DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Hancurnya hati dua lelaki


__ADS_3

bunyi ketukan pintu membuat tidur Max terusik. membuka mata yang masih terasa berat, ia merasakan cahaya matahari sudah menyinari kamarnya.


sejenak terpaku, lalu netranya memindai ruangan tempatnya berada. ini kamarnya. kamar yang dulu ia tempati semasa bujang. itu berarti ia tertidur di kamar di mansion ibunya, Nasya.


suara ketukan kembali terdengar membuatnya menoleh menatap tanpa minat pada pintu kamar yang menimbulkan suara. ia meringis ketika hendak beranjak tapi rasa ngilu dan pusing membuat pergerakannya terhenti, ia kembali pada posisi semula lalu menyeru mempersilahkan masuk pada orang di balik pintu kamarnya


dua orang maid masuk, keduanya membawa nampan, yang satu berisikan makanan dan yang satunya berisikan sebuah kain dan air hangat


"waktunya sarapan tuan. tuan mau sarapan dulu atau membersihkan diri dulu?" ujar salah satu maid dengan kepala menunduk, tak berani menatap netra tuannya yang selalu memancarkan aura dingin belakangan ini.


sedang Max hanya menatap bergantian apa yang kedua maid itu bawa. ia tak membutuhkan pelayanan meraka. namun ketika tersadar keadaannya, ia terpaksa menyahut agar sarapan lebih dulu.


"apa ibu belum ada kabar?" tanya Max setelah ia selesai menghabiskan sarapannya


"belum, tuan" jawab salah satu Maid tanpa menoleh ke arah sang majikan. kedua maid itu membelakangi Max atas perintah lelaki itu


"sudah, kalian keluarlah" usirnya yang langsung diindahkan oleh maid tanpa perlu bertanya lagi mengenai kondisi sang majikan


sepeninggal kedua maid itu, Max beralih menyalahkan tv untuk mengusir rasa bosan. sudah satu minggu ia berada di mansion Nasya, tapi Max sama sekali tidak mengetahui kemana perginya sang ibu yang tiba-tiba tanpa kabar, wanita baya itu hanya meninggalkan sebuah note kalau dia baik-baik saja dan Max tak perlu khawatir, perempuan yang Max panggil ibu itu, yang mengakibatkan Max harus menerima balasan dari amarah seorang ayah dari gadis yang disiksa atas nama balas dendam, mengabarkan akan kembali setelah urusannya selesai, jadi Nasya berpesan agar Max tak perlu mencarinya.


Max tak membenci ibunya, walau bagaimanapun hanya Nasya yang ia punya sebagai orang tua. bahkan wanita itu alpa selama ia koma di rumah sakit tak membuat Max membenci ibunya walau rasa kecewa tentu saja timbul di dasar hatinya.


renungan Max terpecah ketika kejadian satu bulan lalu menjadi topik berita yang disiarkan di layar tv.

__ADS_1


berita yang cukup mengguncang relung hatinya hingga penyesalan kian mendera. berita yang belakangan dihindarinya namun kali ini ia penasaran sampai mana perkembangan berita itu.


namun Max tak mendapati kelegaan apapun bahkan setelah pihak berwajib mengkonfirmasi jika peristiwa yang menewaskan puluhan orang itu adalah tindakan bom bunuh diri. karna bagaimanapun asal usulnya kejadian, dalam peristiwa itu telah merenggut nyawa seorang gadis malang, gadis yang membuat Max berhutang permohonan pengampunan.


"maafin aku" gumam Max dengan mata berkaca-kaca kala layar tv beralih memutar rekaman bagaimana hancurnya sebuah bangunan tingkat tiga luluh lantah dengan tanah akibat ledakan bom


meski tak bisa mengenali siapa saja korban yang terjebak disana akibat tubuh yang ikut hancur, tapi melalui beberapa cctv sekitar rumah makan itu, polisi dengan mudah mengkonfirmasi korban-korban. Max bahkan Pratama hari itu ikut memeriksa cctv karna tak percaya akan kabar yang disampaikan bawahan Max bahwa Anita disana. dan ya, dalam rekaman cctv, Anita ada di dalam bangunan saat bom meledak. gadis muda itu terlihat masuk beberapa menit di sana sebelum bom meledak.


dan bersamaan dengan hari itu, Max merasakan antara hidup dan mati sebab beberapa tulangnya harus patah akibat pembalasan dari seorang ayah yang kehilangan seorang putri cantiknya karna dijebak olehnya.


entah Max harus berterima kasih atau tidak, yang jelas Max masih beruntung masih disisakan nyawanya oleh Pratama hari itu. meski harus terbaring kaku di rumah sakit beberapa waktu.


tersadar dari komanya, Max langsung meminta pulang ke mansion Nasya. meski tiga minggu lebih tak sadarkan diri, tapi ia tak lupa jika ia butuh penjelasan dari sang ibu, namun sayang, Nasya malah tidak ada di mansion, bahkan setelah satu minggu Max menunggu, wanita yang melahirkannya itu tak juga menampakkan batang hidungnya.


sedang di belahan negara lain, lelaki paru baya itu kembali menghukum dirinya di dalam ruang kerjanya.


sampai kapanpun ia terus menyalahkan diri atas kehilangan sang putri.


jika saja hari itu ia memberi kesempatan pada putrinya.


jika saja hari itu ia tidak mengedepankan rasa malu.


jika saja hari itu ia mau merengkuh putrinya dan membimbingnya saat melakukan kesalahan seperti yang ia lakukan saat putri kecilnya melakukan kesalahan sewaktu kecil.

__ADS_1


jika saja ia tak pergi meninggalkan Jakarta sehingga tetap dapat memantau keberadaan putrinya.


jika saja ia datang lebih cepat...


dan sekarang tak ada gunanya berandai. sebab putrinya memilih pergi jauh dari pada memberinya kesempatan untuk merengkuh kembali, memohon maaf atas keegoisannya, putrinya yang malang kini telah damai diatas sana meninggalkan dirinya yang setiap detik di hantui penyesalan dan rindu tiada tara


"Anita, putriku sayang, maafkan papi, nak" monolog Pertama sembari memeluk pigura foto seorang gadis yang memamerkan senyum cantiknya dengan balutan gaun mewah berwarna biru yang penuh permata, foto itu diambil saat perayaan sweet seventeen sang putri sepuluh bulan lalu


nyatanya yang merasa kehilangan bukan hanya Pratama. sang istri, yakni Angraini juga tak kalah kehilangan. wanita yang usianya tak lagi muda tapi masih sangat cantik itu bahkan setiap saat mengunjungi sebuah makam yang bertuliskan Anita Angraini Pratama


lahir 17-11-2005


wafat 02-08-2022


benar, di dalam tanah gundukan yang telah dipagari nisan metalik itu tertanam abu sang putri.


masih jelas dalam ingatan sewaktu Pratama pulang ke Jakarta seorang diri tanpa putri mereka padahal suaminya itu pergi untuk menjemput Anita pulang ke pangkuan mereka. bukannya kabar bahagia yang Pratama bawa setelah menjanjikan padanya untuk membawa pulang sang putri, malah kabar yang bagi ibu siapapun akan kehilangan kesadaran mendapati kabar jika anaknya telah meninggal dan hanya tersisakan abu. jasad putrinya hancur bersama puing-puing bangunan sehingga Pratama hanya membawa abu dari sana. rasanya Angraini gila hari itu. bahkan setiap tersadar dari pingsannya ia akan kembali pingsan kala menanyakan keberadaan Anita namun ditampar kenyataan getir kala sang putri telah pulang kepangkuan sang pencipta.


Anita, putri kesayangannya itu memilih pulang ke sisi Tuhan dari pada pulang ke pangkuan kedua orangtuanya yang telah mengabaikannya.


sudah sebulan berlalu, namun rasa kehilangan itu terus menggerogoti relungnya. rasa kehilangan dan penyesalan melebur menjadi satu sehingga Angraini kadang tak sadar tertidur di atas nisan sang putri sembari memeluk seolah ia tengah mendekap sang putri


"maafin mami sayang. mami gagal menjaga Nita, mami sayang Nita, kenapa Nita hukum mami seperti ini sayang? mami sakit disini" racau dokter spesialis kecantikan itu dengan air mata yang berderai

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2