DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Cerita bohong


__ADS_3

21 jam sebelum Pratama menginjakan kaki di rumah Max


Pratama pamit berangkat ke kantor polisi guna melaporkan kehilangan sang putri. setelah dua minggu mereka pulang ke Jakarta dan melakukan pencarian mandiri terhadap sang putri tak juga menemui titik terang akhirnya Pratama menyetujui usulan sang istri untuk melaporkan kehilangan putri mereka di pihak berwajib. sebenarnya alasan kenapa Pratama lebih memilih menyewa orang-orang berpengalaman untuk mencari keberadaan Anita tak lain karna Pratama tidak ingin melibatkan pihak kepolisian, sebab itu akan menyulitkan keadaan lelaki yang telah menjadi suami putrinya tersebut. namun setelah berpikir cukup jernih, ia tersadar bahwa kehilangan jejak sang putri pasti ada hal buruk yang terjadi, bukan hanya sekedar lelaki yang menikahi Anita adalah orang yang tinggal di tempat terpencil sehingga ia dan orang-orangnya sulit menemukan jejak tapi pasti ada hal lainnya...


dan baru saja mobil yang dikendarai Pratama sampai di depan kantor kepolisian, tiba-tiba ia mendapatkan notif sebuah pesan di email pribadinya dari kontak asing


Pratama sempat mengabaikan, dan enggan membuka dokumen dengan icon gambar segi tiga tampak samar di sampul dokumen. namun ia kembali berfikir, siapa gerangan si pengirim? sebab Email pribadinya hanya diketahui oleh orang-orang penting saja dan yang kenal dekat dengannya.


dan akhirnya Pratama memilih membukanya.. dan detik itu juga jantung Pratama rasanya berhenti berdetak.


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Bugh


Bugh


"jawab saya brengsek!! mana putri saya!!"


kanan kiri sudah wajah tampan itu kena bogeman, namun alih-alih kesakitan Max malah terkekeh sebelum mendorong tubuh Pratama sehingga cengkeraman di kerah baju Max terlepas


"putri? putri yang mana yang anda maksud? bukannya anda sudah membuang putri anda sendiri dengan memutus tali-an darah diantara kalian?" telak Max menyindir


meski ter-tohok akan perkataan itu, tapi Pratama memilih tak menghiraukan sebab tujuan utamanya datang ke Madrid tanpa pikir panjang adalah untuk menemukan keberadaan sang putri dan membawa pulang bersamanya


"jangan banyak bicara kamu!!" Pratama kembali maju memberikan bogeman namun berhasil di tahan oleh Max


"santai...ayah... mertua"

__ADS_1


"jangan berani-berani menyebut saya ayah mertua. kamu tidak layak" bola mata Pratama seolah hendak keluar saking muak-nya akan lelaki di hadapannya


"kenapa? saya suami Anita, dia putri yang anda cari, bukan?"


emosi Pratama makin tersulut, dengan sekuat tenaga ia kembali melayangkan bogeman, kali ini pada perut Max, baru dua kali kepalan tinjunya mendarat keras di sana, namun serangan tiba-tiba Pratama terima dari arah belakang


kepalanya langsung terasa pening kala sebuah balok besar baru saja mendarat di tengkorak belakang kepalanya


Pratama langsung oleng namun tak sampai terjatuh, satu tendangan, dua tendangan hingga lima tendangan akhirnya membuat tubuh lelaki baya itu meluruh ke tanah.


Pratama kalah. bagaimana tidak? dirinya yang sudah berumur melawan preman-preman bertubuh tangguh itu seorang diri


ketika rasa sakit kian mendera, penglihatan mulai buram, memori otak Pratama langsung teringat rekaman bagaimana sang putri begitu menderita dijadikan pembantu di rumah suami putrinya sendiri. gadis kesayangan yang sangat ia manja malah dipekerjakan tak layak oleh lelaki tak punya hati. demi apapun Pratama tak rela putrinya bekerja sekeras itu. kembali rasa sesal menggerogoti dadanya kala dengan mudahnya ia melepas Anita dengan pria asing yang ia kira pilihan putrinya sendiri


tapi siapa sebenarnya lelaki yang menikahi putrinya ini? kenapa banyak preman di sini? pikir Pratama


perkelahian antara lelaki paru baya dengan lima orang preman bertubuh kekar akhirnya terjadi.


"melihat begitu gigihnya melawan serangan demi Anita, aku semakin membencimu" monolog Max lirih dengan senyum mirisnya


dan beberapa saat kemudian, lima preman itu terkapar di tanah di bawah terik matahari, sedang Pratama dengan langkah gontai mendekat ke arah Max yang sedari tadi bersandar santai di mobilnya


"dimana kamu sembunyikan anak saya, brengsek!!"


"di tempat yang aman tentunya" jawab Max berusaha tenang padahal ia tengah menahan gejolak cemburu. kenapa Pratama tak pernah mencarinya seperti lelaki tua itu mencari Anita. bahkan lelaki tua itu rela babak belur hanya untuk menemukan Anita. sedang dirinya yang selama 25 tahun hidupnya mengharapkan sosok ayah datang tapi ia tak pernah di cari.


"katakan!! kalau kamu tidak menginginkannya kembalikan pada saya" ujar Pratama tegas "saya akan membawanya pergi. dia bukan gadis yang biasa melakukan pekerjaan rumah. dia sangat kurus karna tertekan dengan semua pekerjaan rumah itu"

__ADS_1


sedang Max menaikan sebelah alisnya, apakah rekaman yang Pratama terima hanya sebatas itu? ah berarti ibunya masih cari aman. tapi kenapa Max terpancing untuk memperlihatkan keadaan Anita yang lebih mengerikan pada lelaki paru baya di hadapannya. Max ingin melihat Pertama lebih marah dari sekedar mengetahui putrinya di jadikan pembantu!


bagaimana reaksi Pratama kira-kira kalau mengetahui bahwa Anita bukan hanya ia perlakuan sebagai pembantu tapi juga menyiksa fisik dan batinnya? bahkan menduakannya?


drt drt drt


Max merogoh ponsel di sakunya, lalu melirik sekilas ke arah Pratama sebelum mengangkat panggilan


"kami sudah keluar rumah sakit, target sedang di bawah ke markas sesuai perintah tuan"


"hm" balas Max lalu mematikan sambungan telpon.


oke saatnya bermain! mari ciptakan sedikit drama agar aku bisa lebih lama melihat wajah ketakutan-mu, wajah khawatir mu dan tubuh gemetar-mu itu. batin Max


"Anita ada di rumah sakit, ia keguguran, tubuh kurusnya yang anda lihat karna selama dua bulan ia mual parah sehingga makanan apapun yang masuk selalu dimuntahkan, alhasil untuk kedua kalinya calon anak kami pergi karna tubuh Anita yang lemah" ujar Max penuh dusta dengan nada disedih-sedihkan


"ap.. apa?"


"mau saya antar ke rumah sakit?" tawar Max


'aku ingin melihatmu lebih kesetanan dari pada ini. aku ingin kamu benar-benar merasa hancur atas kehilangan orang yang kamu kasihi" lanjut Max dalam hati


tanpa berkata apa-apa, Pratama segera memasuki mobil Max dan duduk di kursi bagian penumpang


"cepat masuk!!" serunya ketika lelaki yang tidak ia ketahui nama lengkapnya itu malah tak bergeming


sedang Max lagi-lagi menyunggingkan senyum miringnya. segera ia mengetikan sesuatu di ponselnya, dan setelah pesannya terkirim, ia buru-buru mengantongi, lalu Max memasuki mobil untuk memulai rencananya

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2