
Sesuai janji Arshaka, kini Keynna berhadapan dengan perempuan bernama Kaina. Mereka bertiga bertemu di salah satu restoran privat di kawasan Ancol. Keina jelas tak tahu, perempuan itu tahunya Arshaka tengah pergi bekerja.
"Key, ini Kaina. Cewek yang gue ceritain ke Lo. Kaina, ini Keynna. Btw, nama kalian hampir mirip ya." ucap Arshaka memperkenalkan keduanya.
"Keynna emang punya banyak kesamaan ya sama Keina. Pantas, kamu gak bisa move on." celetuk Kaina.
Keynna dan Arshaka saling berpandangan. "Kai, gue gak cinta sama adek Lo." ralat Arshaka.
Kaina tersenyum, "Iya tau. Aku cuma becanda."
Kemudian Kaina mulai berbicara serius. "Kita harus hentikan Keina sebelum semuanya terlambat." ucapnya.
"Keina emang belum lakuin apa-apa. Tapi bisa jadi di kemudian hari, dia akan mulai nekad. Kebenciannya pada papa kamu bener-bener besar, Saka." lanjutnya dengan kata tersirat penuh kekhawatiran.
"Tunggu, tapi kenapa Lo malah ngelindungin Saka? Keina adik Lo." celetuk Keynna bingung.
Kaina tersenyum, "Dia adikku, dan sebagai kakaknya aku mesti menjaganya dari hal yang tidak baik."
Keynna mengangguk mengerti. Dia merasa bahwa perempuan ini adalah orang baik terlihat dalam tutur katanya yang lembut dan sopan. Berbeda dengan Keina, dia kurang ajar sekali.
"Tapi bagaimana kalian bisa ketemu?" tanya Keynna. Dia tak tahan ingin bertanya sejak tadi karena penasaran.
"Lo pasti bingung, gue ceritain dari awal ya." ucap Arshaka.
Flashback On
Setahun yang lalu saat hubungan Keina dan Arshaka semakin dekat, mereka berlibur ke Lombok bersama. Sebetulnya hanya Arshaka dan kedua temannya, Raffa dan Panji namun tiba-tiba Keina menyusul dengan dalih dirinya ada pekerjaan juga.
Malam terakhir mereka di Lombok, Keina tiba-tiba datang mengunjungi mereka di resort. Arshaka sendiri terkejut karena pasalnya dirinya sama sekali tak tahu bahwa Keina akan datang. Dirinya bingung darimana Keina bisa mengetahui alamat penginapan mereka di hari itu. Malam itu pun dihabiskan dengan mereka berempat melakukan barbeque. Meski Keina adalah tamu tak diundang, namun statusnya yang merupakan pacar Arshaka membuat Panji dan Raffa juga menghargai keberadaannya.
"Guys, aku bawa wine." ucap Keina pada ketiga lelaki tersebut.
Arshaka menaikkan satu alisnya, "Darimana Lo dapet wine?" tanyanya.
"Iya, Kei. Gue kira Lo cewek polos yang gatau wine." timpal Raffa cengo.
Keina tersenyum simpul, "Ini bukan dari aku kok. Dari klien interview aku. Karena aku belum pernah minum jadi aku bawa ke kalian aja deh. Kalian pasti pernah nyobain kan." jawab Kiena.
"Yaudah, yuk buka gelas. Gak boleh tidur sebelum abis!" seru Raffa girang.
Mereka pun mulai menikmati sebotol wine tersebut sembari bermain game. Tak terasa satu jam berlalu dan wine tersebut sudah mulai habis. Raffa dan Panji sudah mabuk duluan. Arshaka masih setengah sadar dan Kiena sama sekali tak menyentuh wine setetespun jadi dirinya masih seratus persen sadar.
"Eh-eh Lo tau gak, Arsya pernah bilang ke gue, kalau Saka itu cabul? Dia pernah mergokin Saka nyuri cangcut anak tetangga pas SD!" celetuk Raffa dengan suara seungau khas mabuk. Kebiasaan cowok itu kalau mabuk memang suka melantur tak jelas. Semua aib dia atau teman-temannya terkadang diungkapkan cowok gila itu saat mabuk.
Panji menampol kepala Raffa dengan excited. "Eh Lo juga bukannya pernah ngintipin Bu Marni pas beliau pipis kan? Gue inget banget malemnya Lo langsung mimpi basah." sahut Panji menceritakan aib Raffa tanpa malu.
"Setan Lo! Gak inget ya Lo juga pernah narik tali kutangnya si Tasya gegara Lo suka sama dia!" timpal Raffa.
Keina menggaruk lehernya, dia merasa pening karena pembicaraan kedua lelaki gila itu mulai menjurus ke hal-hal dewasa.
Tubuh Panji sepenuhnya menghadap Raffa yang berada di sampingnya, bersiap melanjutkan pembicaraan lagi. "Eh, Lo tau ga kalau misalnya kita mainin pen--"
Arshaka langsung menutup mulut tak senonoh Panji, seakan tau apa yang hendak diomongkan temannya itu.
"Udah, jangan ngomong lagi." titah Arshaka.
Panji mengecup punggung tangan Arshaka yang masih menutup mulutnya, "Ah, sayangku,"
__ADS_1
Arshaka berdecak jijik, dia langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Panji dan seketika menampol kepalanya.
"Ah sakit," rengek Panji manja. Arshaka jijik mendengarnya.
"Lo ke kamar duluan aja ya, gue mau anter kedua bocah sinting ini ke kamar. Kunci kamarnya, jangan buka kalau bukan gue yang ngetuk." pesan Arshaka.
"Tapi kamu gak mabuk?" tanya Keina bingung. Pasalnya lelaki itu juga minum beberapa gelas namun kondisinya tidak sekolaps kedua temannya yang kini bahkan sudah tak sadarkan diri sembari sesekali meracau tak jelas.
"Gue baik-baik aja. Udah sana ke kamar."
Keina menganggukan kepalanya. Perempuan itu lantas pergi.
Selang satu jam, Arshaka kembali ke kamarnya. Dia mengetuk pintu beberapa kali kemudian terdengar suara kunci terputar, sepertinya Keina mendengarkan sarannya. Perempuan itu bahkan menguncinya manual.
"Yuk masuk." ajak Keina membukakan pintu.
Arshaka masuk diikuti Keina. Arshaka lekas saja masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya sekaligus berganti baju. Dia tak nyaman harus tidur dengan badan masih bau alkohol.
Di sisi lain, Keina menyiapkan teh melati untuk kekasihnya itu. Namun sebuah bungkusan putih berisi serbuk tak dikenal juga ikut dimasukkan ke dalam gelas. Ikut terlarut.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok maskulin Arshaka dalam balutan kimono. Lelaki itu nampak terkejut, seakan baru menyadari ada orang lain di kamarnya. Keina menatapnya dengan salah tingkah.
"Euu itu anu gue lupa baju gue udah di pack di koper. Gue lupa kalau ada lo." jelas Arshaka nampak tak enak hati.
Keina menyelipkan helai rambutnya, nampak masih bersemu merah pipi mulusnya. "Iiya gapapa kok. Apa aku perlu keluar dulu selagi kamu ganti baju?" tawarnya.
Arshaka menggeleng, "Udah disini aja, lagian udah tengah malam. Bahaya kalau masih di luar. Ini bukan lorong hotel tapi kawasan villa. Gue takut ada orang jahat."
Usai mengatakan itu, lelaki itu masuk kembali ke kamar mandi, berganti baju. Tak lama, kembali keluar. Kini sudah berpakaian lengkap.
Arshaka meminum teh itu seteguk. Rasa hangat langsung membanjiri kerongkongannya yang terasa tertusuk oleh duri tak kasat mata.
"Kamu seriusan okey? tadi kamu minum banyak."
Perempuan itu mendekat pada Arshaka, duduk beringsut di samping lelaki itu yang sudah menghabiskan tehnya. Keina tersenyum.
"Gue gak apa-apa. Gue udah biasa minum sejak beberapa tahun yang lalu."
"Emang gak bahaya ya kalau biasa minum?"
"Jangan sering aja. Gue minum kalau lagi stress aja."
Keina mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian menatap Arshaka yang nampak memijit pelipisnya.
"Kenapa?" tanya Keina khawatir.
"Gak tau tiba-tiba pusing." jawab Arshaka. Kepalanya entah kenapa mendadak pening. Tubuhnya bahkan terasa berat sekarang.
"Kayaknya itu efek kamu minum deh. Yuk aku bantu kamu tiduran aja ya." Keina memapah Arshaka menuju tempat tidur.
Usai Arshaka merebahkan dirinya, Keina duduk di tepi ranjang. Perempuan itu menatap Arshaka dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Arshaka, apa arti seorang perempuan buat kamu?" tanyanya tiba-tiba.
"Manusia yang harus dicintai dan dihargai." Arshaka yang dilanda pusing menjawab seadanya meski dengan raut bingung.
__ADS_1
"Lantas, kenapa papamu gak melakukan itu ke mamaku? Apakah dia tidak menganggapnya sebagai seorang perempuan?"
Arshaka hendak menjawab namun pandangan matanya tiba-tiba mengabur. Dia kehilangan kesadaran saat itu juga.
FLASHBACK OFF
"Jadi?" tanya Keynna masih mengganjal.
"Yang gue tau dari cerita Kai, Keina coba nyekik gue saat gue pingsan itu ah lebih tepatnya itu obat tidur. Dia ngasih obat tidur ke minuman gue."
"Tapi kenapa? Buat apa?" Keynna masih tidak mengerti.
"Karena dia mau bunuh gue, Key. Seperti saat dia berhasil bunuh abang gue. Dia gagal sama wine, karena itu gak bikin gue mabuk dan hilang kesadaran jadi dia gunain cara lain." papar Arshaka.
"Setelah itu aku ketemu Arshaka saat dia dirawat di rumah sakit. Keina menghilang usai kejadian itu selama satu minggu. Disitulah aku memperkenalkan diri pada Arshaka dan mengungkapkan semuanya." lanjut Kaina.
"Tuh cewek selain gila emang sadis ya!" celetuk Keynna tak habis fikir.
Sedetik kemudian, Keynna menyadari bahwa ada Kaina, kakak Keina. Dia menatap tak enak pada Kaina karena sudah menjelek-jelekkan adiknya tanpa sadar. "Sorry Kai, gue gak bermaksud. Mulut gue emang suka gak kekontrol."
"Gapapa, aku ngerti. Aku justru ngerasa bersalah atas perbuatan adikku pada keluargamu terutama abangmu. Karena Keina, Arsya harus kehilangan nyawanya." ucap perempuan itu menyesal.
Arshaka menghembuskan nafasnya berat, "Gue udah maafin tapi sorry Kai, seperti yang gue bilang dulu, gue tetep bawa ini ke jalur hukum. Karena ini bukan kasus biasa, ini udah masuk tindak pembunuhan berencana dan abang gue adalah salah satu orang yang paling gue sayangi."
Kaina mengangguk, Wajahnya nampak lesu.
Keynna merasa simpati pada perempuan itu, dia menyentuh tangan Arshaka menarik atensi pria itu kepadanya.
"Ada apa Key?"
"Menurut gue, lo jangan bahas kayak gitu dulu. Sekarang yang terpenting adalah menghentikan Keina. Gue gak mau kalau lo beneran bisa meninggal di tangan dia."
"Keynna Alsha Iskandar, menurut lo gue siapa? Gue gak mungkin mati ditangan cewek apalagi Keina." balas Arshaka angkuh.
"Aku bukannya ingin meremehkanmu tapi lawanmu adalah Keina. Dia berhasil menghilangkan nyawa kakakmu dan dia pernah melakukan percobaan pembunuhan padamu bukan tak mungkin kalau kamu lengah barang sebentar---" Kaina tak melanjutkan ucapannya.
"Keina punya segala cara buat balasin dendamnya, Saka." lanjut Keynna.
Arshaka terdiam, benar apa yang dikatakan keduanya. Mungkin saat ini Keina masih diam karena sedang menyusun rencana besar menyingkirkannya. "Jadi apa saran Lo?" tanya Arshaka. "Adakah yang bisa dilakukan buat nyingkirin Keina tanpa buat dia sakit hati?"
Kaina terlihat berpikir, dia seperti menimbang haruskah mengatakan hal ini pada Arshaka. Namun rasa sayangnya pada masa depan Keina lebih besar dibanding harga dirinya.
"Aku akan membawa Kaina ke Jerman. Itu adalah kampung halaman ibu kami tapi sebelum itu bisakah kamu sendiri yang membawanya dengan dalih menemanimu perjalanan bisnis? Tinggalkan dia dia kota Frankfruit, kami akan menetap disana."
"Itu kedengaran mudah." komentar Keynna.
"Iya, itu cukup mudah." tandas Arshaka setuju.
****
Usai pertemuan dengan Kaina, Arshaka mengantarkan Keyna pulang ke apartement gadis itu.
"Minum dulu sebelum lo pulang. Itung-itung ongkos." ucap Keynna menyerahkan segelas susu coklat hangat.
"Gue maunya susu langsung dari sumbernya." goda Arshaka.
Keynna melemparkan bantal sofa, "Mesum banget lo, najis!"
__ADS_1
"Gak boleh ngomong kasar. Sejak kapan mantan gue jadi liar gini?" tegur Arshaka tidak suka.