Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Kanker Otak Stadium 3


__ADS_3

Malam minggu.


Malam minggu adalah malam indah yang biasanya dipakai ngapel oleh pasangan muda-mudi. Tak terkecuali Regan.


Tapi itu dulu. Sekarang kan dia gak punya pacar, bagaimana mau malam mingguan? Namun untuk tetap mempertahankan eksistensi keindahan malam minggu, gaya ngapel Regan berubah. Dari awalnya ngapelin cewek, jadi ngapelin PS.


Regan sedang bermain PS di kamarnya. Kamar bernuansa abu hitam khas cowok itu nampak berantakan. Banyak bungkusan kacang dan berkaleng-kaleng cola. Belum lagi suara melengking Regan yang sedari asik berteriak, membuat malam minggu jomblonya makin semarak.


Ponselnya yang dia simpan di atas karpet bergetar ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Siapa nih?" gumamnya sembari mempause gamenya. Lalu menaruh stik ps ke lantai kemudian mengambil ponselnya.


Regan mengernyit, telfon itu berasal dari Jane, kakak Anna.


"Halo, kak?" sapa Regan.


"Regan lo dimana?" tanya sayup-sayup bernada panik diseberang telfon.


"Gue lagi di kamar, kenapa kak?"


"Lo bisa ke RS gak? Anna kambuh lagi!"


Regan mematung, perkataan Jane membuat jantung Regan serasa di remas kencang. Oh Tuhan, apa yang terjadi pada Anna, batin Regan cemas.


"Regan?" tegur Jane dari seberang telfon.


"Ah iya kak? Gue kesana sekarang!" ucap Regan tersadar. Kemudian cepat-cepat memutuskan sambungan telfon.


Regan memakai jaket yang tergantung di lemarinya kemudian mengambil kunci motor yang tersimpan di laci. Setelah itu ia berlari turun kebawah.


"Eh, Regan kamu mau kemana?" pertanyaan dari sang ibu membuat langkah Regan terhenti.


"Aku--" Regan tidak bisa menjawab. Ia yakin bila ia mengatakan alasan yang sesungguhnya, sang ibu akan melarang.


"Temen aku kecelakaan, dia masuk rumah sakit." bohong Regan.


"Temen kamu siapa?" tanya Citra, ibu Regan.


"Temen--" Regan memutar otaknya, "Adalah pokoknya, temen gamer aku, ibu gak kenal sama sekali."


"Kamu lagi gak bohongin ibu kan?" tanya Citra curiga.


Regan cepat-cepat menggeleng, "Enggak bu, masa Regan bohong sama ibu." elak Regan.


"Siapa tau sebenarnya kamu mau nemuin Anna." ucap Citra.


Regan terkesiap, Sial, umpat Regan dalam hati.

__ADS_1


"Ya enggaklah bu. Ngapain--Regan nemuin Anna. Gak ada kepentingan juga." timpal Regan terbata-bata.


Kening Citra mengendur, "Yaudah hati-hati. Jangan pulang kemaleman." pesan Citra.


Regan diam-diam menghela nafas lega, "Iya bu. Kalau gitu Regan pamit." pamit Regan. Kemudian ia cepat-cepat keluar rumah dan menjalankan motornya.


***


"Keynna, Felly kalian akan jadi saudara tiri."


"Apa?" teriak Keynna dan Felly terkejut.


Ini ada angin apa, tiba-tiba diminta makam malam bersama yang ujung-ujungnya ajang pengenalan calon papa baru dan saudari baru pula.


"Mama gila?!" sentak Keynna.


"Papa juga gila?!" Felly juga ikut menyentak Justin.


"Kalian kenapa sih? Keynna kamu lagi, harusnya kamu senang karena kamu dan Felly sudah saling kenal. Kalian pasti bakal makin akrab." ujar mama Keynna.


"Iya, kalian juga kan seumuran, pasti bakal akrab. Kalau jadi saudara tiri itu terlalu sulit, kalian bisa jadi teman. Felly, kamu bakal ada teman buat hang out, terus belanja. Keynna kamu suka belanja kan?" Justin, papa Felly juga ikut menimpali.


"Tetep aja, masa aku harus saudaraan sama dia sih?" rengek Felly, kesal.


"Iya aku juga. Mama boleh nikah sama siapapun kecuali papanya Felly. Titik." pungkas Keynna kesal.


"Loh kenapa? Kalian ada masalah makanya musuhan?" tanya mama bingung.


"Eh eh, Felly! Kamu mau kemana, nak? Felly!" panggil Justin. Namun Felly tidak menoleh, dia menghiraukan panggilan papanya.


"Aku juga gak bakal setuju." kata Keynna. Dia juga ikut pergi.


Lalu baru beberapa langkah, dia menoleh pada Keenan yang masih terdiam, "Bang, cabut!" seru Keynna. Keenan terkesiap lalu ikut pergi tanpa patah kata mengikuti Keynna


Keynna dan Keenan berada di mobil. Suasana lalu lintas malam minggu, semacet biasanya. Pinggir kanan kiri banyak muda mudi yang sedang menghabiskan malam. Pedagang kaki lima berjajar di pinggir jalan. Bandung masih seramai dan semarak biasanya.


"Lo harusnya gak boleh kayak gitu, Key." celetuk Keenan membuat perhatian Keynna pada pemandangan malam jadi terlihkan padanya.


"Maksud lo?"


"Ya lo main pergi gitu aja. Bahkan lo bilang gak akan restuin mama sama calon suaminya itu. Harusnya lo gak gitu hanya karena lo punya trauma buruk dua tahun lalu." kata Keenan.


Keynna terperanjat kaget, " Jadi lo tau apa alasan sebenarnya gue gak restuin hubungan mama?"


"Gue udah hidup 17 tahun sama lo, gue tau lo luar dalam, Key. Siapa yang bakal pake alasan sesepele itu buat gak restuin hubungan orang tuanya?" kata Keenan.


Keynna menghela nafas, "Gue cuma gak siap aja, gue takut. Takut semuanya keulang lagi. Gue gak mau liat mama disakitin lagi, gue gak mau kita jadi korban lagi. Lo tau kan seberapa parah keadaan keluarga kita 2 tahun lalu? Mama nyaris gila, papa pergi gitu aja sama selingkuhannya, gue lagi ujian nasional dan nyaris gak lulus karena gue gak bisa fokus sama sekali dan lo juga pasti ngalamin hal berat. Gue gak mau keulang lagi. Gue gak sanggup."

__ADS_1


Mendengar penuturan Keynna, Keenan mengangguk menyetujui dalam hati. Memang keadaan keluarganya 2 tahun lalu sungguh kacau. Siapa yang tidak menyangka bahwa papa yang selalu jadi hero bagi Keenan dan Keynna malah menusukkan duri amat mendalam. Pengkhianatannya berujung kehancuran bagi keluarga.


Keenan juga kembali pada sekelebat ingatannya dulu. Mama yang nyaris gila, papa pergi gitu aja, Keynna juga gak fokus sekolah dan ujian, dia malah pernah lakuin self injury, dan dirinya juga sama kacaunya. Mabuk-mabukkan, merokok dan ngedrug. Hingga bahkan kekasihnya Risa pun tak ia pedulikan. Yang ia tau, dirinya harus bisa menyalurkan rasa sakitnya dan rasa kebenciannya pada sang papa.


"Gue juga gak akan sanggup lagi, Key." kata Keenan pelan.


Lalu Keenan melanjutkan, "Tapi, kalau om Justin adalah kebahagiaan mama. Yang bisa bikin mama kembali bahagia, kita gak boleh nolak kan?"


***


"Kak, gimana keadaan Anna?"


Setelah sampai di rumah sakit, Regan langsung berlari sepanjang koridor, mencari keberadaan Jane dan Anna.


"Keadaannya udah stabil, tapi Anna harus menginap semalam, dia juga harus lanjutin terapinya." kata Jane lemah.


Regan terhenyak, sungguh, mendapatkan kabar tentang Anna yang kambuh, nyaris membuatnya gila.


"Tapi Anna udah sadar kan?" tanya Regan masih kalut.


"Belum, dokter bilang dalam 4 jam Anna akan sadar." jawab Jane menggeleng.


"Regan mendesah lalu duduk disamping Jane, menatap ranjang yang berisi tubuh ringkih orang yang dia cintai.


"Gue gak tau harus gimana lagi, Gan. Anna terlalu keras kepala." ujar Jane frustasi.


"Lo udah coba bujuk Anna buat terapi kan?"


"Udah, ribuan kali. Tapi Anna bebal, dia bilang ngapain terapi kayak kemo kalau nyatanya dia tetap meninggal. Gue bener-bener gak suka sama fikiran skeptisnya."


"Anna cuma gak mau menderita karena obat-obatan, dan dia juga gak mau jadi beban buat lo."


"Tapi justru dengan dia keras kepala ga mau berobat, itu bikin beban gue nambah, dia satu-satunya anggota keluarga yang gue punya. Gue rela kerja banting tulang buat biayain pengobatannya. Gue cuma gak mau kehilangan dia, itu aja." ujar Jane berkaca-kaca.


Regan menghela nafas, dia sekali lagi menatap tubuh ringkih berbalut banyak kabel yang terpasang ditubuhnya itu. Menatap sendu, pada kenyataan memilukan berpangku kepahitan.


"Kondisinya makin buruk, kanker nya udah masuk stadium 3."


Deg


Regan mematung, "Lo bohong kan?" Regan gemetar ketakutan.


"Gue gak mungkin bohong, makanya gue stress banget pas dia tetep keras kepala gak mau berobat."


Regan diam tidak menanggapi. Tubuhnya masih mematung dan gemetaran. Kanker sialan itu tidak mungkin tambah parah bukan, Anna tentu masih bisa sembuh kan.


"Apa pengobatan buat Anna?"

__ADS_1


"Bisa kemotrapi, atau radiotrapi." jawab Jane singkat.


Regan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering, "Kita setujuin prosedur kemo buat Anna. Kita paksa dia." katanya tercekat.


__ADS_2