
"Keenan, dimana Keynna?" ulang Arshaka untuk kesekian kalinya.
Keenan mendesah pelan, "Sebenernya gue gak cuma mau minta maaf sama lurusin masalah itu ke lo. Tapi juga minta tolong sama lo."
"Soal apa?"
"Keynna, dia mau kuliah di luar negeri."
Arshaka terdiam.
"Lo serius?" Arshaka bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Keenan mengangguk berat.
"Kenapa?" tanya Arshaka tetap tenang.
"Nyokap bakal kerja di cabang baru kantornya di New York dan Keynna mau ikut nemenin nyokap sekaligus kuliah. Gue denger dia mau jadi dokter gizi."
"Dia gak bilang sama gue." lirih Arshaka.
Keenan mendengarnya, "Gue juga baru tau tadi. Makanya gue buru-buru nemuin lo padahal gue masih nyiapin mental buat berhadapan sama lo lagi. Tapi keadaan makin kacau karena Keynna kayaknya udah ngebulatin keputusannya."
"Kapan?" tanya Arshaka.
"Kapan apa?" tanya balik Keenan tidak mengerti.
"Kapan dia pergi?" tanya Arshaka lebih jelas.
Keenan terdiam sesaat, dan itu membuat Arshaka merasakan kegugupan.
"Malam ini." tandasnya.
Arshaka terkejut, "Apa?"
"Malam ini dia bakal terbang bareng mama. Gue gak ngerti kenapa dia kayak buru-buru gitu padahal perkuliahan aja mulai sebulanan lagi. Dia bahkan belum daftar sama sekali."
"Dia ngehindarin gue?" simpul Arshaka.
Keenan mengendikkan bahu, "Mungkin tapi bisa juga enggak. Keynna emang sayang banget sama nyokap. Ketika orang tua kami mengumumkan bercerai, Keynna langsung milih buat tinggal bareng nyokap sekalipun harus pindah ke Amerika. Dan kayaknya kali ini juga sama."
Arshaka diam. Hatinya bergemuruh dalam keterdiaman itu. Mengetahui bahwa Keynna akan pergi lagi.
"Sejujurnya, gue agak gak setuju kalau Keynna ikut ke luar negeri. Maksud gue, masih banyak kok kampus yang bagus di Indo. Temen-temennya juga disini. Dan kalau dia kuliah disana, dia mesti beradaptasi lagi. Meski dia udah pernah tinggal di Amerika selama 2 taun, tapi dia kan tinggalnya di Las Vegas bukan New York. Jadi entah gue bisa ngomong ini ke lo apa enggak, tapi gue minta bantuan lo buat bujuk Keynna buat gak pergi."
"Kenapa gak lo sendiri yang bujuk?" tanya Arshaka.
Keenan mendesah, "Gue gak akan minta tolong sama lo kalau gue sanggup. Percaya gak percaya, Keynna adalah tipikal adek paling jahanam yang ada di muka bumi."
Arshaka tersenyum tipis.
"Tapi kalau lo aja, Keynna masih bergeming. Apalagi gue?"
Keenan berdecak, "Masalahnya itu kalau Keynna pergi sekarang, dia belum tentu bakalan balik."
"Maksud lo?"
"Nyokap gue sebenernya udah ada wacana kalau dia mau tinggal di Amerika. Dan gue takutnya Keynna sama. Gue takut Keynna juga bakalan menetap disana."
Arshaka terkejut. Dia langsung berdiri tegak.
"Kenapa lo gak bilang dari tadi?!" serunya. Tanpa kata, Arshaka langsung berlari keluar perpustakaan.
Keenan cengo karena dibentak Arshaka, "Perasaan gue udah ngomong deh."
***
Beberapa jam sebelum penerbangannya, Keynna menyempatkan diri mengunjungi papanya lagi. Bukan untuk bertengkar lagi melainkan untuk meminta maaf.
Begitu Keynna sampai, langsung terlihat papanya, Reon dengan Linda serta putra mereka, Jefrey. Mereka tengah makan siang bersama di halaman rumah. Pemandangan itu membuat Keynna terpaku dan tak sanggup mendekat. Dalam matanya, pemandangan yang tengah dia saksikan adalah gambaran hangat keluarga kecil yang selalu dia dambakan ingin terulang kembali.
Tapi semuanya telah berubah. Karena yang duduk dengan papanya dan sambil bersenda gurau bukanlah dia, mama dan Keenan lagi.
"Non Keynna, kenapa diam saja disitu?" suara teguran dari pembantu rumah papanya membuat Linda, Reon dan anak mereka menoleh ke arah Keynna.
Nampak raut terkejut terlukis di wajah Reon dan Linda.
"Keynna?" seru Reon terkejut. Lelaki paruh baya itu jelas terkejut mendapati putrinya mengunjunginya kembali setelah tak berbicara lagi semenjak insiden itu.
"Sini, Nak. Kamu udah makan siang?" tanya Reon masih hangat seperti dulu.
Keynna dengan canggung berjalan mendekat. Jelas, semenjak kejadian itu, hubungan diantara keduanya merenggang. Ada jarak tak kasat mata antara keduanya.
"Udah makan, Key?" tanya Reon lagi.
Keynna mengangguk.
"Ada yang mau aku sampaikan." ucap Keynna canggung.
"Yuk, duduk dulu."
Keynna menggeleng, "Berdiri aja. Aku cuma sebentar."
Baik Reon maupun Linda berhenti makan dan menanti apa yang akan dibicarakan Keynna.
"Apa yang mau kamu sampaikan, Key?" tanya Reon.
Keynna terdiam sebentar lalu tiba-tiba berlutut. Reon dan Linda terkejut.
"Ada apa ini, Key? Kenapa kamu berlutut? Bangun, Nak." seru Reon.
Keynna menggeleng.
"Aku minta maaf, Pa."
Reon terdiam. Tak percaya bahwa kalimat yang pertama kali keluar dari mulut putrinya adalah permintaan maaf.
"Key..."
"Aku minta maaf atas kedurhakaan aku selama ini ke papa. Sebagai anak, aku gak seharusnya menghakimi papa gitu aja. Hanya karena mama menderita dan sedih karena papa, aku jadi benci sama papa. Padahal papa adalah papaku. Sebagai anak, aku gak boleh ngebenci pahlawan super aku." Mata Keynna memerah.
"Aku akui, saat ini aku emang masih belum nerima sama semuanya. Dan aku emang gak pernah siap menyadari bahwa semua hal yang selalu kita lakuin sebagai keluarga udah gak ada lagi. Tapi bukan berarti aku benci papa dan sampai harus mutusin hubungan sama papa. Saat itu aku kecewa berat sama papa. Asal papa tahu, mama gak kayak papa yang bisa lupain semuanya dan melanjutkan hidupnya yang baru. Dan mungkin karena itulah, kebencian aku ke papa makin besar. Tapi kini aku sadar, pa. Aku gak seharusnya kayak gitu. Aku minta maaf." Keynna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya sudah di pelupuk mata.
"Key..." Reon terduduk dihadapan Keynna.
Keynna mendongak. Matanya bertemu dengan mata hangat Reon. Keynna sebisa mungkin untuk tak menangis. Dan sebaliknya, dia tersenyum lebar.
"Jaga diri papa baik-baik dan jaga keluarga kecil papa. Jangan sampai, Jefrey alamin apa yang pernah aku sama Keenan alamin. Percayalah, gak ada anak di muka bumi ini yang mau orangtuanya berpisah. Semuanya menginginkan keluarga yang lengkap dan harmonis."
"Keynna, maafin papa." Reon tiba-tiba memeluk Keynna. Keynna menegang.
Dan saat itu juga air mata Keynna tumpah di pelukan sang papa. Pelukan yang tak pernah dia rasakan lagi sejak 2 tahun yang lalu.
Dan rasanya masih sama nyamannya.
"Maafin papa, Key. Karena udah buat kamu jadi anak broken home. Maafin papa, Nak karena gak bisa jaga keluarga kita. Maafin papa, Keynna." isak Reon.
Keynna tak menjawab. Masih terus menangis. Air mata yang jatuh berlinang di pundak sang papalah saksi bisu bagaimana perasaan terpendam Keynna selama ini.
__ADS_1
Dia memang pura-pura kuat dan banyak bersikap gila. Itu karena dia hanya tak mau orang lain melihat kelemahannya. Dia tak mau orang lain tahu bahwa dia memiliki cacat.
"Maafin aku juga pa." isak Keynna membalas pelukan sang papa dengan erat.
Setelah berpelukan dengan Reon, Keynna bangkit dan menatap Linda dengan mata sembabnya. Linda nampak menunduk.
"Maafin gue yang gak bisa dateng ke nikahan kalian. Meski begitu, gue do'ain yang terbaik buat rumah tangga kalian. Tapi gue juga minta maaf kalau gue gak bakalan panggil lo dengan sebutan mama. Karena bagi gue, mama gue cuma satu yaitu ibu kandung gue sendiri."
Linda terdiam.
Setelah itu Keynna beralih pada adik tirinya itu. Baru disadari Keynna, bahwa Jefrey terlihat amat mirip dengan Keenan sewaktu kecil.
Keynna tersenyum kecil. Dia mengelus surai Jefrey yang membuat Jefrey sedikit tidak nyaman.
Tapi meski begitu, mata bulat bocah lelaki itu menatap Keynna dengan dalam-dalam.
"Lo emang mirip sama Keenan. Dan gue yakin lo pasti jadi cakep kalau udah gede. Tapi gue harap lo cuma mewarisi ketampanan papa sama kepintarannya aja, enggak sama sifat gilanya. Kalau enggak, Keenan bakal tersisihkan karena dia udah kalah gilanya."kekeh Keynna.
Setelah puas mengatakan itu semua. Keynna menatap Reon kembali.
"Aku mau ke luar negeri sama mama. Sekalian ngampus juga disana." beritahunya.
"Tapi kamu bakal pulang setiap summer, kan?" tanya Reon penuh harap.
Keynna hanya tersenyum.
"Key..."
"Pa, aku udah mutusin kalau aku kerasan disana, aku bakalan menetap disana."
Reon terkejut, "Itu berarti kamu gak akan pulang ke Indonesia?"
Dengan senyuman manis, Keynna menganggukkan kepala.
***
Maaf nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan cobalah beberapa saat lagi.
Sudah puluhan telfon dari Arshaka, tapi Keynna tak menjawabnya satu kalipun.
Arshaka sudah mencarinya kemana-mana. Ke rumahnya, rumah Lisa, sekolah bahkan rumah pohon. Dia bahkan sudah datang ke rumah papa Keynna, Reon. Tapi Reon bilang, bahwa Keynna memang datang ke rumahnya taoi sudah pulang.
Namun ucapan Reon setelahnya membuat Arshaka kembali ketakutan.
"Keynna minta maaf sama om sama mau pamitan. Katanya dia akan pergi ke luar negeri bareng mamanya. Dan kalau dia kerasan disana, dia bakalan menetap selamanya."
Karena perkataan Reon itulah, Arshaka hampir mengubek-ubek Bandung hanya untuk mencari keberadaan Keynna. Tapi Keynna tak ditemukan dimanapun. Arshaka sudah amat frustasi.
Drrt
Ponsel Arshaka bergetar. Arshaka yang tengah istirahat di salah satu kafe dengan penuh harapan berharap itu adalah telfon dari Keynna.
Namun ternyata bukan Keynna yang menelfon, melainkan Keenan. Entah bagaimana cowok itu bisa mendapatkan nomornya.
"Halo." ucap Arshaka.
"Arshaka, lo udah ketemu sama Keynna?"
"Belum." jawab Arshaka lesu.
"Penerbangannya bentar lagi. Lebih baik langsung ke bandara aja. Siapa tau Keynna ada disana."
"Lo sendiri dimana? Gak ngikut anter?"
"Gue dipanggil dosen buat ke rumahnya sejak sore tadi. Lagian gue udah pamitan sama nyokap."
"Oke, gue harap lo ketemu sama Keynna sebelum waktunya."
"Thanks, Keenan."
Hening sesaat disana, mungkin karena cowok penyuka kerupuk udang itu terkejut. Tak menyangka akan mendengar ucapan terima kasih dari Arshaka.
"Sama-sama."
***
Keynna Pov
Setelah gue ke rumah bokap, gue gak lantas langsung cabut ke bandara. Menunggu sekitar dua jam duduk di kursi bawah pohon beringin di daerah Lembang. Jauh banget kan? Sengaja, biar gak ketemu Arshaka.
Ada banyak pemikiran yang menyusup ke otak gue. Sebagian besarnya adalah karena Arshaka. Entah kenapa, sebagian hati gue berat buat ninggalin dia.
Bagi gue, LDR bukanlah masalah besar. Tapi dalam hubungan gue sama Arshaka, kami jelas gak pacaran dan jelas gak perlu LDR.
Tapi gue harus berani. Berani mengambil resiko. Berani memulai untuk mengejar kebahagiaan gue sendiri. Iya, hanya gue sendiri. Gak perlu ngelibatin orang lain lagi.
Jadi jelas kan? Apa yang udah gue putusin? Soal Arshaka dan semuanya.
Drrt
Ponsel gue berbunyi. Itu dari mama. Kebetulan sebelumnya gue sengaja aktifin mode pesawat agar gak ada orang yang nelfon gue.
Gue juga tau, ada puluhan telfon tidak terjawab dari seorang lelaki pemilik senyuman maha manis bernama Arshaka.
"Dimana Key? Penerbangannya bentar lagi nih."
"Iya, ma. Aku jalan ke bandara sekarang."
Meninggalkan perasaang gundah, akhirnya gue beranjak bangun. Menarik koper gue menuju Bandara Internasional Husein Sastranegara.
Sesampainya disana, mama ternyata udah nunggu gue di ruang tunggu. Dia berkacak pinggang ketika gue mendekat.
"Keynna! Kemana aja sih kamu? Mau pergi juga malah ngilang." omel mama.
Gue hanya terdiam. Jelas, gue gak punya tenaga buat sekedar senyum.
"Mama mau beli minuman dulu. Haus." ucap mama.
"Kan didalem juga ada, ma." tukas gue. Buang-buang uang sama energi aja ya kan.
"Terserah mama lah." katanya sambil lalu.
Gue mendengus sebal. Akhirnya sembari menunggu mama, gue duduk di ruang tunggu.
Gue membuka ponsel gue, ada deretan pesan dari temen-temen gue. Mulai dari Lisa, Raffa, Panji bahkan Regan yang sekarang lagi di Belanda. Kalau Arshaka jangan ditanya lagi, pesannya yang paling banyak.
Rata-rata pesan mereka sama. Menanyakan kebenaran gue yang pergi ke luar negeri. Lisa bahkan sampai mengumpat karena gue gak bilang-bilang dan malah langsung pergi.
Gue
Gue minta maaf ya gak bilang sama lo dulu. Bukannya gue egois dan gak mikirin persahabatan kita cuma saat itu mendadak banget. Gue minta maaf ya. Oh ya, lo juga gak perlu anter gue. Gue usahain pulang tiap libur semester. Atau kalau enggak, lo kesini aja. Gue kenalin sama bule.
Setelah membalas pesan Lisa, gue juga ngebalas pesan dari yang lainnya kecuali Arshaka. Setelah itu, gue mematikan ponsel gue.
Tap tap
"Keynna."
__ADS_1
Saat itu gue lagi menunduk lesu tapi berkat suara gak asing itu, kepala gue mendongak. Gue kaget banget ngeliat ada Arshaka berdiri dihadapan gue saat ini.
"Saka." ucap gue.
"Jangan pergi." kata dia. Gue mengernyitkan dahi.
"Kenapa?" tanya gue.
"Jangan pergi. Gue mohon tetep disini. Di samping gue." ucapannya sungguh menohok hati gue karena dia mengucapkannya dengan nada penuh memelas.
Tapi sayangnya, gue bukan tipe orang yang suka berubah-ubah. Sekali gue memutuskan, maka itu akan jadi keputusan final buat gue.
"Gue gak bisa." termasuk permintaan Arshaka, gue juga menolaknya.
"Kenapa, Key? Lo beneran pergi karena gue? Gue udah baikan sama abang lo. Dan gue emang awalnya sempet marah karena lo adalah adeknya Keenan tapi sekarang udah enggak, Key." jelasnya.
Gue tetap menggeleng, "Kepergian gue bukan karena lo atau siapapun. Tapi karena gue sendiri."
"Kenapa, Key? Kenapa lo gak mau tinggal?"
"Gue sadar, ada banyak peristiwa yang nyadarin gue kalau kebahagiaan diri sendiri itu penting. Gue udah coba buat ngeikhlasin papa gue menikah sama orang baru yang sudah dia cintai. Gue juga udah ikhlas Anna pergi dari bumi. Dan gue juga udah ikhlas sama masalah kita 2 tahun yang lalu."
"Saat itu gue bego banget, Key. Gue gak bisa kontrol emosi gue. Gue minta maaf." ucap Arshaka sungguh-sungguh.
"Gue yang minta putus, kenapa lo yang minta maaf? Lagian itu juga udah lalu. Gak perlu dibahas lagi."
Arshaka memegang kedua tangan gue, "Jadi Key, gue mohon tetap tinggal disini. Disamping gue sekali lagi. Gue janji akan buat lo bahagia sampai lo enggan ninggalin bumi." pinta Arshaka.
"Ada yang belum gue sampaikan ke lo."
"Apa itu?"
"Yaitu gue juga sayang sama lo. Gue sadar kalau rasa itu gak pernah hilang. Meski rasa itu sudah ternoda karena luka, gue rela jadi masokis asal bisa terus nikmatin rasa sayang gue ke lo."
Arshaka bisa gue liat tersenyum senang dan lega. Mungkin karena dia tau kalau perasaan gue juga masih sama ke dia.
"Jadi lo masih mau jadi pacar gue lagi kan?" tanyanya penuh harap.
Masih tetap mempertahankan senyum, gue menggeleng. Raut Arshaka berubah.
"Kenapa, Key?" tanyanya dengan kecewa. Entah kenapa gue ngerasa semakin kesini, Arshaka makin ekspresif.
"Gue jadi keinget sama kata-kata Dilan di bukunya." Novel Dilan memang novel favorit gue sepanjang masa. Karena Dilan bener-bener ngingetin gue sama Arshaka. Bukan karena tindakan dan kepribadian mereka sama. Melainkan karena cara mereka dalam memahami cinta untuk ceweknya benar-benar tulus dan romantis.
Dilan dan Milea mungkin pakai motor CB 100 yang menjadi adegan paling romantis buat kencan di masanya. Tapi gue dan Arshaka lebih suka boncengan di sepeda sambil jajan cimol.
"Dulu, aku merasa aku akan selamanya denganmu ketika ketawa bersama-sama. Dulu, aku merasa aku akan selamanya denganmu ketika mendengar suara nafasmu saat berbicara di telfon hingga larut malam. Dulu, aku merasa, aku akan selamanya denganmu ketika kepalamu kau sandarkan di bahuku bersama aneka macam bahan-bahan asmara. Dulu, aku merasa, aku akan selamanya denganmu, ketika merasakan kesenangan bersamamu di atas motor dengan angin di rambutmu. Dulu, segala sesuatu tampak indah. Sama sekali aku tidak pernah berfikir bahwa akhirnya kita harus berpisah."
Sepenggalan kalimat dari Dilan yang sudah cukup melukiskan perasaan gue saat ini.
"Tapi seberapa keras gue cari alasan kenapa gue harus tinggal, gak pernah gue temukan. Rasanya kosong ketika gue berusaha bersikap biasa aja dan coba ngubah keputusan gue. Rasanya hambar dan gak nyaman. Seakan-akan gue udah gak punya tempat di Bandung lagi. Dan gue berfikir saat itu, kalau gue kayaknya harus coba main lebih jauh. Siapa tau gue bisa dapet kebahagiaan yang baru."
Arshaka nampak mematung mendengar ucapan panjang bin lebar gue.
"Jadi gue bukan lagi alasan kebahagiaan lo?" lirihnya.
Gue gak tau harus jawab apa. Sebagian hati gue berkata tidak namun sebagiannya berkata ya. Entah kenapa, tapi hati gue kayaknya gak punya tempat untuk Arshaka lagi.
"Gue sayang sama lo tapi gue gak bisa sama lo." tandas gue.
"Gue gak punya kesempatan lagi, Key?" harapnya nyaris putus asa.
Gue terdiam. Sejujurnya, gue juga sedang berusaha. Mencari sisa-sisa kepingan hati gue buat Arshaka.
Tapi pada akhirnya gue menggeleng, "Enggak, buat sekarang."
Arshaka jelas kecewa dan sedih.
"Alasan lo masih abu-abu, Key." ucapnya.
Gue juga gak tau. Jujur, gue gak tau alasan apa yang bisa ngegambarin apa yang gue rasain. Gue gak pintar mengolah kata. Gue membiarkan semuanya mengalir sesuai aoa mau hati gue.
"Intinya, gue cuma mau nemenin mama disana. Sambil gue mencari jati diri gue sendiri. Gue sadar banget, setahunan ini gue sama sekali gak dewasa. Ada banyak kebencian, kesedihan, kekecewaan dan kemarahan yang bersarang di hati gue. Dan gue sejujurnya jengah dengan kehidupan gue saat ini. Gue pengen cari hobi baru, cari suasana baru sampai gue bisa tumbuh lebih dewasa."
Tak lama, pengumuman keberangkatan pesawat yang bakal gue tumpangi terdengar. Nyokap melintas dihadapan kamu tapi dia hanya tersenyum kecil dan berjalan duluan.
Gue melepaskan tangan Arshaka perlahan, Arshaka mencoba menahannya. Tapi tak cukup kuat.
"Gue pergi ya Saka. Jaga diri lo baik-baik." pamit gue. Saat pamitan, gue bahkan gak nangis sama sekali meski gak memungkiri hati gue sakit.
Arshaka akhirnya mengangguk pelan. Cowok itu meski terpukul tapi kayaknya mulai menerima keputusan gue.
"Gue hargai keputusan lo. Semoga lo baik-baik disana dan dapetin kebahagiaan lo secepetnya. Lo bener, kebahagiaan diri sendiri jauh lebih penting." ucapnya tegar.
Gue tersenyum sambil mengangguk.
"Bye, Saka."
Gue akhirnya berbalik pergi. Berjalan memunggunginya menuju tempat harapan baru gue. Arshaka tak membalas ucapan salam perpisahan gue.
Selangkah demi selangkah gue menjauh dari tempatnya berdiri. Tapi sebelum gue benar-benar masuk ke pintu keberangkata, gue menoleh kembali. Arshaka masih berdiri setia disana.
"Arshaka!" teriak gue.
Arshaka mendongak, menatap gue.
Gue tersenyum lebar, "Musim dingin di New York dingin banget lho. Kalau mau dateng di malam tahun baru, pastiin ke Central Park dulu ya!"
Gue gak perlu mendengar tanggapan Arshaka, setelah mengatakan itu gue langsung berbalik kembali. Kini berjalan dengan langkah lebih ringan menuju pesawat yang gue tumpangi.
Gue duduk di kursi samping mama. Di samping jendela.
"Kamu udahan sama Arshaka?" tanya mama.
"Aku gak pacaran sama dia, udahan kayak gimana?" tanya gue balik.
"Kalau gitu, gak akan pacaran?"
Gue hanya tersenyum tak menanggapi. Dan lebih memilih menatap aspal landasan lewat jendela pesawat.
"Kalau gitu, gak akan pacaran?"
Gue tersenyum, "Dia itu cowok dingin mantan gue."
...-----...
Yap, karya ini tamat gaess, beneran udah tamat😭
Terima kasih ya yang sudah mencintai karya ini dan selalu setia menunggu update an. Aku minta maaf karena sering ngaret dan jadwal update yang gak tentu🙏😭 Semoga kalian gak kecewa ya sama endingnya, huhu.
Terima kasih atas yang sudah like, vote dan komentar. Terima kasih juga yang sudah memasukkan karya ini ke rak favoritnya😉
Maaf ya karena cerita ini masih amburadul dan gak nyambung alurnya🙏 Semoga kalian memakluminya.
So, sampai jumpa di karya berikutnya yaa👋💖
Salam,
__ADS_1
Dari Arshaka, si arca batu😉