DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Mimpi seorang Ayah


__ADS_3

seorang balita perempuan tengah berlari kecil di pinggir pantai dengan di temani cahaya jingga


"Anita, ayok sini, kejar papa" seru seorang lelaki dewasa yang merentangkan tangannya namun terus berjalan mundur agar sang putri tetap mengejarnya


"Uluh-uluh, nggak apa-apa, maafin papa sayang, udah jangan nangis" ya, gadis kecil 4 tahun itu terjatuh lalu menangis kejer membuat kedua orang tuanya gelagapan


"pintarnya putri papa"


"nggak papa tidak peringkat 1 di raport yang penting putri cantik papa ini peringkat pertama di mata papa" lelaki dewasa itu memberi semangat sang putri yang menangis sebab putri cantiknya hanya dapat peringkat 3 di hari penerimaan raport semester kelas 1 sekolah dasar


"aduh sayang, cepat banget sih gedenya, tahu-tahu sudah lulus sekolah dasar aja. kamu mau lanjut sekolah dimana? pilih dimana pun" ujar lelaki itu. ia sudah bersiap menuruti pilihan sekolah menengah pertama yang sang putri inginkan namun Anita malah bertanya balik padanya "menurut papa bagusnya dimana? Anita akan ikut kata papa" balas Anita kecil membuat lelaki itu gemas hingga menghadiahi ciuman bertubi-tubi di wajah cantik putrinya


"Gak boleh belajar mobil dulu sebelum kamu 18 tahun. papa nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, nak"


"Anita!!"


seorang lelaki paru baya tersentak setelah anak gadisnya melambai padanya lalu perlahan menghilang....


"Anita kamu dimana sayang?" Pratama langsung beranjak duduk, ia gelagapan menengok kanan kiri, mencari sosok anak remaja yang baru saja menemaninya


"mas, kamu mimpi lagi?" bukannya mendapati kehadiran sang putri, Pratama malah disadarakan oleh pertanyaan sang istri, ya ia hanya bermimpi... dan ini sudah yang kesekian kalinya


Pratama menatap penunjuk waktu, ia menghela napas panjang ketika menyadari baru beberapa detik ia tertidur di atas ranjang tapi sudah didatangi mimpi itu, lagi.


"nggak, tidurlah" jawab Pratama berusaha menyembunyikan ekpresinya


"mas..."

__ADS_1


panggil Angraini dengan nada membujuknya namun segera di potong oleh sang suami


"mas baru ingat ada pekerjaan yang belum selesai, kamu lanjutlah tidur, mas mau menyelesaikan dulu..." baru saja Pratama menyingkap selimut, tubuhnya seketika menegang mendengar permintaan sang istri


"mas, ayok kembali ke Jakarta" ajak Angraini tiba-tiba


"untuk apa? ketemu anak kurang ajar itu? dia sudah mencoreng muka kita" ujar Pratama menggebu, didesak rasa rindu tapi juga rasa sakit hati masih menemani hatinya mengingat kelakuan Anita beberapa bulan lalu


"Mas tolong jangan lari lagi dari kenyataan. bukan hanya mas yang tersiksa. aku juga. bagaimanapun kesalahan Anita dia tetap anak kita mas, anak yang kita besarkan penuh cinta dan kasih. apa pernah sebelumnya ia mengecewakan kita? tidak"


"tapi dia berani berbohong dan memilih jalan kotor, Angraini. ingat fakta itu"


"apa mas tidak pernah berbuat salah? apa tak ada maaf bagi putriku, putri kita? apa pantas kita tak memberinya kesempatan disaat dalam hidupnya baru sekali dia melakukan kesalahan?" tanya Angraini beruntun membuat Pratama terdiam


_ _ _ _ _ _ _


kembali ke Madrid. langit di bagian tengah negara Spanyol itu sudah gelap, bahkan waktu menunjukkan sudah tengah malam, lelaki dengan wajah lelah itu memasuki rumahnya. seharian ini waktu dan tenaganya terkuras. ia butuh istirahat. namun langkahnya yang baru menginjak undakan tangga kedua harus terhenti ketika ia mendengar suara rintihan dari arah dapur


Max tahu, Anita baru saja dikerja oleh dua orang pembantunya itu.


kenapa para pembantu di rumah Max berani terhadap Anita? itu karna perintah langsung dari Max.


menunggu beberapa saat, Max tak tahu kenapa ia memilih berdiam diri disana dengan waktu yang cukup lama.


dan entah sadar atau tidak, tungkainya menuntunnya menuju kamar kecil di bagian belakang..


Max masuk begitu saja mengingat pintu itu tak memiliki pengaman apapun selain daun pintu.

__ADS_1


dengan langkah pelan ia mendekat ke arah kasur busa usang yang langsung bersentuhan dengan lantai. Max berjongkok disana, menatap dari atas sampai bawah tubuh kecil Anita yang meringkuk tanpa selimut. tatapan Max terhenti di punggung betis Anita, sontak ia meringis melihat luka robek disana yang cukup lebar


bukannya senang Max malah berkaca-kaca, padahal luka yang diberi kedua pembantunya tak seberapa dari luka yang ia beri untuk wanita muda bernasib malang itu, hanya saja sesuatu dalam diri Max merasa tak terima


bagaimanapun, darah yang mengalir di tubuh Anita adalah darah yang sama mengalir di tubuhnya


"inilah akibat yang harus kamu terima karna terlahir dari benih si b*ngsat Pratama" seolah takdir terlahir dari Pratama adalah pilihan Anita. Max menyalahkan wanita muda itu karna terlahir membersamai darah lelaki yang paling Max benci di dunia


"apa rasanya tak sakit? atau kamu sudah mati rasa" Max berujar sembari menatap kasihan pada sosok pemilik tubuh ringkih yang terlelap damai seolah sakit pada tubuhnya terlebih luka baru tepat di tulang keringnya tak terasa menyakitkan.


"sudah cukupkan bahagia yang kamu rasa selama menjadi anak kesayangan si pria s*alan itu? sekarang waktunya kamu menebus dosa-dosanya yang menelantarkan aku dan ibuku selama 25 tahun ini" Max berucap sembari mengelus tangan Anita, tangan yang dulunya selembut pantat bayi kini berubah kasar bagaikan tangan seorang kuli bangunan


Max mengeryit ketika merasakan tak ada tenaga pada tangan yang ada dalam genggamannya, tangan itu begitu dingin nan lemas.


"Woi, hei, woi bangun" Max menoel-noel kepala Anita bahkan menoyornya ketika tak mendapati respon gadis muda itu.


"Pingsan lagi?" Gumam Max bertanya pada dirinya sendiri ketika kepala Anita terjatuh dari bantal alih-alih terbangun


Sontak kepala Max menoleh ke arah punggung betis putih Anita yang kini berubah warna menjadi biru keunguan. sepertinya Anita pingsan karna tak kuat menahan rasa sakit itu "pasti rasanya sangat sakit ya?" tanyanya kemudian


Max segera keluar kamar setelah memperbaiki posisi kepala Anita kembali ke bantal. Tak lama setelahnya ia kembali masuk dengan kotak obat di tangannya


Memang selalu seperti itu, ketika Anita sudah sekarat, Max baru akan membantu gadis muda itu untuk mengobati lukanya.


Entahlah, mungkin karna rasa kasihan sesama manusia, atau mungkin peduli karna bagaimanapun darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah kandung, ataukah rasa belum puas memberi penyiksaan pada gadis muda itu. jika Anita cepat mati, kan Max tidak bisa berlama-lama menyiksanya untuk membalaskan dendamnya bersama sang ibu. dan diantara pilihan-pilihan kemungkinan itu, Max sendiri belum menemukan jawabannya.


Bersambunggg

__ADS_1


yang gemas kenapa Anita memilih bertahan di rumah Max dari pada hidup di luar, alasannya karna Anita itu dari masih janin sudah dimanja. ia terlalu takut hidup diluar karna tidak memiliki pengalaman susah.


anggap saja pemikiran anak berusia 17 tahun sejak kecil kaya raya yang tidak bisa menentukan langkahnya, ia masih labil dan bergantung pada orang, tak peduli bagaimana tersiksanya hidupnya. seperti itulah karakter Anita di sini..


__ADS_2