DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Terkuaknya sandiwara


__ADS_3

di luar kamar Max, jantung Sacha seperti terjun bebas melihat kehadiran Darlina berdiri sembari memicingkan mata padanya


"sejak kapan mama di sini?" tanya Sacha dengan suara bergetar


"sejak kamu masuk di kamar Alle"


tamat sudah riwayat Sacha!


"ma..." Sacha tak bisa lagi meneruskan kalimatnya. secepat ini kah ia ketahuan. seluruh persendian Sacha rasanya langsung tak berfungsi. hukuman pencabut nyawa paling sadis tengah memenuhi kepalanya


"kamu kenapa?" Darlina bergerak cepat menahan tubuh Sacha yang hampir limbung ke lantai, lalu ia tuntun ke arah sofa tubuh lemas itu


"a..ku... aku"


"sudah-sudah nanti aja jelasinnya, minum dulu" potong Darlina lalu menyodorkan minuman ke mulut Sacha yang sebelumnya ia perintahkan tanpa suara pada asisten rumah tangganya yang lewat (sehabis menerima paket) untuk mengambil air di dapur.


Sacha menatap takut segelas air yang di berikan Darlina. racun apa yang tercampur di sana? sianida yang bisa langsung mengambil nyawanya? atau racun rumput yang bekerja perlahan memberinya kesakitan sedikit tapi tetap akan membuat nafasnya berhenti ataukah racun tikus yang...


"kenapa malah di tatap, minum sayang" ucapan Darlina menyentak lamunan Sacha, ia beranikan diri menatap perempuan baya itu. ekspresi lembut itu apakah sandiwara?


"aa.. aku nggak haus" ujar Sacha berusaha menolak


"ya udah" Tatapan Sacha mengikuti arah gerak Darlina menaruh gelas di meja

__ADS_1


racun itu menjauhinya membuat Sacha sedikit lega tapi tak membuat ekspresi ketakutannya hilang begitu saja. dan Darlina yang melihat itu langsung membawa putrinya ke dalam pelukan


"kamu pasti terguncang melihat ketidakberdayaan kakak kamu atas perbuatan kita yang menyiksanya tanpa ampun, kan" Darlina memberi kekuatan pada putrinya melalui pelukan dan elusan lembut di punggungnya


"yang tenang ya sayang ya, mama sama papa sudah menyiapkan dokter terbaik untuk segera memulihkan keadaan Alle agar bisa sembuh seperti sedia kala" lanjut Darlina, bukannya tenang, Sacha malah semakin ketakutan, rasanya kepalanya berputar-putar berusaha memahami maksud perkataan Darlina


sedang Darlina sudah melupakan niat awalnya kenapa ia berdiri menunggu di luar kamar Alle setelah Sacha masuk di sana. tadinya ia ingin mengetahui kenapa putrinya mengunci pintu kamar Alle dari dalam tapi melihat keadaan sang putri setelah keluar, Darlina menelan kembali rasa penasarannya. mungkin saja putrinya ingin bersama kakaknya tanpa gangguan siapapun. pikir Darlina


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


"dasar lelaki br*ngsek!!" pekik Sacha menggema memenuhi ruang kamarnya. kedua tangan gadis itu mengepal kuat dengan rahang mengeras, ia begitu marah sehingga membuat seluruh wajahnya memerah


"Lelaki Si*lan!! kenapa harus muncul di hadapanku lagi sih" Sacha tak takut berteriak histeris, sebab ruang pribadinya itu kedap suara juga pintu kamar sudah ia amankan dengan kunci ganda dari dalam


Sacha tak bisa berpura-pura terus menerus harus terlihat baik-baik saja jika berada dekat dengan Max meski lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa selain menatapnya. walau begitu tatapan Max sungguh memuakkan bagi Sacha


tapi bukankah ia tak punya pilihan selain berpura-pura? sebab berkata jujur justru kematian sadis menantinya begitu pula jika ia terang-terangan memusuhi putra pertama Dior itu. ia dalam situasi maju kena mundur kena.


ia hanya perlu bermain cerdik setenang mungkin. seperti yang terjadi sekarang ini


Darlina dan Alexandre menatap penuh haru kebersamaan putra dan putrinya di taman belakang mansion sore hari itu. mereka sengaja mengambil jarak untuk mendekatkan kedua anaknya yang sudah terpisah bahkan sebelum Sacha lahir.


"Alle akan sembuh kan, pa?"

__ADS_1


"iya sayang. kita hanya perlu bersabar menanti hari itu tiba" balas Alexandre tak melepas rengkuhannya di lengan sang istri.


"pasti pa. 28 tahun aja kita bisa menunggu dan sekarang dia ada bersama kita"


sementara yang menjadi pusat perhatian pasangan Dior itu, Sacha dan Max tengah saling melempar tatapan, yang satunya tatapan sendu penuh rasa bersalah yang satunya lagi tatapan muak penuh benci


"lo itu hanya sampah, menyusahkan saja" Ujar Sacha dengan bahasa Indonesia memecah keheningan membuat Max seketika menunduk, lelaki itu hanya bisa menggigit bibir dalamnya menahan sesak "seorang lelaki brengsek pernah mengatakannya padaku beberapa tahun lalu. bukan hanya perkataan menyakitkan, lelaki biadab itu juga menghadiahi tubuhku dengan tamparan sampai bibirku berdarah" lanjut Sacha begitu tenang


"nggak usah pura-pura sedih. air mata lelaki biadab seperti mu tidak berguna" Sacha tak henti-hentinya menyerang psikis Max, padahal baru saja dokter yang menangani Max menyarankan agar Max tidak dibebani banyak pikiran, justru harus diberi semangat dan terus dilatih agar memiliki semangat untuk sembuh.


namun ucapan dokter yang baru beberapa menit lalu pamit undur diri setelah melakukan serangkaian terapi pada telapak kaki Max untuk bersentuhan langsung dengan rumput sintesis tak Sacha hiraukan. ia bahkan sengaja menekan Max dengan memperingatkan kisah kekejaman lelaki itu di masa lalu


"satu bulan. satu bulan ini kamu benar-benar menjadi benalu disini, benar-benar tak berguna" bisik Sacha penuh penekanan, lalu gadis itu menoleh ke arah kedua pasangan Dior yang juga tengah menatap ke arahnya lebih tepatnya ke arah Max dan dirinya. ia balas tersenyum pada keduanya


kedua orang tua itu salah mempercayainya untuk menemani terapi Max yang sudah berlangsung puluhan kali itu. karna dari ujung kaki sampai ujung rambut sungguh Sacha beneran sangat terpaksa melakukannya. sebulan lamanya mereka seatap, selama itu juga Sacha memainkan peran sebagai adik yang baik untuk Max di hadapan Alexandre dan Darlina namun berubah 180 derajat ketika ia diberi kesempatan hanya berdua dengan Max.


"kamu tahu, aku selalu berdoa mengenai kamu belakang ini loh" ujar Sacha kembali menatap Max yang masih setia menunduk namun mendengar kalimat Sacha lelaki itu berani mendongak sehingga netra keduanya saling beradu di garis lurus


"mau tau apa doaku?" Sacha sengaja mengantungkan ucapannya menikmati ekspresi Max


"semoga saja kamu tidak pernah sembuh sampai kapanpun"


bersamaan dengan selesainya kalimat Sacha dengan nada desis sinisnya, langkah dua pasang kaki terdengar mendekat

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2