bayangannya mulai terwujud memberikan efek kupu-kupu pada perutnya.
"Jadi, bisa kamu jelasin kenapa kamu disini alih-alih di rumah?" tanya Arshaka kini serius.
"Itu gue-- eh aku bosen aja. Pengen ke kantor, ketemu temen-temen." jawab Keynna canggung.
"Kamu lupa apa kata dokter?"
Keynna menggeleng.
"Apa katanya?" tantang Arshaka.
"Harus istirahat dulu, jangan sampai kecapean dan mikir yang berat." jawab Keynna menunduk.
"Itu kamu tahu, terus kenapa masih melanggar?"
"Aku cuma bosen, Saka. Males kalau rebahan terus." balas Keynna.
"Kan di rumah gak sendirian, ada Bu Narsi juga. Terus kamu bisa nonton, bisa dengerin musik, bisa liat tanaman. Gak akan bosen, Key. Kalau sekarang kamu ke kantor, kasian anak kita nanti. Dia masih belum kuat kalau diajak mamanya ngantor. Adek masih pengen tiduran dengan tenang, ya kan nak?" Arshaka kini berbicara pada perut Keynna. Lelaki itu mengelus perut Keynna halus.
"Tapi kan--" Air mata Keynna menggenang, siap tumpah kapan saja. Melihat Keynna yang akan menangis, Arshaka buru-buru memeluknya.
"Key, jangan nangis. Aku gak lagi marahin kamu kok." hibur Arshaka mengusap punggung ringkih Keynna.
"Kamu jahat, marahin aku padahal aku cuma pengen ketemu temen-temen. Lagian aku gak kerja berat-berat kok, tadi aja aku kan cuma duduk doang." Isak Keynna.
"Iya-iya, maafin aku ya. Udah jangan nangis lagi." Arshaka beralih mengelus surai Keynna sembari terus menggumamkan kata maaf.
Arshaka sampai tak tahu disini siapa yang salah dan siapa yang harus meminta maaf.
Mereka terus berpelukan hingga tak sadar bahwa aksi keduanya tengah diperhatikan banyak orang.
***
Jeremy, Desi, Raffi dan Cika mengawasi di depan ruangan Arshaka. Mereka memandang cemas yang berpikir kemungkinan Keynna tengah dimarahi.
Mereka mencoba menguping bahkan mengintip sedikit, tapi susah. Ruangan Arshaka kedap suara, dan pintu besar itu tak bisa dibuka karena takut menimbulkan suara
Sebuah langkah terdengar, mereka terkejut ketika mendapati kemunculan Kieena tanpa diduga. Perempuan itu berpakaian dengan tidak biasanya. Dimana dia memakai dress selutut tanpa lengan dengan warna merah menyala.
"Kalian lagi ngapain?" tegurnya pada tim Jiana.
"Bapak--"
"Oh mau ke bapak. Eh iya Tomi mana?" Kieena malah celingukan mencari asisten Arshaka tersebut.
"Lagi cuti mbak." balas Desi segan.
"Oh benar. Aku lupa." ucap Kieena menganggukan kepala.
"Kalian tadi mau ke Pak Arshaka ya? Tapi sungkan menganggu? Kalau gitu biar aku yang panggilkan." Kieena menekan daun pintu
"Eh mbak--" Cika mencoba menahan karena bukan itu tujuan mereka berkumpul di depan ruangan Arshaka.
Namun kala pintu dibuka oleh Kieena, perempuan itu menjerit.
***
Haiii, jangan lupa like, komen dan vote ya! Makasih telah membaca dan menanti, para bucinnya Arshaka❤️🤗
__ADS_1