
tubuh Max begitu lemah saat kesadaran mengambil alih dari tidur panjangnya. entah berapa lama ia tertidur dalam ruang gelap ini, perutnya begitu keroncongan dan rasa pusing yang menyerang
"gimana tidurnya?"
Max terlonjak kaget mendengar suara namun ia tak bisa melihat siapa-siapa. ia mengucek matanya, perlahan tapi pasti kekaburan penglihatannya mulai menangkap bayangan. ia masih berada di tempat yang sama. sebuah ruangan yang hanya di sinari lampu dengan watt rendah dan hanya sesekali memercikkan cahaya
'wanita ini!' batin Max menyadari keberadaan Sacha
"sepertinya anda sangat betah tinggal disini sehingga anda begitu nyenyak tidur sampai dua hari tak bangun-bangun"
oh pantas saja tubuhnya begitu lemas, dan penglihatannya tak berfungsi baik. pikir Max
Max tak pernah berpikir karna keserakahannya ingin memiliki perkebunan yang terkenal dengan hasil panen kualitas terbaik membuatnya terjebak dengan ambisinya sendiri. bukannya mendapat keuntungan Max malah menggali lubang kematian. ia benar-benar tak menyangka Alexandre dan keluarganya bukan orang sembarangan seperti yang diketahui khalayak umum. Max tahu ia tak akan keluar dalam keadaan hidup dari sini. apalagi ia telah mengetahui bos Vangster yang sesungguhnya. menyesal? sejujurnya iya, namun tak ada gunanya menunjukan penyesalan dan memohon pengampunan.
ini jalan yang pilih dan harus ia jalani. mungkin juga ini adalah karma dari perbuatannya di masalalu
'Anita, kamu pasti bahagia di atas sana melihatku dalam keadaan begini, kan? selamat, orang jahat ini akhirnya mendapatkan juga penyiksaan yang sebenar-benarnya penyiksaan' batin Max
__ADS_1
Max mengabaikan ocehan Sacha. sejujurnya ia kelaparan bahkan tenggorokan terasa gersang namun pantang baginya memohon di beri makan oleh Sacha. pasti ia hanya akan berakhir di olok
'tak apalah. aku sudah terbiasa tidak makan selama berhari-hari dalam lima tahun terakhir ini' batin Max menguatkan diri.
ada gunanya juga hukuman yang ia beri untuk dirinya sendiri demi merasakan apa yang pernah Anita alami ketika tak diberi makan seharian olehnya lima tahun lalu
"Waw! respon apa itu? begini sikap anda pada orang yang telah menolong dan mengobati luka anda?" seru Sacha dengan nada kecewa yang dibuat-buat melihat respon Max yang membuang muka dan berbaring membelakanginya
tubuh Max mematung mendengar kalimat itu. kalimat yang tertanam di memori pernah terucap dari mulutnya lima tahun lalu. sebuah kalimat yang mengandung banyak makna untuk dirinya di masa itu.
lagi-lagi Max merasa seperti ditampar akan ucapannya sendiri di masalalu. seperti ini kah yang Anita rasakan dulu? saat terbaring lemah olehnya dan ia datang mengobati? ada rasa haru dan muak sekaligus
tapi tunggu. bagaimana bisa Sacha mengucapkan itu? tidak mungkin hanya kebetulan, kalimat wanita itu sudah sering menyinggungnya dengan kalimat yang sama ketika ia menyiksa Anita dulu
mungkinkah?
Max langsung beranjak duduk dan menghadap Sacha dengan mata memicing.
__ADS_1
"jangan mengelak lagi. kamu Anita, kan?" todong Max
Meski rasanya sangat mustahil tapi Max tidak memiliki pikiran lain selain menyimpulkan bahwa wanita yang ia hadapi saat ini adalah Anita. penyangkalan Sacha dua hari lalu seolah tak ada artinya lagi sekarang. wanita itu benar-benar seperti jelmaan Anita yang hendak membalas dendam padanya.
bukankah masuk akal? wanita itu ketakutan saat pertama kali melihatnya di pesta beberapa minggu lalu. lalu api dendam yang terpancar jelas pada netra wanita itu membuat Max semakin yakin
"sepertinya anda belum sepenuhnya terbangun dari tidur anda, tuan. mau melanjutkan tidur atau mau makan dulu" Sacha bersuara dengan nada sesantai mungkin sembari menunjuk loyang berisi makanan dan minum di atas meja kecil
"kamu Anita?"
Sacha menggeleng dengan raut kasihan. lalu beranjak ke arah meja "apakah anda mau saya suap, hm?" Anita menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya namun Max tak merespon dan terus menatap mata Sacha seolah mencari keyakinan akan asumsi lelaki itu
"kamu Anita"
"kalau iya kenapa?! kamu mau apa hah?!"
Bersambungg..
__ADS_1