Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Taruhan Lagi?!


__ADS_3

Felly membawa Keynna ke salah satu ruang kelas yang kosong. Felly mendudukannya di salah satu bangku.


"Ada apaan sih?" tanya Keynna setengah kesal.


"Jauhin Arshaka." tandas Felly.


"Tunggu," Keynna tiba-tiba berdiri, "Ini bullying part 3 gitu?"


"Bego! Gue gak ngebully lo. Gue serius. Kalau lo gak mau bikin hubungan Arshaka sama Alfaro makin memanas, mending lo jauhin keduanya terutama Arshaka." jelas Felly serius.


"Kenapa?"


"Lo pernah denger soal Risa, kan?"


Keynna mengangguk.


"Lo juga tau pasti kalau mereka bertiga itu sahabatan dan terjebak cinta segitiga kan?"


Keynna mengangguk. Dia ingat, Alfaro pernah mengatakannya.


"Sebenernya enggak. Risa gak suka sama Arshaka."


Keynna terkejut, "Maksud lo?"


"Yang disukai Risa itu Keenan, abang lo." pungkas Felly.


"APA?" pekik Keynna syok.


***


Keynna berjalan lunglai menuju kelasnya. Pembicaraannya dengan Felly masih berdengung difikirannya.


Flashback On


"Lo serius?" tanya Keynna masih syok dan tak menyangka.


Felly mengangguk, "Sebenernya gue udah tau ini dari awal. Gue mau jelasin tapi masalah salah paham ini makin menjadi. Akhirnya gue gak punya kesempatan buat ngomong."


"Lo tau ini darimana?" tanya Keynna.


"Gue sahabatnya Risa. Bisa dibilang gue sahabat terbaiknya. Dan dia selalu cerita semuanya ke gue. Termasuk soal pacarnya, Keenan. Makanya gue agak kaget pas ketemu abang lo di makan malam waktu itu. Gue gak nyangka gue bisa ketemu sama Keenan dan lebih gak nyangka, kalau kalian saudaraan."


"Jadi yang cowok yang dimaksud Alfaro itu bukan Arshaka tapi Keenan?"


Felly menganggukan kepala.


"Jadi gue mohon sama lo, lo jauhin Arshaka kalau bisa keduanya."


"Tapi kenapa? Masalah ini bukan salah gue."


"Itu karena Arshaka suka sama lo. Alfaro masih dendam sama Arshaka karena dia masih nganggap kalau Arshaka yang nyebabin Risa kecelakaan hingga meninggal. Gue yakin Alfaro pasti gak akan biarin Arshaka buat hidup tenang."


Keynna terdiam. Wajahnya menunjukkan banyak tekanan karena cerita ini.


"Gue fikir, lo benci sama gue. Tapi kenapa lo ceritain ini ke gue?"


Felly mendesah, "Gue gak pernah benci sekalipun sama lo. Alasan gue selalu ngebully orang yang coba deketin Arshaka itu karena gue ngehargain persahabatan mereka. Risa pernah berpesan ke gue buat selalu bikin hubungan mereka baik-baik aja setelah kepergiaannya. Lo bayangin aja, ketika Arshaka dikejar banyak cewek, Alfaro bakal ngerasa emosi. Dia pasti berfikir kalau Arshaka udah ngelupain Risa gitu aja dan malah senang-senang sama cewek yang menggilainya."


"Jadi lo sebenernya orang baik?"


Felly berdecak, "Yaiyalah gue orang baik. Kalau enggak, gue gak mungkin kasih tau lo info sepenting ini."


"Jadi apa yang harus gue lakuin?" tanya Keynna.


"Jauhin Arshaka. Jangan biarin hubungan mereka makin merenggang. Gue gak mau kalau insiden 2 tahun lalu kembali terulang."


Flashback Off


"Woy, Keynna!"


Keynna berjengit kaget. Dia menoleh kesal pada Lisa yang mengagetkannya.


"Ngelamun mulu lo, ntar kesambet!"


"Gue masih punya iman, gak kayak lo." balas Keynna datar. Dia langsung duduk di kursinya.


"Sialan lo. Gini-gini gue juga masih taat ya." cebik Lisa.


Lisa menghampiri tempat duduk Keynna lalu duduk di depan Keynna.


"Eh, lo bakal jelasin sama Arshaka kan?"


"Jelasin apaan?"


"Soal pengakuan cinta itu. Lo bilang lo nyesel nolak."


"Kapan gue bilang gitu?"


"Gak perlu pake omongan juga gue udah tau. Dari raut lo yang nelangsa setelah nolak Arshaka juga udah gue tau gimana perasaan lo yang sesungguhnya."


"Sok tau lo." ketus Keynna.


"Jadi lo gak nyesel nih?"


Keynna terdiam. Dia tiba-tiba menguap, "Huaah gue ngantuk banget. Bangunin gue kalau mau jalanin hukuman ya." ucapnya langsung melipat tangannya dan menumpukkan kepalanya di atas meja. Keynna memejamkan matanya.


"Si sableng, malah tidur." dengus Lisa geleng-geleng.


Lisa pun akhirnya pergi kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Keynna diam-diam mendesah pelan, dia sebenarnya tidak tidur.


***


Masa pelaksanan hukuman untuk Keynna, Lisa dan Anna tiba. Mereka sangat tidak bersemangat. Tapi Trio Ubur-Ubur muncul dan membantu mereka.


Saat sedang membersihkan aula, Arshaka juga muncul. Cowok itu langsung mendekati Keynna, mencoba mengambil alih pel yang dipegang Keynna. Tapi Keynna menepisnya.


"Gue bisa sendiri." ucap Keynna langsung pindah ke tempat lain.


Semua orang yang ada disana bingung dengan apa yang terjadi barusan. Panji lalu mendekati Arshaka.


"Ada apaan?"


Arshaka menggeleng, "Ada yang belum selesai diberesin?"


"Ada. Peralatan olahraga."


"Biar gue aja." Arshaka langsung berjalan pergi.


Panji lalu mendekati teman-temannya.


"Ada apaan?" tanya Lisa penasaran.


Panji hanya menggeleng tidak tahu.


***


Hubungan dingin antara Keynna dan Arshaka berlanjut hingga Acara Pekan Olahraga dan Seni yang diselenggarakan Cakra.


"Perlombaan pertama adalah lari estafet putri!"


Semua peserta siap di posisi. Begitupun Keynna, Nanda, Nisa dan Nisya yang menjadi perwakilan XII IPA-1.


Suara dukungan penonton riuh di tribun.


"Siap, sedia, go!"


Nisa yang pertama kali berlari, kecepatan larinya cukup mengesankan untuk pelari pertama. Sekejap, dia sudah menyerahkan tongkat pada Nisya selaku perlari kedua. para peserta dari kelas lain langsung menyusul.


Nisa tak cukup gesit ternyata. Yang awalnya berada di urutan pertama, sekarang disalip oleh kelas lain. Siswa XII IPA-1 terus bersorak menyemangati. Bahkan Regan dan Raffa sampai berpakaian badut untuk mendukung teman-temannya.

__ADS_1


Nisya sudah menyerahkannya pada Nanda, dan Nanda segera berlari. Dia beberapa kali hampir terjatuh tapi tetap berlari menuju Keynna.


"Ayo, Nanda!" pekik Keynna mulai menjulurkan tangannya, bersiap mendapatkan tongkat.


Sorakan penonton makin riuh. Dua pelari ketiga kelas lain sudah menyerahkan tongkatnya pada pelari terakhir dan mulai berlari menuju garis akhir.


Keynna makin gugup dan tak sabaran, dia terus bersorak untuk Nanda hingga akhirnya Nanda menyerahkan tongkatnya.


Begitu menerima tongkat, Keynna langsung berlari. Sorakan XII IPA-1 makin lantang. Keynna terus berlari meski dia tertinggal jauh dengan para peserta lainnya.


Dan ditengah pertandingan seru itu, Arshaka memerhatikan Keynna dari tribun paling luar. Dia baru saja datang.


***


Keynna terus berlari tapi nafasnya makin pendek. Dia hampir kehabisan nafas.


"Keynna!"


"Keynna!"


Sorakan teman-temannya tak terdengar ditelinganya. Otaknya bahkan sudah menyuruhnya berhenti.


Hingga sekelebat kenangan melintas difikirannya.


Flashback On


Keynna tengah latihan lari sprint untuk mengikuti kejuaraan akhir tahun SMP-nya. Dia sudah berlari dua putaran, tapi waktunya masih melampaui ketentuan. Menyerah, Keynna langsung mendudukan diri di atas rumput hijau lapangan. Dia terengah-engah.


"Nih." Arshaka tiba-tiba datang dan mengulurkan sebotol air pada Keynna.


"Kenapa baru datang?" tanya Keynna sambil mengambil minum dari pacarnya itu. Dia tersenyum senang karena Arshaka datang.


Arshaka juga ikut duduk disamping Keynna, "Tadi ada urusan di lab." jawab Arshaka.


"Urusan apa? Sibuk banget ya?" tanya Keynna.


"Enggak juga. Pak Hadi cuma nyuruh aku bantuin nyelesain makalah buat anak kelas satu."


"Sekarang udah?" Arshaka mengangguk.


"Oh ya gimana hasil latihan kamu?"


"Gitu-gitu aja. Waktunya gak berkurang banyak. Masih jauh dari standar." desah Keynna.


"Gapapa. Jangan terlalu sedih. Masih banyak waktu." hibur Arshaka.


"Tapi tetep aja. Aku mau menang." rengek Keynna sedih.


Arshaka terdiam.


"Menurut kamu, aku bisa menang gak ya?" tanya Keynna khawatir.


Arshaka menoleh, "Khawatir?" Keynna sontak menganggukan kepala.


Arshaka tersenyum lalu mengacak-acak rambut Keynna, "Kamu belum bertanding tapi udah khawatir duluan."


"Aku nanya apa dijawab apa." dengus Keynna. "Mana berantakin rambut segala lagi." Keynna merapikan rambutnya yang sempat berantakan karena ulah pacarnya itu.


"Emang kenapa? Aku lakuin itu karena gemes sama kamu."


"Tapi rambut aku lagi lepek, tadi keringetan kan."


Arshaka tersenyum tipis melihat betapa menggemaskannya Keynna saat ngambek.


"Kalau udah selesai istirahatnya, ayo latihan lagi. Aku ajarin tipsnya."


"Seriusan?" Mata Keynna seketika berbinar.


"Iya. Masa aku bohong sih?" balas Arshaka.


Keynna melengkungkan senyumannya, "Ayo-ayo." ajaknya antusias. Dia langsung berdiri dan menarik Arshaka untuk pergi.


Mereka mulai berlari kembali melintasi trek lapangan.


Keynna mengangguk, dia fokus berlari kencang sekuat yang dia bisa.


"Jangan lihat apapun, kiri-kanan jangan dilihat.Mereka hanya akan menimbulkan gangguan untukmu."


Mereka hampir sampai menuju garis finish. Namun nafas Keynna sudah mulai habis seperti sebelumnya.


"Huh hah huh, aku capek, Saka. Aku udah gak kuat." keluh Keynna pelan meski kakinya tetap berlari.


"Jangan menyerah! Sekarang adalah masa paling kritis. Begitu kamu mulai kehilangan energi bahkan semangat, tataplah kedepan. Jangan tengok kemanapun selain arah depan. Karena disitulah letak garis finishnya. Fokus dengan garis finishmu, anggap hanya dirimu satu-satunya."


"Begitu kamu sudah fokus dengan garis finish itu, maka mulailah berlari! Lebih kencang dan lebih cepat!"


Bagai tersihir, Keynna mempercepat larinya. Dia berteriak kencang, sekencang larinya.


"Semangat, Keynna. Kamu pasti bisa!" pekik Arshaka yang sudah berhenti berlari. Dia terus memperhatikan Keynna."


Flashback Off


"Keynna!"


"Keynna!"


Keynna mempercepat larinya begitu teriakan dukungan bergema untuknya dari teman-teman sekelasnya.


Dan dalam sekejap Keynna merasa dia hanya sendiri di lapangan ini. Sudut bibir Keynna terangkat kecil.


"Fokus dengan garis finishmu, anggap hanya dirimu satu-satunya. Begitu kamu sudah fokus dengan garis finish itu, maka mulailah berlari! Lebih kencang dan lebih cepat!"


Keynna mulai menyusul peserta lainnya. Dia menyalip satu persatu hingga hanya satu peserta lagi yang masih berlari didepan. Keynna memacu tenaganya.


"Sedikit lagi, Keynna." ucapnya pada dirinya sendiri.


"Sedikit lagi."


Keynna berhasil mendahului peserta lain hingga dia menjadi pelari paling pertama. Sorakan penonton makin riuh ketika Keynna berhasil menyalip dan menjadi paling depan.


Garis finish berada di depan matanya. Keynna berlari lebih kencang.


Sret


Keynna berhasil melewati garis finish yang pertama kali dan itu artinya dia adalah pemenangnya.


"Yeay!" pekik Keynna senang.


Semua yang menonton seketika bertepuk tangan riuh terutama kelas XII IPA-1. Mereka senang sekali bahwa yang keluar menjadi pemenang lari estafet adalah perwakilan kelas mereka.


Dan ditengah euforia itu, Arshaka diam-diam tersenyum kecil menatap cewek yang dia sukai berhasil.


"Menurut kamu, aku bisa menang gak ya?"


Arshaka teringat dengan pertanyaan Keynna 2 tahun lalu. Kini Arshaka bisa menjawabnya dengan tegas.


"Ya, kamu pasti menang."


Setelah itu, Arshaka pergi meninggalkan tribun.


***


Pertandingan lain juga berjalan dengan sengit. Seperti kejuaraan renang, dan lagi-lagi XII IPA-1 keluar sebagai pemenang untuk kategori pria. Meski kalah di kategori wanita dimana Lisa sangat kecewa tapi teman-temannya menghiburnya dan menguatkan kepercayaan dirinya lagi.


Di cabang bulutangkis, pertandingan sengit terjadi antara Anna dan Rey melawan pewakilan XII IPS-3. Dan setelah beberapa kali skor seri, akhirnya pertandingan dimenangkan Anna dan Rey. Mereka akan melawan XII Bahasa-1 di final esok hari nanti.


Dan yang paling sengit adalah basket. Apalagi ketidakikutsertaan Arshaka membuat pertandingan menjadi lebih sengit tak seperti biasanya. XII IPA-1 bahkan harus berdarah-darah dulu hingga bisa memenangkan babak penyisihan. Di seperempat final, mereka hampir K.O oleh tim XII IPA-2. Kalau saja tidak ada gol berharga dari Regan di menit terakhir. Kini mereka sedang menunggu lawan mereka di final antara XII Bahasa-1 dan XII IPA-3.


Dan karena mereka tak mau kalah, mereka sedang mati-matian membujuk Arshaka di kelas.

__ADS_1


"Ya Saka, lo ikut final besok ya." bujuk Panji selaku kapten tim.


Yang lain juga turut membujuk anggota andalan mereka.


"Enggak." tegas Arshaka.


"Kanda, kenapa sih lo keukeuh gak mau ikutan?" seru Raffa kesal.


"Kalian juga kenapa keukeuh maksa gue?" balas Arshaka datar.


"Ih Arshaka please dong. Lo liat sendiri kan kita gimana tadi pas penyisihan sama seperempat final, buat nyamain skor aja susahnya minta ampun, untung Regan sempet masukin bola di menit terahir. Coba kalau enggak? Ya Saka, ikut final ya. Gue yakin kalau lo ikut, maka final kita gak akan kesusahan." bujuk Panji.


"Sekali enggak tetep enggak." decak Arshaka mulai jengah.


"Arshaka!" kini mereka mulai merengek-rengek.


Arshaka tiba-tiba terfikirkan sesuatu. Dia menatap semua teman sekelasnya.


"Lo ke kelas XII Bahasa-1, tanyain apa mereka bisa menang di seperempat final."


"Kenapa?" tanya Raffa bingung.


"Kalau mereka bisa menang di seperempat final, gue bakal ikutan. Terutama tanyain sama Alfaro."


"Seriusan?"


Arshaka mengangguk.


"Pastiin tuh cowok menang kalau gak mau gue ejek seumur hidupnya." ujar Arshaka datar.


"Oke deh, kita bakal pastiin sekarang!"


***


Pertandingan basket antara XII Bahasa-1 dan XII IPA-3 tengah beristirahat sebelum memasuki babak kedua. Skornya lebih unggul XII Bahasa-1, jelas karena ada Alfaro disana.


Regan, Raffa, Panji, Bimo dan Bayu menghampiri Alfaro yang tengah duduk beristirahat.


"Lo pada temennya Arshaka, kan?" tanya Alfaro.


Regan mengangguk.


"Ada apaan?"


"Gue cuma mau nyampein pesan Saka buat lo. Dia tanya apa lo bisa pastiin lo bakal menang di semifinal apa enggak?" tanya Raffa.


Alfaro mengangkat satu alisnya, dia seketika berdiri.


"Arshaka nanyain hal receh kayak gitu?" decih Alfaro.


"Tinggal jawab aja." desak Panji.


Alfaro mengangguk dengan wajah congkak, "Lo liat papan skor disana. Gue sama tim gue jelas lebih unggul. Bilangin sama temen lo, buat jangan khawatir. Kita bakal temuin kalian di final." ucap Alfaro menepuk pundak Panji santai.


Panji langsung mengusap bekas tepukan Alfaro itu seakan takut ada kuman menempel disana.


"Ada lagi?" tanya Alfaro.


"Gak ada. Kalau gitu thanks ya. Kita tunggu pembuktian lo." jawab Raffa.


Alfaro mengangguk enteng, "Silakan."


***


Dan benar saja apa yang dikatakan Alfaro. XII Bahasa-1 berhasil memenangkan pertandingan. Dan otomatis yang akan bertanding dalam final adalah XII IPA-1 melawan XII Bahasa-1. Semua penonton langsung riuh dan penasaran dengan hasil lomba esok nanti. Terlebih Arshaka dan Alfaro sempat masuk dalam berita kemarin-kemarin.


"Kayaknya kelas kita bakalan kalah deh. Arshaka gak ikut serta soalnya." keluh Lisa.


Keynna dan Anna yang juga turut menonton merasakan kecemasan yang sama.


"Gue sampe sekarang gak ngerti, apa alasannya Saka gak ikut main? Aslian karena lo, Key?" celetuk Lisa.


Anna menginjak kaki Lisa, "Aw, sakit Ann!" ringis Lisa. "Emang yang gue omongin salah ?"


Keynna mendesah pelan. Sejujurnya dia juga sempat berfikir seperti itu.


"Eh-eh, Arshaka nyamperin Alfaro di tengah lapangan!" teriak Anna menyadarkan lamunan Keynna.


Semua penonton langsung terfokus pada kedua tim yang berdiri saling berhadapan di lapangan. Alfaro dan Arshaka bahkan berdiri paling depan.


"Kenapa? Sekarang mau ikut tanding karena udah masuk final?" ejek Alfaro.


Arshaka tak terpengaruh sama sekali dengan ejekan cowok itu.


"Gue seneng karena lo nepatin omongan lo buat masuk final." balas Arshaka.


Alfaro berdecih, "Katakan, apa yang lo mau sebenernya?"


Pembicaraan antara Alfaro dan Arshaka di tempat penonton sama sekali tak terdengar. Mereka sibuk menangkap isi pembicaraan kedua cowok paling populer di Cakra itu.


"Mantan lo sama pacar gadungan lo lagi ngomongin apaan sih, Key?" tanya Lisa.


Pletak


Kini Keynna yang menggeplak kepala Lisa, "Dia bukan pacar gadungan gue. Gue gak punya hubungan apa-apa sama Faro." ketus Keynna.


Lisa menyengir lebar, "Maafin, dede."


Keynna hanya memutar bola matanya malas.


***


Kita kembali pada pembicaraan Arshaka dan Alfaro.


"Kalau gitu gue gak usah basa-basi lagi." tandas Arshaka.


Arshaka lalu meminta microphone pada panitia. Setelah dapat, dia langsung berbicara.


"Tes, tes." semua penonton seketika diam. Mereka penasaran dengan apa yang akan diucapkan Arshaka.


"Gue Arshaka Juna Aldebaran menantang Alfaro Satria Gerabaldi pada pertandingan final nanti. Meskipun ini pertandingan tim tapi gue secara pribadi ingin menantang lo."


Alfaro masih diam, membiarkan Arshaka melanjutkan ucapannya.


"Judul pertandingan akbar ini adalah Mengamankan Milik Gue."


"Milik lo siapa?" tanya seseorang dari barisan penonton.


"Keynna Alsha Iskandar, siapa lagi?" balas Arshaka enteng.


Suara riuh dan pekikan tedengar. Mereka ramai-ramai menatap Keynna yang kini sudah menutupi wajahnya. Sedangkan Alfaro, dia hanya berdecih sinis.


"Jadi lo mau taruhan sama gue?" sela Alfaro.


Arshaka mengangguk tegas, "Tapi yang ini beda. Gue gak nganggep Keynna barang yang mesti diributin. Sesuai judulnya, gue mengamankan milik gue yaitu Keynna dari segala gangguan lo. Kalau gue menang, lo gak boleh deketin dia, gangguin dia bahkan celakain dia. Urusan lo sama gue, gak usah bawa-bawa Keynna."


"Terus kalau lo kalah?"


Arshaka tersenyum angkuh, "Gue gak mungkin kalah."


"Huuuu!" riuh penonton dan timnya. Senang dengan ucapan keren Arshaka.


"Kalau lo kalah, lo lakuin sebaliknya. Putusin semua hubungan lo sama dia, dan berlutut sama gue, akuin kalau lo emang salah soal kejadian 2 tahun lalu."


Arshaka terdiam mendengarnya. Dan itu membuat Alfaro tersenyum remeh, "Kenapa? Gak bisa?"


Mata Arshaka bergetar dan rahangnya mengeras, mungkin memang sudah waktunya menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya saat itu.


Arshaka menatap dingin Alfaro, "Gue setuju."

__ADS_1


Alfaro mengangguk.


"Kalau gitu, kita liat hasilnya besok. Siapa yang bakal pulang dengan wajah menanggung malu." desis Alfaro.


__ADS_2