Cowok Dingin Itu Mantanku!

Cowok Dingin Itu Mantanku!
Semua Tentang Lo


__ADS_3

"Na, jawab gue." tuntut Keynna kala Anna hanya mampu terdiam.


"Kenapa lo gak bilang sama gue? Ada alasannya kan kenapa lo selalu bolos sekolah? Lo selalu pake baret atau kupluk karena hal ini kan? JAWAB GUE ANNA MALDIVA!" teriak Keynna kalut dan kesal.


Melihat situasi yang memburuk, Arshaka langsung mengambil alih. Dia menghampiri Keynna dan berusaha menenangkannya.


"Tenang Key, Anna punya alasannya." ucap Arshaka.


"Kalian bicaralah dahulu. Bicaralah dan jelaskan dengan baik. Setelah itu temui saya di ruangan saya." ucap lelaki bersneli itu yang ternyata adalah ayah Arshaka, Ardi.


Anna mengangguk pelan. Sepeninggal Ardi, Arshaka dan Keynna hanya diam. Hingga Anna memecah kesunyian.


"Lo mau denger kan? Ikut gue." ucap Anna pelan.


Anna berjalan terlebih dahulu diikuti Arshaka dan Keynna. Mereka berjalan lurus hingga sampai di sebuah lorong sepi. Anna berhenti melangkah dan berbalik menghadap Keynna.


"Saka, bisa lo tinggalin kita berdua?" pinta Anna sebelum itu.


Arshaka mengangguk dan tanpa kata lelaki itu langsung menjauh beberapa langkah agar memberi Anna dan Keynna privasi. Lelaki itu percaya bahwa permasalahan ini haruslah dibicarakan baik-baik agar tidak jadi kesalahpahaman.


Sepeninggal Arshaka, Anna menatap Keynna dengan pandangan sayu. Wajahnya pucat tapi tetap bersinar.


"Gue kena kanker otak. Stadium tiga." tandas Anna to the point.


Keynna tersentak, dia tetap terkejut karena mendengar itu langsung dari mulut Anna.


"Lo..ke-kenapa bi-bisa..." Keynna tergagap karena saking terkejut.


"Udah lama. Sebelum gue dan keluarga gue cabut dari Indo. Mungkin lo pernah denger rumor antara gue sama Regan. Entah si Lambe Lisa yang ngasih tau atau siapapun. Tapi gue cabut dari Indo bukan karena papa gue ngekhianatin papanya Regan. Itu karena gue didiagnosis kanker otak." jelas Anna. "Gue baru pertama kalinya ngasih tau soal kebenaran ini ke orang lain kecuali Regan. " lanjut Anna.


"Itu sebabnya Regan gak benci sama lo, itu karena dia tau soal ini."


Anna mengangguk, "Gue bisa tahan sama kebencian orang lain ke gue bahkan gue gak masalah orang tuanya Regan ngebenci gue setengah mati. Tapi engga sama Regan. Gue gak mau dia benci gue karena kalau itu terjadi, gue akan lebih putus asa dari ini." lirih Anna.


"Tapi kenapa lo ngerahasiaan ini dari kita semua?" tanya Keynna.


"Karena percuma gue ngomong kalau nyatanya hidup gue sebentar lagi. Gue gak mau nyebarin kesedihan ke orang-orang disekeliling gue. Gue gak mau jadi beban lagi."


Keynna mengusap bibir bawahnya. Dia menjadi gelisah. Setelah itu dia mengenggam jemari Anna yang saling bertaut.

__ADS_1


"Na, lo salah kalau lo mikir lo jadi beban. Gua sama Lisa gak pernah mikir kayak gitu. Kita sahabatkan? dan seorang sahabat akan setia menemani baik di masa senang maupun masa sulit. Lo jangan ngerasa lo sendirian. Lo punya kita. Dan kita akan menemani lo untuk berjuang melawan penyakit lo."


"Tapi gue udah gak sanggup lagi, Key. Gue udah gak kuat." ucap Anna menitikkan air mata.


"Lo pasti bisa. Lo pasti sembuh. Gue yakin." ujar Keynna ikut terisak.


Anna menggeleng dengan air mata menggenang "Gue gak mau lagi, Key. Gue mau pulang. Gue gak mau disini lagi. Gue cape." isak Anna langsung memeluk Keynna dengan erat.


Keynna balas memeluk sahabatnya itu, dia ikut terisak.


"Lo pasti bisa, An. Lo harus semangat, lo gak boleh nyerah. Lo harus mikirin berapa bamyak orang yang akan sedih kalau lo nyerah gitu aja. Regan udah usahain semuanya buat lo. Dan lo mau ninggalin dia gitu aja? Lo mau ninggalin sahabat lo gitu aja?"


Anna tak menjawab, dia terus saja terisak hebat di pelukan Keynna. Dan Keynna mengerti apa yang di rasakan Anna. Anna sangat kesakitan, dia juga tak ingin menyerah tapi kondisi dan mentalnya terus terpuruk. Dia kesepian dalam melawan penyakitnya. Tak ada yang bisa diajak bicara. Harapannya juga terus menurun seiring dengan penyakitnya yang terus menggerogoti selnya. Dan semua perasaan ini, kesakitan, ketakutan, kekecewaan, kecemasan dan rasa lelah teramat hebat bertumpah ruah menjadi isak tangis hebat.


Anna sudah lemah. Dia sudah menyerah.


***


Malam tiba. Jalanan Bandung tiba-tiba basah. Sore tadi, hujan turun cukup deras hingga suhu turun beberapa derajat. Keynna akhirnya tak jadi pulang, dia menemani Anna terlebih dahulu.


Dan selama itulah, Arshaka terus menemaninya. Lelaki itu tak ingin pulang sebelum Keynna pulang.


"Masih dingin?" tanya Arshaka sambil melirik Keynna.


Keynna mendesah, "Masih dinginan sikap lo." ujar Keynna acuh.


"Tapi gue hangat sama lo." balas Arshaka.


Keynna melirik Arshaka yang pandangan lelaki itu tetap lurus kedepan.


"Lo udah tau." ini bukan pertanyaan tapi pernyataan.


Arshaka mengangguk. Dia tau apa yang sedang dibicarakan oleh Keynna.


"Sejak kapan?" tanya Keynna lagi.


"Tiga hari lalu." balas Arshaka singkat.


"Kenapa lo gak bilang?" tuntut Keynna.

__ADS_1


"Karena Anna juga gak tau kalau gue tau soal penyakitnya."


"Darimana lo tau?"


"Dokter yang ngerawat Anna adalah ayah gue. Gue tau karena beliau cerita."


Keynna menganggukkan kepalanya mengerti. Dia lalu kembali menatap ke luar jendela.


"Jangan dibawa stress." ucapan Arshaka membuat Keynna kembali menoleh padanya. "Anna udah dewasa, dia tau apa yang dia pilih. Lo sebagai sahabatnya hanya bisa mendukungnya." lanjut Arshaka.


"Tapi gimana kalau Anna milih nyerah? Dan gue harus dukung gitu?" decak Keynna kesal.


"Anna pasti punya pertimbangannya sendiri. Gue hanya berharap dia gak mutusin dalam keadaan yang masih kacau."


"Tapi gue gak rela kalau Anna nyerah gitu aja. Maksud gue, kanker emang gak bisa disembuhin apalagi udah kronis gitu tapi paling enggak, Anna masih bisa hidup lama kalau Anna bisa bangkit dan ngejalanin semua pengobatan."


"Gue juga ngomong gitu sama ayah gue."


Dan setelahnya tak ada pembicaraan lagi. Arshaka dan Keynna sama-sama diam. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Arshaka yang fokus menyetir dan Keynna yang terus menatap pemandangan di luar jendela.


Tiba-tiba mobil berhenti. Keynna langsung melirik Arshaka yang sudah melepaskan sealt belt nya.


"Kenapa?" tanya Keynna bingung.


"Gue mampir ke minimarket dulu. Lo mau nitip sesuatu?" tanya Arshaka.


Keynna menggeleng. "Jangan lama-lama." pesannya lalu setelah itu kembali memalingkan wajahnya ke jendela disampingnya.


Arshaka mengangguk, dia kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju minimarket.


Lima menit kemudian, Arshaka sudah kembali. Dia masuk ke mobil dengan dua buah botol minuman di tangannya. Dia menyerahkan satu pada Keynna.


"Lo masih inget?" tanya Keynna menatap cola di tangannya.


Arshaka terlebih dahulu menaruh botol minumnya di dashboard setelah itu menjawab, "Semua tentang lo, apa gue sanggup buat ngelupain? " pungkas Arshaka meski dengan nada datar.


Lelaki itu lalu dengan cueknya langsung menghidupkan mesin mobil.


Keynna tak menjawab ucapan Arshaka, jemarinya memeluk erat botol cola pemberian Arshaka.

__ADS_1


__ADS_2