Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
ARA 2


__ADS_3

"Mau kemping bareng?"


Arshaka dan Alfaro kini tengah berada di salah satu taman hutan yang biasa menjadi tempat camp para anak muda. Tenda sudah terpasang begitupun perlengkapan lainnya. Kini mereka sedang duduk-duduk menunggu malam menjelang.


"Lo laper?" tanya Alfaro memecah keheningan.


Arshaka tak menanggapi. Dan itu membuat cowok itu berdecak.


"Gue lupa kalau gue lagi sama orang bisu."


Arshaka mendelik tajam, "Gue gak bisu."


Alfaro tersenyum mengejek, "Kalau gak bisu kenapa diem aja? Atau mulut lo bau ya makanya gak mau ngomong?"


"Sembarangan lo."


Setelah itu mereka kembali terdiam. Alfari mengetuk-ngetukkan kaleng soda ke sandaran kursinya. Nampak ragu dan canggung.


"Gue udah denger kejadian sebenernya. Dan ternyata dugaan gue bener, lo emang brengsek dan pengecut." ucap Alfaro menatap Arshaka.


Arshaka menoleh, "Gue fikir lo mau minta maaf."


Alfaro mendesah, "Gue gak suka sesuatu yang ribet. Dan meskipun gue anak sastra, gue juga lebih percaya fakta."


"Jadi gue minta maafudah salah paham sama lo dan benci lo selama 2 tahun ini." ucap Alfaro tulus.


Arshaka memalingkan wajahnya, mendekatkan telinganya kepada Alfaro.


"Apa? Gak denger." ujar Arshaka.


"Gue minta maaf. Maafin gue!" ulang Alfaro lebih keras.


Arshaka tersentak, "Kuping gue belum tuli ya!" sentaknya.


"Kan lo bego yang gak denger." balas Alfaro gak mau kalah.


Arshaka hanya berdecih. Dia lalu menyiapkan panggangan di atas meja.


"Noh, nyalain." Arshaka melemparkan korek ke pangkuan Alfaro.


Setelah memberi tugas pada Alfaro, Arshaka menghilang ke balik tenda, menyiapkan daging yang akan mereka panggang.


Alfaro terdiam sesaat, lalu mendengus.


"Panggangannya kenapa dipasang duluan!" teriaknya.


"Emang kenapa?" tanya Arshaka balas berteriak.


"Gue gimana bikin apinya!" teriak Alfaro kesal.


Arshaka yang sedang membumbui daging, menyentak baskom berisi daging itu dengan kasar. Dia mengatupkan rahangnya, mencoba mengontrol emosinya gara-gara Alfaro.


"Woy, Saka, gimana nih?!" teriakan Alfaro kembali terdengar.


"TINGGAL DILEPAS AJA!" teriak Arshaka dengan kesal.


Alfaro terperangah. Dia baru sadar.


"Gue lupa, sorry!"


Setelah permintaan maaf karena kecerobohannya itu, Alfaro mulai bekerja. Pertama, dia melepaskan panggangannya lalu menaruhnya di atas tanah. Hanya sedetik sebelum dia mengangkat kembali alat pemanggang itu.


"Gapapa kali ya ditaruh ditanah? Biar sehat." gumamnya. Setelah itu Alfaro kembali menaruhnya di atas tanah.


Alfaro lalu menyalakan api. Setelah api menyala, dia menaruh kembali alat pemanggang ke tempat semula. Bersamaan itu, Arshaka datang membawa sepiring daging sapi yang sudah dibumbui.


"Nih, bakar." titah Arshaka menaruh piring daging itu dengan sedikit melempar.


Alfaro menurut tanpa kata. Dia menaruh satu persatu potongan daging ke atas alat pemanggang. Bau harum langsung tercium.


Mereka terdiam menatap daging yang masih dimasak itu.


"Lo udah gak salah paham lagi?" celetuk Arshaka.


Alfaro menoleh lalu menganggukan kepala.


"Keynna udah jelasin semuanya sama gue."


"Keynna jelasin apa?" tanya Arshaka.


"Semuanya. Soal Risa ternyata gak suka sama lo tapi dia udah punya cowok ternyata dan itu abangnya Keynna. Keynna juga jelasin soal hubungan kalian dan secara gak langsung ngebuat gue sadar kalau gue udah salah paham sama lo selama ini."


Arshaka terdiam.


"Lo udah tau kan?" tanya Alfaro.


Arshaka mengangguk tanpa suara.


"Tapi kenapa rasanya ada yang gak beres sama lo. Jangan bilang lo berantem sama Keynna gara-gara ini." tebak Alfaro tepat sasaran.

__ADS_1


Arshaka kembali diam. Dan Alfaro sudah tahu jawabannya.


"Saka, lo marah sama Keynna karena apaan? Karena abangnya Keynna? Gue denger dari Keynna kalau lo berantem hebat sama abangnya di hari kematian Risa."


Arshaka masih diam. Dan itu membuat Alfaro mulai kesal.


"Jawab gue, brengsek!" seru Alfaro.


Arshaka mendesah pelan, dia menoleh pada Alfaro.


"Lo bener." jawabnya.


Alfaro mengernyitkan keningnya, "Bener apaan?"


"Ya lo bener. Gue marah sama Keynna karena tau kalau dia sama si brengsek itu saudaraan. Gue gak sudi ketemu dia lagi." desis Arshaka.


"Kalau lo gak sudi ketemu abangnya ya jangan ketemu. Urusan lo udah beres sama Keenan."


Arshaka menatap sengit, "Apa yang udah beres? Karena udah 2 tahun?" sarkasnya. "Bagi gue, insiden itu tetap membekas di ingatan gue, dan gue jelas nyalahin si bangsat itu. Gara-gara dia, Risa meregang nyawanya."


"Apa maksud lo?"


"Lo tau? andai si brengsek itu nemenin Risa saat sakit, selalu ada buat Risa dan gak bikin Risa sedih terus, gue juga gak bakalan kayak gini. Gara-gara keegoisan dan ketidakpedulian dia, bukan cuma gue dan Risa yang jadi korban. Tapi adeknya juga. Gue juga putus gara-gara dia!"


Alfaro terdiam, rasanya ada yang tidak beres.


"Tunggu, kayaknya lo juga salah paham soal ini." sela Alfaro.


"Salah paham apa? Yang disini salah paham itu lo." tukas Arshaka.


Dahi Alfaro mengernyit, "Keynna bilang ke gue, kalau saat itu orang tuanya bercerai setelah 20 tahun bersama. Saat itu kondisi keluarganya kacau. Dia bilang, abangnya sering keluyuraan buat hilangin rasa sakit hatinya. Keynna juga berantakan saat itu tapi lo sebagai pacarnya gak pernah ada saat dia lagi di titik terendah."


Arshaka mematung, "Bercerai?"


Alfaro mengangguk, "Lo gak tau kalau bokap nyokapnya cerai?"


"Gue tau tapi gue gak nyangka waktunya saat itu." aku Arshaka.


Alfaro menganga, "Kayaknya ini cuma kesalahpahaman aja. Maksud gue, siapa sih anak yang gak kacau ngeliat keluarganya berantakan? Gue bukannya mau ngebela Keenan tapi Keynna juga bilang sendiri, dia putus sama lo karena lo gak ada sama dia."


"Jadi masalah sebenernya gini. Orang tua Keynna dan Keenan bercerai. Keynna dan Keenan ngerasa kacau dan sedih. Keenan melampiaskannya dengan main-main tanpa tahu kalau dia udah punya cewek. Risa ngerasa sedih, akhirnya lo yang nemenin dia dan berarti Keynna yang saat itu berstatus cewek lo ngerasa kecewa dan marah terlebih lagi saat itu keluarganya lagi berantakan."


"Rumit banget gak sih?"


Arshaka mengangguk membenarkan, "Gue gak tau harus nyalahin siapa."


"Kita semua salah. Baik lo, gue, Risa, Keynna dan Keenan sama-sama belum dewasa saat itu. Kita terpengaruh sama emosi kita, saling ngebenci dan gak mau saling mengakui kesalahpahaman yang terjadi. Andai kita berlima bisa lebih peka dan jujur sama keadaan, keadaannya gak akan jadi kayak gini."


Arshaka menghembuskan nafas pelan, "Gue tau."


Hening kembali, "ARA?" tanya Alfaro.


Arshaka menatap cowok disampingnya, lalu tersenyum tipis.


"Kekanakkan."


Alfaro terkekeh.


"Eh, dagingnya mateng!" serunya hendak mengambil daging itu.


Arshaka menahannya dengan sumpit, "Punya gue."


Alfaro mendorong bahu Arshaka, "Gue yang liat duluan. Minggir lo."


Arshaka juga mendorong bahu Alfaro, "Lo yang minggir."


Mereka terus saling mendorong, mempeewbutkan sepotong daging yang sudah matang lebih dulu. Tak jarang, pertengkaran kekanak-kanakan mereka diwarnai tawa Alfaro dan dengusan Arshaka.


Malam itu, manis sekali bagi kedua sahabat kecil yang telah pulih dari keadaan.


***


"Ma." panggil Keynna menghampiri mamanya yang duduk di kursi ruang tamu.


Kirana yang sedang membaca buku langsung tersenyum melihat kehadiran putrinya.


"Duduk, Key." ucapnya menepuk tempat diaampingnya.


"Ada apa ma manggil aku?" tanya Keynna begitu duduk.


"Ada yang mau mama sampein ke kamu."


"Apaan ma? Manggis kini ada kulitnya?" canda Keynna.


Kirana memukul pundak Keynna gemas, "Kamu ini kebanyakan makan micin jadi otaknya error."


Keynna hanya menyengir.


"Mama serius, ada yang mau mama kasih tau sama kamu. Mama bakal pindah ke New York."

__ADS_1


Keynna terdiam, "New York? Mau ngapain? Mau nikah sama bule sana?"


Kirana menatap kesal putrinya, "Bukan itu. Kantor mama mindahin mama ke cabang mereka yang ada di New York. Mama akan menjadi direktur baru di perusahaan di New York."


"Berapa lama?" tanya Keynna.


"Sekitar lima tahun. Jadi mama mau tanya sekarang sama kamu. Kamu udah ada rencana mau kuliah dimana?"


Keynna menggeleng, "Enggak."


"Kamu ini ya! SNMPTN bentar lagi loh. Kamu harus buru-buru belajar buat siap-siap. Katakan kamu pengen jadi apa?"


Keynna kembali terdiam. Dia tidak pernag memikirkan ini sebelumnya.


Bug


"Aw, ma!" rengek Keynna ketika Kirana memukul pahanya.


"Jangan bilang, kamu gak punya cita-cita sama sekali?!"


Keynna mendesah, "Bukan gak punya. Tapi belum punya. Tapi kayaknya aku mau jadi pegawai kantoran aja." ujar Keynna asal.


"Kamu gak punya gitu cita-cita kayak jadi dokter, pengacara, jaksa, hakim, diplomat bahkan selebriti?" Keynna menggeleng.


"Yang bener aja Keynna Alsha Iskandar!" seru Kirana terperangah.


"Tapi sebenernya, aku sempet penasaran sama profesi dokter gizi."


"Dokter gizi?" Keynna mengangguk.


"Alasannya?"


"Ya alasannya karena aku penasaran aja gimana cara padun padankan makanan yang tepat. Kayak misal buat diet, terus buat orang yang sakit. Dan kayaknya seru juga kalau kita bisa eksperimen cari resep makanan diet tapi mengenyangkan. Lagipula menurut aku, jadi ahli gizi keren juga." papar Keynna.


Kirana mengangguk-anggukan kepalanya.


"Emang ya, dua anak mama fikirannya unik semua. Abangnya pengen jadi programmer padahal dia kuliah management, sekarang adiknya pengen jadi ahli gizi. Awas aja kamu kalau jurusannya melenceng!"


"Tapi ma, boleh gak kalau kuliahnya gak disini?"


"Maksud kamu, kamu pengen kuliah di luar negeri?" Keynna mengangguk semangat.


"Boleh aja. Mau dimana?"


Keynna tersenyum manis, "Di New York bareng mama."


***


Beberapa hari kemudian, Arshaka yang saat itu sedang berada di perpustakaan kota bertemu Keenan. Nampaknya Keenan sengaja mencarinya dan ingin bertemu.


"Ada yang mau gue sampein sama lo. Lo pinya waktu?" tanya Keenan.


Arshaka terdiam sesaat lalu mengendikkan dagu, "Duduk." titahnya.


Keenan langsung duduk di depan Arshaka. Ekspresinya cukup gugup.


4


"Waktu lo dua menit." tandas Arshaka datar.


Keenan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Gue minta maaf. Gue tau kejadian 2 tahun lalu adalah berawal dari gue. Dan lo gak seharusnya nyalahin Keynna karena dia adek gue. Keynna masih sayang sama lo. Dan gue yakin, lo juga sama."


Arshaka terdiam. Dia sudah tak memiliki minat membaca bukunya lagi. Buku materi SNMPTN itu dia tutup dan taruh di meja.


"Gue sayang banget sama Risa. Andai gue bisa dan sanggup ngalahin emosi gue sendiri karena perceraian bokap nyokap, gue pasti bakal nemenin dia dan selalu ada buat dia. Gak akan pernah gue tinggalin. Tapi gue emang brengsek dan egois. Keegoisan gue bikin dua orang yang gue sayang jadi terluka." lirih Keenan. Dia tersenyum pahit menyadari bahwa kenangan itu masih menyakitkan baginya setelah dua tahun.


Keenan lalu menatap Arshaka dengan tajam, "Gue tau lo gak akan bisa maafin gue. Tapi Keynna beda. Dia gak punya salah apapun disini. Dan seharusnya lo gak berhak ngehakimin dia dan jauhin dia. Do you still love her, kan?"


Arshaka masih tak menanggapi.


"Jadi lo udah gak suka sama adek gue." simpul Keenan pelan.


"Cuma itu yang mau gue omongin sama lo. Gue harap, kita bisa baik-baik lagi. Dan jangan bilang ke Keynna kalau lo udah gak suka sama dia. Gue gak mau dia sedih lagi."


Keenan memaksakan senyumnya, lalu hendak bangkit.


"Gue masih sayang sama Keynna dan akan selalu kayak gitu." Ucapan Arshaka membuat Keenan mengurungkan niatnya. Dia kembali duduk.


Kini Arshaka yang menatap tajam, "Jadi lo gak usah campurim hubungan gue sama Keynna lagi. Hubungan kita cuma baik karena lo abangnya."


Keenan mengangguk lega. "Gue tau."


"Sekarang dimana Keynna?"


Keenan langsung terdiam.


Arshaka mengangkat satu alisnya, "Dimana cewek gue saat ini?"

__ADS_1


Keenan membasahi bibir bawahnya lalu menatap Arshaka cukup ragu, "Keynna.."


__ADS_2