
Keynna kini tengah berada di toilet rumah sakit tempat dia akan memeriksa dirinya. Namun sebelum itu, Lalisa menyarankannya untuk menggunakan testpack lebih dulu sebagai patokan hasil awalnya. Jadi disinilah ia duduk di atas kloset setelah mencoba mentes alat itu.
Keynna begitu degdegan, dia sudah duduk disana selama 10 menit dan waktunya mengecek hasil. Tapi dia tidak berani. Dia ketakutan. Takut bahwa itu terjadi seperti kekhawatirannya saat ini.
Akhirnya Keynna memilih keluar dari bilik. Dia akan membuka hasilnya bersama Lalisa saja.
Keynna lalu menghampiri wastafel dulu. Dia meletakkan testpack itu di atas wastafel kemudian mencuci tangannya dengan sabun dan melapnya menggunakan tisu. Tak lama seorang wanita juga menghampiri wastafel dan meletakkan alat yang serupa dengan Keynna. Keynna tak begitu memperhatikannya begitupun wanita asing tersebut. Mereka fokus dengan penampilan masing-masing.
Keynna melirik sebentar wanita disebelahnya ketika wanita itu sedang menalikan sepatu ketsnya. Keynna menatap dari bawah ke atas, dia memakai rok span berwarna abu-abu dan seragam putih. Jelas dia anak SMA.
Gadis SMA itu tidak tahu bahwa Keynna memerhatikannnya karena sedang berjongkok. Kemudian ponsel gadis itu berdering.
"Iya gue, udah tes. Gimana kalau hasilnya positif? Anjir, gue gak mau nikah muda!" Ucap gadis itu pada lawan bicaranya di ponsel yang dia apit dengan telinga dan bahunya.
Keynna memilih tak peduli, perempuan itu tiba-tiba saja sakit perut. Jadi dia bergegas kembali ke bilik toilet.
"Iya gue mau keluar. Lo tunggu di luar aja. Gak usah masuk. Oke."
Kemudian gadis SMA itu mengambil testpacknya dengan cepat dan langsung lari keluar toilet.
Tak lama Keynna keluar bilik. Dia langsung mengambil testpacknya juga dan keluar toilet. Menghampiri Lalisa yang sedari tadi sudah mencak-mencak karena lama menunggunya.
***
"Lama banget sih lo. Lahiran Lo disana?!" sinis Lisa sebal. Mereka sedang duduk di kantin rumah sakit. Di hadapan Lalisa ada semangkuk soto ayam yang tersisa kuahnya saja.
"Ya sorry, perut gue mules coy." ucap Keynna.
"Gimana hasilnya?" tanya Lisa penasaran.
Keynna menghela nafasnya. "Gak tau. Gak berani liat hasilnya. Mau sama Lo aja." ucap Keynna lesu.
"Gak usah lesu gitu doang, sahabat. Kita kan belum tau hasilnya, jadi positif thinking aja." kata Lisa menenangkan hati Keynna.
Keynna lalu mengeluarkan testpack dari dalam tasnya yang terbungkus tisu. Dan menunjukkan hasilnya pada Lalisa.
Namun sebelum menunjukkan hasilnya, Keynna lebih dulu bertanya. "Terus cara baca hasilnya gimana?"
"Kata google, kalau garis merahnya dua berarti positif." jelas Lisa.
Keynna baru tau itu.
Dan hasilnya adalah---
POSITIF!
"Ga-garis dua?!" seru mereka berdua.
Detik itu juga, Keynna merasa dunianya telah hancur di bawah kakinya sendirinya.
***
Usai kejadian itu, Keynna dan Lisa tak membahasnya lagi mengingat reaksi Keynna yang saking syoknya dan tak menyangka sama sekali. Keynna tentu saja belum siap jadi ibu terlebih mengandung anak mantan kekasihnya yang akan menikah sebentar lagi.
__ADS_1
Tidak---gambaran kehidupan bahagia Keynna bukan seperti itu.
Keynna jadi berfikir, kenapa ya hidupnya jadi serumit ini?
Keynna masuk kantor keesokan harinya. Seolah tak terjadi apa-apa, ia seperti biasa menampilkan senyum ramah pada rekan kerjanya. Namun ada yang berbeda pagi ini.
Di ruang divisinya sudah duduk Arshaka Juna Aldebaran di kursinya. Lelaki itu sepertinya sudah lama ada disana. Terlebih melihat reaksi rekan kerjanya yang nampak tegang di tempat duduk masing-masing.
"Pagi, pak." sapa Keynna canggung. Asli, dia seperti seorang karyawan yang ketahuan terlambat datang oleh bosnya sendiri padahal kenyataannya Keynna tidak terlambat sama sekali.
"Pagi. Mukamu pucat, kamu sakit?" tanya Arshaka datar.
Keynna menggeleng. Sebetulnya dia emang sakit sih. Sakit hati pada cowok didepannya itu.
"Kamu tahu kenapa saya ada disini?" tanya Arshaka lagi.
Keynna kembali menggeleng.
"Kamu telah berbuat kesalahan. Ikut saya." ucap Arshaka tiba-tiba berdiri dari tempat duduk Keynna.
Keynna mengikuti langkah Arshaka yang meninggalkan departemen makanan dengan sedikit bingung. Rekan kerjanya yang lain memberikan dukungan melalui tatapan.
Arshaka membawa Keynna ke ruangannya.
"Duduk, Keynna." titahnya.
Setelah memastikan Keynna duduk, Arshaka menuju pintu dan memutar kunci. Mendengar bunyi kunci, Keynna terkejut.
"Kenapa dikunci, pak?" tanyanya mulai khawatir.
Arshaka menghampiri meja bar yang memang menjadi fasilitas di ruangannya.
"Kopi, teh atau wine?" tawarnya
"Lo gila, ngasih gue alkohol di jam kerja?!" seru Keynna. Akhirnya dia menanggalkan sapaan formal itu dan menggunakan lo-gue lagi pas Arshaka.
"Nah gitu dong, Key. Jijik gue denger Lo manggil pak, bapak ke gue. Lo kira gue bapak lo?" gerutu Arshaka.
"Eh bego, Lo kan atasan gue! Masa gue manggil Lo informal saat kerja." balas Keynna.
"Eh, gak boleh ya bilang bego ke atasan sendiri. Kualat kamu." ucap Arshaka memperingati. Lelaki itu membawa dua gelas teh mint dan membawanya ke hadapan Keynna.
"Lisa bilang kamu lagi sakit. Katanya perutnya gak enak, nih cobain minum teh mint, buat menghilangkan rasa mual." ucap Arshaka.
Keynna mencak-mencak dalam hatinya. Lisa sialan!
"Gue gak apa-apa. Jadi alasan Lo manggil gue kesini apa? Cepetan, mau gawe gue." ujar Keynna ketus.
"Gue kan bosnya. Nyantai aja kali. Sok rajin banget biasanya sekolah bolos juga." celetuk Arshaka mengejek.
"Saka sialan, sejak kapan gue bolos?!" sentak Keynna.
Keynna buru-buru meredakan kekesalannya. Tidak baik jika dia sering emosi terlebih mengucapkan kata-kata kasar. Nanti anaknya mendengar kan berabe. Dia tentu mengharapkan anak yang baik dan penurut.
__ADS_1
Jangan didengerin ya, nak. Omongan ibu tadi. Anggap aja ibu lagi melantur ucapnya dalam hati pada sang jabang bayi sembari mengelus perutnya pelan.
Kegiatan Keynna disadari oleh Arshaka. Lelaki itu mengangkat satu alisnya pertanda ada yang tidak wajar disini.
"Ngapain Lo ngelus perut gitu?" tanyanya.
Keynna terpaku, sialan dia kecolongan. Arshaka jangan sampai tahu~
"Laper." jawab Keynna singkat.
"Oh." Arshaka mengangguk. "Gue pesenin salad mau?" tawarnya.
Keynna sontak menggeleng. Dia maunya pergi dari ruangan ini segera.
"Jadi sebenarnya alasan Lo manggil gue apa?" tanya Keynna serius. Dia udah bosan banget terus ngobrol sama Arshaka. Gak tau kenapa. Bawaan bayi mungkin.
"Gue lagi butuh bantuan." ucapnya.
Keynna menoleh dengan penuh tanda tanya. "Bantuan apa?" tanyanya.
"Cara menyingkirkan Kieena." balasnya.
Dahi Keynna mengerut dalam, tidak mengerti.
"Apa maksudnya?"
"Lo tau, Kieena selama ini berharap bisa ngebunuh gue. Dan sebelum itu terjadi, gue akan singkirin dia gimanapun caranya."
Keynna makin bingung.
"Maksudnya?"
Arshaka menyentil dahi Keynna gemas.
"Gue baru nyadar kalau Lo emang selemot itu." komentarnya.
Keynna menatap nyalang, "Itu karena Lo ngomongnya belibet, sialan!" hardiknya.
Arshaka menatap tak percaya pada gadis di depannya.
"Akhir-akhir ini Lo suka ngumpat ya." pungkasnya.
"Gak kok. Keceplosan aja." kilah Keynna jadi malu sendiri. Dia merutuki diri yang jadi gampang emosian dan tak sadar mengucapkan kata-kata kasar di depan bayinya.
Jangan ikuti kelakuan buruk ibu kamu, nak. batinnya berharap terdengar janinnya.
"Menurut informan gue, Kieena menyimpan dendam sama gue. Itu juga yang jadi alasan dia ngebunuh Abang gue. Tapi gue masih gak yakin dengan ini semua. Gue ragu dia beneran pelaku--"
"Kalau Lo ragu, kenapa Lo selama ini masih usaha?" potong Keynna.
"Itu karena Kieena mendatangi gue dengan aneh dan tiba-tiba. Dia bukan wartawan biasa. Dia juga bukan perempuan yang sederhana. Kemarin, gue gak sengaja ketemu kembaran dia. Kaina." Papar Arshaka.
Keynna terkejut.
__ADS_1
"Gue bakal bawa Lo ketemu Kaina. Lo bisa simpulin sendiri nanti."