Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Blue Birthday


__ADS_3

Katakanlah Anna adalah orang sakit yang jelas tidak bisa kecapaian lama. Dan dia harus bertanding bulu tangkis bersama Rey di final melawan XII Bahasa-1. Pertandingan final jauh lebih ketat dan sengit dibanding pertandingan biasa yang tentu menguras lebih banyak energi. Orang sebugar Rey saja, bahkan sudah terengah-engah apalagi Anna, yang notabenenya tengah 'sakit'


Dan hal yang tak diinginkan Regan terjadi pada akhirnya. Tepat di skor 20 sama, Anna tumbang. Stadion indoor seketika ricuh terlebih melihat darah mengalir dari hidung Anna. Ketika dihampiri Regan, wajah cewek itu sudah tak berona.


Regan panik, dia berteriak-teriak memanggil Anna. Raffa dan Panji berusaha menenangkan. Akhirnya Anna dibawa ke rumah sakit.


Dan sudah satu jam sejak dibawa, Anna belum juga sadarkan diri di Ruang ICU.


Keynna, Arshaka, Lisa, Panji, Raffa dan tentu saja Regan hanya bisa duduk dengan hati gelisah. Apalagi Regan.


Ardi, ayah Arshaka sekaligus dokter Anna datang. Mereka langsung berdiri menyambutnya.


"Bagaimana om, keadaan Anna?" tanya Regan cemas.


Ardi menghela nafas berat, "Kondisinya makin parah. Saya sudah bilang bahwa penderita kanker apalagi stadium 3 seperti Anna tidak boleh sampai kecapean."


"Ka-kanker?" sela Lisa syok.


Keynna menoleh dengan kaget, Lisa belum tahu soal ini.


"Jadi apa yang harus dilakukan, Om?" tanya Regan lagi.


"Kita hanya bisa menunggu keajaiban."


Ucapan Ardi membuat bahu Regan turun dan seketika jatuh terduduk hingga Raffa dan Panji terperanjat kaget.


Tap tap


Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang mereka. Itu Jane, kakak Anna. Dia datang dengan penampilan kacau.


"Anna gimana? Anna gimana, dokter?!" paniknya.


"Pendarahan otak hebat terjadi padanya yang itu artinya penyakitnya sudah menyebar, memakan semua sel-sel di otaknya. Prosedur apapun tidak akan berpengaruh banyak padanya. Kita hanya bisa menunggu keajaiban." ujar Ardi pelan.


Jane menggeleng keras, air matanya sudah tumpah, "Tidak, dok. Anna pasti selamat, Anna pasti bisa sembuh!" isaknya. Jane juga jatuh terduduk disamping Regan.


"Saya permisi. Bila ada kabar lain, saya akan segera kembali." pamit Ardi.


Arshaka mengangguk, "Terima kasih pa."


Ardi menepuk pundak putranya, lalu tersenyum kecil pada Keynna setelah itu berjalan pergi.


"Ada yang bisa jelasin apa maksud dokter tadi? Anna sakit apa?" cetus Lisa.


Semuanya hening, yang terdengar hanyalah suara tangisan Jane dan Regan.


"Key...gue yakin lo tau." ujar Lisa menatap Keynna yang wajahnya sudah memerah menahan tangis.


Keynna mengangguk, "Anna mengidap kanker otak stadium 3." lirih Keynna.


Lisa mematung, "A-apa? Anna punya kanker?" Air matanya sudah menetes akibat ucapan kejutan itu.


Keynna mengangguk, dia sudah menangis.


"Kenapa lo gak bilang sama gue? Apa cuma gue satu-satunya yang gak tahu? kenapa gue baru tau sekarang?!" seru Lisa terisak dan menatap marah pada Keynna.


Keynna menangis lebih keras, "Gue juga baru tau, Lis. Gue juga sama syoknya begitu denger kabar ini."


Lisa terus menangis, dia seketika merasakan perasaan bersalah. Andai dia bisa lebih peka pada kondisi Anna, dia mungkin tidak akan sejahat itu pada Anna. Dia pasti akan menjaga Anna lebih baik.


"Jadi Anna yang selalu izin itu apa?" tanyanya.


"Dia harus check-up rutin." jawab Regan pelan.


"Sejak kapan?" tanya Lisa lagi.


"Empat tahun yang lalu." jawab Jane.


Lisa makin terpukul kenyataan. Dia menjambak rambutnya keras, "Gue bego banget! Gue bareng terus sama Anna, sering jalan bareng, makan bareng bahkan nginep bareng, gue masih gak sadar?!" isaknya. Dia sampai memukul-mukul pipinya keras. Pipinya langsung memerah.


Keynna memeluk Lisa, menghentikan cewek itu menyakiti dirinya sendiri.


"Lo gak salah, Lis. Anna emang sengaja nyembunyiin itu semua dari kita."


Lisa makin menangis, dia dan Keynna saling berpelukan erat. Koridor rumah sakit itu berubah menjadi aula tangis.


***


Lisa menatap Anna melalui kaca jendela. Mereka belum diizinkan masuk menjenguk Anna. Terlihat Anna terbaring tak berdaya dengan berbagai selang yang menempel di seluruh tubuhnya. Dan yang paling mengiris hati Lisa adalah kepalanya yang dahulu tertutupi rambut indah kini botak plontos. Dokter sengaja mencukur 'sisa' rambutnya.


"Gue perhatiin, lo juga cakep meski botak, An." kekeh Lisa miris.


"Waktu bener-bener gak kerasa ya. Gue pertama ketemu lo saat ospek. Gue tau siapa lo, dan gue pengen temenan sama lo. Eh akhirnya kita malah jadi temen sekelas bahkan sebangku. Sebelum ada Keynna, gue sama lo nempel banget kayak prangko. Kita bahagia tiap hari, setelah ada Keynna, kebahagiaan kita lebih bertambah."


"Lo itu tong sampah curhatan gue. Telinga lo yang super sabar dengerin racauan dan curhatan gue tiap harinya." Air mata Lisa menetes.


"Maafin gue, Ann, gue gak tau soal keadaan lo sebenernya. Gue emang sahabat bego yang gak peka sama sekali. Gue bener-bener egois. Maafin gue, Anna." isak Lisa.


"Gue mohon, Ann, bangun. Gue gak mau apa-apa lagi kecuali kesembuhan lo. Maafin gue, tapi gue gak sanggup kehilangan lo. Lo gak boleh pergi kemanapun."


Lisa terus menangis, dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Bahunya bergetar dan terus menangis tergugu.


Sebuah jaket terasa disampirkan ke pundaknya. Lisa menoleh, ada Panji menatapnya dengan prihatin.


"Muka lo jelek juga ya kalau gak pake make up." celetuk Panji.

__ADS_1


Lisa mencubit Panji, "Sempet-sempetnya ya lo ngejek gue."


Panji mengelus pinggangnya yang dicubit Lisa, "Gue cuma becanda. Lo garang kalau lagi sedih."


Lisa mendengus.


"Yuk ke ruangan Anna." ajak Panji.


"Udah bisa?" tanya Lisa antusias.


"Dari tadi juga udah, lo nya aja yang menye-menye di depan kaca. Lo liatin Anna dari sini, gak akan pernah puas."


"Yaudah ayo." ajak Lisa menarik tangan Panji.


Nyatanya, malam ini Anna sudah dipindahkan ke ruang rawat, alat-alat bahkan sudah dilepas kecuali infus dan alat bantu pernafasan. Karena diluar dugaan, harapan semua orang terwujud. Meski Anna masih belum sadar tapi setidaknya Anna sudah berhasil melewati masa kritisnya.


"Besok ulang tahun Anna, dan ada satu jam sebelum tengah malam. Kita rayakan ulang tahunnya sekaligus berdoa agar Anna segera sadar." ucap Raffa.


Karena itulah Panji dan Raffa membeli kue ulang tahun untuk Anna. Setelah itu mereka semua berkumpul di ruangan Anna. Anna masih belum sadar.


"Sepuluh menit lagi." ucap Jane.


Mereka menunggu waktu dengan berbisik-bisik. Dan tanpa sadar jemari Anna bergerak, suara lenguhan terdengar dari bibir kering.


"Shh."


Mereka langsung menoleh ke arah ranjang, Anna tengah berusaha membuka matanya.


"Anna!" pekik Jane yang pertama menghampiri adiknya. Dia menggenggam lengan adik tercintanya dengan penuh rasa syukur.


"Anna, akhirnya kamu sadar."


Regan juga turut menghampiri Anna, dia mengucap syukur karena Anna telah sadar.


Anna tersenyum, melihat semua orang yang dia sayangi ada dihadapannya.


"Gue inget ini hari ulang tahun gue." lirihnya.


Jane mengangguk, dia langsung mengambil kue dari tangan Panji. Mereka semua berkumpul di dekat Anna.


"Kita nyanyiin lagunya bareng-bareng."


"Tunggu-tunggu." Mereka hendak mulai bernyanyi tapi Anna menginterupsinya.


"Kenapa Ann?" tanya Lisa.


"Sebelum gue tiup lilin, gue mau foto bareng kalian semua."


"Itu bisa nanti kalau udah tiup lilin." tukas Regan.


"Yaudah foto aja dulu." putus Arshaka. Anna tersenyum senang.


Mereka mulai berfoto sesuai keinginan Anna. Dimulai dari foto bersama, lalu Anna, Keynna dan Lisa kemudian Anna dan Jane. Banyak foto yang mereka ambil.


"Nji, ini tolong dicetak ya. Ukurannya seukuran polaroid aja." pinta Anna pada Panji selaku fotografer. Dia meminta semua foto yang mereka ambil dicetak.


"Oke." ucap Panji.


"Nah, sekarang kita rayain ulang tahun kamu." ucap Jane.


Anna mengangguk.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday happy birthday


Happy birthday to you


Fyuh


Begitu lagu selesai dinyanyikan, Anna langsung meniup lilin setelah make a wish. Dia tersenyum bahagia menatap orang-orang terkasihnya yang ada di sekelilingnya.


"Selamat ulang tahun, Anna. Harapan kakak cuma satu, semoga kamu cepet sembuh. Kakak gak mau kamu sakit lagi." harap Jane memeluk Anna.


"Terimakasih, kak."


Lalu giliran Regan, "Ann, selamat ulang tahun. Makasih karena kamu masih mau bertahan. Gue harap lo mau bertahan lebih lama lagi." ucapnya. Anna menganggukan kepala.


"Selamat ulang tahun, Ann!" pekik Keynna dan Lisa. Mereka memeluk Anna dari kanan kiri.


"Makasih ya, sahabat-sahabatku yang uwu." ucap Anna.


"Maafin gue ya Ann, gue gak tau soal penyakit lo. Sebagai sahabat lo, gue egois dan gak pekaan. Seharusnya gue sadar ketika lo mulai pake topi atau baret dan sering izin. Gue malah santai-santaian." ujar Lisa menahan tangis.


Anna tersenyum maklum, "Gak papa. Gue yang harusnya minta maaf, gak ngasih tau lo soal ini. Gue cuma gak mau lo terbebani dan kefikiran karena masalah gue."


"Aaa Anna!" rengek Lisa memeluk Anna lebuh erat.


"Woy, woy, pelan-pelan dong. Pasien ini." omel Keynna. Lisa tak peduli, dia tetap memeluk Anna dengan erat. Anna terkekeh.


"Ann, selamat ulang tahun ya. Sehat-sehat, gua yakin lo pasti bisa sembuh. Makasih karena kepindahan gue ke Cakra, gue punya 2 temen yang care banget sama gue. Kita sering hang out bareng, jajan bareng, apa-apain bareng. Gue seneng banget kenal lo dan Lisa."


Anna tersenyum mengangguk, "Gue juga. Gue juga harap lo bisa balikkan sama Saka. Jangan tarik ulur mulu dan mikir berat. Gue gak mau lo kayak gue."

__ADS_1


Keynna tertegun sedangkan Arshaka menyenggol pundak Keynna. Keynna menoleh.


"Apaan?" tanyanya.


"Anna bener." ucap Arshaka.


Keynna mendengus, "Gue gak pernah ada resolusi buat pacaran balikan sama mantan."


"Yaudah, nikah aja langsung." balas Arshaka.


"Lo gila? Usia gue baru 18 tahun!"


"Usia gue juga baru 19 tahun." balas Arshaka tidak mau kalah.


"Elah, tunggu aja lima taunan lagi, dasar pasangan ngebet." celetuk Raffa.


Mereka semua tertawa, sedangkan Keynna dan Arshaka mendelik sinis. Kemudian Raffa. Panji dan Arshaka juga satu persatu mengatakan harapan mereka untuk Anna.


"Oh ya, ini udah mau jam 1 pagi. Anna harus istirahat." celetuk Jane.


"Istirahat kali ini, aku mau ditemenin sama Regan, boleh kan kak?" tanya Anna.


Jane mengangguk, "Boleh. Regan emang mau tinggal disini nemenin kamu dulu. Soalnya kakak mau ambil perlengkapan buat kamu."


"Dan yang lainnya, pulang aja dulu. Ini udah malem banget. Kalian pasti cape."


"Wah, Ann lo ngusir ya?" sela Panji.


"Bukan gitu juga, Nji." sanggah Anna.


"Gak papa, kita pulang aja. Nanti kita harus gantian jaga sama Agan. Biarin malam ini Regan duluan." sela Arshaka.


Hingga akhirnya, satu persatu pulang termasuk Jane. Meninggalkan Regan yang akan menemani Anna malam ini.


"Gan," panggil Anna pada Regan yang baru saja dari kamar mandi untuk mencuci muka.


"Iya?" sahut Regan menghampiri ranjang Anna dan duduk di kursi.


"Gue keingetan sama pertemuan pertama kita. Saat itu lo lagi nangis gara-gara baju bola lo sobek pas berantem dan gue ngelapin air mata sama ingus lo padahal kita baru aja kenal." kekeh Anna.


"Ngapain lo ingetin kejadian aib gitu?" dengus Regan.


Anna terkekeh pelan, "Lucu aja kan. Apalagi itu adalah pertemuan pertama kita. Gak boleh dilupain."


Regan mengangguk, "Hah, gue belum ngucapain makasih kayaknya sama lo yang udah ngelap ingus gue." desahnya sambil bersandar pada punggung kursi.


"Kita sama-sama berhutang makasih. Gue bersyukur karena di saat masa-masa terberat gue, ada lo. Lo yang masih percaya sama gue, nemenin gue meski lo harus berantem terus sama Tante Citra. Thanks Gan karena selalu ada buat gue. Lo sahabat yang baik." ucap Anna menolehkan kepalanya pada Regan.


Regan tersenyum lembut, "Gue udah bilang kan sama lo. Lo itu bukan hanya Anna Maldiva di hidup gue, tapi lo udah jadi bagian gue. Meski gue benci banget kata sahabat tapi kalau itu bisa bikin gue deket sama lo, gue rela."


"Ada yang belum gue akuin sama lo." sela Anna.


"Apaan?" tanya Regan.


Anna tersenyum manis, "Regan Deova, makasih karena terus support gue. Maaf gue selalu repotin lo dan bikin lo khawatir setiap saat. Gue cinta sama lo."


Regan mematung, dia tidak percaya dengan kalimat terakhir yang diucapkan Anna.


"Lo--lo bilang apa tadi?" tanyanya.


"Gue cinta sama lo." ulang Anna lebih tegas dan jelas.


Regan tersenyum bahagia, dia langsung memeluk Anna dengan erat.


"Gue juga cinta sama lo." balas Regan tulus.


Anna mengangguk, "Gue tau."


***


Setelah pernyataan cinta itu, paginya Regan bangun dengan wajah lebih bersemangat. Akhirnya kata friendzone itu bisa dia lepaskan setelah bertahun-tahun ini. Meskipun pada kenyataannya mereka tidak berpacaran, tapi tetap saja Regan tahu bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Regan juga tahu, butuh keberanian besar bagi Anna untuk mengakui segalanya di tengah situasi pelik mereka.


"Ann, bangun yuk. Lo harus sarapan sama minum obat. Ini hari ulang tahun lo tau." ucap Regan membangunkan Anna yang masih tertidur pulas di ranjangnya.


Namun Anna tak bergeming sama sekali.


"Anna." panggil Regan lagi, mengelus rambutnya. Lagi-lagi Anna tak bangun.


Regan lalu mengelus pipi mulus cewek itu tapi langsung tersentak kaget ketika rasa dingin menjalari telapak tangannya.


"Ini kenapa dingin banget?" gumam Regan cemas.


"Ann, Ann." panggil Regan berusaha membangunkan Anna.


Tapi Anna tak bergeming.


Wajah Regan mulai pucat. Dia panik dan perasaan tak enak langsung menghampirinya.


Gak mungkin, batinnya.


"Ann! Anna!" panggil Regan lebih keras. Dia menggoyangkan tubuh Anna berkali-kali tapi Anna tak bergerak seinci pun.


Regan tertunduk lemas, air matanya mengalir. Dia tahu kenapa wajah pucat tanpa rona itu tak mau membuka matanya yang indah. Kenapa bibir tipis berbentuk love itu tidak mau menyungginkan senyum lagi. Dia tahu kenapa Anna tidak terbangun lagi.


"ANNA!" jerit Regan pilu.

__ADS_1


Ya, Anna sudah meninggal dunia di hari ulang tahunnya sendiri.


__ADS_2