DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
peliharaan rebutan


__ADS_3

"biar Sacha yang memberinya pelajaran, ma"


"tidak. mama yang akan menghadapinya secara langsung"


"sudah-sudah. papa yang akan mengurusnya. adil bukan?"


kedua perempuan beda generasi itu terdiam dan memfokuskan tatapannya pada sosok Alexandre. yang ditatap jadi gelagapan, kesusahan menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pekat. tatapan kedua wanita kecintaannya membuatnya menyesali keputusannya. sepertinya Darlina maupun Sacha begitu tekad mengurus sanderanya kali ini.


"yaudah, kita gantian. kalian boleh mengurusnya tapi sisakan bagian untuk papa" putus Alexandre dan berhasil memutus tatapan tajam dari sorot Darlina dan tatapan memohon pada sorot Sacha


tatapan tajam Darlina dan tatapan memohon Sacha adalah kelemahan bagi seorang Alexandre


"oke, Sacha yang mau ambil alih pertama kali. titik" sahut Sacha cepat. meski ia tidak akan begitu puas menyiksa Max dengan leluasa karna harus menyisakan nyawanya untuk di eksekusi kedua orang tuanya, setidaknya Sacha harus membalas perlakuan Max. semoga saja traumanya bisa sembuh dengan melakukan hal yang sama pada lelaki kejam itu


"mama mau yang terakhir. papa boleh melakukan apapun asalkan bagian nyawanya harus bagian mama" usul Darlina mendapat anggukan dari suami dan putrinya


"baiklah, istriku"


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


"pertemukan saya dengannya"


dua orang yang menjaga ruangan membuka pintu. Sacha langsung menutup hidungnya begitu pintu terbuka bau menyengat memasuki indra penciuman

__ADS_1


"silahkan pakai masker, nona" Bartoli yang sedari tadi mengekor sigap menyerahkan masker ke arah Sacha


"kalian di luar saja" titah Sacha mengundang tatapan tak setuju dari Bartoli dan Bene


"tapi, nona..."


"tidak masalah. sandera dalam ke adaan lemah dan terikat" sela penjaga ruangan membuat Bartoli dan Bene akhirnya bernapas lega


sedang di dalam, melalui cahaya remang-remang dari balon lampu yang sesekali memercikkan cahaya kilat, Sacha dapat melihat tubuh seseorang tengah bersimpuh di lantai dengan tangan terikat. kepala lelaki itu perlahan mendongak setelah Sacha berdehem cukup keras


keduanya saling melempar tatapan datar. Sacha merasa terganggu akan tatapan Max, lelaki itu seolah menunjukkan bahwa ia tak menyesal dan menderita sama sekali.


“saya tak sengaja melihat anda disini dan menghampiri. Sungguh kehidupan yang mewah bagi seorang pengusaha kaya dari Madrid. Apakah anda tak bisa membedakan tempat untuk orang-orang ber-uang dan orang-orang yang memiliki uang?" sarkas Sacha memecah keheningan setelah melepas masker. meski bau anyir yang sangat menusuk hidung tapi ia merasa tak puas berbicara terhalang masker


"bagaimana? apakah anda kini mengerti bahwa memiliki banyak uang tak membuat anda bisa membeli segalanya, bukan?" Sacha kembali melontarkan tanya yang kentara akan olokan


"keluar" desis Max tertahan


“anda harusnya mencari fakta akurat sebelum anda bertindak, karna menyesal diakhir tak ada gunanya" ujar Sacha sembari berjalan mendekat dengan tangan menyilang di depan dadanya "tapi sepertinya peringatan saya ini tak ada gunanya, sebab anda sudah berada di lubang kematian yang anda gali sendiri"


"keluar!"


"jadi apakah anda sekarang betah tinggal di tempat seperti ini?" jika dulu Anita akan gemetar ketakutan mendengar suara tinggi Max maka Sacha malah menantang. meski ia harus mati-matian melawan rasa sakit yang kembali terasa nyata hanya dengan mendengar suara lelaki itu

__ADS_1


"saya bilang keluar!"


"perhatikan suara anda. mereka bisa saja masuk dan memukuli anda" ujar Sacha dengan nada santainya tak seperti Max yang sudah penuh emosi. harga dirinya serasa dilucuti oleh wanita yang sempat membuatnya penasaran


"saya tidak peduli! sekarang anda keluar!" Max kini mendongak menatap penuh permusuhan


"bagaimana kalau saya tidak mau?" balas Sacha dengan ekpresi wajah tengilnya yang justru membuat Max semakin kesal bukan main


"dasar perempuan sialan!"


ucapan Max yang seolah mengantarkannya pada masalalu membuat Sacha tak bisa lagi menahan diri, ia melangkah mendekat dan untuk pertama kalinya tangannya mendarat tepat di wajah biru Max. ia bukan lagi si Anita yang tak tega-an.


"kamu yang sialan!" Balas Sacha kini terang-terangan mengeluarkan taringnya


meski tubuh dan wajahnya sudah babak belur namun tak membuat Max merasakan apa-apa dari tepisan tangan Sacha yang keras. alih-alih kesakitan, Max malah terpaku melihat sorot mata Sacha yang penuh kebencian mirip seperti milik Anita ketika jarak wajah mereka hanya terpisah kurang dari satu meter


"siapa anda sebenarnya?" gumam Max


"saya? anda tidak mengenali saya? bukankah anda sendiri yang mengatakan beberapa hari lalu bahwa saya anak dari seorang petani yang sibuk mencari pria kaya untuk menjadikan suami kelak"


"saya yakin bukan hanya karna perkataan saya hari itu, tapi anda sudah menaruh benci pada saya bahkan saat pertama kali melihatku. anda punya dendam sama saya?"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2