
Sesampainya di rumah sakit, Keynna langsung berlari mencari ruangan Arshaka. Perempuan itu sangat khawatir.
"Ruang Hermina 3." ucap Keynna pada resepsionis.
"Lantai 3 VIP sebelah kanan." beritahu resepsionis.
"Terima kasih."
Keynna kembali berlari menuju lift namun saat didepan lift, sialnya lift itu belum turun. Keynna menunggu namun karena tidak sabaran, perempuan itu memutuskan naik tangga.
Keynna naik melalui tangga, namun baru saja di lantai pertama, perempuan itu sudah ngos-ngosan.
"Arrgh." Keynna mengcengkeram perutnya. Kenapa tiba-tiba sakit?
Setelah sakitnya mereda, Keynna kembali naik, namun kini tidak berlari, dia berjalan selangkah demi selangkah. Rasa sakitnya menjadi tidak tertahankan saat dirinya sampai di undakan terakhir. Perempuan itu terduduk lemas.
"Gue kenapa, njir? Gak mungkin mens sesakit ini." lirihnya. Mungkin dia telah melupakan sesuatu yang sangat fatal.
Drrt
Ponselnya bergetar, dengan gemetar, Keynna mengambilnya dari saku. Keringatnya menjadi deras bercucuran.
"Halo, Lis." ucapnya terbata-bata.
"Woy, lo dimana, Key?" tanya Lisa diseberang telfon.
"Gue di depan tangga." jawab Keynna.
"Lah, lo gak lewat lift?"
"Tadi liftnya belum turun. Gue telanjur panik."
"Yaudah buru, kesini. Gue udah di ruangan."
"Iya, gue kesana."
Keynna memutuskan sambungan telfonnya. Dia menghirup nafas dalam-dalam. Keynna meremas perutnya. Rasanya masih melilit. Usai sakitnya mereda, Keynna bangkit dan berjalan pelan menuju ruangan inap Arshaka.
***
"Saka, lo kenapa bisa ditusuk gitu?" di ruangan inap Arshaka, Lisa, Panji dan Raffa berkerumun melingkari Arshaka yang terbaring dengan infus di tangan kanannya. Bibirnya masih pucat namun wajahnya tak sepias tadi.
"Gue gak inget. Tapi gue lagi makan siang sama Kieena saat itu. Dan tiba-tiba ada preman atau ODGJ kali ya, dia bawa pisau dan nusuk gue gitu aja." cerita Arshaka.
"Dia nusuk lo gitu aja? Di tempat rame?" pekik Lisa kaget.
Arshaka mengangguk.
"Terus Kieena saat itu gimana?" tanya Panji.
Lisa memukul pundak Panji keras, "Malah khawatirin cewek lain. Khawatirin tuh temen lo, goblok!" kesal Lisa.
"Maksud aku tuh gini yang, aku cuma pengen tau reaksi nenek lampir itu." jelas Panji.
Lisa mendengus kasar.
"Gue gak tau. Gue langsung pingsan gitu aja."
"Entah kenapa gue curiga, itu kerjaannya si nenek lampir. Dia kan pengen lo mati." celetuk Raffa.
"Tapi gila juga ya dia, nyuruh ODGJ nusuk lo gitu aja? Dia kayaknya emang beneran pengen lo mati." tambah Lisa tak habis pikir.
"Eh btw, Keynna lama banget ya?" Lalisa sadar kalau Keynna belum sampai juga dari tadi.
"Keynna kesini?" tanya Arshaka. Lisa mengangguk.
"Seharusnya dia sampai duluan, orang dia kabur gitu aja."
Brak
Ketiganya berjengit kaget ketika pintu terbuka keras. Keynna berdiri disana dengan sempoyongan. Arshaka segera bangkit namun merintih karena luka di perutnya masih basah,
"Saka." panggil Keynna pelan. Keringat dingin bercucuran di pelipis wanita cantik itu.
__ADS_1
Bruk
Namun, Keynna tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri,
"Keynna!" pekik Lisa kencang.
***
Keynna terbaring di atas ranjang pesakitan, infus terpasang di punggung tangannya. Perempuan itu mengeryitkan dahi, menerima rangsangan cahaya yang masuk ke retinanya.
"Key?" panggil Lisa.
"A-air, please." lirihnya.
Lisa lekas membantu Keynna minum, setelah dua tegukan, Lisa menaruhnya kembali ke atas nakas.
"Are you okay, Key? Masih ada yang sakit?" tanya Lisa khawatir.
"Gak terlalu sakit. Tapi gue lemes." jawabnya.
Lisa menghela nafas lega, "Gue syok banget pas lo tiba-tiba ambruk, Key. Untung ponakan gue gapapa. Lo pendarahan tadi!' serunya.
Keynna mematung.
"****, gue lupa, gue lagi hamil!" sesalnya. "Tapi dia gak kenapa-kenapa, kan?"
Lisa menggeleng, "Dia gak papa-papa, tapi kandungan Lo lemah, Key. Lo harus bedrest."
Keynna mendesah, terlalu banyak masalah yang terjadi belakangan ini. Sampai-sampai dia melupakan ada sebuah makhluk hidup yang sedang bertahan di rahimnya.
"Tunggu, gue pingsan di ruangan Saka kan?" Lisa mengangguk. Keynna mendadak pucat pasi, "Berarti dia tau gue hamil?"
"Dia belum tau. Dia syok banget pas Lo pingsan. Dia langsung lepasin infusannya dan lari ke Lo sampai-sampai luka di perutnya kebuka lagi. Dia mendadak ambruk pas di samping Lo." cerita Lisa.
"Segitu paniknya dia?"
Lisa mengangguk, "Lo kan kesayangannya. Liat Lo gak sadarkan diri ya langsung panik kesetanan."
"Lisa, bisa gak Lo gak kasih tau ke siapapun soal kondisi gue?" pinta Keynna.
Keynna menganggukan kepalanya, "Gue belum siap aja sama semuanya. Biarin gue terima dulu dengan sepenuhnya. Baru gue terbuka sama orang lain."
"Key," Lisa menyentuh punggung tangan Keynna, "Hamil bukan sesuatu yang akan ditunggu waktu. Semakin lama perut Lo bakal membesar jadi mau gak mau, siap atau gak siap Lo harus jujur terlebih sama Arshaka dan keluarga Lo."
"Lo tau kan dia aib? Dia ada di luar ikatan pernikahan!"
"Tapi itu bukan salah dia, itu salah kedua orang tuanya. Lo sama Saka. Janin ini gak bersalah. Lo gak berhak sebut dia aib. Tapi kelakuan orang tuanyalah yang aib menjijikan." tukas Lisa.
Melihat Keynna yang terdiam menunduk, Lisa cepat-cepat meralat, "Sorry Key, bukan maksud gue. Sorry, kalau ucapan gue nyakitin Lo." ucapnya tak enak hati.
"Lo bener kok. Gue yang salah. Gue dengan jelas dan inget lakuin gak semestinya sama Saka tapi sekuat apapun gue mencoba bertahan, gue tetep terhipnotis sama dia. Dari kejadian itu gue sadar, kalau gue emang secinta itu sama dia." ungkap Keynna dengan mata berkaca-kaca.
Lisa memandang penuh simpati, perempuan itu memeluk Keynna, "Kalau gitu kenapa Lo gak balikan aja Key?" tanyanya.
"Gue mau tapi gue gak yakin. Gagalnya pernikahan nyokap dan bokap bikin gue trauma dan sejujurnya gue juga gak yakin soal makna pernikahan itu apa."
"Key, Isaac Newton gak mungkin ciptain teori gravitasi kalau dia gak liat ada apel yang jatuh dari pohon. Dan Lo gak mungkin tau rasanya bahagia soal punya keluarga ketika Lo bahkan ga berani memulai membuat keluarga. Lo harus ngalamin Key, baru Lo bisa berkomentar apapun." nasihat Lisa.
"Sejak kapan Lo sok bijak gini, Lis?" celetuk Keynna.
Lisa menjitak kepala Keynna pelan, "Yeay, Ijem! Rusak suasana aja Lo. Gue tuh cerdas ya dari lahir." cebiknya.
Keynna terkekeh, "Makasih ya Lalisa, Lo selalu ada buat gue. Jadi tempat curhat terbaiknya gue. Pantes Panji bucin banget sama Lo." pujinya.
"Lalisa gitu loh! Siapa sih yang gak suka sama gue? Omong-omong soal Panji, tadi dia bilang kalau Regan bakal balik, beneran?"
Keynna mematung. Pelukannya terlepas.
"Regan pulang?"
***
Arshaka sadar dari pingsan keduanya. Begitu cahaya masuk ke retinanya, pikirannya langsung tertuju pada Keynna. Lelaki itu seketika panik.
__ADS_1
"Keynna!" serunya, mencoba bangun dengan susah payah.
"Eh-eh! Jangan bergerak dulu. Luka Lo masih basah noh. Dijahit dua kali sama dokter gegara tadi Lo main lari gitu aja. Lupa situ kena tusuk?" nyinyir Raffa.
"Keynna dimana Raf? Gue mau ketemu Keynna!" pekik Arshaka. Yang dia pedulikan sekarang adalah keadaan gadis itu.
"Udah ditanganin sama dokter. Dia di ruang rawat sebelah Lo lagi sama Lisa."
"Gue kesana." putus Arshaka.
Arshaka mencoba bangkit lagi namun bahunya ditahan Raffa, "Ck, diem dulu napa sih! Seenggaknya sampai luka Lo agak membaik. Dokter tadi pesan kalau Lo gak boleh banyak gerak dulu atau luka Lo akan terbuka lagi." cegah Raffa.
"Gue gak peduli. Minggir, gue mau ketemu Keynna. Mastiin keadaan dia baik-baik aja."
"Ck, lebay amat sih lu berdua. Udah sih, tenang dulu. Keynna juga gak kenapa-kenapa kok, dia udah siuman tadi kata Lalisa. Tuh si Panji juga lagi kesana, mastiin juga."
Brak
Panji membuka pintu ruangan dengan kasar. Dia langsung menghampiri Arshaka.
"Saka, Lo sadar!" pekiknya.
"Terus teriak yang kenceng, dasar kudanil Lo! Udah tau ini rumah sakit." sindir Raffa kesal.
"Siapa bilang ini rumah hantu? Waras dikit kek Raffa." balas Panji.
"Yang bilang ini rumah hantu siapa Dugong Junaedi?!"
"Ya tadi Lo bilang gitu, gue juga tau ini rumah sakit. Lo gak usah ngomong hal yang udah jelas. Dasar bego!"
"Lo yang bego!" balas Raffa.
"Lo kok nyolot sih?!" Panji tidak terima.
"Lah Lo duluan, babi!"
"Lo!"
"Lo!"
Kedua lelaki dewasa itu masih saling berdebat sembari saling tunjuk, Arshaka menghela nafasnya. Sampai kapan kedua temannya ini dewasa?
"BERHENTI ATAU GUE JAHIT MULUT MONYONG LO BERDUA!" teriak Arshaka kesal.
Raffa dan Panji berhenti, mereka menatap ngeri Arshaka.
"Ancaman Lo agak---" Panji menyengir.
"Ini rumah sakit, bego! Kalian berdua kalau mau ribut, sana di pengadilan, biar perlu cerai sekalian!"
"Lah gue kan gak nikah sama dia." tukas Raffa.
"Iya ogah banget, pisang makan pisang. Gue masih suka donat." timpal Panji.
Arshaka memijat pelipisnya, "Pusing gue sama kalian. Suka-suka kalian aja lah." pasrahnya.
"Eh btw, gue tadi mau ngomong sesuatu, Saka!"
"Teriak sekali lagi, gue cemplungin Lo ke Amazon!" ancam Arshaka.
Panji menyengir kuda, "Salam damai, bro."
"Jadi apaan sih?" celetuk Raffa udah mulai kepo.
"Tapi gue harap Lo siapin hati dan pikiran Lo ya Saka. Karena gue yakin ini akan sangat amat luar biasa membuat Lo kaget setengah hidup!"
"Cepetan elah Dugong, lama amat Lo openingnya." decak Raffa.
Panji melirik Raffa maut, "Santai, atuh!"
"Jadi--gue tadi kesana kan. Ke ruang rawat Keynna. Nah gue gak ketuk pintu dulu, pas gue buka ada celahnya kan, nah dari situ gue denger kalau Keynna sebenernya lagi hamil."
"Apa?!" seru Raffa dan Arshaka.
__ADS_1
"Dan dia anak lo, Saka." ungkap Panji.
"APA?!" Arshaka berteriak kencang, kini mungkin dirinya yang harus dicemplungkan ke Amazon!