DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Kebersamaan


__ADS_3

Hari ini Max kembali ke rumah, ia ingin menemui istri kecilnya. Max penasaran akan keadaan gadis manja itu selama seminggu tidak berjumpa dengannya.


Saat akan memasuki kamar Anita, ia terpaku mendengar suara berirama yang di iringi gitar dari dalam kamar. suaranya begitu merdu dan menenangkan siapapun yang mendengarnya. suara itu suara Anita, jelas! sebab tidak ada yang bisa masuk dalam kamar itu kecuali dirinya dan Anita. peraturan itu berlaku sejak Anita berada di rumah ini. entah mengapa demikian, hanya Max yang tahu.


Max menyandarkan bahunya di pintu sambil bersedekap dada menikmati alunan gitar yang begitu pas dengan iringan suara merdu yang dimiliki putri bungsu Malik Pratama itu, Max memejamkan matanya.


lama ia menikmati hingga tiba tiba sunyi, Max tersadar dan langsung membuka pintu tanpa mengetuk, lalu melangkah masuk


Ceklek


Anita yang baru saja menyimpan gitar Max pada lemari kaca sontak menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. bola matanya melebar sempurna dengan kilatan bahagia melihat sosok sang suami di sana


"MAX!" Anita menyeru sembari berlari dan langsung menubruk tubuh lelakinya "Aku merindukanmu" ucapnya tanpa malu-malu lagi dengan kedua tangan mendekap erat tubuh lelaki yang belakangan menjadi penguatnya


Mau tak mau Max membalas pelukan Anita. entah mengapa tangannya terdorong begitu saja membalas pelukan istri mudanya itu.


"hei kenapa nangis, hm?" tanya Max bingung mendengar suara Isak tangis wanita yang berada dalam dekapannya itu.


"jangan tinggalkan aku, Max" suara Anita terdengar begitu lirih dan sarat akan kepiluan. seminggu ini ia benar benar kesepian di rumah besar ini. apalagi bayangan keluarganya yang mengabaikan dirinya hampir setiap malam menghantui tidurnya. ia takut Max juga akan meninggalkannya


Deg


Max membeku


Apakah Anita tau apa yang akan dilakukannya. tanyanya dalam hati


Max tak menjawab, lelaki itu hanya mempererat dekapannya sesekali mengusap lembut kepala Anita


'jangan memberinya harapan terlalu dalam Max' tiba tiba pikiran Max mengingatkan tujuan yang sebenarnya


Max melerai pelukannya dan menangkup pipi Anita dengan ke dua tangan kekarnya


"Cup cup cup, jangan nangis, jadi jelek istri aku kalau nangis" godanya dengan nada penuh canda sambil mengerlingkan sebelah matanya


Anita tersipu, wajahnya yang semula memerah karna menangis sekarang memerah karna malu, kembali Anita memeluk Max dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Max


'setidaknya jangan sekarang, karna air matamu akan kau butuhkan nanti, jangan sampai kering sebelum waktunya' Batin Max dengan bibir menyeringai, matanya sirat akan dendam yang tentu tak di sadari oleh Anita

__ADS_1


"Max"


"hm"


"maaf"


"untuk?"


Anita menguraikan pelukannya dan menatap mata Max sebentar kemudian menunduk


"aku sering memakai gitar mu" cicitnya sambil memainkan kuku kuku tangannya


"serius!" suara Max naik 1 oktaf


Anita semakin menundukkan kepalanya takut Max akan marah karna dengan lancangnya memakai barang Max tanpa izinnya.


tapi bukankah milik Max juga miliknya. pikirnya


"maaf, aku bosan dan ketika melihat gitarmu aku tertarik. maaf" cicit Anita ketakutan. ia sungguh takut kesalahannya membuat Max marah dan meninggalkannya


"Emang kamu bisa main gitar?" tanya Max lembut sembari memegang pundak Anita, lelaki itu sungguh pandai membolak-balikan ekspresi wajahnya hanya hitungan detik


Anita langsung menatap mata Max, ia tidak melihat ada amarah disana, dan ia mengangguk antusias, mengaku akan pertanyaan sang suami


"kamu tidak marah?" tanya Anita memastikan


Max tergelak


"Hahahah, kenapa aku marah, hm? aku senang kamu menggunakan barang barang ku sayang" Max mengacak gemas rambut Anita, tapi percayalah di dalam hati Max ia ingin menjambak rambut itu hingga terlepas dari kepala Anita.


'oh ayolah Anita, kenapa kamu sejujur itu sih. aku mau kau melakukan kesalahan yang tak termaafkan hingga aku bisa memulai aksiku' batin Max kesal. kenapa Anita susah sekali berbuat kesalahan sih, kan ia tidak punya alasan untuk memulai aksi balas dendamnya


"Makasih sayang" balas Anita tersenyum lebar


Max mematung, tangannya di kepala Anita terpaku disana, ini pertama kali Anita memanggil Max dengan sebutan 'sayang'. mungkin kah gadis itu mulai... mencintainya?


Max menelengkan kepala, mungkinkah ia salah dengar? namun semua itu tertepis saat Anita kembali membuka suara

__ADS_1


"kenapa? kamu nggak suka yah kalau aku memanggilmu sayang" tanya Anita penuh keraguan


"eh,, oh gak lah sayang, seharusnya kan memang gitu panggilannya" kembali mengacak rambut Anita


dasar gadis naif! batin Max


saat Max kembali mengacak rambutnya tiba tiba raut muka Anita berubah jadi sendu


"hm? kenapa bersedih? aku gak marah kok" Max di buat bingung dengan reaksi Anita


"Aku teringat kak Aqram, ia sering sekali menganggu ku dengan mengacak acak rambutku" ucap Anita sendu


'ya kamu memang harus mengingatnya, jangan melupakan mereka. lebih sering kau teringat keluarga yang meninggalkanmu itu lebih senang pula aku, lebih sakit yang kau rasa lebih senang pula aku rasa' batin Max bersorak


Malam harinya Max masih sibuk berkutat dengan laptop di sofa kamar, sedangkan Anita hanya berdiam diri sembari menatap lekat wajah suaminya yang sangat tampan itu, jambut jambut halus di sekitaran dagunya menambah kesan maco pada lelaki yang sudah menjadi suaminya hampir 2 bulan ini.


Max sesekali melirik ke arahnya, dalam hati Max bersorak, ini nilai plus baginya, ia yakin Anita sudah mencintainya. dan bukankah kesakitan berkali lipat dirasakan jika orang yang dicintai yang juga memberi luka. HAH! rencana yang sangat sempurna


"Sayang tidur gih, udah larut ini" sahut Max tanpa menoleh, matanya fokus pada layar laptopnya


"aku nungguin kamu" jawab Anita sembari tersenyum hangat ke arah Max


"aku masih lama sayang" akhirnya Max menoleh ke arah Anita


"gak papa, aku mau nungguin suami aku selesai kerja terus tidur bareng, aku kangen di peluk kamu saat tidur" kekeuh, Anita dengan semangat menyampaikan keinginannya


Max samar samar menyeringai dan tentunya Anita tak menyadari


"ya udah, tunggu sebentar yah" setelah mendapat anggukan Anita, Max kembali fokus pada layar laptop


30 menit, satu jam, 2 jam, mata Anita sudah sangat berat, ia sekuat tenaga menahan kantuknya namun tak bisa, akhirnya ia terlelap dalam tidurnya dan alam mimpi akan menyambut hangat kehadirannya.


Max selesai dengan pekerjaannya, ia menoleh ke arah Anita, tatapan datarnya perlahan tergantikan dengan tatapan penuh kebencian, sepersekian detik selanjutnya senyuman iblisnya muncul


"selamat tidur gadis malang, aku harap besok rencananya lancar hingga aku bisa terbebas darimu" gumam Max menatap lekat wajah damai Anita yang membuat tangannya gatal ingin menc*kik leher wanita itu


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2