
Keynna mendongak ketika menyadari tak ada air hujan yang membasahi tubuhnya lagi. Pandangannya tertuju pada si pemilik payung hitam yang memayunginya. Dia Arshaka.
“Lo udah gak waras.” Ujar Arshaka datar. Satu kalimat yang anehnya tak membuat Keynna sakit hati.
Arshaka menarik Keynna untuk berdiri. Dia menyerahkan payung ke tangan Keynna. Sedangkan dia melepas jaketnya.
“Lo mau ngapain?” tanya Keynna waspada ketika jaket Arshaka sudah dilepaskan.
Arshaka tak menjawab. Dia menyampirkan jaket itu ke tubuh Keynna lalu mengambil kembali payungnya. Kini Arshaka hanya mengenakan kaus saja.
“Saka, lo apa-apaan sih? Ini dingin banget ngapain lo lepasin jaket lo.” Seru Keynna hendak melepas kembali jaket bomber army milik cowok itu.
“Kalau lo berani ngelepas, gue cium lo sekarang juga.” ancam Arshaka.
Keynna menghentikan aksinya. Dia menatap tak percaya dengan apa yang barusan cowok itu ucapkan.
“Apa maksud lo? Lo udah gila.”
“Gue serius. Mau bukti?” tantang Arshaka.
Keynna seketika menggeleng cepat. Dia memakai jaket Arshaka kembali.
Arshaka tersenyum tipis melihatnya.
***
Kini Arshaka tengah berada di mobil bersama Keynna. Suasana mereka cukup canggung bagi Keynna yang duduk kaku di kursi depan disamping Arshaka. Dia khawatir kursi mobil cowok itu basah.
Arshaka lalu mengambil sebuah goodybag berisi pakaian ganti yang sempat dia hendak berikan pada Keynna saat di rumah sakit tapi Keynna menolak. Dia menyerahkannya tanpa menoleh sedikitpun.
“Pake.” Titahnya.
Keynna tak mengambilnya. Dia malah memalingkan mukanya.
Tak ada tanggapan dari Keynna, Arshaka menggoyang-goyangkan goodybag itu, “Ambil.” Titahnya.
“Lo ngomong sama siapa?” tanya Keynna akhirnya.
“Sama lo.” Jawab Arshaka.
Keynna kini menatap Arshaka dengan kesal, “Kalau gitu tatap mata gue. Gue disamping lo bukan di depan lo.”
Arshaka kini menoleh. Dia menatap datar Keynna yang menatapnya dengan bibir terlipat kesal.
“Pake.” Titah Arshaka lagi.
Keynna menahan senyumannya, “Nah gitu dong. Gue bukan lagi ngomong sama patung.” Ujarnya mengambil goodybag itu.
Arshaka tak menanggapi. Dia kembali menatap ke depan.
“Eh, tapi gimana cara gue ganti baju?” tanya Keynna kebingungan.
Arshaka hanya diam saja.
Keynna menarik-narik kaus Arshaka, “Woy, gue tanya sama lo.” Kekinya.
“Di jok belakang.” Jawab Arshaka.
Keynna menoleh ke belakang, dia terkejut setengah mati, “Jok belakang? Lo gila? Kalau ada yang ngintip gimana?!” pekiknya.
“Gak akan."
“Darimana lo tau?!” ngegas Keynna.
Arshaka memutar bola matanya malas, “Gue hajar kalau ada yang berani ngintip.”
“Gimana kalau misal lo yang ngintip?” tanya Keynna lagi.
Arshaka mendesah lelah, “Gue bukan cowok cabul.”
Keynna masih terdiam menatap waspada Arshaka. Gimanapun arca batu itu adalah seorang laki-laki.
“Gue gak mau.” tolak Keynna.
“Lo harus ganti baju kalau gak mau masuk angin.” Tukas Arshaka.
Keynna tak menanggapi. Dan ini adalah kali kedua Arshaka mendesah. Dia mengangguk pelan.
“Ada selimut di jok belakang, lo tutupin celah ini pake itu.” ujar Arshaka.
“Selimut?” Keynna mencari keberadaan selimut itu. Setelah ketemu, dia mengambilnya.
“Punya siapa?” tanya Keynna curiga. Pasalnya selimut itu berwarna pink. Jelas cowok manly seperti mantannya tak mungkin punya selimut sefeminim itu.
“Adek gue.” Jawab Arshaka.
“Serius?”
“Ngapain gue boong?” balas Arshaka.
Keynna mengangguk. Dia setuju dan tak lagi mempermasalahkannya. Tanpa kata, Keynna menutup celah antara kursi depan dan belakang dengan selimut milik adik Arshaka tadi. Dia mengawasi Arshaka sebentar. Takut-takut bahwa mata arca batu itu mencoba mengintipnya dalam diam.
Dirasa Arshaka tak akan mengintipnya karena cowok itu asik bermain ponsel, Keynna pun bisa tenang. Dia mulai berganti baju di jok belakang.
Lima menit kemudian, Keynna selesai. Dia mengembalikan selimut itu ke semula dan menaruh goodybag yang kini berisi pakaian basahnya di sampingnya. Setelah itu dia kembali ke kursi depan.
“Hujannya masih deras.” Celetuk Keynna.
Arshaka menoleh ke arah Keynna, dia lalu menyimpan kembali ponselnya.
“Gak ada yang mau lo jelasin?” tanya Arshaka.
Keynna terkesiap, “A-apa yang lo ma-maksud?”
“Soal lo hujan-hujanan sambil lari keliling lapangan. Lo kira ini drama korea?” ujar Arshaka pedas.
Keynna mengatupkan bibirnya. Yah, dia mengakui dia gila. Melakukan adegan lebay itu.
__ADS_1
“Gue gak ada maksud lakuin itu sebenarnya. Tapi gue gak tahu harus nyalurin emosi gue kek gimana. Terus hujan turun, ya udah gue manfaatin buat parktekin salah satu adegan di drakor.” Aku Keynna setengah tertawa.
“Lo ada masalah apa sama bokap lo?” tanya Arshaka.
Keynna menoleh, “Lo tau?” tanyanya.
Arshaka tak menjawab. Dia hanya menatap pemandangan hujan lurus-lurus.
Keynna berdecak, “Ngaku sama gue. Lo ikutin gue?” tuduhnya.
Arshaka lagi-lagi diam.
“Arshaka!” seru Keynna kesal.
“Iya gue ikutin, puas?” balas Arshaka. “Sekarang jawab gue. Lo mau cerita atau enggak?”
Keynna mendesah pelan. Wajahnya seketika murung. Pandangannya nampak memburam.
“Gue ribut sama bokap dan mutusin hubungan gue sama bokap.” Ujar Keynna. Arshaka masih diam tak mengomentari.
“Gue ngerobek kartu keluarga gue didepan wajahnya. Dan gue bilang kalau gue bakal ngirimin surat resminya.”
“Kenapa lo lakuin itu?” tanya Arshaka.
“Gue emosi. Sejujurnya, gue gak paham kenapa bokap gue bisa sejahat itu sama keluarganya sendiri. Dia selingkuh dari nyokap dan pergi sama wanita selingkuhannya. Dan paling parahnya dia ternyata udah punya anak. Mereka mau nikah karena bokap gue pengen anaknya punya kedua orang tua yang utuh dan legal. Dan apa menurut dia, gue gak butuh keluarga yang utuh?” cerca Keynna. Emosinya kembali membludak.
“Jadi alasan nyokap lo sakit karena undangan pernikahan itu? Nyokap lo belum bisa ngelupain bokap lo?”
Keynna mengangguk. “Gue gak yakin awalnya. Gue fikir nyokap udah move on karena dia sempat pacaran dan hampir nikah. Tapi...pada akhirnya gue denger kalau mereka putus. Fakta itu gue tahu kalau masih ada rasa cinta di hati nyokap gue buat papa.”
“Ini udah dua tahun, Saka. Kenapa perasaan mama masih ada? kenapa dia gak bisa ngelupain? Apa sesulit itu buat lupa?”
Arshaka terdiam sesaat lalu menganggukan kepala.
“Sulit. Kayak gue ke lo.” Sahut Arshaka menatap Keynna.
Keynna terdiam.
“Key, dia bokap lo. Serius atau enggaknya perkataan lo, gue harap itu gak jadi boomerang buat diri lo sendiri. Dia mungkin ngelukain lo dan nyokap lo sebegitu hebatnya, tapi dia tetap seorang manusia. Gue tahu dia pasti merasa terluka di hatinya. Bokap lo akan menderita kalau sampai dia dibenci oleh anaknya sendiri.” Ucap Arshaka.
“Gue cuma pengen dia gak terus mikirin dirinya sendiri. Sekali aja...sekali aja gue pengen dia mikirin keluarganya. Mikirin nyokap, mikirin gue sama abang gue. Gue masih butuh dia. Gue pengen keluarga gue utuh.” Kini Keynna meneteskan air mata. Dia menangis di setiap kata yang diucapkannya.
“Gue masih belum ngerti, kenapa dia bisa ngelakuin itu? Kenapa dia bisa selingkuh gitu aja sama sekretarisnya sendiri. Ini bukan sinetron hidayah. Apa mama kurang cantik? Enggak. Dia jauh lebih cantik dan diatas segalanya dibanding cewek pelakor itu. lalu apa masalahnya? Gue pengen nanya. Tapi tiap kali gue nanya, bokap gue langsung menatap gue dingin dan cuma bilang kalau anak kecil gak perlu tahu. Gue udah dewasa, Saka. Gue bukan anak kecil!” tutur Keynna mencurahkan semua emosi yang sempat tertahan dalam waktu lama.
Arshaka menghembuskan nafasnya tenang, “Jadi lo mau putusin hubungan lo sama bokap lo?”
Keynna menggeleng kasar, “Enggak. Gue gak bisa.” jujurnya. “Tapi bukan berarti gue bakal berdamai sama dia. Gue pengen bokap gue ngerasain rasa sedih dulu. Berharap ada sedikit rasa bersalah dan penyesalan buat gue, abang gue dan terutama mama.”
Arshaka menganguk, “Oke. Lo boleh benci bokap lo selama yang lo mau.” tandasnya.
Keynna terkejut dengan jawaban tak terduga Arshaka.
“Kenapa?” tanya Arshaka.
“Gue fikir lo bakal nasihatin gue soal ini dan bilang ini itu kek emak-emak ngomelin anaknya.” Ujar Keynna bingung.
“Gue bukan emak-emak dan lo bukan anak–anak, simple,” ujar Arshaka santai.
Arshaka mendesah, “Lo udah gede, tahu apa yang boleh dan enggak lo lakuin. Berantem bahkan sampe benci-bencian sama orang tua sendiri gak baik tapi alasan lo masuk akal. Kalau lo bisa dapet ketenangan dari kerenggangan itu, gue gak masalah asal lo akan nyelesain masalah ini nantinya.” jelas Arshaka.
Keynna mengerti, “Thanks, Saka.”
“Key,” panggi Arshaka serius. Keynna menunggu ucapan selanjutnya dari Arshaka. “Gue gak bisa ngelakuin apapun yang buat lo puas tapi gue bakal selalu ada buat lo. Jadi jangan pernah ragu lagi sama gue.” Lanjutnya.
Arshaka lalu memegang tangan kanan Keynna kemudian menatap Keynna tepat di matanya.
“Apapun yang terjadi, gue bakal selalu nemenin lo.”
***
Di tempat lain, tapi masih di Bandung, Lisa tapi gak pake Blackpink tengah bersama Panji. Entah ada angin apa, tapi Panji mau nganterin Lisa balik dari rumah sakit.
Satu jam diperjalanan karena malam ini turun hujan, mereka akhirnya sampai di kediaman Lisa. Cewek itu memeluk dirinya sendiri, menggigil kedinginan akibat udara Kota Bandung yang dinginnya ngalahin sifat Arshaka.
“Lo buru balik, Nji. Dingin banget, ntar lo masuk angin. Berabe gada yang ngerokin.” Ujar Lisa cepat.
“Gue yang alone emang menyedihkan.” Komentar Panji. “Untungnya gue kuat nahan angin.” Lanjutnya tersenyum santai.
“Thanks ya, udah nganterin gue. Gue masuk dulu.” pamit Lisa buru-buru.
Panji mengangguk, “Yoi. Cabut ya.” Ujar Panji. Dia hendak memakai kembali helmnya.
Lisa baru saja hendak masuk ke rumah tapi mengurungkan niatnya. Bagai tersadar sesuatu, dia berbalik menatap Panji lagi.
“Nji.” Panggil Lisa.
“Apaan?” tanya Panji.
“Lo tunggu bentar dulu. Jangan balik dulu.” pesan Lisa. Tanpa menunggu balasan dari Panji, Lisa bergegas masuk ke rumahnya.
Satu menit kemudian, Lisa kembali ke luar rumah dengan menenteng syal berwarna putih tulang.
“Nih pake, biar gak terlalu dingin.” Ujar Lisa menyerahkan syal itu.
“Ini gimana cara pakenya?” tanya Panji kebingungan. Pasalnya dia belum pernah memakai syal. Ya iyalah, secara Indonesia kan negera tropis, musimnya cuma dua kek jenis kelamin.
Lisa berdecak kecil, “Lo belum pernah make?” Panji sontak menggeleng.
“Seriusan Nji? Lo hidup di era apa sih? Kudet banget.” Ejek Lisa.
“Eh Lalisa, gue tinggal di negara yang cuma punya musim hujan bukan musim dingin.” Tukas Panji.
“Ya minimal lo pernah gitu pas liburan ke luar negeri yang punya empat musim.” Balas Lisa tak mau kalah.
“Gue datengnya pas musim panas, biar bisa liat awan pelangi, puas lo?” sahut Panji sebal.
Lisa hanya mengendikkan bahu tak peduli.
__ADS_1
“Yaudah gue pakein sebagai ongkos transport.” Ujar Lisa mengalah.
“Nah gitu dong.” Ucap Panji senang.
Lisa lalu mulai melilitkan syal ke sekeliling leher Panji. Tangannya dengan luwes memakaikan syal itu. Dia bekerja dengan serius agar Panji tidak kedinginan lagi.
Tapi Panji juga mulai serius. Dia tertegun ketika wajah Lisa mendekat padanya. Jantungnya seketika berdisko ria.
“Nah, udah.” Seru Lisa senang. “Gimana? Nyaman gak?”
Tapi Panji hanya terdiam, dia malah melamun. Lisa menatap Panji dengan bingung. Dan akhirnya menggoyang-goyangkan tangannya di depan Panji.
“Woy, ngelamunin apaan?” tegurnya.
Panji menggeleng, dia sangsi kalau sampai ketahuan.
“Gak ada. Udah kan? Gue cabut.”
Panji hendak menyalakan motornya tapi Lisa memegang tangannya.
“Apa lagi?” tanya Panji mematikan mesin motornya.
Lisa kini menatap Panji dengan pandangan penuh senyuman. Panji merinding. Dia tak tahu apa yang terngah difikirkan cewek gila ini.
“Panji, kenalin gue sama Niko dong.” Ujarnya tanpa malu.
Panji mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi, “Bukannya lo udah kenal?”
“Kalau gitu, jodohin gue sama dia.” Ralat Lisa lebih tegas dan serius.
Panji terdiam. ekspresinya seketika berubah.
“Gak.” Tolaknya singkat.
“Ih, Panji. Bantuin gue dong sekali aja. Gue bener-bener suka sama temen lo itu.” bujuk Lisa.
Panji tak lagi tersenyum. Wajahnya tak menampilkan raut jahil seperti biasanya. Dia menatap Lisa dengan datar.
“Lalisa, gue bukan mak comblang.” Ujarnya.
“Tapi lo temenan sama dia. Lo bisa comblangin gue sama dia.” Tukas Lisa tak mau menyerah.
“Kenapa gak lo lakuin sendiri?” tanya Panji.
“Gue cewek. Lagian gue pengen dikenal sama Niko sebagai cewek anggun, berkelas dan cantik. Mana bisa gue inisiatif duluan.”
“Gak, gue gak mau.” putus Panji lagi. Dia menyalakan mesin motornya.
“Panji, bentar dulu.” cegah Lisa.
Panji mendesah, “Apa lagi?” tanyanya pelan.
“Bantuin gue. Gue bener-bener tertarik sama Niko.” Ujar Lisa masih memohon.
“Sekali enggak, ya enggak. Lagian gue juga gak terlalu dekat sama dia. Cuma satu hobi doang.” Jelas Panji.
“Gue gak peduli, pokoknya lo harus jodohin gue sama dia.” Tandas Lisa. Panji hanya diam.
“Nji, ya Nji. Please, bantuin gue.” Pada akhirnya Lisa merengek-rengek pada Panji.
“Panji yang ganteng, imut, ketua kelas XII IPA-1 yang jenius, please yaa bantuin gue.” Mohon Lisa.
“Panji....”
Panji mendesah lelah, pada akhirnya dia kalah. Dia mengangguk terpaksa.
Raut Lisa kembali cerah. Matanya berbinar-binar senang.
“Thanks Panji. Kalau misal ini sukses, gue traktir lo makan lobster sepuasnya.” Ujar Lisa serius.
“Gak usah, gue cabut.” Pamit Panji untuk yang ketiga kalinya. Tapi kali ini Lisa membiarkannya.
“Bye Nji. Sampai ketemu besok. Jangan lupa ya!” ucap Lisa riang.
Panji tak menjawab, dia menjalankan motornya dan langsung pergi.
Sepeninggal Panji, Lisa bersorak senang. Impiannya sebentar lagi akan terwujud. Dia akan pacaran dengan Niko.
Tapi Lisa tak mengetahui di balik senyum gembiranya, ada sebuah hati yang potek.
***
Arshaka mengantar Keynna kembali ke rumah sakit.
“Sampai disini aja. Ini udah malem banget, lo harus buru-buru balik.” Ujar Keynna ketika mereka sampai di depan pintu lobi.
Arshaka mengangguk, “Gue pergi.”
Di sisi lain, Keenan sedang menuju lobi untuk menjemput Keynna yang menurutnya malah main-main bukannya jagain Kirana. Ketika Keenan sampai di depan lobi, dia menghentikan langkahnya. Matanya terkejut kala melihat ada Arshaka tengah bersama Keynna. Keenan cepat-cepat bersembunyi di salah satu pilar.
Jangan sampai cowok itu melihatnya.
***
“Gue pergi.” Pamit Arshaka.
Keynna mengangguk, “Bye.” Balasnya sambil melambai-lambaikan tangannya.
Arshaka terlebih dulu mengelus rambut Keynna baru kemudian berjalan pergi.
Melihat Arshaka sudah keluar dari lobi rumah sakit, Keynna berbalik hendak berjalan menuju ruangan mamanya. Tapi dia melihat siluet Keenan tengah berdiri di salah satu pilar.
Keynna berjalan mendekat. Dia menepuk pundak Keenan.
“Bang, ngapain lo sembunyi-sembunyi?” tanya Keynna.
Keenan yang awalnya kaget bisa dipergoki seketika menggeleng, “Gak ada. Btw, lo kemana aja?” Keenan sepertinya lupa bahwa Arshaka belum pergi terlalu jauh.
__ADS_1
Di sisi lain, Arshaka yang baru saja keluar dari pintu lobi seketika berhenti melangkah karena dia mendengar suara familiar yang sudah tak dia dengar sejak dua tahun lamanya. Suasana rumah sakit yang hening menyebabkan dia mampu mendengar suara sekecil apapun.
Jantung Arshaka berdebar-debar. Dia memutuskan membuktikan dugaannya. Arshaka pun berbalik badan.