Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Berantem


__ADS_3

Kini seisi sekolah sudah gempar dengan berita itu. Para siswa seakan percaya tak percaya terutama soal foto-foto yang tersebar di sosmed.


Brak


Keynna melemparkan ponselnya ke atas meja kantin. Wajahnya penuh kekesalan.


"Emangnya gue artis gitu pake segala dikuntitin? Mana nulis berita gak bener lagi, kapan gue pacaran sama Alfaro?" dumel Keynna.


Lisa juga melirik ke sekeliling, riuh percakapan siswa Cakra terdengar. Semuanya membahas Keynna dan berita itu.


“Liat, fansnya Arshaka sama Alfaro liatin lo terus dengan mata hampir copot." ujar Lisa.


"Bodo amat, lagian gue yang jadi korban disini. Siapa sih yang gak punya kerjaan nulis berita sampah kayak gini." Keynna masih bersumpah serapah. Dia sangat kesal.


Tapi gara-gara ucapan kerasnya barusan, semua siswa di kantin langsung menatapnya kembali tapi dengan lebih sinis. Keynna sadar itu ketika matanya melirik ke seluruh kantin. Keynna langsung memalingkan wajahnya lagi, takut kena semprot.


Lisa lalu mendesah, "Key, lo harus buru-buru jelasin. Masalahnya lo gak tau segimana ganasnya anak Cakra apalagi nyangkut sama idola mereka."


"Gue tau." ucap Keynna masih kesal.


"Jadi apa yang bakal lo lakuin sekarang?" tanya Lisa.


"Tentu aja nyari pelakunya. Dan kalau gue berhasil, gue bejek-bejek orangnya!"


"Eh tapi Key, gue jadi penasaran. Lo nolak Saka bukan karena Alfaro, kan?" celetuk Lisa.


Keynna menatap sebal pada Lisa. Lisa hanya mengendikkan bahu, "Apa? Gue cuma nanya. Gak ada maksud apapun."


Keynna mendesah kasar, "Gue gak nolak doi karena Faro. Itu atas keinginan gue sendiri." jawab Keynna dengan kalimat terakhir yang lirih.


"Jadi lo gak pacaran sama dia, kan?"


"Ya iyalah. Kapan gue pacarannya coba? Eh satu-satunya yang lajang disini itu cuma gue."


"Terus maksud lo gue sama Anna udah taken gitu?" balas Lisa.


"Ya enggak bisa dibilang gitu juga." Keynna menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Intinya gue harus clear-in masalah ini secepatnya."


Lisa mengangguk-anggukan setuju.


Brak


Tiba-tiba meja mereka digebrak kencang. Keynna dan Lisa berjengit kaget.


"Eh lo sedeng apa kurang waras sih?!" semprot Lisa langsung berdiri. Dia menatap penuh kekesalan pada tiga orang siswi yang tadi menggebrak meja mereka.


Sedangkan Keynna tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tiga cewek ini sedang melabraknya.


"Gue gak ada urusan sama lo. Gue adanya sama dia." ketus seorang cewek ditengah dengan wajah menyebalkan. Dia menunjuk Keynna dengan dagu yang lancip.


"Gue tau kalian mau ngelabrak gue. Gue juga suka baca novel tau. Mending duduk-duduk dulu sekalian ngeteh. Mau teh tawar atau teh poci?" Keynna berbicara dengan tenang.


Lisa menahan tawanya melihat cara perlindungan diri ala Keynna.


"Bener tuh, duduk dulu kuy. Santai-santai, bebas ini." timpal Lisa. Dia langsung duduk kembali di kursinya.


Cewek di tengah yang bername tag Alin itu berdecih sinis.


"Gue gak ada waktu buat minum teh sama cewek murahan kayak lo." desisnya.


Keynna yang sedang minum teh langsung menaruh gelasnya dengan keras. Dan suara itu mengundang lebih banyak perhatian dari siswa lain.


Keynna menatap Alin dengan tenang, "Gue juga gak ada waktu liatin lo jadi badut kantin Cakra. " balas Keynna.


"Apa lo bilang?!" seru Alin mulai terpancing emosi.


Kini Keynna yang tertawa sinis, "Ternyata lo budek ya. Keseringan pake earphone ?"


"Lo..." Alin hampir meledak tapi dia menahan emosinya. "Gue ingetin sama lo, jauhin Arshaka sama Alfaro. Cewek kayak lo, gak pantes dapetin mereka berdua." peringat Alin.


Keynna menguap sebagai tanggapan dari pernyataan Alin.


"Ngebosenin. Mirip sama novel-novel yang pernah gue baca." ujarnya malas.


"Lo bener-bener gak ada seriusnya ya!" amuk Alin.


Keynna mendesah, "Itu salah satu kekurangan gue. Sedikit cerita nih ya, waktu kecil gue sering banget becanda dan nyokap gue sadar itu. Dia bilang kalau anak terus main-main gada seriusnya, nanti gede jadi Piccolo. Dan gue gak mau dong, udah mah ijo, botak, telinganya caplang lagi. Bagi gue rambut itu sangat vital." ujar Keynna dengan nada sangat serius.


Lisa hampir tak bisa menahan tawa melihat betapa merahnya muka Alin sekarang. Lisa ingin memberi dua jempol untuk keberanian Keynna.


Alin menghembuskan nafasnya berkali-kali. Dia hampir tak mampu menahan diri lagi.


"Keynna, gue gak peduli soal masa kecil lo. Yang jelas disini, jauhin mereka berdua. Lo gak pantes sama mereka. Jadi enyahlah sebelum gue bertindak lebih keras lagi." tekan Alin.


"Gue gak pantes dapetin mereka berdua, terus lo pantes gitu?" balas Keynna.


Keynna melanjutkan, "Kalau lo pantes, udah dari dulu lo digaet cowok kutub sama cowo musim panas itu."


"Itu bukan urusan lo. Intinya kalau sampe gak lo indahin, lo liat nanti aja." ancam Alin.


Keynna hanya mengangguk acuh.


Alin sudah terlanjur kesal karena Keynna tak menanggapi peringatannya. Cewek itu dengan dua dayang setianya pergi setelah menghentakkan kaki.


Lisa bertepuk tangan takjub.


"Dua jempol dan seratus poin buat lo." puji Lisa.


Keynna hanya mengendikkan bahu angkuh.


***

__ADS_1


Tapi peringatan untuk Keynna tak sampai disitu. Setelah Alin, datanglah para gerombolan lain. Tapi kini dengan jumlah yang lebih banyak. Mereka mengepung Keynna begitu cewek itu sedang di toilet.


Keynna menelan ludahnya susah payah. Bakal sulit baginya melawan lima orang sendirian. Satu-satunya solusi adalah bersikap sopan dan jangan mengundang kemarahan.


"Permisi, kakak-kakak yang cantik. Saya mau lewat." ucap Keynna sopan.


Melihat tak ada reaksi dari para cewek itu, Keynna akhirnya berjalan menuju pintu. Dia tersenyum sopan tapi dua langkah lagi menuju pintu, dua orang siswi langsung menghadangnya. Keynna tersenyum menahan kesal.


"Saya mau lewat. Ini mau hampir masuk jam kelima." pinta Keynna.


"Lo boleh lewat kalau udah dikasih pelajaran." cetus seorang cewek bertubuh tinggi kayak tiang listrik. Di badgenya sih namanya Engie.


"Aduh, guys, gue udah dikasih banyak pelajaran sejak kecil. Gue bukan orang serakah, jadi tidak, terima kasih ya." Keynna hendak membuka pintu tapi kedua cewek itu tetap menghadang langkahnya. Keynna berusaha menerobos tapi tetap tidak bisa.


"Ayo dong, please, hari ini pelajarannya Bu Dayu dan kalian pasti tau sendiri gimana ganasnya beliau kalau ada murid yang telat masuk ke kelasnya."


Tatapan Keynna makin memelas, "Yah, ple--"


Grab


Belum sempat Keynna selesai bicara, rambutnya tiba-tiba ditarik dari belakang. Hingga cewek itu mengaduh keras sambil berjalan termundur.


Tak lama jambakannya dilepas.


"Woy, lo sinting ya! Ini rambut asli!" sentak Keynna pada orang yang menarik rambutnya yang ternyata Engie.


"Apa lo? Mau marah hah? Dasar murahan, sialan lo!" balas umpat Engie.


Keynna langsung kicep. Dia salah telah memancing kemarahan.


"Guys, bawain air kopi tawar buat cewek cantik ini dong." titah Engie.


Keynna sudah merasa was-was. Dia terbelalak seketika ketika melihat apa yang disebut Engie sebagai air kopi tawar yang pada kenyataannya adalah seember air bekas lap pel yang keruh dan kotor. Keynna langsung bergidik jijik.


"Gue tanya sekarang sama lo. Jawab dengan jujur. Kalau sampe lo bohong, siap-siap aja gue guyurin air ini ke kepala lo." ancam Engie. "Paham gak lo?!"


Keynna langsung mengangguk.


Engie melipat kedua tangannya di depan dada, "Apa hubungan lo sama Arshaka sebenernya?"


"Temen sekelas." jawab Keynna cepat.


"Jangan bohong lo!"


Keynna tersentak, "Gue jujur kok. Kalau gak percaya liat daftar nama di TU di kelas XII IPA-1."


"Maksud gue hubungan asmara." tukas Engie.


"Oh, bilang dong. Gue cuma mantannya doang." jawab Keynna.


"Lo beneran mantannya dia?" Keynna langsung mengangguk.


Keynna melirik arlojinya, "Permisi sebentar, ini masih lama enggak ya? Gue beneran harus masuk kelas." sela Keynna.


Keynna mendesah, "Apalagi?"


"Lo serius pacaran sama Alfaro?"


"Enggak. Gue gak pacaran."


"Jangan bohong!" seru Engie.


"Gue gak bohong!" seru Keynna balik.


"Lo kok nyolot sih?"


"Abisnya lo gak percayaan!" Sentak Keynna.


Engie tersenyum kecil, "Guys, guyur nih cewek." titahnya.


"Eh-eh, jangan. Hehe, gue becanda. Jangan dibawa ke hati." cegah Keynna terkekeh pelan. "Itu turunin ember nya ya. Berat kayak rindu." lanjutnya kepada seorang cewek yang sudah akan bersiap mengguyurnya.


"Terakhir, gue gak akan guyur lo kalau lo janji bakal jauhin Arshaka sama Alfaro." desis Engie.


"Eh gak bisa gitu dong. Gak baik putus tali silaturahmi." tolak Keynna halus.


"Guys."


Keynna kembali panik, dia mengangkat kedua tangannya, "Eh bentar." paniknya. Astaga, hanya membayangkannya saja dia sudah benci.


"Jadi gimana pilihan lo?"


Keynna terdiam bimbang. "Gue benci banget sama air kotor tapi gue gak bisa jauhin mereka berdua. Gue temenan tulus sama mereka."


"Kalau gitu pilihan lo ini. Guys!" ujar Engie.


Keynna menganga, dia langsung memejamkan matanya kala ember itu dimiringkan diatas kepalanya.


"Lisa, Anna!" pekik Keynna.


Brak


Pintu toilet didobrak dari luar. Lisa dan Anna muncul begitu nama mereka dipanggil Keynna. Dan rupanya Lisa yang tadi menendang pintu.


Keynna dan kelima cewek itu langsung menatap mereka berdua. Keynna yang senang sedangkan Engie dan kawanannya beraut kesal.


"Gue fikir Cakra itu adalah sekolah yang bebas tikus, eh ternyata tetap ada ya." sindir Lisa.


"Ya elah Lis, yang namanya hewan, gak punya akal sehat." timpal Anna.


"Apa lo bilang?" seru Engie kesal.

__ADS_1


"Kenapa? Bener kan? Lo mah cuma lampir peyot yang ngarepin cinta pangeran. Gak akan terwujud." hina Lisa.


Engie benar-benar marah. "Guys, kasih pelajaran ke mulut kurang ajar mereka." titah Engie.


"Siapa takut!"


Dan bagaikan sebuah film aksi, kubu Keynna yang terdiri dari Keynna, Anna dan Lisa bertarung dengan gagah melawan kubu Engie dan para kawanannya. Ini bagaikan pertarungan antara singa dan hiena. Seakan-akan mereka sedang memperebutkan gelar raja hutan.


Ember berisi air kotor itu dilempar Lisa ke udara hingga airnya menciprat pada semua orang yang ada disana. Mereka menjerit jijik.


Disana sungguh kacau. Ada yang jambak-jambakan, cakar-cakaran hingga saling adu tinju. Toilet perempuan itu seketika berubah jadi medan perang berdarah.


Semua siswa langsung datang melihat begitu suara keras mereka terdengar. Tak ada yang berani memisahkan karena begitu sengitnya perkelahian ini.


"Yu, pasang taruhan-taruhan. Tim mana yang menang."


Yah gila, bahkan ada siswa yang membuka lapak taruhan.


Satu kata untuk situasi disana, kacau.


***


Di sisi lain, Arshaka bertemu dengan Alfaro di taman belakang. Mereka saling menatap satu sama lain. Saling mengintimidasi.


"Keynna nolak lo?" celetuk Alfaro yang pertama kali membuka suara.


"Bukan urusan lo." tukas Arshaka datar.


Alfaro mengangguk setuju, "Emang bukan urusan gue. Tapi diliat dari betapa marahnya lo sekarang, gue bisa nyimpulin sendiri."


"Lo yang buat berita itu?"


Alfaro menggeleng,"Enggak."


"Jangan bohong." desis Arshaka.


"Arshaka, menurut lo apa untungnya gue bikin berita kayak gitu. Meski gue gak menampik kalau gue emang berharap bisa pacaran sama Keynna." ujar Alfaro acuh tak acuh.


"Apa?" Rahang Arshaka mengeras.


"Masa bahagia lo udah lewat, sekarang saatnya lo menderita. Gak adil kan kalau lo yang selalu bahagia?"


"Jadi alasan lo ngedeketin Keynna karena gue?"


"Gak juga."


"Jawab gue, brengsek." desis Arshaka.


"Awalnya iya, tapi kini gak lagi. Lo puas dengan jawaban ini?"


"Kalau gitu jauhin Keynna." desis cowok jangkung dengan raut dingin itu.


Alfaro menggeleng, "Sayangnya gak bisa. Gue udah terlanjur suka sama Keynna. Dan gue akan dapetin dia bagaimanapun caranya."


"Lo gak suka dia karena cinta, jangan sok suci." decih Arshaka.


"Itu tergantung. Gue emang suka sama dia tapi gak menampik gue bakal manfaatin dia buat nyakitin lo."


Arshaka menarik kerah seragam Alfaro, "Jangan pernah main-main sama gue."


"Gue bisa main-main. Gue bukan Alfaro yang dulu. Yang ngebiarin cewek yang gue suka diambil cewek lain. Gue gak mau direbut lagi tapi gue mau ngerebut."


"Alfaro.." desis Arshaka menatap tajam mantan sahabatnya.


"Lo ngerebut Risa dari gue, dia bahkan terlihat menderita saat sama lo. Jadi gue pengen lo ngerasain yang sama. Gimana rasanya liat Keynna direbut oleh mantan sahabat lo sendiri dan dibuat menderita."


Arshaka makin kehilangan kendali atas emosinya, "Target lo gue, jangan seret Keynna."


"Lebih baik kalau punya asisten, kan." tukas Alfaro santai.


"Jauhin Keynna." tekan Arshaka.


Alfaro menatap sengit Arshaka, "Gak akan."


"Lo.." Arshaka hampir meninju Alfaro kalau-kalau Regan tidak datang dan menginterupsinya.


"Woy, Keynna berantem!" pekiknya.


Alfaro dan Arshaka terkejut, "Apa?"


***


Arshaka langsung berlari meninggalkan Regan menuju toilet perempuan di lantai satu. Dan begitu sampai, banyak siswa sedang berkerumun.


Arshaka langsung menerobos masuk dan para siswa seketika tersadar ada Arshaka. Mereka memberi jalan bagi pangeran sekolah itu.


"Berhenti!" teriak Arshaka lantang.


Perkelahian langsung berhenti. Semua pelaku merasa terkejut mendapati Arshaka ada disana. Menatap mereka semua dengan pandangan dingin. Hawa seketika berubah mencekam, para siswa yang terlibat maupun yang menonton tak ada yang berani bersuara.


Drap drap


Pak Didi dan Bu Dayu datang begitu ada yang memberi tahu mengenai insiden ini. Mereka terkejut melihat betapa kacaunya situasi yang ada dihadapan mereka.


"Kalian berdelapan, ikut saya ke ruang guru!" teriak Bu Dayu penuh amarah.


Kedelapan cewek itu seketika berwajah pucat. Terlebih Keynna, Anna dan Lisa. Tapi tak ada yang bergerak duluan. Mereka semua membatu ditempatnya masing-masing. Dan itu membuat Bu Dayu naik pitam.


"SEKARANG!" pekik Bu Dayu.


Semuanya tersentak. Maka satu persatu siswi yang terlibat mulai berjalan mengikuti Bu Dayu dengan perasaan kesal dan penampilan berantakan. Mereka semua menjadi pusat perhatian semua orang.

__ADS_1


Dan orang terakhir yang keluar dari toilet adalah Keynna dengan penampilan paling kacau. Siku dan pelipisnya bahkan berdarah, tidak seperti yang lainnya. Cewek itu sempat bertatapan dengan Arshaka. Cowok itu menatapnya dengan tatapan paling dingin yang pernah Keynna liat. Hati Keynna mencelos.


Mampus gue, rutuknya dalam hati. Bukan takut karena kemarahan Bu Dayu melainkan takut pada kemarahan Arshaka yang hampir meledak sebentar lagi.


__ADS_2