
Arshaka membawa Keynna menjauh dari hiruk pikuk kota. Satu jam di perjalanan, akhirnya mereka sampai. Di sebuah petak tanah luas di atas bukit. Lokasinya 25 km dari pusat Bandung.
"Kita udah sampai." kata Arshaka mematikan mesin motornya setelah Keynna turun.
"Dimana nih?" tanya Keynna. Dia mengedar ke sekeliling. Hanya ada tanah kosong dengan pohon pinus terjajar rapi dan sebuah taman bermain?
"Nanti lo tau." kata Arshaka. Dia lalu mengajak Keynna lebih ke atas lagi. Menapaki jejak demi jejak pada tangga kayu berwarna-warni.
Tak lama, sebuah bangunan putih tulang berdiri megah dihadapan mereka. Sebuah papan nama besi juga tertancap tegak. Panti Asuhan Mutiara.
"Panti Asuhan?" gumam Keynna. Untuk apa patung es itu membawanya kesini?
Ingin Keynna bertanya、namun urung karena Arshaka yang terus diam menatap ke depan. Mereka lalu masuk ke sebuah pintu jati. Ketika dibuka, puluhan anak kecil tengah berkumpul.
"Wah." Keynna berdecak kagum. Ruangan itu sangat indah. Penuh hiasan warna-warni dan suasananya sangat ramai. Alunan piano dan gitar mengiringi tiap keceriaan anak-anak polos ini. Lukisan indah juga terjajar rapi di dinding. Dan jangan lupakan senyuman bahagia mereka.
"Kita sebenernya mau ngapain disini?" bisik Keynna pada Arshaka.
"Sebentar." balas Arshaka singkat. Matanya lalu mengedar kesekeliling. Tak lama, seorang perempuan paruh baya muncul dan menghampiri mereka.
"Bu Dwi." sapa Arshaka sopan. Bu Dwi tersenyum manis.
"Apa kabar, Saka? Syukurlah kamu menepati janji datang. Anak-anak sangat merindukan kamu." kata Bu Dwi ramah.
"Saya baik bu. Lagian saya sudah janji akan datang." ujar Arshaka.
Bu Dwi tersenyum kemudian matanya menatap Keynna, "Ini...?"
"Oh, saya Keynna bu. Temennya Saka." kata Keynna tanggap.
Bu Sari ber'oh' ria. "Oh, pantes saya belum pernah liat. Kamu teman pertama yang Saka bawa." katanya tersenyum.
"Serius bu?" tanya Keynna tak percaya. Dia lalu menoleh pada Arshaka yang hanya diam dengan raut datar.
"Iya, saya seneng sekali Saka bawa temannya." ujar Bu Dwi tersenyum. Keynna hanya tersenyum.
"Acaranya bentar lagi mau dimulai. Silakan tunggu dulu sebentar ya." Arshaka dan Keynna mengangguk, meski Keynna tak terlalu mengerti. Ada acara apa di panti ini sebenarnya. Setelah bertukar senyum terakhir kali, Bu Dwi undur diri meninggalkan mereka berdua.
"Maksud Bu Dwi apa? Acara apa?" Keynna langsung menodong Arshaka.
"Acara kecil-kecilan. Semacam pertunjukkan bakat dan seni. Anak-anak disini bukan sekedar anak-anak biasa. Mereka semua berbakat." jawab Arshaka.
"Berbakat?" tanya Keynna tidak mengerti.
Arshaka berkacak pinggang dan menatap Keynna dengan datar, "Berbakat adalah kemampuan luar biasa seseorang dalam suatu bidang." jelas Arshaka.
"Gue tau artinya." ujar Keynna datar."Maksudnya ada apa sebenernya?"
"Nanti lo juga tau." Usai mengatakan itu, Arshaka tiba-tiba pergi. "Yuk main dulu." lanjutnya menoleh pada Keynna. Keynna yang melihatnya hanya mendesah, kemudian mengikuti punggung Arshaka yang sudah menjauh.
***
Keynna duduk diam dari tadi. Sedangkan Arshaka asik bermain dengan tiga anak laki-laki. Mereka memegang sebuah krayon dan di depannya ada kertas gambar. Mereka sedang asik menggambar.
Keynna terus berdecak kagum melihat kemampuan menggambar mereka. Biasanya anak berusia 5 tahun mungkin hanya bisa menggambar garis abstrak saja, tapi ini, mereka sedang membuat sebuah gambar istana megah berwarna-warni. Garis warnanya seperti layaknya seorang profesional saja.
"Wah. Ini siapa yang bikin?"seru Keynna kagum ketika Rio, anak kecil berusia 5 tahun menunjukkan gambar yang sudah selesai dibuat tadi pada Keynna.
"Aku, Jack sama Niel. Bagus kan kak?" ujar Rio bangga.
"Bagus banget! Kalian emang berbakat." puji Keynna.
"Iya, dong. Ka Saka tadi juga ikut bantuin." timpal Niel.
Keynna menoleh pada Arshaka, "Lo bisa ngegambar?" tanya Keynna.
"Bisa." jawab Arshaka.
"Masa? Kok gue gak percaya ya?"
"Kak Saka itu pinter ngegambar loh kak. Aku juga diajarin ngelukis sama kak Saka." timpal Jack yang diangguki Rio dan Niel.
__ADS_1
"Dia bisa gambar apapun!" tambah Niel.
"Kalau gitu, gambar gue dong!" pinta Keynna.
"Males." jawab Arshaka. Keynna mencebik, mendengar jawaban singkat Arshaka.
"Jahat." Keynna menghembuskan nafas kasar.
***
Acara sudah dimulai. Sejak dua jam yang lalu, mereka mempersiapkan acara kecil-kecilan ini. Arshaka dan Keynna juga turut membantu. Setelah dua jam, persiapan sudah rampung.
Arshaka dan Keynna duduk bersebelahan. Keynna tak sabar dan antusias ingin menonton pertunjukan bakat ini. Anak-anak panti ini sungguh berbakat. makanya pengurus panti mengadakan acara sederhana ini sebulan sekali.
Pertunjukkan dimulai. Penampilan pertama, yaitu unjuk kebolehan bernyanyi. Segelintir anak bergaun putih dengan renda biru berbaris rapi di atas panggung setinggi 1 meter itu. Mereka adalah paduan suara dan menyanyikan beberapa lagu anak-anak. Keynna bertepuk tangan sembari menonton.
Jika kuingat lelah, ayah bunda
Bunda piara-piara akan daku
Sehingga aku besarlah
Waktu ku-kecil hidupku
Amatlah senang, senang piara-piara akan daku
Senang dicium-dicium dimanjakan
Namanya kesayangan
"Wah." Keynna dan lainnya bertepuk tangan dengan meriah. Keynna tersenyum sembari menyeka air matanya karena terharu melihat pertunjukan paduan suara anak-anak itu.
Penampilan kedua adalah penampilan solo dari Niel. Si anak jenius itu ternyata sangat terampil dalam bermain piano.
Niel dengan khitmat menekan lembut tuts demi tuts piano menghadirkan perasaan lembut dan bahagia pada para penonton. Dengan perlahan, kemudian tiba-tiba cepat, semakin cepat dan semakin cepat. Niel membawa penonton pada kedalaman interpretasi diri terhadap "Etude Op 10 No. 3" hasil gubahan Chopin.
Ketika usai, tepuk tangan dari para penonton pun membahana memenuhi ruangan di Panti Asuhan Mutiara itu.
"Niel, keren banget. Anak seusia gitu bisa main piano, pake lagu klasik lagi. Gue waktu usia dia, lagi asik main barbie sambil nyeka ingus." bisik Keynna pada Arshaka.
Tuhan memang adil. Di setiap kekurangan manusia, selalu ada kelebihan dan hadiah istimewa yang terselip. Anak-anak itu mungkin memang tak pernah merasakan kasih sayang ibu dan ayah, namun mereka dibekali bakat luar biasa oleh sang pencipta sebagai pelipur kesedihan mereka.
***
Keynna dan Arshaka baru saja pulang dari panti ketika waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Arshaka mengantarkan Keynna ke rumahnya terlebih dahulu.
"Kita sampai." ucap Keynna riang. Suasana hatinya tengah baik selepas menonton pertunjukan tadi.
Arshaka membuka helmnya dan menoleh pada Keynna yang sudah turun dan berdiri di sampingnya.
"Sorry, lo pulangnya kemaleman dan thanks lo mau nemenin gue tadi." kata Arshaka.
"Gue yang harusnya bilang makasih. Berkat lo, gue jadi punya pengalaman keren tadi. Lain kali, kalau ada acara kayak tadi, jangan lupa ajak gue ya." kata Keynna riang.
Arshaka mengangguk, "Sebenernya beberapa minggu lagi ada festival akhir tahun. Pertunjukkan tadi sebenernya itu latihan buat nanti festival. Para donatur bahkan kepala yayasan juga bakalan hadir. Biasanya ada beberapa anak yang nanti bakal dapet beasiswa."
"Beasiswa?" seru Keynna terkejut.
"Anak-anak yang memiliki potensi dan berbakat biasanya dapet beasiswa yayasan. Ada yang masuk akademi musik bahkan ada yang dapet kesempatan sekolah internasional gratis."
"Wah, hebat. Tuhan emang adil ya." timpal Keynna.
"Maksudnya?" tanya Arshaka.
"Maksud gue, definisi panti kayak yang kita tau itu, isinya anak-anak yang terlihat menyedihkan yang gak bersalah ditelantarkan gitu aja sama orangtuanya. Tapi Tuhan emang adil kan, Dia ngasih kemampuan hebat buat anak-anak polos itu bahkan bisa sampe dapet beasiswa." jelas Keynna. Arshaka mengangguk menyetujui.
"Nah, kalau gitu gue masuk duluan ya. Lo hati-hati di jalan." usai mengatakan itu Keynna berbalik meninggalkan Arshaka.
"Tunggu." cegah Arshaka mencegah Keynna yang baru berjalan beberapa langkah.
"Ada apaan?" tanya Keynna kembali berbalik. Dia kembali menghampiri Arshaka yang masih duduk di motornya.
__ADS_1
Arshaka mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Sebuah kertas yang digulung dan diikat dengan pita emas. Kertas itu lalu diserahkan pada Keynna yang menerimanya dengan bingung.
"Apaan nih?" tanya Keynna bingung menatap gulungan kertas itu.
"Buka aja." titah Arshaka.
Keynna tanpa kata melepaskan pita emas dan membukanya. Seketika Keynna terdiam melihat isi kertas itu.
Arshaka lalu berbicara ketika melihat raut Keynna yang tak menunjukkan reaksi apapun, dengan canggung dia berkata,"Gue baru pertama kali bikin gambar seseorang. Jadi--"
"Thanks!" sela Keynna. Arshaka terdiam.
"Thanks Saka. Diantara semua gambar atau lukisan yang pernah gue liat, ini yang terkeren! Bukan maksudnya karena gue yang digambar tapi lo emang bener-bener berbakat." lanjut Keynna dengan tersenyum. Dia menatap Arshaka yang tersenyum tipis.
"Gue seneng kalau lo suka." jawab Arshaka. Dia yang awalnya merasa cemas karena reaksi Keynna diam saja ketika melihat hasil karyanya seketika mulai tersenyum tipis karena reaksi Keynna yang di luar dugaan.
"Tapi kapan lo bikin ini? Katanya lo males bikinin."
"Waktu lo main sama anak-anak."
flashback on
"Jahat. Gue males sama lo! Gue mending main sama anak cewe aja." kata Keynna jutek. Dia pun beranjak berdiri dan mendekati beberapa anak perempuan yang tengah bermain make up-make up an.
"Yah, kak Saka. Kak Keynna ngambek tuh, gimana?" tanya Niel.
Arshaka memerhatikan Keynna kemudian Keynna berbalik dan menjulurkan lidahnya sambil cemberut. Lalu Arshaka menoleh pada Rio, "Ambilin kakak kertas gambar lagi ya." pintanya. Rio mengangguk. Ia pun berdiri mengambil kertas gambar dan memberikannya pada Arshaka.
Arshaka lalu mengambil pensil yang sedikit runcing. Dia memerhatikan wajah Keynna. Memerhatikan setiap detail dari figur seorang gadis cantik itu. Keynna yang tengah tersenyum itu membuat Arshaka berusaha mengabadikannya pada selembar kertas itu.
Namun yang menjadi masalah adalah, Keynna yang terus saja bergerak membuat Arshaka sedikit kesulitan. Jack yang melihatnya seketika mendapat ide.
"Rio, kita ke kak Keynna yuk. Niel temenin kak Saka ya, kasih tau kalau udah selesai."
Rio dan Jack pun mendekati Keynna. "Kak Key, kita main Gagarudaan yuk!" ajak Jack.
"Gagarudaan? Apa itu?" tanya Keynna mengernyit bingung.
"Kita nyebut kata gagarudaan terus ngeluarin beberapa jari nanti jarinya dihitung ada berapa pake abjad. Misal e, nanti sebutin hewan dari e gitu, nanti yang kalah dihukum harus jadi patung." jelas Jack.
"Oh oke paham." Keynna menautkan telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O. Mulailah mereka bermain.
"Gagarudaan!" seru mereka.
Keynna, Niel, Jack mengeluarkan beberapa jari mereka. "A. B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L." seru Rio.
"Sebutkan hewan dari L!"
"Lemur!" seru Rio.
"Lalat!" seru Jack. Kemudian mereka beralih pada Keynna yang masih terlihat berfikir.
"Mmm."
"1,2,3. Kak Keynna kalah!" seru Jack dan Rio.
"Yah, apaan dong yang dari L?" tanya Keynna.
"Lutung? Hahaha." Jack tertawa. "Kak Keynna kalah jadi patung."
Dengan Keynna yang menjadi diam tidak bergerak, memudahkan Arshaka menggambar potretnya. Tak lama, goresan demi goresan halus itu menjadi utuh dan terciptalah sebuah gambar berisi potret Keynna. Arshaka dan Niel bertos.
Flashback Off
"Oh jadi gitu ceritanya. Pantes Jack sama Rio tiba-tiba ngusulin main. Itu alesannya." kata Keynna manggut-manggut.
"Sekali lagi makasih ya Saka. Gue bakal pajang ini di kamar. Dan kalau di liat-liat lebih cakep di kertas dibanding aslinya, wkwkwk." Keynna terkekeh geli.
"Enggak." timpal Arshaka.
__ADS_1
Keynna menoleh, "Enggak apa?" tanyanya.
"Lebih cantik aslinya."